
“Selamat untuk pernikahan kalian semoga kalian selalu bahagia,” ucap Milan dengan tulus pada pasangan pengantin yang baru saja resmi menjadi suami-istri itu.
Milan memeluk sekilas tubuh sahabat yang telah menjadi adik iparnya.
“Jaga adikku dengan baik,” pesan Milan.
“Kau tenang saja! Aku akan membahagiakannya!” ujar Kay dengan raut wajah terpancar kebahagiaan senyum tiada surut dari wajahnya.
“Semoga kau tak melakukan kesalahan sama sepertiku,” Milan memasang raut sedih.
“Lan!” sela Kay memasang wajah prihatin pada sahabatnya.
Sudah dua tahun luka itu belum juga sembuh dari hati Milan.
Kay dan Chelsea telah resmi berada dalam ikatan suami istri.
Berbeda dengan Kay yang begitu bahagia dengan pernikahannya namun tidak dengan Chelsea, gadis itu terus terdiam. Hatinya tersayat, harapannya telah kandas sahabatnya tak datang di hari pernikahannya. Rasanya ia ingin menangis menumpahkan kekecewaannya.
Ah, upaya yang ia lakukan semuanya sia-sia. Bahkan sekarang dia telah menjadi istri dari lelaki yang tidak pernah ia harapkan.
Sudah seharian Chelsea dan Kay berdiri menjamu tamu undangan. Chelsea masih berharap di dalam hati jika sahabatnya itu akan datang walau terlambat. Namun hingga acara berakhir orang yang di nantikan tidak kunjung menampakkan diri membuatnya menjadi putus asa.
__ADS_1
“Kalian benar-benar tidak datang!” jerit Chelsea di dalam hati memasang wajah tak bersemangat.
////
Chelsea telah berada di sebuah kamar untuk jeda sebelum ia kembali berganti dandanan serta mengenakan pakaian pengantin untuk acara resepsi, menjamu tamu malam nanti. Setelah berada di dalam kamar, bukan beristirahat gadis cantik ini malah meraih ponselnya di nakas dengan cepat mengusap sebuah nomor kontak.
“Bagaimana apa kalian menemukan mereka?” tanya Chelsea dari sambungan telepon pada seseorang yang ia tugaskan mengawasi tamu undangan di pesta pernikahan tadi, mencari keberadaan Vino dan Nara.
“Maaf nona Chelsea, kami tidak melihat, sahabat Anda Nara dan Vino hadir di pesta tadi, mereka memang tidak hadir.” Lapor suara di seberang sana membuat perempuan ini menghela napas berat kemudian memutuskan sambungan panggilan sepihak.
Gadis cantik ini merosotkan tubuhnya yang lemah ke lantai setelah mendengar laporan tentang orang yang ia perintahkan bahwa sahabatnya tidak hadir di pesta pernikahannya.
“Kalian tega sekali! Membiarkan aku sendiri! Tidak ada dari kalian yang menyaksikanku menikah!" rintih Chelsea dengan derai air mata meluapkan kesedihannya. Rasa kecewa, putus asa merasuk dalam dirinya.
“Nona Chelsea acara akan segera di mulai!” ucap salah satu perempuan yang akan membantu gadis itu berjalan menuju pelaminan.
Ah dia sudah harus menjalani rangkai acara pernikahan lagi.
Menarik napas berat Chelsea pun bangkit dari duduknya, melangkah keluar untuk menjamu tamu undangan yang akan hadir.
Gadis cantik ini telah meninggalkan kamar. Langkah kaki Chelsea terasa sangat berat untuk menuju pelaminan, rasa putus asa yang tersimpan di hati membuat sudah tidak ada semangat lagi dari dalam dirinya.
__ADS_1
Ya ampun dia ingin menghilang saja dari situasi ini. Rasanya sungguh melelahkan.
“Kenapa kau tidak memakai tusuk konde ratu ular itu!” ucap keras seseorang dari balik sana.
Membuat Chelsea tersentak menghentikan langkahnya. Suara itu ...
Oh astaga. Dia sangat mengenal suara itu, suara yang telah lama tak ia dengar, suara yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini. Celetukan pedas dari sahabatnya itu.
Mendengar suara itu kembali menyapanya lagi seketika Chelsea berbalik mencari dari mana asal suara itu hingga.
Deg ...
Aliran darah perempuan cantik ini seakan terhenti, debaran jantungnya semakin terpompa cepat. Ia berdiri tertegun menatap jauh seorang yang berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding serta tangan bersedekap di dada, Seketika rasa rindu itu melumuri jiwa. Manik mata Chelsea berembun, tak lama bulir kristal mulai turun membasahi pipinya. Ia mulai terisak di tempat menatap pemuda tampan yang mengenakan tuxedo putih itu.
“Vi ... Vino!” ucap Chelsea terbata dengan suara bergetar menahan tangis harunya. Saat dia telah putus asa bak angin segar. Sahabatnya yang ia rindukan selama ini telah hadir di hadapannya setelah dua tahun lamanya terpisah. Rasa rindu, sedih bahagia, berbaur menjadi satu.
Tanpa kata lagi, Chelsea mengangkat tinggi gaun pengantin panjang menjuntai menyapu lantai itu, agar dapat melangkah cepat mendekat ke arah seseorang yang telah ia nantikan kehadirannya.
Like
Coment
__ADS_1
Vote ...