Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
menjemput


__ADS_3

Di gedung perkantoran Maxkal yang menjulang tinggi, sang pemimpin sedang berada di ruangan. Duduk di kursi kebesarannya.


Bukan menyorot berkas laporan yang bertumpuk, manik mata Milan malah terpusat menatap sebuah kunci yang menggantung tangannya.


Itu adalah kunci rumah mewah yang akan ia persembahkan untuk Nara dan keluarganya tempati.


Setelah menginap di rumah Nara, ia merasa rumah itu terlalu kecil untuk mereka. Dia ingin keluarga istrinya mendapatkan tempat tinggal yang layak.


Kay masuk ke dalam ruangan Milan, dengan berkas laporan di tangan. Menatap aneh pada Milan yang tersenyum pada sebuah kunci yang di pegang.


Ada apa lagi dengan dia? Pikir Kay, suasana hati sahabatnya ini memang aneh, dengan mudah berubah-ubah.


“Kunci apa itu Lan?” tanya Kay penasaran.


Milan mengarahkan pandangannya pada Kay.


“Kunci rumah!” jawabnya singkat lalu memasukkan ke saku celananya.


“Kau tidak perlu tahu!” sarkasnya.


Milan kemudian bangun dari duduknya melangkah menuju pintu.


“Oh, iya. Kau urus semuanya, aku ada urusan!" sergah Milan kemudian berlalu meninggalkan Kay.


Milan akan menemui Nara untuk memberikan kunci rumah itu. Dia sudah tak sabar ingin melihat bagaimana reaksi Nara mengetahui tentang rumah baru untuk keluarganya.


******


Nara berada di sebuah pesta pernikahan. Hari ini dia mengambil pekerjaan merias calon pengantin wanita.


Di dalam kamar pengantin, gadis berkacamata itu sedang merias. Manik mata Nara tertuju pada bibir sang calon pengantin saat mengulas lipstik berwarna merah sebagai sentuhan terakhir dari rangkaian make up wajah.


“Selesai, tinggal rambutnya sayang,” ucap Nara meletakan kembali lipstik ke dalam kotak make up.


“Tinggal pakai mahkotanya,” tambah Nara yang di balas dengan senyuman oleh perempuan yang ia hias.


Suara riuh terdengar dari luar kamar, Nara tak menghentikan kegiatannya merapikan rambut sang pengantin.


“Ganteng sekali.” Samar Nara mendengar suara decak kagum dari luar.


Pintu kamar terbuka Nara mengarahkan pandangannya sekilas. Ia tercengang tak percaya dengan apa yang dia liat. Sesosok pemuda tinggi nan tampan melangkah mendekat ke arahnya.


“Kak Milan!” pekik Nara menjadi gelagapan untuk apa yang mulia ini datang kemari?


“Kak Milan kenapa kemari?" Nara menghampiri Milan.


Milan memutar bola mata malas.


“Aku bilang kau harus istirahat!” ujar Milan dengan tangan bersedekap di dada, tatapannya menghakimi Nara. Ia sudah ke rumah Nara ternyata malah merias di sini.


Gadis berkacamata ini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia telah mengabaikan pesan Milan. Tapi, dia tidak pernah menyangka jika lelaki ini akan datang menemuinya di tempat meriasnya.


“Aku sudah merasa baikkan kak,” ucap Nara dengan cengiran.


"Ada yang ingin aku tunjukan padamu, kau harus ikut,” ujar Milan akan membawa Nara untuk melihat rumah yang akan ia berikan.

__ADS_1


“Tapi, aku masih merias kak.” Gadis berkacamata ini menunjuk calon pengantin yang sedang menunggunya.


“Aku akan menunggumu, sampai selesai,” ujar Milan.


“Ha.” Nara tersentak seketika membatu mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya.


Milan ingin menunggunya? Ya tuhan ada apa dengannya?


Sudah berhari-hari Nara merasakan seakan terkena serangan jantung karena perlakuan Milan. Yang tiba-tiba perhatian padanya.


“Sudah jangan menatapku, kerja sana,” sentak Milan.


Nara tersadar, seketika salah tingkah. Ah dia terpana menatap wajah tampan Milan.


“Kak Milan duduk dulu,” tawar Nara menarik kursi.


Milan duduk di kursi.


“Jangan membuatku menunggu terlalu lama,” papar Milan.


“Tinggal bagian kepala, kak,” balas Nara.


Setelahnya kembali melangkah ke meja rias di mana calon pengantin wanita menunggunya.


Nara menarik napas panjang kembali fokus pada rambut sang pengantin.


Sejak tadi arah pandang Milan terpusat pada Nara yang sibuk merapikan  rambut sang pengantin, menatap bagaimana jari-jari ajaib Nara yang begitu terampil. Binar kagum terpancar dari bola matanya, hingga tak lepas mengamati pergerakan Nara. Rasa cinta itu semakin besar merayap dalam hatinya.


