Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Selesai memberi persembahan ke batu menhir dan kembali ke permukaan, aku mengecek seberapa cepat pergerakan pulau ini sekarang saat levelnya sudah dinaikkan ke level 5. Kecepatannya yang sebelumnya sekitar 1 knot, sekarang sudah naik di sekitar 3 knot. Kalau kecepatannya seperti ini perkiraan kita akan sampai di Kerajaan Pangara akan memakan waktu kurang lebih 2 minggu atau mungkin bisa lebih.


Sebelumnya kami berencana untuk menjelajahi pulau-pulau kecil lainnya di sepanjang jalan ke kerajaan Pangara untuk mencari inti-inti dungeon. Tapi karena sekarang dungeon Pulau Bulan sudah selesai diperbaiki aku berencana untuk tidak menjelajahi pulau-pulau kecil dan fokus segera pergi ke kota. Kecuali kalau dari kejauhan aku bisa melihat ada hal yang berharga atau menarik di pulau tersebut melalui skill Mata Bulan.


Selagi dalam perjalanan ke Kerajaan Pangara yang memakan waktu cukup lama, sebaiknya aku ingat lagi daftar tugas dan keinginan yang ingin aku lakukan.


Garam √


Bata √


Minyak kelapa


Sabun


Tungku pembakaran


Kompor, panci, dan wajan (alat masak & alat makan) dari gerabah


Semen


Kamar mandi

__ADS_1


Rumah bata


Peralatan dari besi(?)


Njir banyak bet. Baru garam dan batu bata saja yang selesai. Batu bata juga baru sebagian yang selesai di bakar. Kalau begini porsi latihanku bersama Fina harus dikurangi. Untuk sisa hari ini mungkin aku hanya akan membuat minyak saja dari kelapa dan aku akan memerintahkan golem untuk membuat tungku pembakaran. Tungku ini nantinya akan digunakan untuk membakar gerabah dan membuat semen dari batu-batu kapur yang aku kumpulkan sebelumnya.


Hmmm… setelah dipikir-pikir mungkin tidak akan memakan waktu lama kalau ada bantuan golem. Apalagi saat ini dengan naiknya level aku bisa membuat lebih banyak golem dari sebelumnya tanpa perlu menghawatirkan habisnya manaku. Semua daftar itu kupikir bisa kubuat kecuali peralatan dari besi. Aku tidak punya informasi yang cukup atau pun pengalaman sebagai pandai besi. Mungkin kalau semua daftar di atasnya selesai sebelum kita sampai di Kerajaan Pangara aku bisa coba-coba membuat alat-alat dari besi.


Kembali ke pinggiran pantai di tempat awal aku sampai di pulau ini, yang awalnya hanya ada gubuk kecil, saat ini sudah ada rumah panggung yang berdiri di tempat ini. Selain itu, terlihat juga susunan-susunan bata yang sedang dibakar. Oke, sekarang saatnya membuat hal yang paling mudah, yaitu membuat tungku pembakaran. Aku dan para golem hanya menyusun batu bata dengan teknik penguncian kering dengan memposisikan batu bata secara berdampingan dan saling terkunci tanpa menggunakan perekat. Meski pun tanpa menggunakan perekat, tungku ini bisa membentuk struktur yang kokoh jika dibuat secara tepat.


Agar tungku pembakaran lebih tahan panas, aku juga menambah pasir silika yang bisa di dapat di area pesisir-pesisir pantai. Setelah mencuci dan menyaring pasir tersebut, pasirnya dibuat hingga membentuk pasta kemudian dioleskan di bagian dalam tungku agar bisa melindungi batu bata dari suhu yang tinggi.


Kami membuat beberapa tungku pembakaran sekaligus. Namun, selagi asik membuat tungku hari sudah mulai gelap. Jadi kuputuskan kegiatan hari ini sampai di sini saja.


“Fina, apa kamu baik-baik saja? Kalau ada sesuatu yang mengganggumu kamu bisa coba menceritakannya.”


“Aku baik-baik saja.”


