Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
tanda tangan


__ADS_3

Nara meninggalkan kantor Maxkal dengan hati yang hancur. Melangkahkan kaki  berat, terus berjalan tak tentu arah. tatapannya kosong hanya linangan air mata tiada henti menetes dari pelupuk netra matanya.


Putus asa itulah yang dirasakan, harapannya, mimpi semuanya terhempas. Rasanya dia ingin menghilang saja beban yang ia pikul terlalu berat.


Pemuda yang ia cintai meninggalkannya begitu saja saat ia dalam kesulitan. Lebih memilih menemui mantan kekasihnya. Hatinya hancur, remuk. Ini pertama kalinya dia merasakan namanya belenggu kesakitan patah hati.


“Dia akan kembali pada Zeline,” lirih Nara bulir bening itu terus mengalir. membasahi pipinya.


Bayang Milan kembali bersama Zeline terus terlintas. Dadanya terasa sesak rasa cemburu, sakit dan di campakkan semua menyatu menjadi satu.


Sebuah kenangan berputar di kepala Nara.


“Kita liat saja nanti kalau kak Milan datang ke acara Nana berarti dia mencintaimu. Tapi jika dia tidak datang dia tidak peduli padamu!”


Ucapan Chelsea tentang tebakan perasaan cinta Milan kepadanya yang kembali terniang membuat perasaannya tersayat.


“Dia tidak datang! Ke acara Nana, itu berarti Dia memang tidak mencintaiku! Dia tidak peduli padaku!”


“Aku bodoh! Kenapa aku percaya dia mencintaiku,” sesal Nara padahal sekuat hati dia mencoba tidak percaya jika Milan mencintainya karena takut terluka dan sekarang lihatlah, ia terhempas.


“Dia tidak mungkin mencintaiku!" bibir Nara terlipat dalam mencoba agar tangisannya tidak pecah.


Memori tidak mengenakan bersama sekretaris Milan menari di pikirannya.


“Presdir kami tidak mungkin memilik istri yang penampilannya kampungan seperti dirimu!”


“Lihat penampilanmu norak culun, gadis kampung. kau mengkhayal terlalu tinggi!”


“Bodoh! Seharusnya aku sadar siapa aku! Dia benar aku hanya gadis kampungan, norak, culun. Aku memang tidak pantas bersama dengan dia!”


Nara menghentikan langkahnya, menutup wajahnya dengan telapak tangan, ia menangis sejadi-jadinya sungguh dia sudah tidak sanggup lagi hanya karena status serta penampilannya orang selalu merendahkannya dan menghinanya bahkan Milan pun seperti itu.


Suara getar ponsel membuat Nara mengangkat wajahnya. Tangannya lalu Meraba saku kantong jaket yang di pinjamkan Vino padanya.


“Ponsel Vino di sini,!” ucap Nara lalu melihat nama kontak yang tertera.


“Ibu.” Nara lalu menjawab panggilan.


"Halo. Ibu Nana tidak apa-apa kan bu?” tanya Nara cemas pikiran buruk terus berputar di kepalanya.


“Nana masih di tangani oleh dokter, kau di mana Ra?” tanya suara lelaki di seberang sana yang ternyata adalah Vino memakai ponsel ibunya.


“Vin! Aku ...” suara Nara tergugu. Ingin rasanya ia mencurahkan seluruh isi hatinya pada sahabatnya tentang apa yang ia alami tadi. Sahabatnya ini pasti tak akan tinggal diam jika tahu ia di hina.


“Kau menangis Ra!” nada Vino terdengar cemas.


“Kau kenapa lama sekali!”

__ADS_1


“Aku akan kembali secepatnya,” jelas Nara setelahnya menutup panggilan tak kuasa menahan tangisan.


Oh, astaga ia harus kembali ke rumah sakit. Sedangkan ia tidak mendapatkan bantuan dari Milan, bahkan hanya hinaan, bagaimana dengan pengobatan adiknya?


Kepala gadis berkacamata ini terasa ingin pecah. Memikirkan biaya untuk adiknya yang sedang bertarung nyawa hidup atau mati.


“Ya tuhan apa yang harus aku lakukan!” batin Nara mendekap ponsel Vino di dadanya.


“Di mana aku mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Nana!” rintihnya dengan air mata yang tiada henti.


“Kak Milan sama sekali tidak bisa menolongku!” lirihnya.


Bayang Milan yang menghina dan menuduhnya kembali menari-nari di pikirannya.


“Kau tidak lebih dari perempuan penipu!”


“Akhirnya kau katakan juga kau ingin uang!”


Tuduhan Milan padanya menambah kesedihan itu berlipat-lipat. Adiknya sedang sekarat, suaminya lebih memilih bertemu mantannya lengkaplah penderitaan itu.


Kaki Nara sudah terasa tak mampu lagi menopang tubuhnya, dia jongkok, melipat tangan di lutut menyembunyikan wajahnya, yang ia lakukan hanya terus menangis. Tak peduli orang sekeliling menatap bingung padanya.


“Aku bukan perempuan seperti itu!” Nara tersedu-sedu menyangkal tuduhan Milan.


“Sejak dulu Kau selalu menilaiku perempuan yang hanya gila uang!” raung Nara seakan tak terima.


