Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
pulang


__ADS_3

Milan baru saja sampai di rumah melangkah menuju ruang makan di mana biasanya ketiga perempuan itu berkumpul.


Mama Erika menarik ke dua sudut bibirnya saat melihat putranya telah berdiri di hadapannya.


“Milan anak mama sudah pulang,” sapa mama Erika mendekap rindu tubuh putranya.


“Bagaimana kabar mama?” Milan membalas pelukan mamanya.


“Mama baik-baik saja sayang.”


Pelukan terurai, manik mata pemuda ini berputar mencari keberadaan istrinya.


“Nara mana Ma?” tanya Milan langsung tentang keberadaan perempuan yang telah membuat hatinya merindu.


“Nara dan Sea lagi ada di kamar mama, liat oleh-oleh yang mama bawa,” jawab perempuan paru baya itu.


Milan mendesah kasar, istrinya malah sibuk dengan buah tangan dari mamanya. Bukan bertemu dengannya.


“Kamu mandi dulu, setelah itu kita makan bersama,” saran mama Erika sembari mengelus pundak Milan.


“Baik Ma.” Milan melangkah berat meninggalkan ruang makan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah dua puluh menit Milan telah membersihkan diri mengenakan pakaian santai rumahan, setelanya kembali ke ruang makan.


Jantung Milan terpompa cepat saat melihat istrinya telah duduk di kursi makan berdampingan dengan Chelsea sembari berbincang yang entah apa.


Ah, Nara benar-benar kembali ke rumah ini.


“Ayo Lan,” sambut mama Erika yang melihat Milan hanya berdiri.


Milan pun duduk di ikut bergabung.


Tatapan mereka bertemu Nara mengulas senyum lembut hingga mengantarkan gelenyar di hati Milan.


Mereka pun mulai menyantap menu makanan.


“Bagaimana sayang? Kamu suka oleh-olehnya?” tanya mama Erika menatap ke arah Nara.


“Suka banget Ma, terima kasih tasnya pasti mahal,” ucap Nara.


“Sama-sama sayang.”


“Mama kok udah pulang sih? Katanya masih lama,” ujar Chelsea.


“Mama di sini hanya beberapa hari, mama pulang karena katanya ada yang kangen sama mama,” jelas mama Erika dengan nada mengalun menatap ke arah Milan.


“Kangen!” ulang Chelsea mengening.


Mendengar itu Milan tersedak makanannya hingga terbatuk-batuk.

__ADS_1


“Hati-hati Lan!”


Mama Erika menyodorkan segelas air putih, Milan pun meraihnya lalu menenggaknya.


Pemuda ini tersenyum kikuk. Dialah yang meminta mamanya untuk pulang agar Nara kembali ke rumah ini dan bisa sekamar lagi.


Makan malam telah berakhir, kini pasangan ini berada di dalam kamar.


Nara baru saja keluar dari ruang wardrope tempat menaruh oleh-oleh tas dari mama Erika. Setelahnya Gadis berkacamata ini bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Seperti biasa Nara melangkah menuju sofa tempatnya terlelap jika menginap di rumah ini.


“Kau mau tidur di sofa lagi.” Suara bariton terdengar membuat Nara tersentak mengalihkan pandangannya ke arah ranjang menatap Milan yang bersandar di puncak tempat tidur.


 “Tidurlah di sini!” pinta Milan menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Nara berbaring di sampingnya.


Apa! Tidur di ranjang bersama?


Nara berdiri mematung, memastikan jika dia tidak salah dengar benarkah pemuda ini menyuruhnya tidur di ranjang bersamanya.


“Kak Milan, aku tidur di sofa saja,” kata Nara dengan senyum kaku.


“Ayo naik. Atau kamu mau aku menggendongmu!”


Milan bangun menyibak selimutnya hendak turun, membuat Nara gelagapan, jangan sampai Milan benar menggendongnya.


“Tidak perlu kak!”


Nara menelan salivanya kelat, seketika bayangan malam pertama mereka terkenang.


Dengan jantung berdebar Nara duduk di pinggir ranjang. Membuka kacamata yang membingkai wajahnya menaruhnya ke nakas, setelahnya beralih membuka kepangan rambutnya lalu merebahkan tubuhnya di ujung sisi tempat tidur, berbaring miring memunggungi Milan. Mencoba menghindar agar tidak terlalu dekat.


 


Pemuda ini tersenyum gemas, Tanpa kata Milan semakin bergeser mendekat, mengimpit tubuh mungil itu, melingkarkan tangannya di pinggang istrinya lalu menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher Nara dari tadi ia sudah menahan diri.


Tubuh Nara meremang. Aliran darahnya seakan terhenti, jantungnya seakan lompat keluar saat Milan melepaskan ciuman bertubi-tubi di tengkuk lehernya.