Fina membalas pertanyaanku dengan ekspresi yang tenang seperti biasanya. Tapi entah kenapa dari balasannya aku merasa semakin yakin kalau ada sesuatu yang mengganggunya.


“Aku selalu siap mendengar permasalahanmu kalau kamu membutuhkanku.”

__ADS_1


Hmmm… mungkin dia ingin mencoba mengatasi sendiri hal yang mengganggunya? Tapi apa coba? Hanya kita berdua saja yang ada di pulau ini. Selama ini dia hanya berinteraksi denganku. Kalau ada sesuatu yang mengganggunya besar kemungkinan itu ada hubungannya denganku.


Karena dia terlihat seperti tidak ingin mengatakannya, lebih baik aku katakan saja kalau aku selalu siap mendengarnya saat dia memutuskan untuk mengatakan hal yang mengganggu itu.


Selesai makan malam lalu naik ke rumah panggung dan masuk ke dalam kamar, aku semakin yakin kalau memang ada sesuatu yang mengganggu Fina di pikirannya. Karena tidak seperti sebelum-sebelumnya di mana dia mau ada teman saat tidur, bahkan sampai menawarkan diri untuk tidur bersama di kamarku. Kali ini dia tidak mengikutiku masuk ke kamarku tapi terus berjalan masuk ke kamar miliknya.


Ini menjadi malam pertama baginya sebagai manusia tidur sendirian. Apa dia akan baik-baik saja? Ah! Aku jadi teringat, apa jangan-jangan ini pertanda kalau Fina semakin dewasa? Seperti anak yang beranjak menjadi remaja, anak itu serasa menjauh dari orang tuanya. Hmm… tapi tidak mungkin. Aku yang hanya seumur jagung begini kalau dianggap dengan umur Fina lalu mengandaikan kalau dia menjadi semakin dewasa? Hadeh…


Ah!!! Benar juga, pasti karena tadi pas masih di Semenanjung Monster. Besar kemungkinan ini berawal dari pertanyaan bodohku sebelumnya yang memintanya untuk memperlihatkan dada. Aku hanya ingin bercanda untuk mengetes apa dia memang mengerti arti kata cabul. Tapi dari pandangannya aku malah yang terlihat cabul. Makanya dia menjaga jarak dariku saat ini.


Hah… mulutmu harimaumu kalau begini. Aku memang tidak sengaja, tapi apa daya kalau sudah terlanjur terjadi. Untuk membuatnya merasa lebih nyaman sebaiknya aku bersikap lebih sopan dengan Fina kedepannya.


Selain lebih sopan, aku juga harus meminta maaf nanti. Mungkin supaya terasa lebih ikhlas sebaiknya aku membuat sesuatu untuknya dibarengi dengan permintaan maaf dariku. Meski itu baru akan terwujud beberapa hari kedepan.


Malam ini, sambil membuka jendela dan disinari cahaya bulan ditambah tiupan angin laut dan suara desiran ombak yang menenangkan, aku tidur sendirian di atas tempat tidur dengan kasur dari anyaman daun pohon kelapa yang sangat luas untuk yang pertama kalinya di dunia ini.


Tungku pembakaran √


Besok paginya aku membuat barang di daftar yang selanjutnya. Dengan selesianya tungku pembakaran, hari ini aku berencana untuk membuat kompor, panci dan alat makan dari gerabah dan juga membuat semen.


Untuk membuat kompor, panci, dan alat makan gerabah, aku menggunakan jenis tanah liat yang cocok kemudian membersihkan dan merendamnya beberapa saat sampai tanah liat itu lembut lalu membentuknya.

__ADS_1


Kompornya kubentuk dengan bagian atas dibentuk ruang sebagai tempat untuk menaruh panci dan wajan lalu bagian bawahnya dibentuk agar kuat menopang panas dari kayu bakar yang akan digunakan sebagai bahan bakar kompor. Kalau panci, wajan, dan alat makan bentuknya tidak beda-beda jauh dengan panci, wajan, dan alat makan yang terbuat dari logam. Setelah selesai membentuk gerabah sekarang tinggal di jemur dan setelah kering lalu kemudian dibakar di tungku pembakaran.


__ADS_2