Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
ingin pindah


__ADS_3

Nara melambaikan tangan pada pemuda yang berada di dalam mobil sport berwarna putih. Menatap lekat bayangan mobil yang semakin menjauh darinya.


Ya, Milan baru saja mengantarnya pulang setelah semalaman mereka menghabiskan malam indah bersama di rumah baru.


Gadis berkacamata ini menghela napas berat, melangkah gontai masuk ke dalam rumah tubuhnya terasa remuk, redam tak bertenaga setelah melalui malam pertama bersama Milan.


Tangan Nara terulur membuka pintu rumah. Baru saja melangkah masuk dia telah di sambut oleh adik dan ibunya yang memasang wajah khawatir karena semalam dia tak pulang.


"Kamu dari mana saja Ra?” tanya ibu Salma cemas menatap wajah Nara yang pucat dan lemas.


Nara terdiam, memikirkan jawaban untuk ibunya, tak mungkin dia mengatakan jika ia menginap semalaman bersama Milan.


“Nara menginap di rumah Sea, Bu,” bohong Nara kemudian menyeret langkah menuju sofa.


Adik dan ibunya pun beroria, memaklumi kemudian ikut duduk di sampingnya.


“Kak Nara bagaimana rumahnya?” tanya Alana tak sabar.


“Iya, beneran kan Ra. Bukan penipuan?” tambah ibu Salma penasaran.


Nara menghela napas menyandarkan tubuh lemahnya di sofa.


“Benaran ada Bu,” jawab Nara malas. Bukan rumah itu yang ia pikirkan tapi nasibnya yang kehilangan keperawanan di rumah karena Milan.


“Yes.”


“Hore ....”


teriak girang ibu Salma dan Alana mulai heboh.

__ADS_1


“Bagaimana rumahnya Ra?” tanya ibu Salma.


“Bagus Bu, malah sudah lengkap sama isinya.”


“Benarkah,” mata mereka semakin berbinar.


Nara mengangguk pelan. Rasanya ia tak punya tenaga meladeni adik dan ibunya. Tubuhnya sangat lelah.


“Benaran hebat ya bu, kupon panci bisa dapat rumah,” Alana berdecak kagum.


“Koleksi ibu!” sahut ibu Salma menepuk dada bangga.


“Jadi kapan kita pindah?” tanya Alana.


“Pindah!” Nara menegakkan posisi duduknya menatap ibu dan adiknya bergantian meminta penjelasan


“Iya, Ra. Ibu pikir lebih baik kita pindah menempati rumah baru,” jelas ibu Salma akan rencananya.


“Biar beban kamu berkurang nak, kita tidak perlu lagi memikirkan hutang pada bank, kamu juga tidak perlu bekerja terlalu keras lagi, ibu ngak tega,” ucap ibu Salma mengelus pipi Nara dengan lembut.


“Bu, rumah ini banyak kenangannya.”


“Kenangan buruk Ra,” sela ibu Salma membuat Nara terbungkam.


“Di rumah ini hanya ada kenangan buruk kehidupan kita, cacian, makian semua akibat perbuatan ayahmu.” Suara ibu Salma terdengar bergentar menahan cairan bening yang lolos dari pelupuk matanya.


Melihat itu Nara dan Alana kompak  memeluk ibunya. memang bukan mudah kehidupan yang mereka jalani selama ini.


“Ibu jangan sedih.”

__ADS_1


“Ayolah kakak, kita pindah saja. Ke rumah baru, lagi pula sayangkan kalau tak di tempati,” ujar Alana.


Nara terdiam sejenak sebenarnya dia masih ragu dengan rumah hadiah itu, hatinya belum sepenuhnya menerima. Akan tetapi melihat ibu dan adiknya yang sangat ingin melupakan kenangan buruk masa lalu membuatnya tak berdaya.


“Baiklah kalau itu pilihan kalian. Nara ikut saja dengan keputusan kalian.” Gadis berkacamata ini  akhirnya mengiyakan.


"Hore ....” sorak Alana girang beralih memeluk Nara.


Ibu Salma mengembangkan senyuman.” Terima kasih Ra.” Ucapnya.


“Kapan kita pindah rumah Bu?” tanya Alana.


“Secepatnya!”


“Ibu atur saja. Nara masuk dulu.”


Nara beranjak dari duduknya, melangkah lemas menuju kamarnya.


Nara menghempaskan tubuhnya ke rajang, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan, mereka akan pindah ke rumah baru.


Rumah yang telah berkesan baginya, merupakan saksi bisu malam pertamanya bersama Milan.


Nara kemudian bangun beranjak duduk di cermin rias. Membuka kacamata yang membingkai wajahnya,  menatap dirinya dari pantulan cermin. Tangan Nara terulur mengambil kapas di meja lalu mengusapnya ke arah leher hingga terlihatlah jejak kecupan mahakarya Milan di lehernya, yang tadi ia tutupi menggunakan foundation.


Ah, dia telah menyerahkan dirinya pada Milan. Seharusnya itu tidak terjadi, ada rasa sesal dalam hati Nara. Tapi bagaimana pun Milan adalah suaminya berhak atas dirinya.


“Aku sudah bukan anak perawan lagi!” decak Nara.


Wajah Nara memanas saat bayangan liar itu kembali berputar bak roll film di kepalanya. Bagaimana Milan memperlakukannya dengan begitu lembut dan mendamba membuatnya merasa di cintai.

__ADS_1


“Cinta!” batin Nara merangkai perubahan  sikap Milan selama ini padanya.


Oh mungkinkah Milan jatuh cinta padanya? Pertanyaan itu seketika merasuk dalam dirinya.


__ADS_2