
“Haah… Haaah… Aaahh…”
Akupun tidur terlentang dilantai.
Hanya capek saja yang kudapat. Kupikir bisa, ternyata sia-sia.
Mana yang ku berikan ke batu menhir seperti hanya menguap saja. Pikirku bisa melakukan pemberian mana seperti ke Fina sebelumnya.
Akupun bangun daru tidurku dan berkata dengan semangat ke Fina yang sedang duduk menyamping didepanku
“Kita akan mencoba rencana berikutnya!”
Dia kemudian melihatku dengan ekspresinya yang datar dan tenang lalu mengangguk. Weleh-weleh aku aja belum bilang rencana selanjutnya apa, dia cuma iyain aja. Meredam rasa keheranan, aku bangun berdiri kemudian mengajaknya.
“Ayo kita keluar dari gua ini”
“…”
Yah, meski ajakkannya tidak dibalas dengan kata, setidaknya dibalas dengan perbuatan.
Saat keluar dari gua yang menyapaku ialah terik matahari yang menyilaukan mata. Jadi aku menaruh tangan kananku diatas mata untuk meneduhkannya. Tidak ada pohon yang tinggi disekitaran gua ini, kita harus mendaki bukit yang mengelilingi gua ini baru bisa melihat pohon.
Kulihat dibelakangku, Fina hanya melihatku dengan ekspresi datarnya. Selama perjalanan dia hanya mengikutiku dibelakang tanpa berkata apapun. Aku jadi merasa seperti induk ayam yang diikuti anaknya yang baru menetas. Untuk menghilangkan rasa bosan karena terlalu sepi, aku coba memulai pembicaraan.
“Hangat sekali rasanya terkena sinar matahari setelah lama tinggal didalam gua. Fina bagaimana menurutmu?”
“Wujudku sebelumnya bisa merasakan sinar matahari, tapi dengan wujud ini aku merasa lebih sensitif akan sinarnya.”
“Begitukah? Apakah kamu tidak mau terasa lebih sensitif dengan sinar matahari?”
“Tidak, aku lebih suka kalau bisa lebih merasakan sinarnya.”
Mungkin ini salah satu lampu hijau kalau Fina lebih suka wujud ini. Sebelumnya, setelah aku puas bertanya tentang dungeon, muncul rasa tidak enak tentang kondisi Fina yang sekarang. Pikirku mungkin saja dia memang sudah berniat untuk pergi tapi malah aku cegat. Yah, nasi sudah jadi bubur, sepertinya cara terbaik untuk menghilangkan rasa bersalah ini dengan memperlakukannya dengan baik.
Oh iya, tentang golem-golem yang sebelumnya meninjau pulau ini. Mereka sudah meninjau mungkin hampir keseluruhan pulau. Luas pulau ini kira-kira sekitar 50km². terdapat pula danau dan berbagai macam tumbuhan-tumbuhan tropis.
Oleh karena itu aku memutuskan untuk pergi mengambil air dan beberapa buah yang letaknya dekat dengan danau, sebelum kembali lagi ke gubuk. Soalnya aku sudah mulai bosan dengan rasa makanan yang hanya itu-itu saja.
“Kita pergi untuk mengambil beberapa hal dulu yah, sebelum kembali ke gubuk”
__ADS_1
“baiklah.”
Sepanjang perjalanan aku mengajak Fina berbicara sekalian mencari tahu bagaimana perasaannya tentang tubuh barunya.
Karena hanya berjalan dengan santai sambil mengobrol, kita sampai di gubuk pada sore hari. Melihat gubuk yang belum runtuh setelah ditinggalkan beberapa hari, membuat hati senang. Aku tidak perlu repot memperbaikinya. Gubuknya juga cukup luas untuk dua orang.
Setelah mengecek gubuk, kududuk ditempat yang biasanya ku buat api unggun kemudian mengeluarkan peta. Seperti anak ayam seharusnya, kemanapun aku pergi selalu diikuti oleh Fina. Kecuali saat duduk, dia akan pergi duduk didepanku. Aku melihat peta, untuk mengkira-kira lokasi kita dimana saat ini. Dari ingatan Jaya yang terakhir, kita seharusnya berada di barat laut dari Pulau Puma yang merupakan pulau terbesar di kepulauan ini yang bentuknya mirip pulau Greenland.
Hmmm… seharusnya posisi kita sekarang berada di agak selatan dari ujung semenanjung dan ujung barat pulau Puma. Selagi memperhatikan peta, Fina berdiri mendekat kemudian menunjuk tempat yang baru aku pikirkan sambil berkata.
