
Para semut prajurit ini tidak seperti semut pekerja yang sebelumnya kebingungan saat mendarat, mereka sepertinya sudah menyadari apa yang terjadi di belakang barisan golem sehingga mereka tidak terlihat heran saat sampai di sini.
*cusss*
Meski awalnya mereka tidak heran, dengan kejadian yang baru saja terjadi ini, terlihat dengan jelas kalau mereka sudah terheran-heran saat ini. Kedelapan semut prajurit heran mendengar ada suara yang aneh. Menelusuri sumber suara tersebut mereka menoleh ke belakang ke arah barisan golem. Di situ mereka sadar kenapa bisa ada suara dari belakang.
Masing-masing perut mereka bocor sambil menyemprotkan cairan hijau. Terlihat delapan cairan hijau menyemprot tinggi seperti air mancur. Aku hampir membuka mulut untuk ber ‘wuahh’ karena pemandangannya seperti sedang melihat pertunjukan air mancur.
Dengan penampilan luarku yang seharusnya masih terlihat dingin seperti sebelumnya, kedelapan semut prajurit melihat ke arahku dengan tatapan heran dan marah. Sepertinya mereka berpikir kalau aku yang membuat perut mereka bocor.
*critt*
Selagi para semut melihatku, salah satu semut prajurit berteriak. Para semut lainnya menghadap semut prajurit itu dan mereka seperti terkejut saat melihatnya. Ini karena perut semut yang berteriak itu hancur terkoyak sampai sudah tidak terlihat montok seperti sebelumnya. Cairan hijau yang sebelumnya ada di perutnya habis menggenang di tanah. Enam kaki yang sebelumnya menempel di tubuh semut itu kini tergeletak di tanah bersama dengan tubuhnya. Setelah melumpuhkan semut itu Fina menusuk matanya dengan belati hingga mengakhiri hidupnya.
Melihat kondisi rekannya, bergegas para semut prajurit membentuk dua kelompok yang terdiri dari empat dan tiga semut lalu mereka saling membelakangi. Ini supaya pandangan mereka bisa melihat ke segala arah untuk mengetahui dari mana asal serangan tersebut.
Aku yang melihat di mana posisi Fina saat ini malah merasa kasihan dengan mereka. Dengan perut mereka yang saling menempel karena saling membelakangi, sambil masih menggunakan skill Tembus Pandang, Fina melompat menargetkan perut-perut yang saling menempel itu.
*slit*
*slit*
Empat perut musuh yang saling menempel terkoyak. Tanpa jeda Fina melompat kembali menargetkan kelompok selanjutnya sebelum mereka berpencar.
*slit*
*slit*
*bukk*
__ADS_1
Tiga semut yang terakhir tidak hanya dikoyak saja namun dilumpuhkan juga kakinya. Setelah itu dengan cara yang sama seperti sebelumnya Fina menusuk kepala semut-semut itu untuk diakhiri.
Keempat semut prajurit yang sudah melemah karena perutnya yang hancur mencoba menjauh dengan langkah yang compang-camping. Tentu saja Fina tidak membiarkan mereka lolos, dengan sigap dia menusuk kepala semut-semut prajurit itu satu per satu.
Eits… masih belum selesai, Fina yang kembali berdiri di sampingku setelah mengalahkan para semut menatapku heran karena sekarang aku menatapnya dengan tatapan yang biasanya.
“??”
“Kerja bagus!” Pujiku dengan senyum.
“Terima kasih, aku senang mendengarnya.” Balas Fina sambil memalingkan wajahnya ke arahku, Saat aku berpaling ke arahnya, Dia menghujaniku dengan senyum manis miliknya.
Dia terlihat sangat anggun dan elegan saat ini, perilakunya saat ini berbeda jauh dari beberapa detik yang lalu yang terlihat brutal. Walaupun terlihat brutal, ada esensi menawan yang mampu menarik perhatianku tadi. Mungkin karena melihat ketangkasannya dalam bertarung sehingga aku yang awam ini terkagum-kagum melihat kejagoannya.
