
“Selamat Pagi Fina.”
“Nngg… Selamat pagi Jaya~”
Kegiatan hari ini masih sama seperti kemarin, setelah bangun dan bersiap aku bersama Fina akan menelusuri Kepulauan Sepuluh Ribu.
“Sudah siap?”
“Siap.”
*hop*
Setelah kembali ke permukaan, sambil menggendong Fina aku mulai melompat ke pulau yang selanjutnya.
Arah kami menjelajahi pulau Kepulauan Sepuluh Ribu mengarah ke selatan mengikuti gugus kepulauan ini. Jika terus mengikuti arah ini, lama-kelamaan kami akan mendekati area Kepulauan Sepuluh Ribu yang berdekatan dengan kerajaan Jugara dan Namgara.
!!?
“Fina…”
“Aku sudah mengaktifkannya.”
Saat melompat, aku kaget melihat pemandangan yang ada di depan. Sekitar 25 km di selatan, terdapat sebuah kapal yang sedang berlayar ke arah kami.
Fina langsung mengerti apa maksudku saat aku memanggilnya. Bahkan sebelum aku memanggilnya dia sudah terlebih dahulu mengaktifkan skill Tembus Pandang untuk menghilangkan kami. Semoga saja pengintai kapal tersebut tidak memperhatikan kami.
Karena kemarin hanya ada kami di sini, aku jadi lupa untuk berjaga-jaga. Untung saja ada Fina yang selalu siap siaga.
“Terima kasih sayang.”
Setelah melepas para golem, kelihatannya kita harus segera kembali ke kapal setelah ini. Jadi dengan cepat kami melompati pulau-pulau untuk melepas golem pengintai.
Setelah kembali, aku menciptakan golem yang disamarkan seperti manusia sebagai kru kapal tambahan dan mengeluarkan beberapa barang agar kelompok kami terlihat seperti pedagang.
Hmm… setelah menciptakan golem dan melihat kembali kapal petualang, jarak kapal mereka sudah sekitar 15 km dengan kami. Harusnya pengintai mereka yang berada di tiang menara pengintai sudah melihat kapal kami.
Sekitar 100 meter mendekati kapal kami, salah satu awak kapal mereka memberikan isyarat gerakan tubuh yang seakan menandakan kalau mereka akan mendekati kami dengan damai.
__ADS_1
Yah… dari gerakannya itu sih yang bisa aku tangkap. Mungkin saja maksud mereka bisa berbeda, tapi lihat saja dulu. Karena skill Deteksi Bahaya tidak aktif kupikir mereka memang ingin datang dengan damai. Coba saja kalau ada standarisasi komunikasi menggunakan bendera seperti di Bumi atau alat sihir pengeras suara mungkin komunikasi antar kapal bisa lebih baik.
Setelah jarak kapal tersebut sekitar 20 meter dari jarak kapal kami, mereka mulai menurunkan sekoci dan mendayung kemari. Dengan bantuan golem yang memberi mereka tali, mereka memanjat kapal kami.
Terlihat ada 4 orang yang menaiki kapal. Tiga orang pria dengan menggunakan kuiras bersama celana hitam panjang dan seorang wanita yang memakai kemben kemudian dilapisi pakaian menyerupai kebaya? Berwarna abu-abu yang panjang hingga melewati lututnya ditambah dengan celana panjang.
Dari status mereka, ketiga pria itu merupakan tipe penyerang fisik jarak dekat sedangkan wanitanya spesialisasi sihir jarak jauh.
“Selamat pagi!”
Seorang yang paling tua dan wajahnya yang paling terlihat berpengalaman maju sebagai perwakilan mereka menyapa kami. Eh meski kubilang paling tua, umurnya masih di 30 tahun.
“Selamat pagi tuan dan nona petualang, apakah ada yang bisa kami bantu hari ini?”
Karena petualang tersebut seakan bingung harus bicara ke siapa jadi aku maju sebagai perwakilan kami sambil membalas salamnya.
“Kami sebenarnya dalam perjalanan untuk pergi ke Kerajaan Pangara sambil menyisir area Kepulauan Sepuluh Ribu. Tapi saat melihat bendera yang berkibar di kapal kalian, salah satu anggota kelompok kami langsung lepas kendali memaksa untuk segera bertemu kalian. Hahaha…”
Perwakilan mereka berbicara dengan nada yang ramah bahkan terlihat ada canda dalam kata-katanya. Waw, cukup talkative juga petualang ini kepada orang yang baru dia temui. Tapi setidaknya dari situ bisa dirasakan kalau dia orang baik.
Bendera yang petualang itu maksud ialah bendera lambang Serikat Dagang Pangara. Karena aku merupakan anggota serikat jadi kami berhak mengibarkan bendera tersebut.
