Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Tujuh


__ADS_3

“Halo.”


Halo? Aku sepertinya berhalusinasi mendengar suara seseorang. Jelas-jelas tidak ada orang lain selain aku di dalam gua ini. “Hehe.” Aku tertawa pelan mengasihani diriku yang mungkin sudah rindu untuk bicara dengan orang lain.


“Terima kasih.”


Hah? Ini bukan hanya khayalan! Memang ada suara orang lain di dalam sini! Siapa? Di mana orang tersebut? Aku berputar beberapa kali untuk mencari tahu asal dari suara itu, tapi tidak ada siapa pun yang terlihat. Lagi pula meskipun suara asing itu berterima kasih, tidak ada ketulusan dalam nada bicaranya. Namun anehnya, aku merasakan perasaan nostalgia dari suara tersebut.


“Kamu satu-satunya orang yang cocok selama ini. Kamu adalah pewaris tempat ini.”


Sembarangan aja ni suara, datang-datang langsung ketok palu jadi pewaris. Orang malah jadi was-was.


“Kamu siapa? Kenapa aku harus jadi pewaris tempat ini? Kenapa berterima kasih?”


“Maaf karena terburu-buru.” Dia berkata dengan suara datar.


“Sebelum itu bisakah kamu masuk dalam ruangan inti?”


“Ruangan inti? Apakah maksudmu ruangan di dalam lapisan berwarna kekuningan ini?”


“Ya.”


“Kenapa aku harus masuk kesana?”


“Maaf, kekuatanku tidak akan cukup jika harus berbicara di luar ruangan inti.”


Mencurigakan. Kuperintahkan golem untuk masuk duluan, setelah mereka masuk dan tidak terjadi apa-apa, aku pun ikut melangkah ke dalam lapisan tersebut. Aku langsung bisa masuk begitu saja, tidak ada perlawanan. Padahal saat dipukul ogre purba lapisan ini tak bergeming.


Saat masuk kedalam ruangan inti, aku tidak menemukan siapapun di dalam ruangan tersebut. Hanya ada satu batu yang besar dan panjang seperti batu menhir yang biasanya dipakai untuk pemujaan. Tinggi batu tersebut sekitar tiga meter.


“Aku adalah kesadaran dungeon ini atau lebih tepatnya pulau ini. Telah lama sejak aku tersadar namun tidak ada entitas yang memiliki energi yang sama dengan tempat ini sebelum kamu tiba. Aku berterima kasih karena kamu telah mengalahkan naga tanah. Sejak ribuan tahun naga tersebut mencoba menyerap pulau ini.”


“Menyerap pulau ini?”


“Naga itu mencoba memakan inti dungeon, untungnya perisai masih bisa menahan sebagian besar serangannya.”


“Jadi kamu tahu saat aku mengalahkan naga tersebut? bagaimana caraku mengalahkannya? Karena waktu itu aku langsung tak sadarkan diri.”


“Aku tidak mengetahui bagaimana kamu mengalahkannya. Saat itu aku berada di dalam laut.”


Dalam laut? Jadi tempat ini bisa tenggelam. Saat aku mulai hilang kesadaran aku merasa kalau tubuhku ditaruh diatas pasir. Mungkin itu adalah waktu pulau ini muncul dari dalam laut. Berarti dia yang menyelamatkanku saat berada di tengah laut dan tak sadarkan diri.


“Jadi kamu yang menolongku. Terima kasih sudah menolongku waktu pingsan saat itu”


“Tidak perlu, aku menolongmu karena ingin kamu menerima tawaran untuk mewarisi pulau ini.”


Meskipun dia bilang seperti itu, di pandanganku dia tetap saja penolongku. Apa aku terima saja tawaran jadi pewaris tempat ini kemudian kuanggap impas? Tapi kurasa malah tidak sepadan. Berasa aku yang lebih untung. Suara itu juga belum menjawab kenapa aku harus jadi pewaris pulau ini.


“…”


“…”


“…”

__ADS_1


Kok dia diam saja? Apa kekuatannya habis? Akupun bertanya.


“Apa kau baik-baik saja?”


“…”


“…”


“…”


Tidak ada jawaban apa-apa. Aku melihat ke seluruh ruangan tidak ada yang berubah. Tiba-tiba.


[Pemindahan selesai]


[Menjadi pemilik pulau Bulan]


[Persyaratan terpenuhi]


[Mendapatkan skill Mata Bulan]


[Persyaratan terpenuhi]


[Meningkatkan konfigurasi Status]


“…”


Siagfhgghijklllann! Pantas si ‘heli’ diam aja. Ternyata dari tadi udah proses transfer pemilik pulau ini. Tadi susunan kata-katanya kayak butuh persetujuanku, ternyata jebakan.


“Maaf tidak bisa menjawab pertanyaan keduamu sebelumnya. Sejak aku sadar, hal yang mendorongku hanyalah melindungi tempat ini. Saat ini aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya jadi aku memberikan tanggung jawab tersebut kepadamu.”


“Memangnya kamu bisa memastikan kalau aku akan melindungi tempat ini ke depannya?”


“Ya. Karena jika tempat ini hancur, kamu juga akan mengikuti nasibnya.”


Siagfhgghijklllann! Cari gara-gara bener si heli.


“Selamat tinggal.”


Selamat tinggal? Dia sudah mau m̶a̶t̶i̶pergi? Informasinya masih belum cukup! Langsung saja aku mengaktifkan skill yang baru kudapat. Dengan skill tersebut, aku bisa melihat semua informasi yang ada diruangan ini. Termasuk si heli.


