Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
hadiah


__ADS_3

Cahaya jingga menghiasi langit senja. Nara baru saja menginjakkan kaki di rumah setelah seharian bergelung dengan perkerjaan sebagai MUA.


Gadis berkacamata ini tersentak kaget saat, baru saja menginjakan kaki ke dalam rumah. Menatap ibu dan adiknya telah berdiri menyambutnya dengan wajah ceria.


“Kak Nara sudah pulang!” sapa Alana dengan senyum terkembang.


“Ada apa ini?” tanya Nara memasang wajah bingung.


“Sini kak Nara. Duduk dulu.” Alana merangkul lengah Nara, menggiring duduk di sofa.


Mereka bertiga pun duduk di sofa.


“Ibu ada apa?” tanya Nara lagi.


“Ibu menang undian RA!” heboh Ibu Salma girang.


Alis Nara mengernyit dalam. “Undian apa?”


“Undian dari kupon panci yang ibu beli. kan kalau beli panci baru dapat kupon undian, nah ibu kirim. Terus dalam rangkah ulang tahu tuh produk panci, ibu terpilih jadi pemenang,” jelas ibu Salma dengan kebanggaan.


“Panci juga ada kuponnya!” Nara tersenyum lucu terdengar meremehkan.


“Jangan salah kak Nara, hadiahnya bukan kaleng-kaleng,” sela Alana.


“Paling juga tempat sendok atau kalau ngak rantang,” tebak Nara.


“Bukan kakak.”


“Lalu apa?” tanya malas gadis berkacamata ini menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran sofa.


“Hadiahnya rumah!” teriak heboh sang adik girang di ikuti oleh ibunya yang bertepuk tangan.


“Rumah!”


Nara tersentak, matanya membelalak seperti ingin keluar dari tempatnya, saat mendengar hadiah yang di dapat oleh ibunya dari kupon panci.

__ADS_1


“Iya, Ra. Ibu menang undian rumah,” jelas ibu Salma menggenggam tangan Nara.


“Ibu ngak bercanda kan?” tanya Nara berubah sangsi.


“Mereka tadi datang bertemu ibu.”


“Ibu Jangan percaya bisa saja itu penipuan! Seperti biasanya!” logika Nara masih tak  menerima hanya membeli panci bisa menghasilkan rumah. Ini pasti penipuan sama yang sering terjadi.


Ibu Salma merogoh sakunya memperlihatkan sebuah kunci sebagai bukti.


“Ini kuncinya Ra, lengkap sama suratnya.”


“Yang benar bu, kunci rumah palsu kali.” Nara masih kekeh pada pendiriannya tak percaya.


Nara mengambil kunci itu dari tangan ibunya. 


"Nara akan memeriksanya. Ini beneran atau penipuan," ujar Nara memasukkan kunci ke dalam tas selempangnya.


“Ya. Masa sih penipuan!” Kompak Alana dan ibu tertunduk lesu andai memang keyakinan Alana benar adanya.


Ia pun lalu bangkit untuk membersihkan diri, karena sangat penasarannya ia tak mengingat jika malam ini, dia memiliki agenda makan malam dengan Milan.


***


Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Nara telah bersiap pergi, menuju alamat rumah yang di berikan untuk mengecek sendiri kebenaran hadiah undian rumah untuk keluarganya.


Langkah Nara tertahan di ambang pintu saat menatap pemuda tinggi nan tampan telah menggantung tangannya hendak mengetuk pintu.


Sejenak Nara membatu menatap pemuda yang ada di hadapannya, ia seakan terbius akan ketampan Milan yang di hiasi oleh senyuman. namun dengan cepat tersadar.


“Kak Milan!” seru Nara menatap heran, mengapa pemuda ini datang lagi ke rumahnya.


“Ada apa kak?" tanya Nara.


“Aku menjemputmu! Kau sudah siap?"

__ADS_1


“Ke mana kak?” tanya Nara santai tak mengingat akan janjinya.


Milan memutar bola mata malas, menyebalkan! Gadis berkacamata ini pasti lupa.


“Kau lupa kalau malam ini, kita akan pergi makan malam,” jelas Milan mengingatkan.


“Astaga!” Nara menepuk jidatnya bisa-bisanya di lupa dengan janji makan malamnya bersama Milan.


Nara kemudian beralih menggaruk tengkuknya.


“Maaf kak. Sepertinya aku tidak bisa malam ini,” ucap Nara tersenyum kaku merasa tak enak, akan tetapi dia harus menyelesaikan urusan hadiah rumah itu.


“Ada apa?” Milan menatap Nara lekat, cemas melihat expresi wajah Nara.


“Aku ada sedikit urusan.”


“Urusan apa? Kau mau ke mana?” desak Milan.


Dia sudah mempersiapkan makan malam romantis bersama istrinya. Seenaknya saja dia mengatakan batal.


“Ini, ibu bilang dia menang undian rumah dan telah di beri kuncinya. Aku pikir ini hanya penipuan, karena itu aku akan mengecek kebenarannya. Apa rumah itu benar ada atau hanya tipuan,” jelas Nara.


Milan tersenyum tipis ternyata rumah yang akan ia berikan telah di serahkan oleh Kay.


“Cepat juga dia bergerak. Hebat Kay. Dia memang bisa diandalkan,” batin Milan.


“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu ke sana,” cetus Milan akan menemani Nara berakting seolah-olah tak tahu.


Tak apalah makan malamnya batal, ia ingin Nara melihat rumah yang ia berikan.


“Tidak perlu kak,” tolak Nara cepat melambaikan ke dua tangannya merasa tak enak jika harus merepotkan Milan.


"Sudah ayo kita pergi.” Milan menarik tangan Nara dengan semangat meninggalkan rumah, menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Bersama mereka akan melihat rumah undian hadiah palsu dari kupon panci yang di karang Kay. Padahal itu perintah dari Milan.

__ADS_1


__ADS_2