Tangan Milan menarik lembut bahu Nara untuk berganti posisi, berbaring miring menatapnya.


Padangan mereka bertemu, Senyum menghiasi wajah tampan Milan membuat Nara terpukau menatap wajah tampan itu.


“Aku merindukanmu!” ucap Milan dengan lembut.


Blus ...


Rasa panas menjalar di Wajah Nara hingga membuatnya merona.


Milan memajukan wajahnya mengikis jarak di antara mereka.


Cup

__ADS_1


Milan mengecup lembut bibir ranum Nara hingga membuatnya tertegun, debaran jantungnya semakin menggila.


Tatapan syahdu penuh damba terpancar dari sorot mata Milan. Ia merapikan surai rambut yang menutupi wajah merona Nara. “Aku menginginkanmu, istriku,” ucap Milan dengan nada serak mata telah berkabut gairah, deru napas menggelora menerpa wajah Nara.


Ah, kata istri membuat jantung Nara semakin terpompa, Sungguh seakan tak bisa bernapas.


“Kak Milan ....” katanya tertahan, belum sempat Nara bergerak Milan lalu mengulur tangannya mengunci tengkuk leher Nara hingga tidak bisa bergerak.


Milan lalu menempelkan bibirnya, memanggut bibir manis itu. Nara terkesiap akan serang yang dia terima.


“Kak Milan!” protes Nara mencoba mengalihkan pandangannya saat bekapan bibir itu terlepas.


Bagi Milan ini adalah waktu yang sangat di nantikan kembali memadu kasih dengan wanita yang di cintainya, kini ia memulai aksinya.


Kecupan beralih ke seluruh bagian wajah Nara meluapkan perasaan cinta dan rindu yang membuncah. Perlahan Milan mulai bergerak naik mengukung tubuh istrinya, bertumpu dengan kedua tangan.


Milan mengecup seluruh bagian wajah Nara mulai mencumbuinya.


"Kak Milan!" masih mencoba bertahan.


“Ingat petuah!” ucapnya tak menghentikan aksinya.


Lagi-lagi Nara tersentak tidak bisa menolak dengan petuah suami istri yang di gunakan Milan. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menikmatinya.


Kelembutan sentuhan Milan membuat Nara selalu terhanyut tak bisa menghentikannya. Logikanya seakan menghilang dengan kenyamanan yang Milan berikan untuknya.


Tanpa canggung lagi Nara lalu mengalungkan tangannya di leher Milan saat bibir Milan memanggut lembut bibirnya bermain dengan lidah agar Nara  membalasnya dan akhirnya tubuh Nara mulai memanas hingga terhanyut. Mereka saling menyesap, menghisap bertukar saliva hingga lidah mereka saling membelit. Nara telah pandai membalas ciuman suaminya.


Kecupan-kecupan lembut turun menyusuri tulang rahang hingga ceruk leher.


“Eugh,” Nara meleguh menahan rasa geli saat Milan memberi jilatan, sesapan menandai kulit putih itu dengan tanda kemerahan.


Tangan Milan tidak tinggal diam, mulai menerobos masuk ke dalam piyama Nara, meremass bagian bongkahan dada.


 “Ahh.” Nara mendesah nikmat membuat Milan semakin terbakar gairah, menyusuri setiap inci tubuh istrinya, melepaskan setiap helai pelindung yang menutupi tubuh mulus itu.


“Ahh.” Kembali Nara mendesah, tubuhnya menggelinjang saat Milan memainkan bukit kembarnya menghisap, menjilat memberikan sensasi nikmat seakan jiwanya melayang. ***** Milan semakin menggelora.


Napas mereka telah terasa berat, tubuh pasangan ini telah panas terbakar oleh gairah, Milan sudah tidak dapat menahan diri kemudian melepas pakaian yang ia kenakan. Mencium seluruh bagian wajah Nara kemudian mulai memosisikan diri.


“Aku akan melakukannya perlahan,” bisik Milan.


Nara menarik napas panjang, memejamkan mata tanda jika ia telah siap memberikan hak pada suaminya.


Nara mencengkeram punggung Milan sambil menggigit bibir bawahnya. Saat Milan mulai menyatukan miliknya ternyata masih sulit dan sempit, namun dengan sekali sentakan mereka telah menyatu.


Milan terhenti sejenak mengecup seluruh bagian wajah Nara mengalirkan ketenangan. setelahnya


Milan mulai menggerakkan pinggulnya pelan mengantarkan gelenyar kenikmatan yang menciptakan leguhan, ******* dari kedua. Di bawah kungkungan suaminya Nara memasrahkan diri mengejar kenikmatan puncak.

__ADS_1


Akhirnya malam yang di nanti Milan datang juga dia kembali memadu kasih dengan Nara istrinya. dia pastikan malam ini akan menjadi malam panjang yang indah bagi mereka berdua.


__ADS_2