
Kakak beradik ini berada di sebuah Mall tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu seharian berputar di tempat itu mencari kebutuhan untuk acara di sekolah Alana sembari menyegarkan pikiran sudah lama juga mereka tidak menghabiskan waktu bersama.
“Udah semua kan?” tanya Nara.
Alana menatap isi beberapa kantung paperbag yang ada di tangannya.
“Udah kak,” jawabnya dengan senyum sumringah.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu, kakak sangat lapar. Kamu juga kan!” ajak Nara mengelus perutnya yang sejak tadi telah meminta untuk di isi.
“Iya kak.” Alana mengangguk.
Dua gadis berkacamata ini pun melangkahkan kaki menuju sebuah food court. Tak beberapa lama mereka telah berada di tempat itu. Nara memutuskan untuk memesan sedangkan Alana menunggu di meja.
Nara berdiri dia antara baris antrean menunggu giliran hingga suara dering ponselnya terdengar. ia pun meraih benda pipih itu dari tas selempangnya.
“Kak Milan!” rancau Nara saat menatap layar yang tertera di ponsel.
“Kamu di mana?”
“Lagi di mall kak sama Nana.”
“Aku akan menyusulmu."
Nara seketika panik, adiknya pasti heran jika Milan Kalingga menjemput mereka. Alana bisa curiga.
"Tidak perlu kak! Ini juga sudah mau pulang!”
“Baguslah, Aku akan menjemputmu!”
“Kak tidak ..."
“Aku ke sana sekarang!”
Panggilan terputus setelah Milan kata itu terucap hingga Nara tidak punya pilihan lain.
Benar, Milan yang tidak bisa terbantahkan!
Nara menghela napas berat menatap ke arah Alana. Adiknya itu pasti akan curiga jika melihat Milan datang menjemputnya. Alana pasti akan menanyainya banyak hal tentang Milan.
Nara melangkah kembali ke arah Alana setelah pesanannya telah sedia namun dalam keadaan telah terbungkus.
Alis Alana berkerut dalam saat kakaknya kembali tanpa membawa nampan berisi makanan.
“Mana makananya kak?” tanya Alana.
“Ini.” Tangan kanan Nara terangkat menunjukkan bungkusan berisi makanan.
“Kok di bungkus!” protesnya.
Nara tersenyum kaku. “Kakak ada urusan mendadak! Kamu pulang lebih dulu ya.” jelas Nara terpaksa harus berbohong demi adiknya tidak curiga.
"Urusan apa sih Kak?” bibir Alana mulai mengerucut terlihat gurat kecewa di wajahnya.
“Kakak mau ketemu klien di mall ini dan ngak lama lagi dia datang.”
“Ya, kak,” balas Nara dengan tak semangat.
“Sudah lain kali kita jalan- jalan lagi,” bujuk Nara.
Mendengar itu senyum kembali mengiasi wajah Alana. Ia pun mengangguk.
Sungguh Nara juga merasa tak enak hati membuat adiknya. Kecewa.
“Makasih ya kak!” ucap Alana sebelum pergi memeluk sayang kakaknya.
“Apa-pun untuk adik tersayang kakak!” balasnya.
__ADS_1
Nara menarik napas lega saat Alana telah meninggalkan mall rahasianya aman. Bagi Nara belum saatnya keluarganya tahu.
Setelah beberapa saat menunggu, Milan akhirnya datang juga. Ia pun masuk ke dalam sedan berwarna silver itu.
“Kak Milan!” sapa Nara melepaskan senyuman pada pemuda tampan yang duduk di kursi kemudi.
“Mana Nana?” tanya Milan menatap bingung Nara yang hanya seorang diri.
“Sudah pulang kak! Dia ada urusan!” jawabnya cepat.
“Pulang! Aku ingin mengantarnya!”
Nara hanya membalasnya dengan senyum kaku.
Milan pun melajukan kendaraannya meninggalkan Mall. Memecah jalan sembari bertukar cerita dengan perempuan yang selalu terniang-niang di pikirannya.
Tatapan Nara menyusuri jalan yang mereka lalui hingga ia melihat sebuah tempat yang sangat dia sukai.
“Kak Milan berhenti sebentar!” pinta Nara arah tatapan tertuju pada sebuah gerai.
“Ada apa?” tanya Milan dengan tangan memutar stir, menatap bingung sembari mengurangi laju kendaraannya.
“Aku ingin membeli minuman boba!” ucap Nara dengan cengiran.
Seketika rasa lapar kembali menerjang saat melihat gerai boba, dia memang belum makan apa-pun sejak tadi. minuman boba kesukaannya itu bisa mengurangi sedikit rasa lapar itu.
Milan menghela napas ternyata hanya karena boba kesukaan Nara. Ia pun menepikan mobilnya sesuai dengan petunjuk Nara setelahnya kendaraan menepi.
“Tunggu sebentar kak!” ucap Nara membuka pintu mobil lalu bergegas turun untuk membeli minuman kesukaannya itu.
“Hei!” panggil Milan namun Nara telah berlalu dengan semangat tak mengidahkan.
“Seperti anak kecil saja!” ucap Milan dengan kedua sudut bibir tertarik. Merasa lucu dengan kesukaan istrinya namun gemas Nara terlihat begitu manis membuatnya semakin sayang.
Setelah beberapa saat Nara telah selesai. Milan yang menunggu di mobil tersenyum lucu dari kaca jendela, melihat Nara melangkah menuju ke arah mobil dengan tangan kiri memegang kantung plastik, sedangkan sebelah tangan kanannya mengarahkan minuman boba ke mulut.
