
Status
Nama : Samsun
Ras : Tuyul
Umur : 259 Tahun
Level : 27
HP : 240/240
MP : 180/180
STR: 20 INT: 18 DEX: 39 VIT: 12 WIS: 19
Skill : Konversi Emas, Sihir Deteksi[Deteksi Bahaya(lvl.2)], Sihir Api[Bola Api(lvl.2)], HTH(lvl.2), Sihir Waktu[Memperlambat Waktu(lvl.1)]
Gelar : Kolonel Tuyul, Pemilik Dungeon Fe-65a3
Konversi Emas : Konversi 1 Kg Emas menjadi 1 atribut secara acak.
Deteksi Bahaya level 2: Memberi peringatan saat ada bahaya dalam jarak 200 meter.
Bola Api level 2 : Menciptakan dan Meluncurkan bola api oranye.
Memperlambat Waktu level 1: Memperlambat waktu sebanyak 2x selama satu detik.
*woosshh*
Aku langsung melempar batu yang sudah kuremukkan ala kakak Eren sehingga serpihan batu tersebut menyebar ke arah kolonel tuyul.
*dum*
*dum*
*dum*
Saat kabut abu dari serpihan batu yang kulempar mereda, terlihat tuyul plontos yang hanya memakai kolor berwarna coklat dengan tinggi sekitar 1.5 meter berdiri dengan angkuhnya.
Cih, tidak ada yang kena satupun. Dengan mudah dia menghindari semua serpihan-serpihan itu. Ini pasti karena skill deteksi bahaya ditambah skill memperlambat waktunya sehingga tuyul itu bisa dengan mudah menghindari semua serpihannya. Ditambah lagi ruangan ini yang begitu luas sehingga membuat dia bisa bergerak dengan leluasa.
Si tuyul berdiri dengan angkuh menghadapku kemudian berkata.
“.askisret umak aggnih umaskiynem naka ukA .nakanaskal uka gnades gnay ailum sagut uggnaggnem umak ayninareb-inareB”
Sepertinya sang tuyul sedang berkomunikasi denganku. Tapi aku tidak mengerti bahasa yang dia gunakan. Aku menoleh ke Fina yang ada dibelakangku, dia seharusnya bisa mengerti bahasa apapun saat pertama kali dia mendengarnya.
“Yang dia katakan …”
“Oh, ternyata Cuma omong kosong. Coba tanya kalau dia kenal sama Samson Pampam”
“Baiklah. …?”
“!!!!!!!UUAK AYNINAREB-INAREB”
__ADS_1
*Boommm*
Bola api langsung datang menuju ke arah kami. Kita lalu melompat dengan golem anjing yang sedang ditunggangi.
*Hup*
Tempat dimana kita berdiri sebelumnya gosong karena ledakan bola api yang ditembak si tuyul. Ckckck.. padahal aku hanya membalas pernyataan omong kosongnya dengan pertanyaan serupa yang tidak mungkin dia tahu. Tapi dia malah lebih emosi dengan pertanyaanku dari pada saat aku menyerangnya dengan tiba-tiba.
Saat mendarat dengan golem anjing aku membalas dengan melempar serpihan batu
*dum*
*dum*
*dum*
Lagi-lagi dengan mudah dihindari padahal serpihan-serpihan batu itu bisa dibilang secepat peluru.
“.ayngnanemep hal nusmaS aynrihka adap kabmo gnas sapmehid gnay gnarak aynkayal itah taukes nahatreb abocnem nailak iksem !hodob aisunam arap ajas hareynem ..ahahaH”
Meski aku tidak mengerti apa yang dia katakan, yang kutahu dia sedang menertawakan kita.
Ruangan yang besar ini sangat menguntungkan untuk tuyul itu. Juga atribut DEX miliknya yang tinggi di tambah dua skillnya yang merepotkan semua kombinasi tersebut membuatnya licin seperti belut.
*Boommm*
*Boommm*
*Boommm*
Sambil menertawakan kita dia juga terus menembak bola api. Golem anjing yang kutunggangi berlari zig-zag menghindari bola-bola api tersebut. kami berlari ke arah golem besi untuk digunakan sebagai perisai.
*Boommm*
Hal yang paling menguntungkan si tuyul ialah ruangan ini. Aku harus mencoba untuk menghilangkan salah satu keuntungan tuyul itu.
Sebagian besar golem anjing kubatalkan sihirnya sehingga mereka kembali menjadi tumpukan tanah. Lalu aku mengeluarkan semua tanah dari inventori dan membuat beberapa golem besar yang tingginya hampir setara dengan tinggi ruangan ini.
