
Selama menunggu batu bata yang dijemur kering, aku memfokuskan diri untuk dilatih Fina. Nanti pada hari ketiga aku berlatih, barulah batu batanya mengering. Setelah batu bata kering, akhirnya tinggal dibakar agar mengeras.
Dihari batu batanya kering, posisi Pulau Bulan berada di Selat Monster. Meskipun dari pinggiran pantai Pulau Bulan aku tidak bisa melihat daratan Semenanjung Monster maupun Pulau Puma, berdasarkan ucapan Fina yang ahli dalam navigasi, kita sedang berada di Selat Monster.
Tetapi karena aku tak puas dengan kata-kata Fina, aku juga memastikannya dengan membuat golem kecil kemudian kulempar tinggi ke atas. Mungkin tinggi lemparanku sekitar 300m dan saat aku menggunakan penglihatan golem, aku bisa melihat daratan Semenanjung Monster di sebelah kiri dan daratan Pulau Puma di sebelah kanan. Kalau aku perkirakan, mungkin lebar selat Monster ini sekitar 50-60km.
Kuharap saat melewati selat ini tidak ada monster yang kuat yang sedang menyeberang. Kalau yang lemah rapopo.
*GRUUAAARRRR*
“Well, I’ll be damned!” Apakah ini yang namanya hukum tarik-menarik versi negatif? Kenapa itu harus terjadi saat aku baru memikirkannya.
Sekitar 500 meter di depanku, di arah yang dituju pulau ini, Terdapat segerombolan monster penyu yang baru muncul dari dalam lautan. Bentuknya mirip penyu gertakan tetapi lebih besar. Diameter penyukura itu mungkin sekitaran 7 meter Dengan tempurung berwarna hitam yang mulus sehingga terlihat kokoh dan mulutnya yang membuka lebar memperlihatkan deretan gigi tajamnya berteriak ke arah kami.
Sebelumnya, skill deteksi bahaya milikku tidak aktif meski mereka berada di dalam jarak skill. Nanti saat mereka muncul ke permukaan baru skillnya aktif.
Atau mungkin karena mereka pada awalnya dianggap tidak berbahaya bagiku dan tidak menargetiku makanya skill ini tidak aktif, tapi setelah monster itu menargetiku barulah skill ini aktif.
“satu.. dua.. tiga..” Dari informasi mata bulan dan dengan konfirmasi hitungan manualku, jumlah mereka hanya 26 ekor saja dan rata-rata mereka berada di level 27 dengan level 30 yang paling tinggi.
Penyukura Gertakan
Level: 30
HP: 900/900
MP: 80/80
STR: 27
DEX: 3
INT: 8
VIT: 46
WIS: 11
*GRUUAAARRRR*
Monster penyukura bergerak ke arah kami.
*GRUUAAARRRR*
Pulau ini terus bergerak ke arah monster penyukura
*GRUUAAARRRR*
Monster penyukura masih bergerak ke arah kami.
__ADS_1
*GRUUAAARRRR*
“Kalau selelet ini, aku bakar ikan saja sambil menunggu.” Ucapku sambil berdiri di pinggir pantai menghadap para gerombolan monster penyukura gertakan.
“Fina, aku mau bakar ikan dulu selagi menunggu mereka mendekat.”
Menoleh ke Fina yang ada disampingku, kuucapkan kembali gurauanku. Karena lautan merupakan medan yang tidak menguntungkan bagi kami, aku tidak mau mengambil resiko menyerang duluan. Lagipula mereka terlihat semangat sekali berenang ke arah kami, jadi lebih baik kita tunggu saja sampai mereka tiba di pantai.
“Kenapa kita tidak bermain congklak saja selagi menunggu?” Balas Fina dengan tenang sambil menghadapku.
“Wow?! kwkwkw..” Aku tertawa, Fina ternyata sudah bisa bercanda, aku terkejut gurauanku di balas gurauan juga olehnya.
“…”
“kwkw. …”
“…”
“…”
*krik-krik*
“…”
“Apa kamu bersungguh-sungguh?” Karena sehabis aku tertawa dia masih menatapku, bahkan sampai beberapa saat setelah aku diam, makanya aku mengkonfirmasi kembali perkataan Fina tadi.
*nod* Dia membalas dengan anggukan.
*GRUUAAARRRR*
“Yah.. ayo deh.”
*GRUUAAARRRR*
Duduk di atas pasir di tepi pantai, aku mengeluarkan papan congklak beserta bijinya. Saat satu ronde permainan selesai, akhirnya para penyukura itu menginjak pantai.
