
Di gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Di ruang presdir Maxkal, Milan terlihat sibuk bergelung dengan banyaknya berkas laporan sesekali menatap layar komputer untuk mencocokkan data.
Sejenak perhatian Milan teralihkan saat Kay masuk ke dalam ruangan membawa berkas laporan. Setelahnya kembali menatap komputer.
“Ini laporan yang kau minta,” ucap Kay meletakkan map lalu mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di hadapan Milan.
Tangan Milan terulur mengambil berkas itu. Tak menghiraukan Kay membuat pemuda ini menatap heran sang atasan yang terlihat sangat sibuk.
"Siapkan semua laporan yang penting, atur jadwal, kita akan ke Jepang,” ucap Milan dengan nada datar sembari membaca laporan.
"Ke Jepang?” ulang Kay mengening,
“Bukan kah kau tak ingin ke sana?” Masih jelas di ingatannya Milan tak ingin pergi.
“Aku ingin melihat proyek itu?” tegas Milan.
Kay bertanya-tanya dalam hati ada apalagi dengan pemuda galak ini. Namun hanya memilih diam.
“Baiklah aku akan mengaturnya, kita akan ke Jepang,” sahut Kay lalu beranjak meninggalkan ruangan Milan.
Melihat Kay telah meninggalkan ruangan.
Milan melempar berkas laporannya dengan kasar, memijat pelipisnya. Bayang mencium si culun berputar memenuhi kepalanya.
Setelah mengetahui perasannya pada Nara Milan menyibukkan diri, mencoba agar pikirannya tidak terus terpaku pada si culun. Bagaimana pun dia tidak ingin cinta ini semakin tumbuh di hatinya.
__ADS_1
Ya perasaan pada si culun itu salah dan dia harus menghapusnya.
****
Sementara Milan galau akan perasaannya. Gadis yang membuat hati Milan jungkir balik malah sedang berada di rumah bercengkerama dengan adiknya di dalam kamar.
Nara berbaring di kasur menelungkupkan tubuhnya. Inilah akibat menjadi MUA yang banyak orderan.
"Kulit punggung kakak bisa terkelupas, jika terus kerokan seperti ini,” oceh Alana sembari tangannya sibuk mengoles koin di punggung Nara.
“Udah Na, jangan bawel, kerok aja," balas Nara dengan mata tertutup menikmati sensasi yang di berikan Alana di punggungnya.
“Kakak ini sudah ngak enak badan berhari, yang kakak butuh kan itu, ke dokter lalu istirahat. Jangan bekerja terus,” oceh Alana sejak tadi.
“Kerja mulu, kaya ngak, tipes iya,” gerutu sang adik.
“Nana,” protes Nara.
Nara berbalik memperbaiki posisinya, duduk menatap adiknya yang terlihat sedih dengan keadaannya.
Nara meraih tangan adiknya mencoba memberi pengertian. “Pekerjaan kakak sebagai MUA sekarang udah bernilai belasan hingga puluhan juta, kalau seperti ini terus kakak bisa membayar berlipat, dua bahkan tiga bulan cicilan kita. Jadi cicilan kita akan cepat selesai, rumah kita selamat dari bank,” jelas Nara yang hidupnya penuh dengan cicilan.
“Beberapa bulan lagi kau juga akan kuliah, kakak akan menguliahkanmu di kampus terbaik,” tambahnya dengan antusias.
Air mata haru seketika menetes di pipi Alana dia pun beralih memeluk kakaknya tersayang.
__ADS_1
“Makasih kak, atas semua perjuangan kakak.”
“Ini semua demi kalian.”
“Nana hanya khawatir dengan keadaan kakak, Nana ngak mau kakak sakit, ini sudah berhari-hari," Alana semakin terisak.
"Ini semua karena lelaki pemabuk itu, kita semua menjadi menderita. Kakak jadi harus bekerja keras," gerutu Alana akan biang penyembab penderitaan mereka.
“Nana sudah lupakan itu, Dia ayah kita bagaimana pun dia yang telah membesarkan kita.” Nara mengelus punggung adiknya.
Pelukan terlepas Nara mengusap air mata adiknya. “Kakak tidak apa-apa. Lagi pula, kalau kakak rajin, tahun depan mungkin kita sudah bebas dari cicilan.”
“Benarkah berarti kakak ngak sibuk lagi dong?” Alana kembali bersemangat.
“Iya, tinggal cari uang menabung untuk ibu naik haji,” celoteh Nara
“Sama nambah bayar koleksi kredit panci ibu,” sela Alana.
Nara dan Alana kompak terkekeh akan koleksi unik ibu mereka.
"Sudah lanjut lagi," Nara kembali berbaring telungkup.
"Okey, boss," ucap Alana kembali mengerik punggung Nara dengan uang koin.
__ADS_1