Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Tiga Puluh Empat


__ADS_3

“A-”


“Aku ingin bicara denganmu.”


Baru saja aku membuka mulut ingin berbicara dengannya, Fina langsung memotong kata-kataku dan langsung menyatakan maksudnya. Kebetulan apa yang ingin kukatakan ternyata sama dengan apa yang Fina katakan.


Kami pun memutuskan untuk pindah ke tepi pantai untuk berbicara. Diterangi cahaya bulan dan diiringi suara desiran ombak, aku dan Fina berdiri di atas pasir halus saling berhadapan.


Fina menatap langsung ke arahku dengan iris matanya yang berwarna hijau berbinar seakan ingin menekankan kalau saat ini dia sedang bersungguh-sungguh. Sambil diterpa angin laut yang menghembuskan rambut coklat indahnya, Fina membuka mulut memulai pembicaraan.


“Aku ingin kamu untuk berhenti berperan seolah-olah sebagai waliku.”


Mendengar perkataannya, aku tersadar kalau selama ini aku memang bertindak seolah-olah sebagai induk yang mengasuhnya. Dan tindakanku itu tidak disukai oleh Fina. Sepertinya dia ingin aku memperlakukannya sebagai orang yang setara dengannya.


“Aku memang memperlakukanmu seakan seperti anak asuh karena aku merasa kamu merupakan tanggung jawabku. Itu karena aku merasa bersalah telah membuatmu menjadi manusia dulu. Maafkan aku yang bertindak sesuka hatiku.”


Aku bertindak seperti orang yang berkebajikan yang ingin bertanggung jawab atas kesalahannya tapi ternyata orang yang aku ‘tolong’ sebenarnya tidak membutuhkan itu.


“Aku ingin kamu memandangku sebagai Fina yang setara denganmu.”


Mataku sedikit terbuka mendengar kata-katanya. Ini pertama kalinya aku mendengar Fina mengucapkan nama yang kuberikan secara langsung seakan menerima nama itu. Sebelumnya saat aku memberinya nama, dia hanya mengucapkan namanya tanpa mengonfirmasi secara langsung kalau dia menerima nama itu. Rasa bersalahku yang sebelumnya kini tercampur sedikit rasa senang akibat kata-kata Fina. Tidak sampai disitu saja, Fina melanjutkan kata-katanya.


“Awalnya aku memang sudah pasrah ingin meninggalkan dunia setelah memberikanmu kepemilikkan pulau ini. Namun, kata-katamu yang tidak ingin membiarkan aku pergi menggetarkan hatiku. Saat itu pertama kalinya muncul rasa kalau aku diinginkan dan dibutuhkan. Berkat perasaan itu, aku menjadi ingin hidup lebih lama untuk melindungi pulau ini.”


Heh… Fina terasa lebih dewasa sekarang. Ah!! Cukup! Seharusnya aku tidak berpikir seperti itu. Aku harus berhenti berperan sebagai wali.

__ADS_1


Ternyata kata-kata yang kuteriakkan waktu awal bertemu dianggap sungguh dalam baginya. Padahal waktu itu aku hanya tidak ingin dia pergi tanpa menjelaskan tentang pulau ini. Daripada ini akan menjadi kesalahpahaman nanti kedepannya, sebaiknya aku katakan saja sejujurnya.


“Fina, sebenarnya saat aku meneriakimu untuk tidak akan membiarkanmu pergi itu karena aku ingin bertanya tentang nasibku dan pulau ini.”


“Awalnya aku memang sudah pasrah ingin meninggalkan dunia setelah memberikanmu kepemilikkan pulau ini. Namun, kata-katamu yang tidak ingin membiarkan aku pergi menggetarkan hatiku. Saat itu pertama kalinya muncul rasa kalau aku diinginkan dan dibutuhkan. Berkat perasaan itu, aku menjadi ingin hidup lebih lama untuk melindungi pulau ini.”


?? Kenapa dia ulangi?