*GRUUAAARRRR*
“Aku akan menyerang bagian sini, sisanya kamu.” Kataku membagi buruan kita. Meski level Fina masih dibelasan, dengan status dan skillnya aku yakin dia bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Mendengar kata-kataku Fina mengangguk kemudian kita berlari berpencar.
Sambil berlari mendekati penyukura yang ada di paling depan, aku mengeluarkan taring naga yang sudah kuikat dengan tongkat besi sebelumnya. Saat posisiku sudah dekat dengan penyukura aku melompat lalu mengarahkan taring tersebut ke bawah dan menusuk tepat ditengah tempurung penyukura yang terlihat kokoh tadi.
*krakk*
*krakk*
*krass*
Tempurung itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang pecah. Tidak lama kemudian penyukura yang kuserang tadi hilang masuk ke dalam inventori.
__ADS_1
Melihat situasi Fina, dia menggunakan skill tembus pandang kemudian dengan elegannya mengitari belati di leher penyukura hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya. Darah yang terciprat dari leher yang telah putus membasahi pasir pantai.
*bumm*
Badan penyukura tanpa kepala jatuh tergeletak di pantai. Karena tubuh penyukura yang besar dan kecepatan mereka yang rendah, Fina dengan mudah menghindar dan menyerang mereka menggunakan cara yang sama.
Melihat itu, aku jadi kepikiran kalau yang aku lakukan terlalu berlebihan. Tempurung penyukura yang terlihat kokoh ini bisa jadi berharga mahal saat aku jual di kota. Sayang kalau tiap kali membunuh harus dihancurkan tempurungnya.
Dengan begitu aku lari bergegas mendekati penyukura yang gerakannya sangat lambat dan langsung menusuk kepala mereka dengan senjata tongkat+taring naga. Dengan kekuatanku ditambah taring naga, setiap tusukkan ke kepala penyukura membuat kepalanya seakan hancur meledak. Membuat darah dan potongan-potongan kepalanya menghujaniku dan pasir pantai.
Seharusnya penyukura ini langsung masuk inventori saja setelah ditusuk. Ini malah pakai efek darahnya lagi, mengotori pemandangan pantai saja penyukura ini. Kalau hanya mengenaiku saja tidak masalah, tapi kalau kena pasir pantai kan lama hilangnya.
Lari-lari tusuk, lari-lari tusuk. Aku berulang kali melakukan hal yang sama. Akhirnya semua penyukura bagianku telah dikalahkan.
Bagian penyukura milik Fina masih tersisa sebagian, mempertimbangkan pertahanan penyukura yang tinggi dan atribut Fina yang lebih rendah, Fina harus menyerang beberapa kali bagian penyukura yang sama agar bisa melemahkannya.
Sambil menonton Fina, aku mengakses panel kendali Pulau Bulan. Siapa tahu ada fitur yang bisa membersihkan darah-darah ini.
*Slitt*
*bumm*
Badan penyukura yang terakhir jatuh tergeletak. Melihat pertarungan telah selesai, aku pergi ke arah Fina sambil mengeluarkan kelapa muda dari inventori lalu kubuka dengan tanganku kemudian memberikannya.
“Nih diminum.” Aku mengulurkan tangan memberikan kelapa muda ke depan Fina,
“Terima kasih.” Setelah mengucapkan terima kasih, Fina mengambilnya dengan kedua tangan dan langsung menuangkan air kelapa kedalam mulutnya.
“Bagaimana perasaanmu setelah melawan mereka?” Selesai melihatnya minum, aku bertanya bagaiman keadaanya. Bisa jadi dia terlalu lelah setelah melawan monster yang kuat atau malah dia jadi lebih bersemangat. Karena kalau dia lebih bersemangat, ada rencana yang ingin kulakukan.
“Aku merasa lebih kuat setelah bertarung.” Memang pantas kalau dia merasa lebih kuat, levelnya sudah naik menjadi level 14 sekarang.
Status
Nama : Fina
Ras : Manusiaa
Umur : █████
Level : 14
Exp : 2%
HP : 1400/1400
MP : 1303/1400
STR: 28 INT: 28 DEX: 28 VIT: 28 WIS: 28
__ADS_1
Skill : Tembus Pandang(lvl.3), Poliglot, Penguasaan Senjata[Belati(lvl.5)], HTH(lvl.5)
Gelar : Yang Ditinggalkan, Yang Disuap