
“cit-cit-cit~ cuitt~”
Besok paginya aku dibangunkan dengan suara kicauan burung. Tidur malam tadi terasa nyenyak, mungkin karena tidurnya di atas daun kelapa yang membuatnya empuk. Sepertinya aku harus menganyam daun kelapa lagi sebagai tempat tidur saat keluar.
Aku membangunkan diri kemudian melihat ke samping kanan, Fina masih tidur dengan damai sambil menghadap kearahku. Dengan hati-hati aku keluar dari gubuk dan di sapa oleh cahaya matahari pagi yang menyegarkan. Berdiri di depan gubuk, aku merenggangkan badan kemudian melakukan pemanasan.
Selagi pemanasan, aku baru tersadar kalau kolor yang kupakai sudah terkena cipratan jus-jus ogre dan belum dicuci. Jadi setelah selesai pemanasan aku memutuskan untuk mencuci kolor tersebut. Selagi mengucek, karena sudah terbiasa mencuci ini dan itu menggunakan sabun, saat mencuci sesuatu tidak memakainya serasa ada yang kurang.
“Lebih bagus kalau ada sabun.” Gumamku. Yah… mungkin aku bisa mencoba buat sabun setelah menjelajahi pulau-pulau kecil diutara.
Yang aku pakai selagi menjemur kolorku adalah sarung hitam dengan garis berwarna putih. Pakaian yang aku dan Fina pakai saat ini sepertinya merupakan pakaian para aristokrat. Dari ingatan Jaya pakaian-pakaian yang memiliki kain yang lembut dan corak-corak indah hanya dipakai kalangan atas saja.
Setelah menjemur, aku membakar ikan sebagai bekal nanti. Meskipun sudah selama ini, Fina masih belum bangun. Nanti setelah kolorku kering, selesai membuat tempat tidur dari anyaman daun kelapa, dan selesai membakar ikan barulah Fina keluar dari gubuk dengan anggun. Dia menghampiriku dengan tatapannya yang datar dan tenang, jadi sebagai tata krama kuberi sapaan dengan senyum.
“Selamat pagi, ̶b̶e̶s̶o̶k̶-̶b̶e̶s̶o̶k̶ ̶b̶a̶n̶g̶u̶n̶n̶y̶a̶ ̶l̶e̶b̶i̶h̶ ̶c̶e̶p̶a̶t̶ ̶w̶o̶i̶ bagaimana tidurmu?”
“Aku merasa lebih segar saat bangun.”
Dikatakannya dengan ekspresi wajah yang datar. Namun ada sedikit perbedaan dari biasanya, matanya seperti berbinar. Ya..ya.. sepertinya bisa dimengerti, terkadang bangun disaat yang tepat bisa membuat kita merasa bahagia.
“Baguslah, yuk kita sarapan sebelum berangkat.”
Saat kemarin, rencananya kita akan ke pulau-pulau kecil di utara dengan menggerakan pulau ini. Namun, setelah mengetahui kalau kecepatan menggerakan pulau tidak sampai satu knot, aku urungkan niat karena mana Pulau Bulan ini tidak akan cukup. Lagipula, lebih cepat pakai perahu saja. Sekalian aku mau mencoba performa perahu yang kubuat.
Selagi makan, aku membuka pembicaraan lagi.
“Bagaimana rasa makanan menurutmu? Nanti dalam perjalanan kita ke pulau-pulau kecil di utara kita singgah di kerajaan Pangara yuk. Buat beli bahan-bahan makanan kita nanti.”
Karena Fina sebelumnya tidak makan dan sumber energinya dari mana dungeon saja, kupikir dia harus mencoba makan sana-sini untuk memperluas wawasannya.
__ADS_1
“Ia, boleh, rasa makanan buatanmu enak.”
Huehuehue… katanya masakanku enak. Padahal cuma dibakar begitu saja. Apa jadinya kalau nanti ku keluarkan skill memasak milikku yang sudah diasah bertahun-tahun k̶a̶r̶e̶n̶a̶ h̶i̶d̶u̶p̶ m̶e̶n̶j̶o̶m̶b̶l̶o̶?
Setelah kita selesai makan, kukeluarkan perahu berlayar tanja yang sudah ku buat sebelumnya.
*splash*
Air laut terpercik saat perahu itu kutaruh diatasnya. kita berduapun menaiki perahu itu, aku mendorong perahunya dengan dayung ke arah lautan dan dimulailah pelayaran pertamaku di dunia ini.
