Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
pergi


__ADS_3

“Ra, apa kau yakin akan berpisah dengan Milan?” tanya Vino untuk kesekian kalinya pada gadis berkacamata yang berdiri di hadapannya. Sebelum ia yang di minta oleh Nara mengurus semuanya melangkah pergi mengurus cek itu untuk mengurus pengobatan Alana.


Setelah memutuskan  membawa Alana ke Jerman kini Vino mencoba membahas perasaan Nara.


Nara hanya menjawab dengan mengangguk pelan lalu tertunduk dalam.


“Apa kau tidak akan menyesal?” tekan Vino memastikan keputusan Nara yang menukarkan pernikahannya dengan selembar kertas.


Gadis berkacamata ini terdiam membisu tak memberi jawaban.


Menyesal?


Tentu saja dia merasakan hatinya teremmas kuat saat ini. Walau bagaimana pun Ada perasaan tak rela berkecamuk di ujung hatinya.


“Apa kau bisa melupakannya!” cecar Vino dengan tangan bersedekap, tatapannya seakan sedang mengintimidasi. Pemuda ini takut jika Nara kelak akan menyesali perpisahannya bersama cintanya hanya karena ketidakberdayaan.


Bagi Nara pertanyaan Vino semakin membuat lidahnya keluh. Apa dia bisa melupakan cinta pertamanya?


“Jawab Ra!” Vino beralih memegang bahu gadis berkacamata itu.


“Aku ... aku bisa!” ucap terbata tertunduk, tak ingin Vino melihat jika air matanya telah menggenang di pelupuk mata bersiap untuk jatuh.


“Ra, liat aku! Tatap mataku. Apa kau benar-benar ingin berpisah dengannya!” desak Vino sebelum menggunakan cek penukaran itu, untuk Nana karena jika itu terjadi semua telah terlambat. “Kau tidak akan menyesalkan!” serunya sembari mengguncang tubuh Nara yang hanya mematung.


Hiks ... Hiks ...


Mendapat cecaran Nara terisak sudah tak dapat menahan lagi perasaanya yang seakan ingin meledak. “Aku ingin bertahan! Aku tidak ingin berpisah dengannya! Tapi aku bisa apa! Aku harus memilih Nana! Aku tidak berdaya Vin! Aku tidak boleh egois!" tangis Nara pecah meluapkan isi hatinya.


Vino terdiam mendengar seluruh perasaan Nara yang meluap.


Tangan Vino lalu terulur membawa Nara yang terisak ke dalam pelukannya.


“Aku mencintainya Vin! Aku bodoh menyerahkan hatiku pada orang yang tidak bisa aku gapai!” raung Nara memukul-mukul pelan dada Vino dengan kepalan tangannya. “Sekarang hatiku terluka!” ungkapnya tersedu-sedu.


Hati pemuda ini terenyuh akan nasib cinta Nara. Tidak bisa berjuang untuk perasaannya. Rasanya tak adil bagi Nara, menyerah hanya karena tak berdaya menukar cek itu dengan perpisahan.


Vino mengurai pelukannya menatap wajah Nara.


“Aku akan mengatur semuanya! Kau beritahu ibu, jika kita akan membawa Nana ke Jerman. Setelah itu kau pulang, bersiap-siap untuk keberangkatan kita!” jelas Vino mengusap wajah Nara dengan telapak tangannya.


"Terima kasih Vin,” ucap Nara dengan nada serak diselingi anggukan.


Nara dan Vino pun melangkah pergi untuk tujuan masing-masing.


****


Vino baru saja memarkirkan motor sportnya di depan halaman rumah sewanya.


Bergegas melangkah cepat masuk ke dalam rumah mempersiapkan diri untuk keberangkatan ke Jerman.

__ADS_1


Setelah berada di dalam kamar, ia melangkah menuju lemari. Tangan Vino lalu meraih koper yang berada di atas lemari pakaian. Membuka kopernya lalu mulai mengisi dengan pakaian yang akan dia bawah dengan cepat.


Setelah memasukkan beberapa pakaian. Vino beralih pada laci lemari. Tangannya pelan menarik laci hingga terlihatlah sebuah kotak yang terbuat dari aluminium, manik matanya menatap lekat pada kotak itu.


Vino mengeluarkan kotak itu mendekapnya dengan perasaan rindu.


