Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Rumah


__ADS_3

“ngghh… guah!” Aku terkejut sampai membuka mata. Terbangun karena mimpi saat aku masih di Bumi. Mimpi itu saat aku masih SMP, anehnya aku tidak memimpikan keluarga tapi malah teman sekolah sekaligus teman warnetku yang kuimpikan. Ah sudahlah, itu tidak ada hubungannya lagi sekarang.


Melihat kesamping ke arah Fina, dia masih tidur pulas. Tapi tumben sekali jaraknya lebih dekat, sambil pegang pergelangan tanganku pula. Apa dia juga sama sepertiku sedang memimpikan sesuatu sampai tidak sadar memegangku? Yah… apa pun itu, ini suatu keuntungan bagiku.


Aku merasa tidak enak untuk segera bangun melepas genggamannya. Jadi kutunggu sampai Fina bangun untuk beranjak dari gubuk. Lumayan lama juga dia bangun hari ini. Nanti para burung sudah berkoar-koar, barulah dia bangun.


Saat dia mulai bergerak menandakan dia akan segera bangun, aku berpaling menghadapnya. Membuka matanya, kusapa dia dengan senyuman hangat kemudian memberi ucapan.


“Selamat Pagi, apa mimpimu indah?” lebih baik kau balas indah, soalnya aku seperti batu hanya diam di sini dari tadi.


“Selamat pagi. Uh huh. Mungkin indah.” Fina membalas sambil tersenyum dan mengangguk.


“?? Yuk keluar mempersiapkan diri. Hari ini kita akan lanjut membangun rumah.” mungkin indah? Yah.. kalau seperti itu yang dia rasakan berarti seperti itu deh.


Selesai mempersiapkan diri kita melanjutkan lagi membuat rumah. Tapi kali ini agar proses pembuatan lebih cepat, aku menciptakan golem sebanyak yang aku bisa (34) untuk membantu pekerjaan kami.


Sebagian golem aku tugaskan untuk mengumpulkan tanah liat dan berbagai bahan yang dibutuhkan.


Sementara itu kami memaku papan untuk di jadikan lantai, dinding, tangga, dan plafon dengan menggunakan pasak kayu sebagai pengganti paku. Setelah dinding, lantai, tangga, dan plafon selesai dibuat, kita memasang atapnya, untuk sementara atap rumah kayu ini akan memakai daun kelapa saja.


Dengan semua itu selesai dibuat, Jeng-jeng jadilah rumah panggung. Setelah itu aku membuat perabotan seperti kursi, meja, dan dipan. Tapi karena kita tidak mempunyai sesuatu yang empuk untuk digunakan sebagai kasur, kasurnya masih beralaskan daun kelapa saja yang dianyam kemudian disusun di atas dipan. Sayangnya kita tidak memiliki kain yang cukup besar selain kain layar untuk di isi bulu kasuari agar bisa menjadi tempat tidur.


Dengan selesainya rumah panggung, fokusku berpindah ke pembuatan bata. Untungnya ada beberapa tipe tanah liat yang ada di sini dan tanah-tanah tersebut bisa digunakan untuk membuat batu bata merah dan genteng.


Kita campurkan tanah liat, pasir, dan air untuk membuat adonannya. Setelah adonannya jadi, kita cetak adonannya lalu taburi pasir dan jemur hingga kering. Menjemur ini harusnya memakan waktu beberapa hari. Jadi supaya lebih hemat waktu kita mencetak batu bata sebanyak yang kita bisa. Selain membuat batu bata dari tanah liat, kita juga membuat genteng dan dengan bantuan 34 pekerja tambahan semua terasa sangat cepat.

__ADS_1


Malam tiba, saat selesai makan di api unggun, kita pergi beranjak ke rumah baru. Hehe.. rumah baru. Rumah baru untuk beristirahat, seperti manusia pada umumnya yang tidur di dalam ‘rumah’.


