
Malam semakin larut, Nara berada di dalam kamar berbaring telentang menatap ke arah langit-langit kamar.
Kepalanya terasa berat memikirkan semuanya. niatnya untuk menutup rapat pernikahannya pada ibunya kini telah terkuak. Kepulangannya ternyata adalah keputusan yang salah.
Suara pintu terbuka membuat perhatian Nara terkalihkan, ia menatap perempuan paruh bayah masuk, berjalan mendekat ke arahnya.
Nara bangun menyandarkan tubuhnya di puncak tempat tidur.
“Dia sudah pulang?” tanya Nara. Setelah menampar, meluapkan amarahnya dan ibu tahu dia telah menikah, Nara lalu meninggalkan ruangan.
ibu Salma mengangguk lalu duduk di tepi tempat tidur.
Nara meraih tangan ibunya.
“Ibu, maafkan Nara! Nara telah menyembunyikan semuanya dari ibu,” mohon Nara dengan cairan bening membasahi pipinya, merasa sangat bersalah pada ibunya. Oh, anak macam apa yang menikah tak memberitahukan ibunya.
Perempuan paruh bayah ini mengalihkan pandangannya, tatapannya kosong terlihat jelas kekecewaan di wajahnya.
“Ibu sangat kecewa padamu! Bisa-bisanya kau menyembunyikan pernikahamu pada kami.”
“Ibu maaf.” Isakan lelehan air mata Nara semakin jatuh.
“Tadi Milan datang bersama dengan ibunya untuk meminta maaf dan mereka menjelaskan semuanya pada ibu tanpa tersisa, tentang bagaimana awal per nikahmu terjadi, tentang kemarahanmu pada Milan!” jelas ibu Salma.
Nara hanya terdiam tanpa kata.
“Ibu kecewa ibu tahu semua dari mereka bukan dari anak ibu.”
“Bu.” Rasa bersalah semakin menyeruak dalam hati Nara. Ia pun mendekap tubuh ibunya. “Maafkan Nara bu.”
“ibu tidak menyangka ternyata selama ini kau telah menikah, kau adalah seorang istri dan kau meninggalkan suamimu dua tahun lamanya, dan itu yang selalu kau coba sembunyikan dari ibumu ini kan!” tangis ibu Salma pecah.
Dekapan Nara semakin erat, ini pertama kalinya ia membuat ibunya kecewa. Tangisan itu semakin keras.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak jujur nak!” raung ibu Salma dalam pelukan.
“Maaf bu!”
Ibu dan anak ini larut dalam tangis.
Butuh beberapa saat hingga mereka tenang. Nara telah berbaring di pangkuan ibunya.
Ibu Salma mengusap kepala putrinya dengan sayang.
“Ra, ibu mengerti yang kamu rasakan. kecewa, sakit hati pada Milan, ibu juga bisa merasakannya,” ungkap sang ibu yang tahu alasan Nara membenci Milan.
“Tapi tidak ada gunanya nak menyimpan kebencian. Itu hanya akan membuat hatimu semakin tidak tenang nak,” ucapnya menasihati putrinya.
“Bu, Nara sudah ngak mau mengungkit semuanya. Nara hanya ingin melupakan semuanya,” ujarnya lirih walau dadanya terasa sesak mengatakan itu.
“Lalu mengapa kau tidak memberikan kesempatan pada Nak milan untuk kembali padamu. Dia sudah minta maaf dan sangat menyesal.” Ibu Salma bisa melihat itu, apalagi mendengar cerita dari ibu Milan bagaimana selama ini putranya hidup dalam rasa bersalah atas kepergian Nara.
“Kamu sangat benar, tapi Ra, bagaimana pun dia adalah suamimu, kalian telah menikah dan terikat pernikahan. Tidak semudah itu melepaskannya,” jelas ibu Salma terus memberikan nasihat pada putrinya.
“Biarkan kami menjalani hidup kami masing-masing.”
Nara merubah posisi kembali menyandarkan tubuhnya di puncak tempat tidur.
Ibu Salma meraih tangan putrinya menatap lembut wajah cantik itu.
“Jujur ibu takut Ra, kamu hanya akan terus hidup seperti ini. Kamu tidak akan bisa membuka hati, karena memulai itu sangat sulit hingga kamu tidak akan menikah lagi dan kamu hanya akan sendiri.” Air mata ibu Salma kembali jatuh memikirkan nasib putrinya.
“Bu.”
“Ibu tahu kamu Ra.” Kristal bening semakin deras jatuh.
“Ibu jangan mencemaskan Nara.” Ucapnya sembari mengusap air mata ibunya.
__ADS_1
“Dia telah menyesali kesalahnya, ibu bisa melihat dia sangat mencintaimu Ra, dan ibu yakin kau juga sangat mencintainya kan, kembali lah padanya.”
Nara terbungkam di lubuk hatinya terdalam nama Milan memang masih tertambat hingga saat ini.
“Kalian hanya salah paham selama ini, dia juga menderita Ra. Anggap saja ini cobaan dalam pernikahan kalian.”
“Bu sudah cukup, besok kita akan kembali!” sela Nara tak ingin membuat hatinya menjadi rapuh dan bimbang. Ia tak mau tekadnya mengikis.
Ibu Salma menatap putrinya lekat.
“Baiklah semua terserah padamu. Tapi pikirkan semua dengan baik kata-kata ibu.”
Nara tertunduk dalam.
“Istirahatlah.” ucap ibu Salma lalu meninggalkan Nara di kamarnya untuk berpikir namun baru beberapa langkah ibu Salma berbalik.
“Ra!” Panggil ibu Salma.
“Ya, ibu.” Nara menatap ibunya
“Ibu hanya ingin mengatakan padamu. Perjalanan Pernikahanmu bersamanya belum panjang, itu baru awal. Dan kau belum pernah memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ibu mau kamu pikirkanlah, dia pantas untuk di beri kesempatan ke dua Ra,” ucap ibu Salma kemudian berlalu meninggalkan kamar Nara.
Nara terdiam memikirkan ucapan ibunya. Kesempatan ke dua? Dalam hubungan rumah tangganya bersama Milan.
...****************...
tolong tinggalkan jejak
Like
Coment
Vote
__ADS_1