
Langit senja menggelap, tertutup oleh awan mendung pertanda alam, jika tak lama lagi hujan akan turun mengguyur bumi. Milan baru saja menginjakkan kaki di bandara. Ia telah sampai setelah melalui penerbangan selama beberapa jam.
Pemuda ini kini telah berada di tempat tujuannya, berdiri tegak di depan sebuah rumah sederhana berwarna hijau dengan deretan pot-pot bunga, itu adalah rumah tinggal Nara.
Milan pun memutuskan langsung ke rumah Nara untuk menemui si culun. Tentu bukan sulit bagi seorang presdir seperti Milan menemukan rumah Nara.
Tangan Milan mengetuk pintu rumah. Setelah beberapa saat, benda persegi itu pun terbuka.
Ibu Nara berdiri diambang pintu menatap lekat, pemuda tinggi dengan setelah jas terlihat sangat tampan yang ada di hadapannya.
“Astaga ganteng banget!” seru ibu Nara terpukau.
Wajah tampannya, kulit putih mulusnya, penampilannya sungguh sempurna.
“Emm.” Milan berdehem.
Salma pun tersadar, mengembangkan senyuman.
“Ada apa ya?” tanya ibu Salma.
“Saya ingin bertemu dengan Nara," ucap Milan dengan senyum ramah.
“Nara.” Salma menatap penuh selidik untuk apa pemuda tampan, mencari putrinya, yang ibunya tahu satu-satunya lelaki yang bersama putrinya adalah Vino.
“Saya Milan bu, kak Sea,” ujar Milan memperkenalkan diri.
Mendengar siapa pemuda yang datang ke rumahnya, seketika Salma mengembangkan senyumannya.
“Kamu kakak Sea!” seru ibu Salma antusias. kakak dari sahabat bak kepompong putrinya datang ke rumahnya.
“Iya, bu.” Mengulas senyum lembut.
“Ayo masuk. Kenapa baru berkunjung ke sini. Sea sering main ke sini.” Ibu Salma menggiring tubuh tinggi Milan masuk ke dalam rumah.
“Duduk dulu.”
Milan pun mendaratkan tubuhnya di sofa, pandangannya memutar menatap isi di dalam rumah, sungguh sangat sederhana.
"Nara masih merias, ngak lama lagi dia pulang,” jelas ibu Salma dengan senyum sumringah.
“Masih merias.”
Milan mendesah kasar tak habis pikir, mengapa Nara masih merias saat kondisinya sedang sakit.
“Iya kamu tunggu aja sebentar.”
Alana keluar dari kamar saat mendengar suara heboh ibunya dari ruang tamu.
Alana menatap pemuda tampan yang duduk bersama ibunya. Sepertinya ia tak asing dengan wajah itu.
“Alana, sini ada kakak Sea,” panggil ibu Salma.
“Ini Alana, adik Nara,” ucap Ibu Salma memperkenalkan.
“Milan Kalingga!” decak kagum Alana, dengan cepat ikut bergabung, siapa yang tidak tahu Milan Kalingga, presdir perusahaan Maxkal, kaya, tenar, tampan dan di kagumi oleh kaum hawa karena kesempurnaannya.
“Ternyata kakak lebih ganteng dari yang Nana liat di tv,” puji heboh Alana.
“Benarkah.” Milan membalasnya dengan senyuman.
Alana mengangguk.
Ini pertama kalinya Milan bertemu dengan ibu dan adik Nara ternyata mereka sangat ceria menyambutnya dengan ramah. Pantas saja adiknya nyaman berteman dengan si culun.
“Karena kamu sudah ada di sini kamu harus makan malan di sini,” terang ibu Salma.
“Tidak perlu repot-repot bu,” balas Milan tak enak hati.
__ADS_1
“Ngak repot kok. Sea sudah ibu anggap anak ibu, berarti kamu juga,” ujar Ibu Salma dengan senyum lembut.
“Iya kak, makan malam di sini saja,” Alana ikut mendukung keinginan ibunya.
“Nak Milan, harus rasain masakan ibu. Dingin begini enaknya makan sup, ibu akan bikin sup,” cetus Ibu Salma suasana memang mulai dingin tanda akan turun hujan.
