
Keesokan harinya kami pergi ke galangan kapal dan seperti yang telah mereka janjikan sebelumnya, kapal yang aku temukan sudah selesai mereka kerjakan. Bahkan mereka juga sudah selesai melakukan pemeriksaan dan uji coba setelah pemeliharaan. Jadi kita bisa berangkat hari ini juga.
Saat tiba di galangan kapal, aku bisa melihat kapal yang memiliki dua tiang yang layarnya mirip dengan layar tanja. Panjang keseluruhan kapal itu mencapai 30 meter dengan lebar sekitar 9 meter. Lambung kapalnya juga cukup tinggi dan melengkung. Selain itu setelah diberi lapisan pelindung, warna kayu kapal terasa jadi lebih menonjol.
Saat aku perhatikan kembali, kapal ini memang lebih terlihat sebagai kapal untuk mengangkut barang dibandingkan kapal bajak laut. Dikarenakan dari bentuk dan kapasitas kapal, kapal ini bisa memuat sekitar 100 metrik ton barang. Jadi ini memang kapal yang cocok untuk pedagang sepertiku.
Karena semuanya sudah selesai, aku berencana untuk berangkat hari ini. Tapi aku juga harus menanyakannya ke Fina, siapa tahu masih ada yang ingin dia lakukan di kota ini.
“Fina, aku berencana berangkat hari ini juga. Apa masih ada yang ingin kamu lakukan di sini?”
“Tidak.”
Sambil menggelengkan kepala, dia menjawab pertanyaanku.
“Kalau begitu kita akan segera berangkat setelah mengangkut semua barang ke kapal.”
Dengan bantuan golem yang menyamar menjadi seperti manusia, kami mengangkut barang-barang yang dibeli di kota ini naik ke kapal. Di sela-sela kami sedang mengangkut barang, sekretaris dan beberapa orang pengangkut barang datang membawa barang.
“Selamat Pagi Tuan, saya sudah membawa barang yang dipesan.”
Sekretaris menyapaku yang sedang sibuk mengangkut barang di dek kapal dengan wajah yang penuh martabat langsung menatap ke arahku. Bagus… bagus… sepertinya dia tahu memposisikan dirinya. Dia tidak terlihat submissive sekarang.
“Terima kasih telah mengantarkannya langsung nona sekretaris.”
“Ini juga merupakan salah satu tugas saya sebagai pegawai serikat perdagangan.”
Aku meminta sekretaris untuk membeli alat dan bahan pandai besi yang akan aku gunakan untuk berlatih di Pulau Bulan.
__ADS_1
“Kami berencana pergi ke Kepulauan Sepuluh Ribu hari ini. Kalau nona sekretaris kapan akan pergi ke kekaisaran utara?”
Kepulauan Sepuluh Ribu merupakan nama kumpulan pulau-pulau kecil yang membentang dari timur Kerajaan Pangara sampai selatan Kerajaan Tigara. Kata banyak orang nama itu tidak sesuai dengan kepulauan itu. Karena jumlah pulau yang ada di sana sangat banyak dan bahkan bisa sampai ratusan ribu pulau katanya.
“Saya berencana berangkat besok ke sana.”
Selagi kami berbicara pengangkut barang yang datang bersama nona sekretaris selesai menaruh barang kemudian segera turun dari kapal.
“Hati-hati di jalan dan semoga aman sampai tujuan nona sekretaris. Mohon jaga familiar saya selama di perjalanan.”
Kalau golemnya jatuh ke laut hilang sudah rencana melihat-lihat kekaisaran utara.
“Tentu saja tuan, keinginanmu adalah perintah untukku.”
“Kalau begitu jaga dirimu nona sekretaris. Sampai jumpa lagi.”
“Terima kasih atas perhatiannya tuan. Saya menanti pertemuan dengan anda lagi.”
Aku meninggalkan 3 golem di kerajaan ini. 2 golem pengintai untuk sekretaris dan pewaris, dan 1 golem manusia untuk jaga-jaga jika aku membutuhkannya untuk menempa senjata secara langsung dengan pewaris.
Setelah semua barang selesai dimuat, kami langsung berangkat. Aku bersama Fina naik di kapal bersama golem yang merupakan ‘kapten’ dan ‘anak-anak buahnya’. Sementara beberapa golem yang sebelumnya datang bersamaku berangkat menggunakan perahu.