“Aku sangat merindukanmu bu!” ucap Vino lirih pada kenangan ibunya.


Setelahnya membawanya ke ranjang. Ia pun duduk mulai membuka kotak itu menatap isinya.


Tangan Vino mencari sesuatu diantara tumpukan kertas di dalam kotak, hingga beberapa saat ia mendapatkan sebuah kartu bank.


Vino menatap kartu bank yang ada di tangannya itu lekat.


“Ibu, aku akan kembali padanya!” ucap Vino lirih dengan mata berkaca-kaca mengingat ibunya yang telah tiada.


Vino lalu merogoh saku celananya mengeluarkan cek pemberian dari Nara lalu memasukkan ke dalam kotak itu. seakan menukar kertas itu dengan sebuah kartu, kemudian menutupnya kembali lalu Memasukannya ke dalam koper.


Setelah semua siap Vino memutuskan untuk pergi mengurus keberangkatan Nana.


******


“Semoga adik kamu baik-baik saja Ra, semoga dia bertahan!" ucap ibu Salma penuh harap dengan lelehan air mata.


“Iya, bu. Nana akan mendapatkan perawatan terbaik!” Sahut gadis berkacamata ini.


Ya tuhan sungguh betapa beruntungnya Nara memiliki sahabat seperti Vino.


Nara tersenyum tipis saat melihat Vino telah datang melangkah mendekat ke arah mereka.


“Bagaimana Vin!” tanya Nara.


“Kita siap berangkat!” jawab pemuda ini.


“Bagaimana kau dan ibu siap?” tanya Vino menatap ibu dan anak ini.


Perempuan paruh bayah ini mendekat ke arah Vino.


"Nak, Vino terima kasih! Sudah terus mendampingi kami!” ibu Salma mengelus pipi Vino terharu dengan kebaikan sahabat putrinya.


Entah sudah seperti apa jika pemuda ini tidak berada bersama mereka.


Vino hanya membalas dengan tersenyum kecil.


“Ayo kita pergi! Alana sudah berada di dalam pesawat bersama beberapa dokter dan perawat untuk mendampinginya,” jelas Vino.


Mereka pun menuju pesawat.


Setelah beberapa saat mereka telah berdiri di depan pesawat yang di maksud Vino.

__ADS_1


Nara tertegun di tempat. Bukan pesawat yang seperti ia bayangkan.


“Vin ini jet pribadi!" kata Nara matanya tak lepas menatap ke arah burung besi itu.


“Iya, aku menyewanya, kita akan menggunakan ini! Agar nyaman untuk Nana!”


“Menyewa!” ulang Nara semakin tercengang tahu menyewa jet pribadi bukan hal yang murah.


“Vin ini sangat mahal! Bagaimana dengan pengobatan Nana! Bagaimana Jika uangku nanti tidak cukup," protes Nara resah.


"Kau tenang saja! Aku akan memberikan yang terbaik untuk adikmu! Ayo kita pergi,” kata Vino memberi aba-aba berjalan lebih dulu.


Dengan langkah ragu Nara mengikuti Vino.


Pesawat kini telah memecah awan mereka telah terbang membawa asa untuk kehidupan Nana di Jerman.


*****


Sementara Nara terbang dengan harapan menuju tempat yang baru.


Di suatu tempat yang lain terlihat sebuah mobil melewati gerbang sebuah bangunan mewah dan berhenti tepat di depan bangunan.


Seseorang bergegas membuka pintu hingga terlihatlah seorang pemuda tampan baru saja turun dari mobil. Melangkah masuk ke dalam villa melewati beberapa orang yang menjaga.


Sementara itu di ruang makan seorang gadis cantik duduk di kursi makan.


“Makanlah nona! Ada harus banyak makan! Agar anda cepat pulih!” ucap pelayan wanita pada perempuan itu.


“Aku tidak ingin makan bi!”


“Sedikit saja!” bujuknya.


“Aku tidak lapar!” tolaknya membuang pandangannya.


Namun manik matanya malah tertuju pada pemuda tinggi yang berdiri dihadapannya.


Deg ... seketika  jantungnya berdetak kencang,  tubuh gadis ini bergetar hebat.


“Mi ... Milan ....” ucap dengan terbata serta air mata yang mulai memupuk.


 


Like


Coment


Vote ...


Oke makasih .... 

__ADS_1


__ADS_2