
“Halo. Bagaimana keadaannya?”
“Dia baik-baik saja nona.”
“Syukurlah.”
“Dia selalu termenung nona dan selalu mencari kesempatan untuk mencoba bunuh diri.”
“Bunuh diri! Awasi dia dengan ketat, jangan sampai dia melakukan hal itu.”
“Baiklah nona, Anda tenang saja. Kami akan menjaganya.
Suara sambungan telepon sambungan terputus.
Gadis cantik menarik napas berat.
“Penyesalan memang selalu belakangan," gumamnya.
****
Chelsea berada di dalam kendaraannya, menatap lekat sebuah rumah petakan sederhana yang selalu ia datangi saat suasana hatinya sedang gundah.
Chelsea turun dari mobil, melangkah kan kaki menuju rumah itu. Setelah beberapa saat bergelung di depan pintu rumah. Seperti biasa dengan mudah dia pun bisa masuk ke dalam.
“Vino! Vino!” teriak Chelsea heboh.
Ya, rumah petakan ini adalah tempat tinggal sahabatnya.
Manik mata Chelsea memutar mencari keberadaan pemuda itu.
“Ih ... Vino ke mana sih,” decaknya.
Langkah Chelsea semakin dalam, hingga berada di sebuah kamar.
Senyum seketika terbit di wajah Chelsea saat menatap foto-foto yang terpajang di dinding kamar fotografer itu.
Netra mata hitam Chelsea beralih pada ranjang, di mana pemuda itu bergelung nyaman di bawah selimut.
__ADS_1
“Masih molor lagi.” Gadis cantik ini kemudian naik ke ranjang Vino.
Chelsea ikut berbaring di samping Vino, menatap lamat-lamat wajah teduh pemuda itu terlelap. Mengingat begitu besar kesalahannya pada Vino yang mungkin sulit termaafkan oleh pemuda ini.
Chelsea masuk ke dalam pelukan sahabatnya sungguh dia takut persahabatannya dengan Vino hancur.
Ya hubungan mereka memang sangat akrab dan tanpa batasan.
Tidur lelap Vino terusik sesaat merasakan ada pergerakan dari tubuhnya.
“Sea,” ucap Vino dengan suara serak khas bangun tidur saat kelopak matanya telah terpisah. Menatap Chelsea berbaring di sampingnya dan menjadikan lengannya sebagai bantal.
“Vin, aku lapar," suara Chelsea terdengar merengek.
“Aku masih ngantuk Sea. Kau mengganggu liburku, makan di rumahmu aja di sana banyak pelayan,” kata Vino malas.
“Vino, aku mau masakanmu,” paksa Chelsea semakin memeluk tubuh Vino membuat pemuda ini tak bisa bernapas.
“Sea!” desis Vino.
Chelsea dan Vino telah berada di dapur. Gadis cantik ini duduk manis di kursi makan, menatap lekat Vino yang sedang memasak untuknya.
Setelah beberapa saat Dua piring nasi goreng telah terhidang.
“Wah, harum sekali,” puji Chelsea mengendus makanan yang ada di hadapannya.
Vino pun duduk di samping Chelsea. Mereka pun mulai makan.
“Apa semua baik-baik saja? Kay mengganggumu lagi?” tanya Vino merasakan ada sesuatu yang membuat Chelsea resah. Dan satu masalah dalam hidup Chelsea hanya Kay.
“Tidak,” tepis Chelsea.
“Kalau dia mengganggumu bilang padaku. Aku akan menghajarnya untukmu,” kata Vino sembari menyantap makanan.
“Ngak Vin.”
Arah pandang Chelsea menatap dinding rumah, hampir di setiap dinding rumah terpajang foto kebersamaan mereka bertiga.
__ADS_1
“Vin, kenapa kau memasang foto kita yang itu, di situ kan aku kelihatan gendut,” protes Sea.
“Ya elah Sea, gendut dari mana, bagus kok, di situ senyuman Nara manis banget,” balas Vino menatap ke arah foto.
“Vin, ngak kerasa ya, kita udah sahabatan lama sejak dari masih smp,” terang Chelsea.
“Tepatnya udah tiga belas tahun,” sosor Vino.
“Oh, iya ke mana tuh anak? Kenapa dia tidak ikut kemari?” tanyanya mencari keberadaan gadis berkacamata itu.
“Nara. Biasa Vin, dia sibuk Vin, kejar setoran,”
“Sibuk mulu, ngak lama aku nikahi juga tuh anak, lumayan meringankan bebannya,” kelakar Vino.
Ya Chelsea tahu itulah harapan Vino selama ini pada Nara.
Oh ... Dada Chelsea kembali sesak mengingat harapan Vino yang tinggi pada Nara telah kandas akibat ulahnya. Dan jika tahu pemuda ini pasti murka padanya.
“Vin, selama tiga belas tahu kita selalu kompak, tidak pernah bertengkar, kita selalu berbagi tawa, menangis bersama.” Ada rasa bangga di hati saat Chelsea saat mereka mampu bertahan melewati semuanya.
“Itu karena aku cukup sabar menghadapi bawel dan kegilaan kalian,” tutur Vino mendengus kembali melanjutkan suapannya.
“Kelak jika kita bertengkar, persahabatan kita yang sudah bertahun-tahun ini tidak akan hancur kan Vin?” Chelsea bertanya was-was.
“Idih amit-amit dah. Ngak akan.” Vino mengetuk-ngetuk meja. Meringis ngeri takut jika itu terjadi.
“Lagi pula masalah apa yang bisa bikin bertengkar?” ucap Vino percaya diri.
“Nara ngak jadi ngambek kalau di udah beliin boba plus makan gratis. Dan kau ngak jadi ngambek kalau udah di bilang Sea tercantik tiada tara.”
Chelsea terkekeh mendengar ocehan Vino yang sangat tahu sekali menenangkan dua perempuan yang berada di antaranya.
Namun senyum itu surut, kembali teringat dia mematahkan hati Vino.
“Kau pasti akan sangat marah padaku? Jika kau tahu perempuan yang paling kau cintai telah di miliki oleh kakakku,” batin Chelsea.
Rasa bersalah menyeruak di dalam hati Chelsea, dia sangat tahu bagaimana perasaan Vino pada Nara, gadis yang ia cintai selama bertahun-tahun, namun dia malah mengabaikan perasaan itu dan malah meminta Nara menikah dengan kakaknya.
__ADS_1