
Selagi menjemur gerabah, sekarang fokusku berganti ke pembuatan semen. Batu-batu kapur yang sudah dikumpulkan sebelumnya aku hancurkan menjadi ukuran kecil agar lebih mudah dicampur setelah itu tanah liat dan pasir silika yang juga menjadi bahan untuk membuat semen aku bersihkan.
Setelah ketiga bahan tersebut selesai disiapkan, selanjutnya aku mencampur ketiga bahan ini. Proporsi campurannya sekitar 70% batu kapur, 20% tanah liat, dan 10% sisanya pasir silika. Setelah itu kutambahkan air sampai campurannya memiliki kelembaban yang cukup untuk membentuk bahan yang bisa dipadatkan.
Setelah selesai dicampur sekarang tinggal mengeringkannya. Mungkin pengeringan ini akan memakan waktu beberapa hari seperti saat membuat bata. Nanti setelah campuran ini mengering tinggal kupanaskan di tungku pembakaran untuk membantu mengaktifkan reaksi kimia antara bahan-bahan tersebut yang nantinya akan meningkatkan kekerasan semennya.
Meski semen yang akan dihasilkan dengan bahan ala kadarnya ini tidak akan memiliki kualitas seperti semen-semen komersil di Bumi namun aku pikir semen ini lebih kokoh sebagai perekat daripada menggunakan serbuk bata merah.
Dengan bantuan golem, aku bisa membuat semen dengan jumlah yang banyak. Tidak perlu takut juga tentang penyimpanannya karena semua itu bisa ditaruh di dalam inventori.
Dengan sisa waktu hari ini yang masih banyak, aku menggunakannya untuk berlatih dengan Fina. Selama berlatih, sikap Fina mengajariku masih terlihat seperti biasanya. Aku juga tidak mengetahui pasti apa yang sedang dia pikirkan karena ekspresinya hampir selalu terlihat tenang.
Sampai malam tiba, interaksi ku dan Fina serasa tidak berbeda jauh dari sebelumnya. Mungkin terasa sedikit berbeda karena sikapku yang lebih sopan kepadanya. Jika aku memperhatikan bagaimana dia memperlakukanku, kupikir tidak ada bedanya dengan yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja seperti malam kemarin, Fina tidur di kamarnya malam ini.
Besok harinya, kuperhatikan gerabah-gerabah yang dijemur sudah mengering. Hmmm… terasa cepat sekali. Seingatku kalau di Bumi seharusnya memerlukan waktu beberapa hari. Tapi karena ini dunia lain mari kita anggap saja karena ada pengaruh mana.
Untungnya pembakaran gerabah di tungku tidak akan memakan waktu lama jadi hari ini kita sudah bisa menggunakan alat masak gerabah ini dan bisa segera masak di dalam rumah.
__ADS_1
Selagi membakar gerabah di tungku pembakaran, aku jadi teringat kalau kamar mandi kami sebaiknya dilapisi tegel saja dan bukan hanya semen. Ini supaya kayunya lebih tahan lama. Jadi aku langsung membuat tegel keramik kamar mandi.
Menggunakan tanah liat yang sudah dibersihkan dan direndam sebelumnya, tanah liat tersebut dicampur dan di ulen kemudian ditata sehingga membentuk potongan tegel. Selanjutnya potongan tegel yang sudah dibuat tersebut tinggal di jemur hingga kering. Lalu setelah kering dengan benar tinggal aku bakar di tungku pembakaran agar dia mengeras sempurna.
Setelah membuat tegel yang kemudian dilanjutkan para golem dan selagi menunggu pembakaran dan pendinginan gerabah, aku menggunakan waktu sisa itu untuk berlatih dengan Fina. Untungnya meski Fina mungkin sedang menjaga jarak denganku beberapa hari belakangan, dia masih tetap mengajariku seperti biasanya.
Kompor, panci, dan wajan (alat masak & alat makan) dari gerabah √
Kami terus berlatih sampai gerabah selesai di dinginkan. Dengan selesainya gerabah, aku akan membuat bahan makanan yang penting. Dengan banyaknya kelapa di sekitarku, sekarang saatnya membuat minyak memasak.
