Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
hidup baru


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna putih masuk melalui gerbang dan terhenti di carport sebuah rumah. Setelah deru mesin kendaraan terhenti. Pintu mobil pun terbuka hingga terlihatlah seorang perempuan cantik, berambut pirang tergerai indah, melangkah anggun dengan sepatu heels tinggi melekat di kakinya, melenggang masuk ke dalam rumah. Manik mata coklatnya menyapu ruangan mencari sesuatu.


Langkah perempuan cantik berpenampilan bak gadis bule ini menuju ruangan makan. Ia menarik kedua sudut bibirnya saat menatap perempuan paruh baya berdiri di meja menyajikan menu masakan.


“Kamu sudah pulang sayang!” sapa perempuan paruh bayah itu menatap ke arah perempuan yang mengenakan dres berwarna  merah hingga membuat kilau kulit putih mulusnya semakin bersinar.


“Iya bu,” balasnya kemudian beralih meraih tangan kanan ibunya lalu mencium punggung tangan itu.


“Ayo Ra makan kamu pasti sudah laparkan?”


“Iya bu, Nara laper banget,” ucapnya dengan wajah berbinar sembari membantu ibunya menata meja makan.


Ya, perempuan cantik berpenampilan bak gadis bule adalah Anara Putri. Setelah memutuskan menetap di kota baru. Dia telah meninggalkan identitasnya sebagai si culun, membuang kacamata yang terus membingkai wajah, serta berhenti mengepang rambutnya. Dengan kemampuannya mengaplikasikan make up, wajah yang selalu polos itu telah menjelma bak gadis bule dengan rambut  pirang terurai dan mata berlensa cokelat, hiasan sudah menjadi kesehariannya hingga kecantikan yang tersembunyi itu telah menggeluarkan pesona yang begitu terpancar, ia pun tertekenal, deretan lelaki pun banyak mengejarnya, bak bunga indah di kelilingin oleh kumbang. Siapa pun melihatnya tidak akan percaya jika dia dulu perempuan cantik ini adalah si culun yang selalu di remehkan.


“Nana mana bu?” tanya Nara menatap ibunya yang telah duduk di kursi.


ibu Salma menghela napas. “Di kamarnya, sejak tadi ngerem, mungkin dia gagal dapat pelanggan,” ucap ibu Salma memasang wajah sendu.


Nara menghembuskan napas berat.


“Ara akan memanggilnya," ucapnya kemudian berbalik melangkahkan kaki ke kamar adiknya.


Hanya berjalan beberapa tapak Nara telah berada di depan kamar adiknya. Tangannya pun membuka pintu kamar.


Nara menatap adiknya duduk di sofa kamar sedang menonton televisi. Ia berjalan mendekat lalu duduk di samping Alana.


“Nana! Ibu sudah masak ayo kita makan,” ajak Nara menatap adiknya yang memencet remote tv dengan kesal.

__ADS_1


“Kakak saja aku tidak lapar!” balas Alana dengan datar. Nana lagi kesal nih. Seenaknya saja dia membatalkannya!” oceh Alana mengeluarkan isi hatinya pada kakaknya.


Nara menghela napas berat, menatap miris Alana yang telah berjuang keras dalam menggeluti dunia merias.


Nara pun beralih merangkul pundak adiknya.


“Sudah jangan sedih! Masih ada kesempatan yang lebih baik, kamu Cuma harus bersabar,” bujuk Nara memberi pengertian dengan nada ceria seakan semua baik-baik saja.


Alana tertunduk lemah.


“Aku ngak akan bisa sehebat kakak! Kakak sekarang jadi make up artis terkenal, sedangkan aku tidak akan bisa,” ujarnya tak bersemangat membandingkan dirinya dan Nara.


Ya, Nara telah sukses menjadi perias terkenal, berkat kerja keras dan ketekunannya, kini dia telah menjadi perias yang menangani banyak artis ternama. Dan Alana pun ingin mengikuti jejak kakaknya namun sangat sulit baginya.


“Nana jangan bilang seperti itu. Kamu ingatkan bagaimana kakak juga dulu memulai semua dari bawah, jadi kamu juga harus semangat.” Saran Nara.


“Orang tidak akan percaya, jika aku bisa merias, wajahku saja ...” ucapan Alana namun suaranya tertelan saat telunjuk Nara menempel di bibirnya.


“Huss. Jangan bilang seperti itu. Kakak akan berusaha agar semuanya kembali sedia kala.”


Nara menangkup wajah Alana.


“Penghasilan kakak dari menjadi make up artis, sudah lumayan banyak. Kakak yakin beberapa bulan lagi kita bisa operasi!” ucap Nara tersenyum tipis beralih mengelus sebelah kanan pipi adiknya yang memerah bekas dari kecelakaan itu.


Alana memegang tangan kakaknya, menatap sendu.


“Tidak perlu, kakak sudah bekerja keras!” balas Alana penuh haru.

__ADS_1


Ah, kakaknya selalu saja mencemaskan keadaannya.


Hati Alana teremas saat melihat bagaimana perjuangan kakaknya selama ini untuk keluarga. Terutama menjalani dua tahun yang berat ini. Bagaimana sang kakak berjuang untuk kesembuhannya yang membutuhkan waktu yang panjang.  


Perempuan berwajah bule ini tersenyum tipis pada adiknya.


“Semua untuk adik tersayang kakak. Apa-pun akan aku lakukan untukmu!” ujar Nara.


“Terima kasih kak,”  balas Alana mengembangkan senyuman.


“Kakak yang terima kasih padamu karena kamu telah bertahan dan tidak meninggalkan kakak,” haru Nara masa sulit itu telah ia lewati dan adiknya masih bersama dengannya.


“Aku akan menjadi perias yang hebat seperti kakak!” ucap Alana dengan menggebu-gebu.


“Kamu pasti bisa!” tangan Nara terkepal di udara memberi semangat.


Senyum Alana semakin terkembang dengan mata berbinar mendapat semangat dari sang kakak.


“Sudah ayo kita makan!” ajak Nara menarik tangan adiknya untuk keluar dari kamar menuju ruang makan untuk makan bersama ibunya.


Waktu telah berjalan dua tahun Nara telah hidup damai bersama dengan keluarga kecilnya. tangis, rasa sakit, pedih telah mengikis perlahan dia telah bangkit menata hidupnya. Menjadi perias yang namanya di perhitungkan dan tentunya dengan identitas yang baru agar tak ada yang mengenali masa lalunya.


......................


ya kurang lebih begitulah kehidupan Nara.


maaf up date makin kacau nih ....

__ADS_1


__ADS_2