“Lokasi kita saat ini ada disini.”
Aku terkejut, kok dia tahu? Seingatku dia tidak memiliki skill yang berhubungan dengan peta atau navigasi. Aku cek kembali statusnya menggunakan Mata Bulan.
Status
Nama : Fina
Ras : Manusiaa
Umur : *█████
Exp : 0%
HP : 100/100
MP : 100/100
STR: 2 INT: 2 DEX: 2 VIT: 2 WIS: 2
Skill : Tembus Pandang(lvl.2), Poliglot
Gelar : Yang Ditinggalkan
*umur sengaja disensor atas permintaan Fina.
Memang tidak ada skill yang berhubungan dengan peta atau navigasi. Aku kemudian bertanya.
“Bagaimana kamu bisa tau?”
“Dari bintang.”
__ADS_1
Dari bintang katanya? Wah kayak nenek moyang Indonesia berarti.
“Kamu hafal semua posisi bintang?”
“Hanya disekitaran sini saja.”
Dikatakannya dengan tenang tanpa emosi sambil menunjukan hampir semua area yang ada di peta. Wahhh Jackpot! Kalau seperti ini aku tidak perlu takut tersesat selama kita berada di kepulauan ini. Terima kasih eyang Fina pikirku. Akupun mengatakan kepadanya apa rencanaku selanjutnya untuk memperbaiki dungeon ini.
“Aku berencana mencari dungeon terdekat disekitar sini, menurutmu pulau-pulau kecil disekitar sini terdapat dungeon atau tidak?”
kukatakan sambil menunjukan pulau-pulau kecil di peta yang berada di utara lokasi kita saat ini.
“…”
Tidak ada balasan. Saat aku mengangkat kepala keatas untuk melihatnya, Fina hanya berdiri saja dan menatapku yang sedang duduk sambil sedikit mengecilkan matanya seakan-akan mencurigaiku.
Eh? Apa mungkin dia bisa rasa apa yang ku pikirkan tadi? Tidak mau dia lebih mencurigaiku jadi aku juga terus menatapnya sambil memakai ekspresi binggung. Mungkin sekitaran tiga puluh detik kita terus bertatapan barulah pandangannya berpindah ke peta kemudian berkata
“Besar kemungkinan terdapat beberapa dungeon disana. Area tersebut jarang sekali dilewati sehingga mana yang berkumpul kemudian menjadi dungeon di area tersebut kemungkinannya kecil akan dibereskan orang lain.”
“Baiklah. Rencananya inti dungeon yang kudapat akan aku berikan ke Pulau Bulan. Kuharap dengan itu bisa memperbaiki kondisinya.”
Selesai menentukan tujuan berikutnya, saat yang kutunggu-tunggu telah tiba. Sekarang sudah waktunya untuk makan. Kuberdiri menyalakan api kemudian mengambil ikan yang masih mentah dari inventori. Setelah membersihkan ikan tersebut, kutusuk kemudian diberikan garam dan menambah bahan makanan untuk menghilangkan bau amis dan menambah rasa asam yang baru ku petik tadi. Ah… dengan jeruk nipis rasa ikannya pasti akan lebih enak. Setelah masakpun aku tambah lagi jeruk nipis biar lebih kuat rasanya.
Ikan selesai dibakar. Aku melihat ikan bakar yang berwarna kecoklatan seperti segera memanggilku untuk menggigitnya. Lalu kucium aroma ikannya sambil menutup mata untuk meresapi rasa yang baru berkat tambahan jeruk nipis waw seakan air liur sudah mau tumpah.
“makan cuy”
Eh, lupa, ternyata sudah tidak sendiri lagi sekarang. Ekspresiku saat lihat ikan tadi mungkin aneh. Akupun modus mengambil ikan kemudian memberikannya ke Fina sambil mengecek bagaimana ekspresinya melihatku.
“Ini untukmu, hati-hati masih agak panas.”
“Terima kasih.”
Untunglah ekspresinya datar dan tenang seperti biasanya. Setelah memberikan ikan ke Fina aku langsung mulai makan.
“Selamat makan!”
Akupun mengiggit ikan tersebut, ah~ dagingnya seperti meleleh di lidah dan terasa lebih enak dan juicy.
Selagi makan akupun terpikir, akan lebih enak lagi kalau ada nasi dan sambalnya. Dengan itu tujuan berikutnya pun sudah ditentukan. Setelah urusan dungeon aku harus pergi ke kota.
__ADS_1