Ibu Salma pun bangun dari duduknya hendak menuju dapur.
“Ingat bu, Ini kak Milan Kalingga, presdir Maxkal jangan sampai ibu ngasih makan sup ceker,” cibir Alana memasang wajah tanpa dosa.
Mendengar itu ibu Salma berbalik memaksakan senyuman.
Milan menahan tawa akan celetukan Alana.
“Ya ngak mungkin lah Nana, Ibu akan bikin sup daging,” ucapnya.
“Beneran sup daging ya bu, jangan sup tulang. Kasian kak Milan ngemut tulang,” celetuk Alana lagi akan kehidupan hemat mereka.
Milan terkekeh pelan melihat perdebatan ibu dan anak ini. Milan baru sadar jika memiliki mertua dan adik ipar yang lucu.
“Nana.” Mata Ibu Salma memicing tajam menatap putrinya.
“Tunggu saja di sini.” Ibu Salma mengertakkan gigi pada Alana setelanya tersenyum pada Milan.
“Apa pun yang ibu masak, saya akan makan,” sela Milan.
Ibu Salma tersenyum puas, masuk ke dalam dapur. Meninggalkan Alana dan Milan berbincang santai, mengenai kehidupan mereka, bagaimana Nara berjuang untuk keluarga sejak dulu. Bagaimana persahabatan antara Nara dan adiknya, sifat dan tingkah Nara sehari-hari yang Milan tak tahu. Milan menyimak tanpa satu kata pun terlewat dari penjelasan Alana.
Obrolan mereka terhenti saat ibu Salma telah kembali di antar mereka memanggil untuk menikmati makan malam.
Kini mereka telah berada di meja makan, menyantap hidangan makan malam bersama.
Dan benar hidangan spesial sup daging menggugah selera tersaji.
“Cobain masakan ibu,” ucap Ibu Salma.
Milan pun mulai mencicipi sup buatan ibu Salma.
“Makan yang banyak, jangan malu-malu. malu itu ngak bikin kenyang,” canda ibu Salma.
“Saya akan makan yang banyak dan nambah. Kebetulan saya juga dari tadi belum makan, saya baru saja dari Jepang,” terang Milan memasukkan makanan ke mulut.
“Jepang!” kompak Alana dan Ibunya tercengang.
“Jadi kak Milan dari Jepang langsung kemari?” tanya Alana.
Milan menjawab dengan mengangguk sembari makan dengan lahap. Bagaimana tidak demi bertemu dengan Nara dia bahkan lupa mengisi perutnya.
“Luar negeri. Itu pasti jauh, makan yang banyak,” ibu Salma semakin bersemangat.
Hingga makan malam berakhir Nara belum juga pulang. Suara gemuru hujan akhirnya terdengar, air dari langit tumpah membasahi bumi. Milan semakin cemas memikirkan keadaan Nara yang belum juga pulang.
Ah, Milan tidak menyangka jika Nara belum pulang ke rumah, andai ia tahu ia pasti akan menjemputnya di tempat merias.
“Di luar hujan deras, Nara pasti terjebak hujan,” ucap ibu Salma cemas saat ini mereka duduk berkumpul di ruang ke keluarga menanti kedatangan Nara.
“Dari tadi ponselnya dan Sea ngak bisa di hubungi,” sahut Milan.
“Kak Vino juga,” sahut Alana.
Ibu Salma menatap wajah lelah Milan.
“Nak Milan menginap saja ya di sini, hujan masih deras ngak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini, nak Milan juga pasti lelah kan dari Jepang,” usul Ibu Salma.
Milan terdiam.
“Nak Milan bisa pakai kamar Nana, nanti dia tidur di kamar Nara.” tambahnya.
__ADS_1
“Nana, antar nak Milan ke kamar kamu, biar dia istirahat, dia pasti lelah,” titah ibu Salma.
“Tapi bu, saya merepotkan ibu,” sela Milan.
“Anggap aja rumah sendiri.”