Di awal pernikahan mereka pun terkenang bagaimana Milan terus mengujinya dengan uang hanya untuk tanda tangan.


Tanda tangan! Oh tidak.


“Tanda tangan!” gumam Nara seketika di teringat akan sesuatu.


“Laci Nakas! Petuah move on” ulangnya.


Gadis berkacamata ini telah menemukan jalan keluar untuk Alana. Tangan Nara kemudian melambai menyetop taksi, dia akan menuju rumah Kalingga mencari sesuatu di laci nakas.


***


Nara telah berada di kediaman Kalingga, mempercepat langkahnya menuju kamar Milan.


Menarik napas panjang Nara membuka pintu kamar. Berjalan menuju laci nakas di mana tempat ia selalu menuliskan petuah move on untuk Milan.


Setelah berada di depan nakas tangan gadis berkacamata ini terulur menarik laci. Setelahnya mencari selembar kertas penting di antara berkas-berkas bertumpuk.


Nara mengela napas lega saat manik matanya telah menemukan secarik kertas. Ia lalu meraihnya dan membacanya.


“Sepuluh Milyar!” Nara tersentak setelah sekian lama mengabaikan akhirnya ia mengetahui nominalnya telah bertambah begitu banyak. Memang setiap Nara menolak Milan akan menaikkan jumlahnya agar Nara tergiur namun gadis ini tidak pernah sedikit pun meliriknya.

__ADS_1


Sepuluh milyar itulah harga penukaran Milan untuk satu tanda tangan di kertas perpisahan mereka yang dulu di balas Nara hanya dengan petuah move on.


“Tidak! bukankah mengambil ini membuktikan ke kak Milan jika aku memang perempuan gila uang! Aku akan semakin kehilangan harga diri," batin Nara ragu.


“Tapi, Nana membutuhkan ini untuk pengobatannya!” lirih Nara, bulir kristal kembali terjun bebas membasahi pipi, hatinya berperang.


Sudahlah Nara toh kau sudah terhina dan kehilangan harga diri di depan Milan itu pikirnya.


Dalam ketidakberdayaan Ia telah memutuskan akan menukarkan kehidupan adiknya dengan pernikahannya. Hanya itu jalan satu-satunya menyelamatkan Alana.


“Aku akan melepaskan kak Milan! Demi Nana, adikku harus hidup!” tersenyum gertir.


Oh, hati Nara terasa di sayat. Dia akan melepaskan cintanya dan pernikahannya.  


Mencoba kuat Nara mengusap air mata yang ada di pipi. Ia kemudian meraih surat perpisahan mereka serta sebuah pena.


Tubuh dan tangan Nara bergetar hebat. Ah, sungguh tak kuasa ia menandatangani kertas itu. Nara menghentikan tangannya yang telah berada di atas kertas.


Aliran darahnya seakan terhenti, rasanya tak sanggup. Ia terdiam sejenak.  lalu beralih pada kertas kecil menuliskan sesuatu.


Kita memulai semua ini dengan awal yang salah, karena itu akan selalu salah.


Memaksakan sesuatu, tidak akan baik karena itu


Melepaskan lebih melegakan dari pada memaksakan.


Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.


Kak Milan aku memutuskan melepaskan ikatan pernikahan kita.


Setetes cairan jatuh membasahi kertas yang di tuliskan Nara saat menulis kata perpisahan untuk Milan.


Dengan linangan air mata Nara menuliskan kata-kata terakhir kalinya untuk Milan, setelah ini dia sudah tidak akan menuliskan petuah move on pada suaminya itu.


Nara menaruh kertas ucapan terakhirnya itu ke laci, Setelahnya  kembali meraih surat perpisahan mereka.


Tangannya kembali bergetar, ada keraguan di dalam hati menerjang, dia akan berakhir dengan Milan, rasanya sungguh berat melepaskan cintanya itu. Namun saat mengingat jika Milan di Paris menemui Zeline membuat harapannya terhempaskan. Luka hati dan sedih itu kembali melanda. Dia tidak punya harapan bersama  Milan. Andai saja lelaki itu mendengar penjelasan semua ini tidak akan terjadi, dia tidak akan kecewa.


Menarik napas berat,  Nara lalu membubuhi kertas itu dengan tanda tangan.


“Kak Milan kita telah berpisah! Semoga kau bahagia bersama Zeline,” bahu Nara bergetar menutup kelopak matanya erat. Kini dia telah berpisah dengan Milan, dia bukan lagi istri dari Milan Kalingga. Tidak pernah Nara membayangkan jika dia akan berpisah dengan cara seperti ini.


Gadis berkacamata ini menaruh kertas itu lalu menukarnya dengan kertas cek, setelahnya menutup kembali laci nakas.


“Maaf aku harus mengambil ini, untuk Nana!” Nara mendekap kertas itu erat.


Manik matanya berputar menatap ruang kamar untuk terakhir kalinya. Kamar yang memiliki kenangan bersama Milan, ia lalu tersadar.

__ADS_1


“Aku harus segera pergi!” gumam Nara  melangkah cepat keluar dari kamar Milan. Dia harus bergegas ke rumah sakit.


__ADS_2