Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Lima Puluh Enam


__ADS_3

Kembali menunduk, sekretaris menjawab pertanyaanku.


“Maaf tuan, saya tidak menyangka anda benar-benar memiliki level 6. Padahal tadi malam anda-”


“Sudah-sudah nona sekretaris, tidak usah memikirkan hal yang tak perlu.”


“Saya mengerti tuan.”


Dengan begini keperluanku di serikat pedagang telah selesai, selanjutnya aku berencana akan pergi berbelanja barang-barang lainnya yang tidak sempat dibeli kemarin.


“B-bagaimana dengan n-nona?”


“…”


Masih menunduk, sekretaris coba menanyakan Fina terkait pembuatan kartu tanda pengenal. Dari suaranya sepertinya sekretaris merasa takut ke Fina. Meski beberapa saat sudah berlalu Fina juga tidak menjawab sekretaris dan hanya menatapnya. Jadi aku putuskan saja untuk menjawab pertanyaan sekretaris ke Fina.


“Hanya saya saja yang akan membuat kartu tanda pengenal.”


“Saya mengerti tuan.”


“Baiklah, terima kasih atas bantuannya nona sekretaris, beberapa saat lagi saya akan kirimkan beberapa orang untuk membawa barang-barangnya”


Setelah berkata seperti itu aku beranjak berdiri keluar ruangan.


“Tunggu sebentar tuan.”


Aku berhenti berjalan dan kembali menghadap sekretaris.


“Jika tuan ada waktu, tuan bisa ikut lelang yang akan dilaksanakan dua hari ke depan. Saya akan menyediakan ruangan pribadi untuk tuan dan nona.”


Hmm… mungkin aku bisa pergi mencoba rasakan langsung bagaimana suasana pelelangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya meski itu di Bumi.


“Ya, tawaran nona sekretaris sangat menarik. Kalau begitu mohon sediakan ruangannya untuk kami. Saya jadi ingat, bisakah nona sekretaris memperkenalkan kami dengan pandai besi yang bagus? Ada orang dari kelompok kami yang ingin belajar menjadi pandai besi.”


“Tentu saja tuan, akan saya coba hubungi dulu pandai besinya.”


Kami keluar serikat pedagang dengan menggunakan skill tembus pandang. Aku juga memegang tangan Fina agar bisa mendapatkan efek tembus pandangnya. Sambil berjalan keluar aku memulai pembicaraan.


“Fina bagaimana kamu menginterogasi si sekretaris tadi malam? Sampai sekarang dia hanya manggut-manggut aja apa yang kuminta.”

__ADS_1


Aku masih penuh tanya dengan apa yang Fina lakukan ke sekretaris tadi malam. Entah apa yang Fina lakukan sampai-sampai aku heran dengan perilaku sekretaris yang jadi penurut bahkan dia sampai memberikan saran dan informasi yang sangat berguna.


“Aku hanya memintanya untuk menuruti Jaya.”


Aku hanya bisa membalas dengan tatapan heran saat mendengar kata-kata Fina. Sepertinya definisi ‘meminta’ antara kita berdua berbeda. Mana ada orang yang disuruh meminta bisa jadi seperti itu. Selagi keheranan dengan ucapan Fina, dia berkata lagi.


“Jaya harus hati-hati dengan sekretaris itu.”


Kenapa harus berhati-hati? Hmm… harusnya kemampuan sekretaris tidak akan mempengaruhiku.


Tapi saat dipikir-pikir kembali, akhirnya aku mendapatkan kesimpulan yang mungkin menjadi alasan kenapa Fina berkata seperti itu.


“Fina… jangan-jangan, kamu cemburu yah?”


Aku mengatakannya sambil tersenyum menggoda Fina. Besar kemungkinan kata-kataku yang mengatakan si sekretaris cantik sebelumnya membuat dia cemburu.


“Iya.”


Fina membalasnya dengan tenang sambil menatapku. Eh? Senyum menggodaku hilang. Terus terang sekali dia, kukira akan ada reaksi emosional yang kuat entah marah-marah atau ngambek. Kalau seperti ini, suasananya serasa tidak cocok untuk menggodanya. Aku juga salah tadi, kata-kataku terlalu berlebihan ke sekretaris. Selagi masih berpikir, Fina lanjut berbicara.


“Aku mau Jaya tanggung jawab. Hari ini Jaya harus menemaniku.”


Waduh tanggung jawab, berat sekali kata-katanya. Lagi pula setiap hari kita berdua selalu bersama. Apa bedanya dengan hari ini.


Mendengar itu mata Fina langsung berbinar menatapku. Sepertinya bujukan ini berhasil.


“…”


“Skak.”


“…”


“Skakmat.”


“Ahh!”


“Jaya kalah, sekarang peluk aku lagi.”