Saat menaiki tangga rumah secara official, aku terasa sangat bahagia. Ini semua berkat kerja keras kita semua. Bergegas naik tangga, terdapat meja dan kursi di teras sebagai tempat bersantai sambil melihat pemandangan. Saat masuk ke dalam rumah, aku disambut oleh perabotan-perabotan yang mirip dengan yang ada di teras dan ditambah beberapa almari sebagai penghias. Ruangan ini akan berfungsi sebagai ruang tamu/berkumpul. Aku juga membuat sekat pembatas untuk ruangan ini agar bisa menambah nilai estetika dan supaya tidak terlihat kosong saja karena masih banyak perabotan-perabotan yang perlu dibuat. Di balik sekat tersebut terdapat meja makan yang belum kita gunakan dan pintu-pintu untuk ke ruangan lainnya. Aku akan menggunakan meja makan dirumah ini saat kita selesai membuat kompor dan panci gerabah nanti.


Untuk sekarang, rumah panggungnya masih belum memiliki pencahayaan buatan. Rencananya aku akan membeli alat sihir pencahayaan saat kita tiba di kota nanti. Jadi sekarang kita hanya menggunakan cahaya bulan dengan membuka jendela.


Setelah selesai melihat isi rumah, aku langsung masuk ke kamar dan loncat berbaring di atas kasur baru. Tempat tidur yang kubuat cukup besar, mungkin ukurannya bisa dibilang Super King kalau menggunakan standar Bumi. Sambil berbaring, tak lupa juga aku berguling dari ujung kiri kasur ke ujung kanan terus menerus untuk meresapi keempukan kasur itu sambil tertawa “hehehe..”. Walaupun keempukan itu sebenarnya hanyalah imajinasiku saja karena bahan yang digunakan masih sama dengan bahan waktu tidur di gubuk.


*beku* Keasikanku berguling diatas kasur hilang tiba-tiba. Aku membeku saat sedang berguling. Ini dikarenakan aku melupakan hal yang fatal. Aku dengan cepat merubah gaya dengan berbaring menyamping menghadap pintu sambil menyandarkan satu tangan di kepala yang mirip seperti selebrasi gol Platini.


“Hai Fina, ada perlu apa?” Tanyaku dengan tenang.


“Aku tidak perlu apa-apa hanya mau melihatmu saja.” Balas Fina, dengan tenang juga.


“Semenjak kamu masuk ke dalam kamar.” Balas Fina dengan tenang lagi.


“Oh.. begitu..” Balasku dengan tenang.


*GWAAAAAAAAAAAAAAAA* hancur berkeping-keping image kalau begini. Cari topik baru cari topik baru cari topik baru.


“Eeeeeeee… mau rasa keempukan kasur milikku?” hadeh! Kenapa topiknya mirip dengan kelakuanku tadi tentang kasur. Tapi apa daya kalimat tersebut terlanjur keluar dari mulutku.


“Baiklah.” Fina berjalan masuk ke kamar kemudian berbaring di atas kasur.


Aku sedikit bergeser agar bisa memberi ruang lebih untuk Fina.

__ADS_1


“Empuk bukan?” Kutanya sambil menggunakan nada dan ekspresi pura-pura bahagia agar dia jadi yakin kalau kasur ini memang empuk dan entah bagaimana bisa melupakan kejadian sebelumnya.


“Iya, empuk.”


Aha! Sepertinya dia jadi yakin kalau kasur ini empuk. Sambil masih berpikir bagaimana cara agar Fina melupakan pemandangan tadi, tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan.


“Bisakah aku tidur di sini?”


Hmm... kan aku sudah buatkan kamar biar bisa tidur lebih leluasa.


“Kenapa mau tidur di sini?”


“Aku mau tidur bersamamu.”


Waw, to the point. Kalau dia mengetahui arti lain dari kalimat yang dia katakan, itu bisa memiliki arti yang berbeda. Tapi menurutku yang Fina maksud ‘tidur bersamaku’, ya hanya tidur saja.


Mungkin dia butuh teman tidur. Selama ini dia hanya tidur sendirian, nanti sejak dia menjadi manusia baru dia memiliki teman tidur. Itu juga karena gubuk yang kecil sehingga kita selalu tidur bersama. Mungkin setelah mempunyai teman tidur dia jadi enggan tidur sendiri.


“Baiklah.” Setelah mengkonfirmasi permintaan Fina, aku merebahkan diri untuk segera tidur.


“…” Aku menutup mata menenangkan diri agar bisa segera tertidur. Tapi di kala proses menenangkan diri tersebut, Fina berbicara.


“Kamu terlihat imut tadi.”


“…” Tidak aku balas, aku tetap menutup mata ‘dengan tenang’.

__ADS_1


__ADS_2