Alana melangkah menujukan di mana letak kamarnya. Milan pun ikut berjalan di belakang Alana untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sambil menunggu Nara. Setelah menimbang, akhirnya Milan memutuskan untuk menginap, lagi pula yang di katakan ibu Nara benar tubuhnya memang sangat lelah. Kepalanya juga mulai pusing.
Milan telah berada di kamar Alana, membaringkan tubuhnya sejenak namun yang terjadi dia tertidur.
Malam telah larut Memecah derasnya hujan, Nara akhirnya sampai di rumah dalam keadaan basah kuyup. Tubuhnya menggigil, ia yang memang telah demam, merasa semakin buruk setelah terkena air hujan. Ia pun bergegas berganti pakaian tidur setelanya masuk ke dalam kamar adiknya, seperti biasa jika kondisinya menurun, Alana adiknya akan menjadi tempatnya mengeluh memintanya untuk memijatnya, mengeroknya, apa-pun itu.
Cahaya kamar Alana yang teraman membuat Nara tak melihat jika bukan adiknya yang bergelung di balik selimut. Melainkan Milan.
Tidur Milan terusik saat merasakan ranjang melesak, ada seseorang berbaring di sampingnya kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Milan.
Milan tersentak, kelopak matanya terbuka lebar menyadari itu adalah Nara. Irama jantungnya seketika berdesir hebat, perempuan yang ia rindukan telah berada di sampingnya memeluknya.
“Nana dingin.” Suara itu terdengar lirih, Milan merasa tubuh Nara menggigil memeluknya.
Tangan Milan lalu terulur memeriksa kening Nara dengan punggung tangannya.
“Badannya panas sekali,” gumam Milan.
“Nana peluk kakak, dingin Nana,” rintih Nara semakin mendekap tubuh mencari kehangatan dari tubuh Milan. Tak tahu jika yang ia dekap bukan tubuh adiknya melainkan tubuh pemuda galak.
Melihat kondisi Nara, hati Milan pun menjadi iba.
Milan mengatur posisi menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Nara lalu mendekap tubuh mungil itu agar hangat.
“Aku tidak akan membiarkanmu bekerja keras lagi, akan kubuatku hidup nyaman sebagai nyonya Kalingga,” ucap Milan mendekap erat tubuh Nara memberikan kecupan di puncak kepalanya. Nara semakin masuk ke dalam pelukan Milan, mengendus aroma parfum yang menusuk indera penciumannya.
“Nana kau parfum baru ya? Wangi sekali,” rancau Nara dalam dekapan Milan.
Milan menghela napas berat, bisa-bisa Nara masih membahas parfum di saat seperti ini.
“Dia malah membahas parfum,” batin Milan.
“Beli di mana? kakak mau? Wanginya seperti kak Milan.” Rancau Nara tanpa sadar, karena yang ia ketahui dari Sea jika pemuda galak itu sekarang berada di Jepang. Tak mungkin berada di rumahnya apalagi tidur di kamar Alana. Mustahil ...
“Ternyata parfum mahal yang di pakai kak Milan ada juga KWnya. Nana kalau murah pesanin kakak langsung setengah liter mumpung murah,” rancau Nara dengan mata tertutup.
“Takarannya liter! Dia mau beli parfum atau bensin eceran,” sungut Milan dalam hati.
“Nana dingin.” Nara kembali merintih.
“Aku di sini, aku akan terus memelukmu,” ucap Milan.
Milan pun semakin mendekap tubuh Nara, mengecup pucak kepala Nara bertubi-tubi meluapkan seluruh perasaan rindu yang selama ini di tahan. Cipratan-cipratan rindu itu menjadi bergelora dalam dirinya, membuat tubuhnya memanas.
“Nana mengapa kau menciumiku,” rancau Nara merasakan ciuman itu kini beralih di wajahnya.
“Aku sangat merindukanmu. Anara putri. Istriku ...” ucap Milan. Setelanya mellumat lembut bibir Nara.
Kini dengan sadar Milan telah mengakui Nara sebagai istrinya.
Hai otor lagi buntu ngak tahu bisa up besok apa kaga, doaini aja dapat pencerahan ...
__ADS_1