Sedang asik dengan bobanya.
Tiba-tiba gadis berkacamata ini merasa ada sesuatu yang menubruknya dengan keras dari arah belakang, membuat tubuh mungilnya terdorong tubuhnya oleng ia kehilangan keseimbangan hingga terjatuh.
Buk ...
“Aww!” keluh Nara.
Nara tersungkur, dengan lutut menopang tubuhnya, minumannya jatuh berserakan di lantai.
“Istriku!” pekik Milan dari dalam mobil melihat Nara terjatuh karena ada seorang yang menubrukkan tubuhnya dengan Nara.
Degan cepat ia berlari menghampiri Nara yang dalam posisi duduk di bawah. Pakaian yang ia kenakan basah karena minuman itu, dia terlihat kacau.
Milan jongkok melihat keadaan Nara.
“Kamu ngak apa-apa? Mana yang sakit?” tanya Milan dengan cemas, memeriksa seluruh bagian tubuh Nara.
Nara menatap sekelilingnya lalu menjawabnya dengan gelengan masih terkejut. Ia jatuh di depan umun dan pandangan orang-orang telah mengarah padanya.
Ah sungguh malu, sakitnya ngak seberapa malunya ini, rasanya Nara ingin menghilang saja.
Milan kemudian berdiri menatap tajam pada punggung seorang yang mengenakan topi serta pakaian serba hitam yang menabrak Nara. Seketika amarahnya Naik.
“Hei kau tidak punya mata!" hardik Milan tangannya mengepal erat.
“Maaf! Aku tidak sengaja,” ucap orang itu dengan nada datar tanpa berbalik sedikit pun ke arah mereka membuat emosi Milan semakin tersulut.
“Kau membuat istriku jatuh! Kau Cuma bilang maaf!” bentak Milan semakin geram. Apalagi setelahnya orang itu melangkah pergi tanpa rasa bersalah.
Milan murka, hendak maju mengejar, dia sudah hilang kendali ingin melayangkan pukulan ke arah orang yang telah menabrak istrinya.
__ADS_1
“Kak Milan jangan!” tahan Nara berdiri menghalau tubuh Milan.
“Aku akan menghajarnya! Aku tidak akan melepaskannya!” murka Milan.
“Kak aku tidak apa-apa!” ucap Nara menenangkan.
“Dia sudah menyakiti istriku!” tekan Milan dengan suara menggelegar hingga perhatian orang-orang semakin banyak.
“Kak aku benar-benar tidak apa-apa! Tidak ada yang luka! Kak please!” mohon Nara dengan nada terendah.
Mendengar permohonan Nara Milan membuang napas kasar. Mencoba meredam emosinya.
“Kau yakin ngak apa-apa!” suara itu melunak.
Nara mengangguk sembari tersenyum.
Milan kemudian membuka jas yang ia pakai lalu menutup tubuh Nara membuat gadis ini tersentak.
“Kak ...” suara Nara tertelan belum sempat dia berucap Milan telah membungkuk mengulur tangannya di bawah lutut. Menggendong Nara ala bridel.
“Kakak turunkan aku!” protes Nara.
“Jangan banyak bergerak!”
Wajah Nara seketika panas, jantungnya berdetak kencang tak karuan.
Uh, dia di gendong di depan orang ramai. Ia pun, melingkarkan tangannya di leher Milan, menyembunyikan wajahnya di dada Milan saat mendengar suara decakan kagum dari orang-orang.
“Wah manis sekali!” terdengar orang-orang.
“Dia beruntung sekali punya suami seperti itu! Sangat sayang pada istrinya!”
Nara mematung menatap wajah Milan ada rasa bangga menyeruak dalam hatinya. Irama jantungnya terus menggila mendapatkan perlakuan manis Milan.
Di sudut yang lain dari kejauhan seseorang mengenakan pakaian hitam berdiri menatap pasangan itu. Tangannya terkepal erat.
“Begitu mudahnya hatimu berbalik! Sedangkan aku hancur karenamu! Tidak ada yang tersisa!” ucapnya dengan amarah.
Nara berada di dalam mobil tertunduk dengan jantung terpompa cepat wajahnya merona mengingat bagaimana Milan memarahi orang yang menabraknya di saksikan banyak pasang mata membuatnya merasa sangat berharga bagi Milan.
Belum lagi saat Milan menyembutnya sebagai istri di depan orang banyak bahkan menggendongnya masuk ke dalam mobil. Uh, lelaki ini sangat manis sekali membuat perasaannya berbunga.
Tanda cinta yang ia debatkan dengan Chelsea seolah menguatkan pernyataan sahabatnya itu jika Milan Kalingga mencintainya.
Gadis berkacamata ini mengalihkan pandangannya pada Milan yang fokus menatap jalan.
“Apa ini semua tanda cinta?” batinnya dengan perasaan berbunga.
Nara teringat kembali tantangan Chelsea. Jika Milan mencintainya maka dia akan datang ke acara kelulusan Alana.
“Malam ini aku akan mengatakan tentang acara sekolah Alana.
“Semoga benar dia datang!” tanpa sadar sudut bibir Nara tertarik menatap Milan.
“Jika dia memang datang aku akan mengatakan pada ibu dan Alana jika kami telah menikah?” batin Nara telah mengatur rencana.
Maaf masih oleng!
Like
Coment
Vote ....
__ADS_1