Kuambil daging-daging kelapa kemudian di haluskan sampai seakan daging itu terlihat seperti di parut lalu daging kelapa tersebut kuperas sampai mendapatkan air santannya. Air santan tersebut tinggal kupanaskan di wajan gerabah yang baru selesai kita buat sampai minyak kelapanya muncul. Kuputuskan untuk membuat minyak ini sebanyak mungkin saja sampai malam. Karena hadiah yang ingin kuberikan ke Fina ada hubungannya dengan ini.
---
Saat makan malam kali ini juga berbeda. Untuk menu utama makan malam, aku membuat potongan ikan tombak yang digoreng dengan bumbu seadanya yaitu garam dan jeruk nipis saja lalu sebagai karbohidrat aku membuat lempeng sagu yang hanya menggunakan bahan tepung sagu, air, dan garam.
Sebelumnya beberapa pohon yang aku ambil dari Semenanjung Monster sudah ku tanam kembali di pulau ini. Jadi selain ada pohon jeruk nipis, di pulau ini juga ada pohon sagu dan pohon rambutan.
__ADS_1
Untuk memasak malam ini, aku melakukannya di dapur di dalam rumah panggung yang diterangi dengan obor dan cahaya bulan dari jendela. Dengan adanya kompor, kita sudah tidak perlu menggunakan api unggun di luar lagi untuk memasak. Fina juga kusuruh untuk tidak membantu memasak kali ini. Aku menyuruhnya memperhatikan saja karena aku ingin memberi perlakuan khusus untuknya kali ini. Apalagi ini merupakan cara yang berbeda dari sebelumnya jadi sebaiknya dia melihat saja dulu sambil duduk dari meja makan.
Selesai memasak dan menaruh semua makanan di atas piring, satu per satu aku membawanya ke meja makan di mana Fina sedang duduk menunggu dengan piring kosong dari gerabah dan sendok garpu yang diukir dari kayu di depannya.
Membawa makanan dengan berjalan se-elok mungkin seperti pelayan di restoran mewah, aku mengantarkan makanan satu per satu kemudian menjelaskan tentang makanan tersebut ke Fina se-elegan mungkin. Tak lupa juga aku menjelaskan dan mempraktekan bagaimana menggunakan sendok dan garpu.
Selama aku menjelaskan, Fina hanya menatapku dengan tatapan tenangnya tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Tidak ada ‘iya’ atau ‘baiklah’ dsb. Aku jadi terpikir apa mungkin dia tidak suka?
Setelah semua pengenalan selesai, aku duduk di depan Fina dan memberi ucapan selamat makan. Suasana kami saat sedang makan hanya senyap dan tenang yang seharusnya ini suasana seperti biasanya, namun entah kenapa aku merasa tidak nyaman.
Apa mungkin karena aku terlalu memikirkan tingkah laku Fina belakangan ini? Apa sebaiknya aku meminta maaf saja sekarang tanpa perlu menunggu membuat sesuatu sebagai tanda permintaan maaf? Dengan begitu mungkin hubungan kita berdua bisa lebih cepat kembali seperti sebelumnya. Hmmm… Atau jangan-jangan ini semua hanya di pikiranku saja. mungkin sebenarnya Fina baik-baik saja dan ini memang tingkahnya yang biasa namun karena aku yang terlalu banyak berpikir hingga kondisi yang seharusnya biasa saja malah terasa ada masalah.
“Hahh…” aku membuang napas panjang selagi makan karena terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu benar. Dari pada memikirkan hal yang tidak pasti seperti ini, sebaiknya langsung saja aku tuntaskan keadaan ini. Pokoknya setelah makan malam ini aku harus mengajak Fina bicara agar bisa mengetahui pasti sebenarnya apa yang salah. Tetapi kuharap keadaan ini hanyalah hasil dari pikiranku saja yang terlalu mengada-ada.
Karena terlalu banyak berpikir sambil makan akhirnya aku terlalu lama menyelesaikan makananku. Saat aku bergegas menyelesaikan makanan kemudian menatap Fina untuk mengatakan kalau aku ingin bicara dengannya, ternyata Fina sudah selesai makan duluan dan sedang menatapku seperti menunggu aku selesai makan.
“A-”
__ADS_1
“Aku ingin bicara denganmu.”