Nara beralih memegang botol hair spray membuka tutupnya, sembari sejenak menatap Milan yang ternyata menatapnya lekat.


“Kenapa kak Milan menatapku,” batin Nara bertanya-tanya sambil meneruskan perkerjaannya.


Nara menjadi salah tingkah saat lagi-lagi untuk kesekian kalinya pandangan mereka bertemu. Wajahnya memanas ada perasaan malu menghinggapi.


“Ya tuhan mengapa dia terus melihat ke sini sih, bikin aku jadi grogi,” jerit Nara dalam hati, ia seakan tak bisa bernapas di tatap oleh pemuda tampan itu.


Setelah beberapa saat Nara telah selesai, menjinjing kotak make upnya mendekat ke arah Milan.


“Sudah selesai kak,” ucap Nara telah berdiri di hadapan Milan.


“Ayo kita pergi!”


"Kita mau kemana kak?" tanya Nara.


"Nanti juga kau akan tahu!"


Mereka pun berjalan keluar melewati beberapa orang. Suasana mulai ramai.


“Wah tampan sekali!” decak kagum gadis-gadis terdengar saat mereka menatap wajah tampan Milan.


Nara tersenyum kaku pada orang yang menatap mereka, bukan lebih tepatnya pada Milan yang berjalan seirama di sampingnya. Sedangkan Milan hanya memasang wajah datar melangkah penuh pesona.


Ah memang benar tampan sih, akui Nara di dalam hati.


“Bukankah dia Milan Kalingga pengusaha sukses itu!” terdengar dari seseorang 

__ADS_1


“Iya dia Milan Kalingga!”


“Wah tampan sekali!”


“Milan Kalingga!”


Suara semakin riuh banyak orang yang mulai berkumpul terutama kaum hawa yang terpukau oleh ketampanan Milan.


Karena semakin banyak yang ingin melihat Milan dari dekat, hingga tubuh mungil Nara terdorong.


Uh, dia bak debu tak terlihat berdampingan dengan Milan.


Seseorang menubruk tubuh Nara dari belakang hingga terdorong,  badannya membungkuk, kacamatanya telah terlepas ke lantai,  andai saja Milan tak sigap menahan tubuh mungilnya ia sudah terjungkal.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Milan menatap Nara yang terkejut hampir saja ia mencium lantai.


“Hei hati-hati!” hardik Milan kesal tak terima Nara hampir saja jatuh.


“Kak Milan aku tidak apa-apa kak,” ucap Nara menenangkan.


Setelahnya menatap ke arah lantai mencari di mana kacamatanya terjatuh.


Milan jongkok saat bola matanya lebih dulu menangkap kacamata milik Nara yang telah rusak sepertinya terinjak oleh orang yang menabraknya tadi.


“Ya rusak,” ucap Nara menyayangkan. Menatap kacamatanya yang telah patah.


“Kau tidak bisa melihat tanpa kacamata?” tebak Milan yang jarang melihat Nara tanpa kacamata.


“Bukan itu.”


Nara sebenarnya masih bisa melihat walau tanpa kacamata yang ia sayangkan dia harus membeli yang baru.


“Ayo kita pergi! Aku akan menunjukkan jalan untukmu” ucap Milan semakin mendekat pada Nara lalu merentangkan lengannya di pundak Nara.


Deg ...


Jantung Nara berpacu kencang, aliran darahnya seakan terhenti saat Milan merangkul tubuh mungilnya hingga kepala Nara menempel di dada bidang Milan.


Nara menelan salivanya lekat. Ini gila, dia sedekat ini dengan Milan. Aroma parfum mahal pemuda itu semakin menusuk indra penciumannya. Bahkan Nara bisa mendengar degup jantung Milan yang menggema sama sepertinya.


Nara melangkah seiringan bersama Milan. Ia mendongak menatap garis wajah tampan Milan. Ah sungguh kesempurnaan yang tuhan lukiskan.


Sudah berhari-hari ia bertanya dalam hati apa yang terjadi pada Milan? Kenapa pemuda galak ini berubah padanya?


Namun sejenak dia tidak ingin memikirkan itu. Untuk sesaat, biarkanlah ia menikmat pelukan pemuda tampan ini.


Kapan lagi, ini terjadi di peluk oleh Milan si tampan, benar-benar kesempatan berharga. sebelum Milan sadar bahwa yang ia peluk adalah batu kali, itu batinnya. Ada sebuah kebanggaan menyeruak di hati Nara.


 


Iya Ra, kesempatan ....


Gemes deh Nara belum sadar, kalau Milan udah bucin ...


 

__ADS_1


__ADS_2