Biasanya setiap satu golem tanah yang besarnya mirip denganku menghabiskan satu mana setiap kali diciptakan, golem yang tingginya sama dengan ruangan ini membutuhkan 15 mana untuk diciptakan. Untungnya mana yang dibutuhkan untuk mempertahankan setiap golem masih sama yaitu satu mana saja per menit.
Selesai terciptanya semua golem tanah yang tinggi aku perintahkan mereka berderet dengan rapat. Aku keluar dari pertahanan golem besi sambil menunggangi golem anjing kemudian melempar serpihan batu terus menerus ke arah tuyul.
*dum*
*dum*
*dum*
Sambil mengendarai golem anjing aku terus melempar serpihan batu. Aku berusaha agar arah tuyul menghindar lemparanku ke arah deretan golem.
*dum*
*Boommm*
*dum*
__ADS_1
*Boommm*
Si Kolonel tuyul juga tidak mau kalah, dia juga membalas dengan bola api miliknya. Golem anjing yang kutunggangi melompat untuk mengindari bola api tersebut sambil aku terus balik menyerang mengarahkan tuyul ke deretan golem besar.
“Nah! Sekarang apit dia.”
Saat sudah di posisi yang tepat dimana dia terpojok antara dinding ruangan dan deretan golem aku perintahkan golem untuk mengapitnya. Ini membuat ruang gerak si tuyul semakin sempit.
Sang tuyul sepertinya baru menyadari situasi yang dia hadapi saat ini. Dia menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari celah keluar dari apitan para golem. Tidak melihat ada celah, dia menghadapku kemudian berkata
“-dit ajar ,tankal aisunam”
Aku tidak mau menunggu lama sampai dia mendapatkan celah kemudian lolos dari apitan golem. Skill yang dia miliki terlalu berbahaya untuk menunggunya selesai bicara. Jadi biarpun dia masih berkoar langsung kulempar serpihan batu kearahnya.
*dum*
*dum*
*dum*
Ruang yang sempit membuat serpihan batu yang kulempar tidak bisa dihindari oleh si tuyul. Pada akhirnya beberapa serpihan batu menembus tubuhnya. Untung saja tuyul ini tidak memiliki skill untuk masuk kedalam tanah seperti di sinetron.
[Tuyul(Samsun) telah dikalahkan]
[Pemilik dungeon dikalahkan. Item didapat di inti dungeon]
“Oho.” Aku terkejut mendapat pemberitahuan terakhir.
Ternyata ada drop item saat mengalahkan pemilik dungeon. Tapi kenapa ambilnya harus di inti dungeon? Kalau inti dungeonnya pakai perisai yang kuatnya seperti di pulau bulan bisa capek menghancurkannya.
Ah sudahlah, lihat saja dulu bagaimana inti dungeon ini.
“Kita akan pergi lebih dalam ke inti dungeon.”
“…”
Kita pergi lebih dalam. Semakin dalam semakin mengecil ruangan ini. Sampai akhirnya pada ujung ruangan terdapat satu batu menhir besar beserta beberapa item dibawahnya.
Sambil masih menunggangi golem anjing aku mendekati menhir.
[Syarat terpenuhi]
[Apakah anda ingin menjadi pemilik dungeon?]
“Hadeh” aku sudah menjadi pemilik dungeon. Satu dungeon saja sudah bikin khawatir untuk melindunginya, apalagi dua dungeon yang kalau inti dungeonnya hancur, aku juga ikut hancur. Biarlah, satu saja cukup.
“Eh sialan, hampir lupa.” Aku langsung pergi menjauh sekitar 200 meter dari menhir tanpa mengambil item-item dibawahnya. Kemudian aku menengok kebelakang untuk bertanya ke Fina
“Fina, aku mendapatkan pemberitahuan untuk menjadi pemilik dungeon. Kalau aku lebih mendekat ke menhir apakah aku otomatis akan menjadi pemiliknya? Seperti saat kamu dulu menipuku untuk menjadi pemilik dungeon pulau bulan?”
“… aku minta maaf. Waktu itu karena aku merupakan pemilik dungeon, aku bisa memindahkan kepemilikan dungeon selama orang tersebut dekat dengan inti dungeon. Sekali lagi aku mohon maaf untuk hal tersebut.”
Fina menjawab sambil melihat kebawah, aku bisa merasakan rasa bersalah dari suaranya. Sepertinya kata menipu yang kutekankan tadi terlalu sensitif untuknya sehingga rasa bersalah miliknya yang sebelumnya menipuku langsung mencuat kembali.
“Tidak apa-apa, kata-kataku tadi hanya mau menggodamu saja tapi sepertinya itu terlalu sensitif untukmu. Aku juga minta maaf akan hal tersebut.”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu meminta maaf karena hal tersebut, semua itu memang salahku.”
Fina menepis permintaan maafku sambil menekankan rasa bersalahnya.