
Waktu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah waktu spesial yang telah di tunggu yaitu hari kelulusan Alana.
Alana telah siap, baru saja keluar dari kamar. Melangkah mendekat ke arah Nara dan ibu Salma yang sedari tadi menunggunya.
“Akhirnya selesai juga. Untung kamu cantik hari Na, jadi ibu ngak jadi ngomel, kamu dandan lama banget,” oceh ibu Salma yang jenuh duduk menunggu Alana.
“Ibu! Ngak lama juga!” protes Alana dengan bibir mengerucut beralih pada kakaknya.
“Wah adik kakak cantik sekali!” puji Nara saat Alana telah berdiri di hadapannya, membuat gadis ini mengembangkan senyuman.
“Kakak juga cantik sekali!” balas Alana mengarahkan manik matanya pada tas jinjing yang ada di tangan kakaknya.
“Benarkah?”
Alana lalu memeluk lengah kakaknya, bersikap manja.
“Tasnya bagus banget, nanti Nana pinjam ya,” bujuknya dengan nada mengalun.
Nara menghela napas berat. “Ya, bilang cantik, ada maunya,” desis Nara.
Ibu Salma pun menghampiri mereka.
“Udah, kalian sampai kapan cuma berdiri, Ayo kita pergi, kita sudah terlambat1” ucap ibu Salma melangkah lebih dulu.
Mereka pun tertawa kecil lalu ikut melangkah di belakang ibunya.
****
Tiga perempuan ini telah sampai di acara perpisahan sekolah Alana. Suasana acara kelulusan cukup ramai. Orang-orang berdatangan memasuki gedung.
Nara masih berdiri di luar, menunggu Milan yang berjanji akan datang ke acara Alana.
“Ayo masuk kak!” ajak Alana menarik tangan kakaknya untuk masuk bersama.
__ADS_1
“Kalian saja dulu, kakak lagi menunggu seseorang,” ucap Nara mengarahkan manik matanya ke arah jalan.
“Siapa kak? Kan kak Vino ada pekerjaan. Dan kak Sea juga ngak datang dia lagi di luar negeri kan,” ujar Alana alisnya berkerut, bertanya siapa lagi yang di tunggu kakaknya hanya itu teman dekat kakaknya.
“Siapa yang kakak tunggu!” desak Alana.
“Ada seseorang lagi,” ucap Nara dengan senyum tipis, oh jantungnya kembali berdebar mengingat Milan akan datang sebagai bentuk cintanya pada Nara. “Sudah masuk nanti kakak menyusul!” usir Nara mendorong tubuh adiknya untuk masuk.
“Baiklah kami masuk, tapi kakak jangan lama acara akan di mulai,” jelas Alana.
“Iya.” Nara membalas dengan anggukan.
Moment ini adalah waktu yang Chelsea katakan, pembuktian jika Milan datang padanya hari ini itu berarti Milan mencintainya. Dan jika itu terjadi hari ini juga Nara akan langsung memperkenalkan Milan pada adik dan ibunya sebagai suami.
Berbicara tentang Chelsea sejak menerima telepon penting di rumah Vino, Chelsea sangat sulit di hubungi, ia seperti menghilang. Terakhir kali gadis cantik itu mengabarkan pada Nara melalui telepon jika dia tidak bisa datang ke acara Alana karena sedang berada di Paris. Tiba-tiba saja ia punya agenda penting yang harus di selesaikan, alibinya pada Nara.
Sudah beberapa lama Nara menunggu, ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya setelahnya arah pandang gadis berkacamata ini ke jalan. Acara tak lama lagi di mulai namun Milan belum datang juga. Ada apa? ke mana Milan? Dia sudah berjanji.
“Vino kau datang!” sapa Nara dengan senyum sumringah pada pemuda yang di lehernya mengalungkan tali kamera.
Vino memasang wajah datar bersikap cuek.
“Aku datang untuk adikku!” ucapnya dengan ketus membuang pandangannya.
Nara tersenyum mendengar ucapan itu. Uh, Vino manis sekali, walau dia marah namun masih menyempatkan waktu untuk Alana telah ia anggap adiknya.
“Aku sangat senang kau datang. Nana pasti senang melihatmu!” ujar Nara menepuk pundak Vino.
“Masuklah! Nana pasti senang bertemu denganmu,” imbuhnya.
Vino kemudian berjalan masuk namun baru beberapa langkah ia terhenti menatap Nara.
“Kau tidak masuk?” tanya Vino saat Nara tidak melangkah bersamanya.
__ADS_1
“Kau duluan saja,” jawab Nara dengan senyum kaku.
Vino menatap Nara dengan tatapan menyelidik.
“Aku sedang menunggu kak Milan,” jelas Nara sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa tak tak enak untuk mengatakan ini pada Vino.
Vino pun mendengus, tersenyum kecut. Ah, lagi ia merasakan dadanya sesak, Nara menunggu kedatangan pemuda galak yang telah menjadi suaminya. Ia pun berlalu masuk meninggalkan Nara.
Gadis berkacamata ini menarik napas lega saat bayangan Vino telah menghilang. Kembali menunggu kedatangan Milan.
***
Sementara di tempat lain di dalam kamar Milan. Pemuda ini telah bersiap untuk pergi ke acara Alana. Mengenakan setelan jas berwarna abu-abu membuat aura ketampanannya terpancar.
Setelah bersiap Milan melangkah ke luar kamar dengan senyuman. Dia akan bertemu dengan Nara.
Suara dering ponsel membuat langkah Milan terhenti sejenak. Ia pun meriah ponsel di kantung jasnya, membaca nama kontak yang tertera setelanya menaruh benda persegi itu di telinga.
“Apa kalian mendapatkan informasi penting!”
“Tuan kami telah menemukan titik terang keberadaan nona Zeline.” Terdengar suara di seberang sana.
Deg ... Milan tertegun, jantungnya berdetak dengan kencang. Akhirnya calon pengantinya yang menghilang telah di temukan keberadaannya.
“Aku ke sana sekarang!” ucap Milan dengan tegas mengakhiri panggilan, memasukkan ponselnya kembali di kantung jas. Setelah itu mempercepat langkahnya. Saat ini yang paling penting mendengar informasi tentang Zeline sang mantan.
Like
coment
vote ....
__ADS_1