Ah… Laut lepas di sepanjang mata memandang. Yang waktu terakhir kali dibumi hanya aku sendirian di atas perahu, saat ini aku ditemani wanita cantik yang duduk dibelakangku. Ditambah suara angin dan ombak yang menghempaskan perahu juga aroma khas laut yang memenuhi hidungku, semua hal tersebut seperti menenangkan hatiku. Yah… asalkan tidak ada kapal besar dibelakang ataupun naga yang muncul tiba-tiba, suasana seperti ini membuat rileks.
Dengan layarnya saja, kecepatan perahu ini mungkin sekitar 3 sampai 4 knot jika anginnya menguntungkan. Kupikir ini cukup cepat mengingat ini hanya perahu yang kubuat sendiri.
Sebelumnya aku juga sempat mencoba mendayung perahu ini dan seperti yang tercermin melalui STR ku, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Tapi pulaunya seukuran Pulau Simping. Sampai-sampai harus digulung layar perahunya supaya perahu itu tidak tertahan angin. Tapi, dorongan dayung yang membuat kecepatan kapal ini naik tiba-tiba, membuatku tidak bisa menikmati pelayaran ini. Lagipula kita tidak harus buru-buru jadi lebih baik berlayar dengan santai saja.
*Swooshhh*
Ikan Tombak
Level: 10
HP: 60/60
MP: 120/120
STR: 6
DEX: 12
__ADS_1
INT: 12
VIT: 3
WIS: 3
Aku menoleh kebelakang melihat keadaan Fina, dia terlihat seperti biasanya dengan tatapan yang datar dan tenang. Sepertinya dia baik-baik saja. Kulihat kondisi perahu kami, rupanya baru satu tombak air saja yang mereka luncurkan. Karena atribut VIT mereka semua rendah, jadi aku keluarkan batu kerikil dari inventori kemudian kulempari salah satu ikannya.
*plukk*
[Ikan Tombak telah dikalahkan]
Karena atribut VIT yang rendah sepertinya akan mudah untuk menghabisi mereka, aku hanya perlu sekali lempar saja untuk menghilangkan ikan tombak tersebut dari lautan. Lagipula mereka cukup berani mengganggu kedamaian pelayaran kami.
Kukeluarkan beberapa batu lalu melempari bagian sirip dan ekor mereka. Dengan atribut DEX milikku, akurasi lemparanku cukup tinggi untuk mengenai sasaran.
Sebelum mereka tenggelam karena tidak bisa mengontrol tubuhnya, aku langsung melompat ke laut kemudian menangkap semua ikan tombak. Masih ada tiga yang hidup tanpa ekor dan siripnya, tiga ekor tersebut kuseret sampai ke perahu. Aku sengaja tidak membunuh ketiga ikan ini dengan cepat karena ingin memberikannya ke Fina karena dia masih level 1 sehingga lingkungan sekitar terlalu berbahaya untuknya.
Kuseret ikan-ikan itu ke perahu dengan menjepit bagian ekor mereka yang sudah terpotong disela-sela jariku. Saat sudah disebelah perahu ketiga ikan tersebut diangkat kemudian diletakan digeladak perahu. Aku juga ikut naik ke geladak sambil terus menahan ikan-ikan tersebut, berjaga-jaga jangan sampai mereka melompat ke laut. Setelah kembali diatas perahu aku mengeluarkan belati dan kuberikan ke Fina.
“Fina, ambil belati ini kemudian tusuk kepala ikannya.”
Dengan ekspresi biasanya yang datar dan tenang, tanpa ragu Fina mengambil belati yang kuberikan kemudian menusuk belati ke mata ikan tersebut, setelah tertusuk dia memiringkan belatinya sekitar 45 derajat. Mungkin tujuannya agar belati tersebut bisa menusuk sampai otak ikannya. Ouch! Meski aku hanya melihat, bisa ku bayangkan rasa takut dan sakitnya. Ikan itu ditusuk dari mata, bisa terbayang bagaimana rasa takutnya kalau ada belati yang mau menusuk matamu.
“Seperti ini?”
Tanya Fina dengan tenang setelah menusuk kepala ikan tersebut. Yah.. karena yang dia lakukan cukup efektif, aku tidak perlu komplain. Jadi kubalas.
“Iya, seperti itu bagus.”
__ADS_1
Fina hanya mengangguk kecil atas balasanku. Aku kemudian menyimpan ikan yang sudah mati itu. Pada ikan yang selanjutnya, hal yang pertama paling terasa ganjil ialah matanya, mata ikan tersebut sepertinya memancarkan ketakutan.
Mungkin cuma imajinasiku saja dan aku juga tidak tahu apakah ini bisa terjadi tapi di tubuh ikan yang berikutnya sepertinya sudah muncul banyak keringat. Tanpa ragu Fina menusuk ikan kedua dan ketiga sambil kutahan ikan-ikan tersebut.