“Sampai jumpa lagi tuan!”
Sambil melambai, sekretaris melepas kepergian kami. Dia bahkan sampai menunggu dari tadi hingga kami berangkat.
Persinggahan kami di Kerajaan Pangara, membuatku menjadi OKB. Total uang yang aku dapatkan dari penjualan material dan lelang dikurangi dengan pajak lelang, pembelian barang ini itu, serta biaya hidup kami selama seminggu, aku masih menyisakan uang sebanyak 3187 koin emas 553 koin perak dan 489 koin perunggu.
Untuk sekarang aku masih belum tahu akan di apakan uang sebanyak ini. Tapi, tidak ada salahnya memegang uang yang banyak sekarang. Bisa saja ada kejadian dimana aku akan bertemu dengan petualang lain di Kepulauan Sepuluh Ribu dan mereka memiliki barang yang aku inginkan. Uang ini bisa jadi salah satu komoditas untuk melakukan penawaran.
__ADS_1
Setelah Pulau Pupan sudah tidak kelihatan dan tidak terlihat adanya kapal di sepanjang mata memandang, aku memasukkan kembali perahu ke dalam inventori kemudian bersama fina kembali ke Pulau Bulan yang sudah kuposisikan di bawah kapal kami.
*puk*
Aku menginjakkan kaki di pasir pantai Pulau Bulan. Sangat terasa bagaimana perbedaan pasir pulau ini dengan pulau-pulau lainnya. Kakiku terasa dimanjakan saat menginjak pasir ini. Mungkin ini juga ada pengaruh karena aku merupakan pemiliknya akan tetapi hal tersebut juga membangkitkan rasa kangen akan tempat ini setelah kutinggalkan selama satu minggu.
Saat aku menginjakkan kaki di pesisir pantai, terlihat sebuah rumah dari bata merah yang aku bangun bersama Fina sebelumnya. Di sekitarannya berjejer beberapa tungku pembakaran, smelter, dan tempat pembakaran batu bata. Saat melihat barang-barang tersebut aku jadi kangen waktu awal mula kami membuat mereka dengan barang apa adanya.
Namun di sela-sela perasaan nostalgia tersebut, muncul perasaan lainnya. Perasaan semrawut. Mungkin karena aku sudah mempunyai alat dan bahan pertukangan yang lengkap sekarang, aku jadi ingin merapikan pemandangan yang kacau-balau ini.
Sepertinya hari ini aku akan membuat bangunan mereka masing-masing di sekitar rumah bata agar terlihat lebih rapi.
“Kenapa hanya berdiri saja Jaya?”
Sepertinya Fina merasa heran kenapa aku berdiri saja sejak sampai di sini.
“Aku merasa kangen dengan pulau ini setelah melihatnya secara langsung dan dari perasaan itu muncul juga rasa untuk merapikan kekacauan yang kita buat.”
Sambil menatap Fina, aku utarakan apa yang baru saja kupikirkan.
“Ayo kita rapikan. Aku suka melakukan apapun bersama Jaya.”
Fina langsung mengerti apa keinginanku hingga mengajakku untuk merapikan area sekitar rumah bata.
“Ayo kita buat beberapa bangunan di dekat rumah bata.”
Sambil memeluk dan mencium dahinya, kami memutuskan untuk memulai merapikan area sekitar rumah bata.
Aku menyimpan semua tungku pembakaran, smelter, bata, dan bahan-bahan pertukangan yang berseliweran di dekat rumah bata ke dalam inventori. Sehingga sekarang yang terlihat di pesisir pantai hanya rumah bata saja.
__ADS_1
Kemudian aku ratakan tanah seluas 2 hektar dengan skill Transformasi Pulau untuk dijadikan area pengrajin. Area tersebut letaknya sekitar 200 meter di sebelah timur laut dari rumah bata dan agak ke dalam pulau sehingga sudah bukan area berpasir pantai. Area pengrajin itu juga tidak akan terlihat dari pesisir pantai karena tertutup dengan rimbunnya pepohonan.
Untuk sekarang area tersebut akan aku buat beberapa bangunan. Bangunan yang pertama aku akan membuat bangunan tungku pembakaran. Ukuran bangunannya 20x20 meter dan bangunan ini akan dibuat agak terbuka. Di mana ia akan memiliki pintu yang besar dan memiliki sistem ventilasi sehingga sirkulasi udaranya lancar.