Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
petuah Milan


__ADS_3

Nara dan ibu Salma berada di depan rumah, berdiri berdampingan menatap ke arah rumah mereka. Sedih bercampur rasa berat, berkecamuk dalam hati mereka terutama ibu Salma. Kini mereka akan kembali meninggalkan rumah ini. Bersiap untuk kembali ke Jerman.


Ya, Nara telah mengambil keputusan untuk kembali ke Jerman, tak mengidahkan bujukan Chelsea dan ibunya, dia hanya ingin hidup tenang bersama ibu dan adiknya sama seperti dulu.


Setelah puas menatap rumah. Nara menarik tuas  kopernya ke arah taksi yang telah menunggu mereka.


Tak beberapa lama barang-barang mereka pun telah berada di dalam mobil.


“Ra, kamu yakin dengan keputusan kamu?” tanya ibu Salma memastikan ke putusan putrinya, sebelum dia masuk ke dalam mobil.


“Iya, bu. Kita harus kembali ke Jerman. Nara banyak terikat kontrak merias di sana!” jelas Nara yang telah sukses sebagai perias ternama.


“Kamu sudah pamit dengan mereka?” tanya ibu Salma.


Nara menghela napas berat lalu menggeleng pelan.


“Ngak perlu bu! Di rumah Sea akan dia adakan acara makan malam syukuran pernikahan mereka bersama keluarga Kay. Nara ngak mau ganggu Sea. Nanti saja Nara telepon dia,” terang Nara tahu informasi itu dari Chelsea.


“Lalu nak Milan?” tanyanya lagi.


Nara terdiam sejenak. Untuk apa memberitahu Milan itu hanya akan membuat langkahnya berat. Lebih baik dia diam


“Ayo kita pergi nanti kita terlambat!” ujar Nara mengalihkan pembicaraan.


Ibu Salma membuang napas lemah, putrinya tetap bertahan pada pendiriannya. Perempuan paru baya ini lalu masuk ke dalam mobil.


Nara menatap ke arah rumahnya sekali lagi, setelahnya hendak masuk ke dalam mobil namun. Gadis cantik ini tersentak saat pergelangan tangannya di cekal.


“Kak Milan!” ucap Nara. ah mengapa dia harus ada di sini.

__ADS_1


Milan lalu menarik tangan Nara untuk menjauh beberapa meter dari mobil.


“Ra, kumohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, marahlah padaku, tampar aku, pukul aku lampiaskan semuanya tapi kumohon jangan pergi!” mohon Milan terdengar putus asa harus dengan apalagi dia meyakinkan perempuan yang ia cintai ini.


“Kak Milan aku harus pergi,” ucap Nara bersikap acuh mengalihkan pandangannya. demi apa-pun dada Nara terasa sesak melihat Milan terus memohon padanya.


“Beri aku kesempatan sekali saja Ra untuk memperbaiki semua. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu,” ucap Milan sembari menggenggam tangan Nara.


“Kak Milan!” sela Nara.


“Kumohon tetaplah bersamaku.” Milan menatap sendu wajah cantik itu.


“Aku tidak bisa! Hiduplah dengan baik. Sampai jumpa,” pamit Nara melepaskan tangan Milan. lalu melangkah cepat ke arah mobil.


Hati Milan terasa tersayat sembilu. Untuk ke sekian kalinya dia mendapatkan penolakan dari Nara. Ah, rasanya ada beban jutaan ton menekan hatinya membuatnya tak bisa bernapas. Dia benar-benar di ambang putus asa untuk meyakinkan cintanya.


“Jangan pergi!” panggil Milan dengan suara bergetar menahan tangis.


"Berhenti!" suara Milan mulai meninggi.


Lagi Nara tak menghentikan langkahnya ia semakin menjauh membuat Milan semakin prustasi.


“Anara Putri! Kau tidak ingat petuah suami istri!” teriak Milan.


Petuah suami istri ...


Deg ...


“Istri harus menuruti perkataan suaminya. Dan Aku suamimu, kau harus menuruti yang aku katakan kau tidak boleh ke mana pun tanpa izinku.  Dan aku tidak mengizinkanmu untuk pergi jauh dariku,” teriak Milan sudah tidak tahu bagaimana lagi harus menghentikan Nara hingga langkah terakhirnya hanya mengucapkan petuah yang selalu ia berikan pada Nara.

__ADS_1


Nara tersentak tubuhnya seketika membatu di tempat. Air matanya telah turun bercucuran deras. Hatinya teremas kuat. Ya, benar. lelaki itu masih suaminya. Kini dia di dalam persimpangan, ia dilema kembali atau pergi. Harus kah dia, berbalik pada Milan dan mengikuti petuah itu.


Untuk beberapa saat Nara terdiam mengambil keputusan. lalu ia mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Maafkan aku,” batin Nara dalam hati.


Setelahnya kembali melangkah pergi,


Milan tersentak Nara tidak berbalik dan kembali padanya.


“Ra! Nara!” panggil Milan berlari untuk menghentikan Nara yang membuka pintu mobil lalu masuk.


“Ra! Jangan pergi!” panggilnya sembari menepuk kaca mobil.


Ah, Milan semakin putus asa mobil itu mulai memacu.


Sedangkah Nara hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya air matanya terus tumpah hatinya sakit saat mengabaikan pemuda itu.


“RA! Jangan pergi!” teriak Milan saat dia tidak dapat menghentikan mobil yang telah melaju itu.


Milan mematung di tempat setitik bulir cairan jatuh membasahi pipinya. Akhirnya perempuan yang ia cintai itu pergi lagi darinya.


Ah, perasannya hancur. Benar-benar tak ada kesempatan ke dua untuknya.


 Tinggalkan jejak


Like


coment ...

__ADS_1


Vote ...


__ADS_2