
Nara dan Chelsea sedang berada di dalam sebuah pesta, seperti biasa Chelsea akan menjadi WOnya dan Nara menjadi MUA. Semenjak merias di pernikahan Dinda sekarang dia telah layak bersanding dengan WO sekelas milik Chelsea Kalingga.
Dua sahabat ini sedang duduk menikmati suasana pesta pernikahan. Menatap ke arah panggung di mana penyanyi melantunkan nada.
“Aku sangat lelah,” keluh Nara menyandarkan tubuhnya di bahu Chelsea.
“Makanya kau, harus istirahat,” saran Chelsea.
“Ngak bisa, mumpung orderan lagi banyak,” kata Nara menyembunyikan wajah lelahnya dengan senyuman.
Dret ... Dret ...
Panggilan masuk pada ponsel Chelsea.
Gadis cantik ini menatap nama yang tertera di layar. Memutar bola mata malas. Sebuah panggilan video call dari lelaki menyebalkan.
“Ra, di sini berisik aku jawab telepon dulu,”
“Iya.” Nara mengangguk.
Chelsea mencari tempat yang tenang.
“Ada apa!” jawabnya ketus setelah melihat wajah Kay memenuhi layar ponselnya.
“Sea, jangan galak gitu dong sama calon suami.”
Chelsea mendengus memutar bola mata malas pemuda ini terus menggodanya.
“Aku matikan nih!”
“Tunggu! Kenapa buru-buru. Aku hanya ingin mengajakmu bertemu.”
“Ngak bisa! Aku sibuk,” sosornya.
“Benarkah? Sayang sekali. Padahal aku ingin membahas masalah Zeline.”
“Zeline.”
“Aku mendapatkan rekaman yang memperlihatkan Zeline denganmu.”
Rekaman ...
Mendengar itu Chelsea tertegun. Mungkinkan? Tapi bagaimana bisa dia sudah membayar orang untuk mengatur semuanya.
“Zeline. Tidak ada hubungannya denganku!” hardik Chelsea mencoba untuk tetap tenang.
“Lalu siapa yang berada di cctv ini, sangat mirip denganmu. Apa aku harus bertanya pada Milan. Dia pasti mengenal adiknya kan.”
__ADS_1
Kay mengarahkan ponselnya ke laptop miliknya. Memperlihatkan rekaman itu.
Seketika Chelsea menjadi gelagapan, bagaimana bisa mereka bisa mendapatkan informasi padahal Chelsea telah mengantisipasi semuanya.
“Bagaimana?”
“Kau dimana?” tanya Chelsea.
"Aku di kantor."
"Aku ke sana sekarang,” ucap Chelsea seketika memutus sambungan sepihak.
Kay di seberang sana berdecak sebal. “Hei, Sea! Dasar, aku baru mau bilang kita ketemu di restoran untuk makan siang, biar romantis, bukan di kantor,” gerutu Kay.
Chelsea berjalan kembali mendekat pada Nara.
“Ra, temani aku yuk,” ajak Chelsea.
“Ke mana?” tanya Nara memasang raut wajah malas.
“Ketemu kak Kay,” jelasnya singkat.
“Malas ah Sea, Kenapa mengajakku? Kau saja yang bertemu dengannya."
“Supaya aku punya alasan untuk pergi dari dia,” alibi Chelsea, lalu menarik tangan Nara untuk ikut bersamanya. “Ayo jangan banyak tanya.
Dua sahabat ini telah berada di kantor Maxkal. Di depan ruangan kerja Kay.
“Ra, kau tunggu di luar. Aku masuk sebentar,” ucap Chelsea mengarahkan Nara duduk di kursi di depan ruangan, tak jauh dari meja pegawai kantor.
Nara hanya mengangguk pasrah, menunggu Chelsea bertemu Kay sendirian.
Chelsea menari napas berat saat kaki jenjangnya telah masuk ke dalam ruangan Kay. Menatap pemuda yang duduk di sofa.
“Akhirnya kau datang juga,” sambut Kay dengan senyuman terkembang lalu bangun dari duduknya.
“Cepat katakan apa maumu!” sosor Kay.
“Sabar dong. Jangan galak-galak nanti cantiknya hilang,” goda pemuda tampan ini mencoba memancing kekesalan Sea.
“Jangan merayuku! Mana rekamannya.” Chelsea bersikap ketus seperti biasa.
“Kita mengobrol dulu.”
“Aku sibuk, ngak punya waktu.”
Kay menarik napas berat sungguh sangat sulit untuk berdua dengan Chelsea.
__ADS_1
Sementara Kay dan Chelsea berbincang di dalam ruangan. Milan juga sedang berada di dalam ruangan membaca beberapa laporan. Hingga ia berniat untuk menghubungi Kay untuk meminta beberapa laporan lagi.
Tangan Milan terulur meraih gagang telepon, untuk menghubungi Kay.
Milan mendesah kasar saat ia tak tersambung dengan Kay.
“Ke mana dia? Kenapa tak bisa tersambung,” gerutu Milan tak sabar.
Pemuda ini pun menekan nomor lain.
“Ya, pak Milan."
“Mana pak Kay? Suruh dia ke ruang saya sekarang.”
“Maaf, pak. Pak Kay sedang tidak bisa di ganggu, beliu sedang menerima tamu penting.”
“Siapa tamu pentingnya?”
“Saya lihat adik pak Milan, nona Chelsea.”
“Chelsea. Untuk apa Chelsea ke kantor?” sungut Milan.
“Iya bersama dengan teman perempuannya.”
Deg hati Milan seketika bergemuruh mendengar Chelsea datang ke kantor bersama dengan teman perempuan.
Teman perempuan adiknya hanya si culun? Oh semoga itu Nara, harapnya.
“Yang pakai kacamata dan rambut terkepang,” sosor Milan cepat.
“Iya pak.”
“Culun!”
Tanpa sadar kedua sudut bibir Milan tertarik. Mengetahui Nara berada di kantornya.
Yes ... hati Milan seketika bersorak. Si culun berada di kantornya.
“Suruh perempuan berkacamata itu ke ruanganku.”
Tentu saja dia tidak akan melepaskan kesempatan bertemu Nara. Setelah beberapa hari tak bertemu.
“Oh iya, satu lagi, perintahkan orang untuk membawakan minuman boba ke ruanganku,” titah Milan teringat akan kesukaan Nara.
“Baik pak.” Nada suara terdengar bingung, untuk apa presdir mereka memesan minuman boba.
Sambungan terputus. Senyum terbit di wajah Milan. Perasaan Milan Bak ada jutaan kupu-kupu menggelitik di hatinya. Ia kembali bersemangat akan bertemu dengan gadis yang beberapa hari membuat harinya kosong.
__ADS_1
maafnya kalau berantakan belum di edit... buru-buru soalnya.