Rupa si heli hanyalah bola kecil yang redup berwarna abu-abu. Sebelumnya aku tidak bisa melihatnya tapi saat menggunakan skill yang baru didapat, dia bisa terlihat dengan jelas. Posisinya saat ini berada disamping batu menhir yang ada di tengah ruangan. Dari statusnya, memang terlihat kalau dia akan segera pergi. Enak saja memintaku jadi pewaris lalu akan meninggalkanku dengan cepat tanpa informasi apapun. Aku berteriak menghadap bola kecil tersebut.


“Tidak akan kubiarkan kau pergi!!!”


Aku lari menghampirinya kemudian menggenggam bola kecil itu dan memindahkan manaku kepadanya. Mana bola kecil itu berkurang terus menerus sejak aku melihatnya pertama kali. Tapi, saat aku mulai memindahkan manaku kepadanya, tiba-tiba mana miliknya berhenti berkurang.


“…”


Sampai manaku sisa lima persen, kondisi status bola kecil itu masih tertulis ‘sangat lemah’.  Dia sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Tapi untung saja dia tidak sampai pergi.


Dari informasi yang kudapat menggunakan skill, bola kecil ini hanya mempunyai MP dan tidak ada HP. Kupikir dia bertahan hidup hanya menggunakan mana. Jadi kucoba saja memberikan mana milikku dan sepertinya berpengaruh.


Dengan menguras manaku, aku juga tahu ternyata manaku bertambah sebanyak 1% dalam semenit. Kalau secepat ini, tidak perlu lama-lama menunggu pemulihan mana.

__ADS_1


Selagi menunggu pemulihan mana, aku melihat lagi skill dan deskripsi yang baru didapat di statusku. setelah mengalahkan semua ogre purba, aku naik dua level dan sekarang sudah level 34.


Status


Poin : 72


Nama : Jaya


Ras : Manusiaa


Umur : 17


Level : 34


Exp : 58%


HP : 3378/3400


MP : 204/3400


STR: 68 INT: 68 DEX: 68 VIT: 68 WIS: 68


Skill : Sihir Spasial[Inventory(lvl.1)], Sihir Bumi[Sihir Golem Bumi(lvl.5)], Mata Bulan


Gelar : █, Mantan Penduduk Bumi, Kutu Loncat, Pembunuh Naga, Pengecut, Pemilik Pulau Bulan.


Ahh ... siapa pun yang menentukan gelar memang ada dendam pribadi kayaknya.


Keterangan Pengecut: Mengalahkan musuh dengan tidak jantan. Orang lain akan menganggap enteng dirimu. Jika menyerang musuh tanpa diketahui sebelumnya, serangan meningkat 1.5x lipat.


Memang waktu kalahkan para ogre aku menggunakan metode pukul dan lari, tapi metode itu malah dianggap pengecut. Terserahlah, yang penting efek gelarnya sakti.


Keterangan Pemilik Pulau Bulan: Memiliki hak memerintah Pulau Bulan.


Untuk memerintah pulau ini harus dilakukan melalui panel kendali yaitu batu menhir yang ada di tengah ruangan ini. Nanti saja aku utak-atik kalau proses pemberian mana sudah selesai.


Mata Bulan: Melihat informasi entitas,  Membuat status palsu, Penglihatan tidak terpengaruh cahaya, Tidak terpengaruh skill yang memanipulasi penglihatan.


Skill ini mirip skill appraisal ditambah aku tidak akan terpengaruh skill yang memanipulasi penglihatan dan penglihatanku tidak akan terpengaruh cahaya. Oho! Berarti aku bisa melihat meski gelap.


Aku juga mendapatkan informasi tentang peningkatan konfigurasi status. Saat kuteliti, yang berubah ternyata pengaturan gelarku, jadi sekarang aku bisa mengaktifkan/menonaktifkan efek gelar yang kumiliki. Akhirnya bisa menonaktifkan gelar Kutu Loncat. Kan ribet kalau semua orang yang kutemui tidak mempercayaiku.


Selesai melihat skill dan gelar yang baru didapat. Aku melakukan pemindahan mana terus-menerus ke bola kecil itu setiap kali manaku penuh. Pada pemindahan mana yang kedua kondisi statusnya berubah menjadi ‘lemah’. Aku jadi semakin yakin kalau metode ini berpengaruh. Tapi ada hal yang ganjil, mana miliknya tidak bertambah sama sekali. Jumlahnya tetap seperti saat aku baru memberinya mana.


Meski begitu aku coba terus melakukan pemindahan mana sampai delapan belas kali. Namun, kondisi statusnya masih tetap ‘lemah’. Aku bahkan belum tidur selama ini karena khawatir kalau terlalu lama tidak diberikan mana bisa berdampak buruk ke bola kecil itu.


Karena sudah terlalu lama bangun, kuputuskan hanya akan memindahkan mana sampai yang ke dua puluh kali saja setelah itu aku akan istirahat dan melanjutkannya nanti. Namun, saat pemindahan mana yang ke sembilan belas kali, tiba-tiba bola kecil itu berubah.


Dari yang sebelumnya berupa bola kecil berwarna abu-abu, tiba-tiba membesar sampai setengah badanku. Warnanya juga berubah menjadi putih dan agak bersinar. Namun, kondisi statusnya masih tetap ‘lemah’.


Setidaknya ada perubahan fisiknya pikirku. Berarti selama ini tidak sia-sia memberinya mana. Kalau seperti ini, rencana untuk memberikan mana sebanyak dua puluh kali saja harus aku batalkan.


Aku memberikan mana terus menerus sampai akhirnya pada pemberian mana yang ke tiga puluh kali terjadi perubahan yang signifikan.

__ADS_1


[Mendapatkan gelar Datuk]



__ADS_2