“…”
“…”
Yah.. karena ini juga demi perkembangan levelnya, meski saat ini dia mungkin merasa lelah dan keanggunannya saat ini akan hilang untuk sesaat, dia harus menyelesaikan pertempuran ini. Jadi aku coba memintanya dengan lembut serta memujinya.
“Kamu terlihat sangat memikat saat mengalahkan para semut, bisakah kamu menunjukkan lagi aksimu mengalahkan semut-semut yang sedang ditahan para golem besi?”
“… baiklah.” Balas Fina sambil bergegas menghadap semut-semut yang sedang ditahan.
*slit*
Hmm.. mungkin dia tidak keberatan, setelah kumintai tolong, dengan cepat dia langsung memusnahkan para semut yang sedang ditahan para golem. Dengan serangan Fina terhadap semut-semut yang sedang ditahan para golem, selesai sudah pertempuran kita kali ini.
Yah, andai saja bisa seperti itu. Di depan pintu masuk dungeon telah berkumpul beberapa semut. Mereka sepertinya sudah tau kalau ada yang ingin menyerang sarangnya. Padahal aku tidak membiarkan satu pun semut berhasil masuk kembali ke pintu dungeon tadi.
__ADS_1
Besar kemungkinan ada semut-semut dari dalam dungeon yang berada dekat dengan pintu masuk dungeon saat aku menyerang pertama kali. Makanya mereka bisa melihat apa yang terjadi di luar dungeon dan tidak terkena seranganku. Dengan berkumpulnya para semut ini berarti koloni semut ini sudah tau tentang kami.
Semut-semut yang telah berkumpul di pintu dungeon sebagian besar merupakan semut prajurit. Terlihat sudah 50an semut yang ada di luar dungeon. Kalau mereka berani keluar dungeon, besar kemungkinan jumlah mereka ada banyak dan akan menggunakan area yang terbuka ini untuk mengepung kita.
Kalau kita sampai terkepung, meski Fina bisa menghilang tetap saja akan merepotkan. Kupikir yang sebaiknya dilakukan saat ini ialah mencegah para semut menggunakan medan dan jumlah sebagai keuntungan mereka.
“Fina, kali ini aku bersama para golem yang maju, kamu istirahat saja dulu.”
“Aku ikut, Aku tidak merasa lelah.” Balas Fina mendesak.
Kukira dia capek, kalo ngotot seperti ini lebih baik aku iyain aja.
“Oke, tapi kamu ikut dari belakang.”
Setelah menentukan posisi Fina, aku lari dengan cepat menuju pintu masuk dungeon sebelum lebih banyak lagi semut yang keluar dari sana.
Aku terus berlari sampai jarakku dengan pintu masuk dungeon sudah sekitar 100 meter lalu aku melompat tinggi. Selagi di udara aku mengeluarkan tongkat taring naga yang menjadi senjata baruku. Taring yang tingginya sama denganku ini seharusnya akan terlihat aneh di mata musuh, tapi akting sok-cool milikku tadi tidak cocok diterapkan di situasi seperti ini.
Saat masih di udara, kuarahkan taring naga ke bawah sambil memegangnya dengan kedua tanganku dan saat posisiku berada di atas kumpulan para semut, dengan cepat aku menukik sambil mengarahkan taring naga ke tengah-tengah kumpulan semut yang sedang berkumpul.
*BANG!*
Semut yang terkena tusukkan tongkat taring naga hilang masuk ke dalam inventori, hal ini membuat taring naga terus menusuk hingga menabrak tanah. Tusukkan taring naga ditambah kekuatanku yang menghantam tanah menimbulkan gempa kecil di sekitaran, bahkan karena kuatnya hantaman itu, para semut di sekitaran sampai sempoyongan karena munculnya gelombang kejut dari hantaman yang kuat.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, aku langsung menarik tongkat yang tertancap di tanah dan menebas semut prajurit di dekatku.
*wussh*
*wussh*
__ADS_1
Tongkat taring naga yang kuputar mengitariku menebas para semut-semut prajurit. Sekali kutebas para semut mencipratkan cairan-cairan hijau sesaat, lalu hilang masuk ke dalam inventori.
Dengan memastikan kekuatan tongkat taring naga terhadap semut prajurit, aku semakin yakin kalau tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikan semut-semut ini.