Setelah berkata seperti itu, aku mengeluarkan kartu serikat dan menampilkan hologram lambang serikat. Kuharap dengan itu mereka bisa lebih mempercayai kami.
“Hm… hm… Kami membutuhkan beras. Tapi bukan beras biasa, yang kami inginkan beras dari kerajaan barat dari Gagara atau Patgara. Apa kalian memilikinya?”
Sepertinya mereka ingin mencari beras berkualitas. Kedua kerajaan tersebut memang terkenal dengan kualitas berasnya. Apa salah satu awak mereka sudah tidak sabar menunggu tiga hari agar sampai ke Pangara dan makan nasi?
“Tentu saja kami memiliki keduanya tuan! Harganya 1 koin perak dan 30 koin tembaga per kilogram. Tapi jika tuan membeli 5 kilo, saya bisa memberikan harga 6 koin perak!”
Ya… ya… coba dipromosikan seperti itu, siapa tahu mereka tertarik.
“Hm… tidak perlu, kami hanya ingin membeli satu kilogram beras Patgara saja.”
Promosi gagal. Tapi setidaknya tidak di tawar.
“Kalau begitu mohon tunggu sebentar akan kami sediakan berasnya.”
Setelah mengambil karung beras dan timbangan, aku mulai mengukurnya di timbangan.
__ADS_1
“Di mulai dari angka nol yah tuan.”
Aku berkata dengan senyum bisnis sambil mengarahkan tangan kananku ke timbangan.
“?? Oke.”
Petualang itu menatapku dengan heran pada awalnya kemudian menganggukkan kepala.
“Tuan petualang, apa area kepulauan ini selalu sepi seperti ini?”
Selagi menimbang, aku mencoba mencari informasi terkait kepulauan ini. Karena setelah kupikir kembali, area ini terlalu sepi akan monster dan petualang sebagai area yang digadangkan sebagai tempat leveling petualang perak.
“Hm.. jadi anda masih baru di area kepulauan ini. Area Kepulauan Sepuluh Ribu yang berdekatan dengan kerajaan-kerajaan memang terkadang sepi monster atau petualang yang singgah karena area ini sering dibersihkan tentara kerajaan. Selain itu, biasanya banyak petualang yang berlalu lalang di sekitar sini jadi kalau ada monster pasti akan dibersihkan mereka.”
Oh gitu toh. Btw, biasanya? Memang apa yang terjadi sampai-sampai hanya satu kapal saja yang terlihat sejak kami tiba di sini?
Sambil berpikir seperti itu, aku memberikan beras yang dibungkus dengan daun pisang.
“Terima kasih atas pembeliannya! Karena tuan telah memberikan informasi yang berharga, tuan hanya perlu membayar setengahnya saja.”
Yah… kupikir informasinya cukup berharga. Karena selama golem pengintai menelusuri Kerajaan Pangara, aku tidak mendapatkan informasi seperti ini.
Meski pun memotong harga beras sampai setengah terasa berlebihan.
“Hm… Bagaimana kalau aku memberikan informasi berharga tambahan agar harganya bisa dipotong lebih banyak?”
Manusia. Dikasih hati minta jantung.
“Oho… tergantung dengan isi informasinya tuan.”
Sambil tersenyum dengan ekspresi penasaran aku coba bertanya.
“Jika anda pergi lebih ke selatan sekitar 2 hari dari sini, ada banyak petualang sedang berkumpul di sana. Bahkan ada beberapa kelompok petualang emas sedang berkumpul. Mereka ramai berkumpul karena ada dungeon yang berharga.”
Hmm… informasinya memang terdengar penting. Tapi kami yang memang bertujuan ke selatan dan bahkan akan menelusuri kepulauan ini sampai Kerajaan Tigara sudah pasti akan bertemu dengan petualang-petualang tersebut dan akan mengetahui informasi tentang dungeonnya. Tapi setelah kupikir kembali, ada untungnya jika kami bisa mengetahui informasi ini terlebih dulu dari pada saat kami sudah tiba di sana.
“Terima kasih banyak atas informasinya tuan! Tuan bisa mengambil beras itu secara gratis!”
Anggap saja hadiah karena kalian pembeli pertama kami sejak aku jadi pedagang ‘sah’.
__ADS_1
Terlebih lagi, dimana banyak petualang berkumpul, pedagang seharusnya ikut menyisip kesana. Pasti bisa untung banyak. Ya, itu kalau mindset sebagai seorang pedagang. Kalau saat ini, mindsetku di mana mereka berkumpul, selain dungeon yang berharga, pasti monster dan dungeonnya sulit. Hohoho… kalau dungeon sulit mungkin aku bisa dengan diam-diam mengambil inti dungeonnya. Pasti akan dapat banyak mana untuk Pulau Bulan.