Aku berdiri dari tempat duduk kemudian mengitari meja dan memeluk Fina. Dari perjanjian kami saat awal permainan, yang kalah harus mengikuti perintah yang menang.

__ADS_1


Saat kembali ke penginapan, aku membuat catur dan mengajarkannya ke Fina. Selama bermain hanya satu kali saja aku menang. Itu juga hanya di awal saat bermain sambil mengajarkannya. Setelah itu aku tidak pernah menang lagi. Padahal aku sudah memimpikan bagaimana Fina akan kalah dan melakukan apa pun yang aku inginkan di tiap rondenya.


Apa guna atribut INT dan WIS ku yang tinggi? Bahkan nilainya lebih dari dua kali lipat atribut Fina. Apa atribut itu tidak meningkatkan sedikit pun kepintaranku? Padahal kupikir cara menyusun strategiku saat bermain di sini jauh lebih baik saat masih di Bumi, harusnya strateginya susah ditebak. Tapi kenapa serasa sangat mudah ditangkal oleh Fina?


Sambil masih memeluknya, aku coba bertanya apa rahasia Fina sampai dia bisa dengan cepat sejago ini.


“Fina, kenapa kamu jago banget main catur?”


“Mungkin karena aku lebih berpengalaman daripada Jaya.”


Uhuk, sialan, balasannya malah terasa lebih sakit dari pada kalah berturut-turut. Dikatain sama orang yang baru sekali main langsung pro kalau aku kurang pengalaman. Padahal aku yang ngajarin dia.


Hmm… tapi setelah dipikir kembali mungkin kata-kata Fina ada benarnya, memang atribut INT dan WIS milikku lebih tinggi dan aku juga merasa saat ini permainanku lebih baik daripada di Bumi. Tapi Fina memang lebih berpengalaman.


INT dan WIS milikku mungkin lebih tinggi, tapi kecerdasan ditambah kebijaksaaan dibarengi dengan pengalaman yang sangat banyak jika aku mempertimbangkan umur Fina yan-


“Jaya…”


“Iya sayang?”


“Ayo main.”


“Oke sayang.”



Pagi hari besoknya kami pergi ke pasar. Aku berencana pergi ke toko peralatan dan senjata untuk hari ini. Aku ingin membeli alat dan bahan pertukangan agar alat yang kami miliki lebih lengkap saat membuat sesuatu. Kalau senjata aku berencana membeli berbagai tipe senjata yang cukup terjangkau.


Tujuan utamaku membeli senjata adalah untuk di coba-coba oleh Fina nanti, siapa tau nanti  muncul skill yang berhubungan dengan senjata itu seperti waktu Fina melawan kasuari. Tujuan keduanya biar bisa jadi referensi saat aku membuat senjata.


Sebenarnya aku juga ingin membeli kaca. Namun setelah memeriksanya dengan golem pengintai, tidak ada pengrajin kaca yang membuat kaca yang besar. Kacanya juga tidak terlalu transparan. Jadi aku urungkan niat untuk membelinya.


Anggota yang aku bawah untuk jalan-jalan hari ini, tentu saja ada Fina yang menghilang dan 4 golem besi yang di samarkan bagai manusia.


Kegiatan kami kemarin setelah pulang dari serikat pedagang hanya bermain berbagai permainan sampai malam. Tapi sesekali aku juga mencari-cari informasi melalui golem pengintai dan beberapa golem yang aku samarkan jadi manusia kuperintahkan untuk mengantar barang-barang ke serikat pedagang. Bahkan sampai hari ini masih ada barang-barang yang akan para golem bawa ke sana.


Kami melihat-lihat area pasar yang belum aku telusuri secara langsung sebelumnya. Kalau sebelumnya kami mengitari area kebutuhan sehari-hari, kali ini kami berkunjung ke area para pengrajin.


Terlihat hampir setiap bangunan mengeluarkan asap hitam dari cerobongnya. Suara dentuman palu yang menghantam besi bisa terdengar di mana-mana. Aku juga bisa mendengar suara hentakkan dari berbagai alat yang saling bertubrukan.

__ADS_1


Kami memasuki toko yang memiliki kualitas terbaik dan harga yang bagus berdasarkan hasil penelusuranku menggunakan golem pengintai dan Mata Bulan. Di toko tersebut aku membeli setiap tipe senjata dengan kisaran harga 50 koin perak sampai 2 koin emas per senjata.


Mungkin ini cukup mahal jika aku mempertimbangkan biaya hidup di kota ini dimana satu keluarga berencana bisa memenuhi kebutuhannya selama satu bulan dengan biaya sekitar 20 koin perak. Tapi karena senjata ini kualitasnya paling baik untuk kisaran harganya, aku pikir ini keputusan yang bagus.


__ADS_2