“Fina, sebenarnya-”


“Awalnya aku memang sudah pasrah ingin meninggalkan dunia setelah memberikanmu kepemilikkan pulau ini. Namun, kata-katamu yang tidak ingin membiarkan aku pergi menggetarkan hatiku. Saat itu pertama kalinya muncul rasa kalau aku diinginkan dan dibutuhkan. Berkat perasaan itu, aku menjadi ingin hidup lebih lama untuk melindungi pulau ini.”


Dia mengulangi perkataan yang sama tiga kali dengan ekspresi tenang seakan-akan mengucapkan hal yang sama tiga kali berturut-turut itu tidak ada yang salah. Aku jadi merasa kalau dia hanya mempercayai apa yang ingin dia percayai saja.


Yah… setidaknya aku mencoba jujur. Selama dia bahagia akan kepercayaannya aku juga ikut senang. Semoga saja ini tidak memiliki dampak signifikan ke depannya. Tapi kenapa Fina jadi lebih banyak ngomong sekarang, padahal sebelumnya irit sekali dia mengeluarkan suara. Sudut pandangnya juga terasa seperti bukan Fina yang biasanya menurutku. Ah cukup, aku harus berhenti menganggap Fina tidak tahu apa-apa. Tapi semakin dipikir semakin besar rasa penasaranku. Hingga pada akhirnya aku kalah dengan rasa penasaranku hingga menanyakan pertanyaan ke Fina.


“Fina, bagaimana kamu bisa terpikirkan tentang semua ini?”.


“Itu seperti sudah ada di pikiranku saja …. Dan lagi-lagi kamu tidak memandangku sebagai Fina yang setara denganmu. Aku juga tidak menyukai saat kamu melihatku dengan matamu yang seakan-akan aku ini anak kecil.”


Meski pun ekspresi wajahnya tetap tenang, dari mata dan suara Fina aku bisa merasakan keseriusan dari kata-katanya.


Sekali lagi jawaban yang hampir selalu dia katakan kalau aku menanyakan sesuatu tentang dirinya. Sudah ada di pikirannya saja katanya. Yah… mari kuanggap kalau itu memang benar sudah ada di pikirannya.


Fina juga menegaskan bagaimana aku sering melihatnya selama ini. Memang benar terkadang aku menganggapnya seperti anak kecil. Rasa bersalah yang sebelumnya salah memperlakukan Fina jadi semakin besar sekarang. Saat pikiranku masih dipenuhi oleh bagaimana aku harus berinteraksi dengan Fina ke depannya, dia berbicara lagi.

__ADS_1


“Saat bersama denganmu aku selalu merasa bahagia. Melihat apa pun yang sedang kamu lakukan membuat pandanganku tidak bisa lepas darimu. Aku ingin selalu menjadi bagian dari semua kegiatanmu. Aku ingin selalu bersamamu.”


*BOMB*


Kata-kata Fina berikutnya seperti sedang menjatuhkan bom kepadaku. Ini kan sudah seperti menyatakan cinta. Apa maksud dari kata-katanya menyatakan cinta? Atau hanya sekedar ingin bersama seperti teman atau keluarga? Meski belum memproses sepenuhnya apa yang barusan Fina katakan dia terus berbicara lagi.


“Semakin lama aku bersamamu, rasa ingin untuk semakin dekat denganmu semakin besar. Aku mencoba untuk menahan rasa itu dengan menjauh darimu, namun aku sudah tidak tahan lagi menjauh darimu. Aku ingin selalu bersamamu!”


“F-”


“Aku ingin kamu menganggapku sebagai wanita!”


Saat mengatakan hal tersebut, ekspresi Fina berubah menjadi serius lalu wajahnya sedikit memerah dan dengan cepat dia membalikkan badan lalu berjalan. Aku terus menatap Fina dari belakang yang berjalan dengan cepat hingga masuk ke dalam rumah.


Setelah Fina hilang dari pandanganku, aku berbalik menghadap lautan mencoba memproses kembali semua perkataan Fina sebelumnya. Kesimpulannya memang 100% menyatakan cinta. Aku tidak menyangka Fina yang terlihat selalu tenang itu ternyata memiliki pemikiran yang emosional begini. Kalau sudah begini, aku juga harus introspeksi bagaimana perasaanku ke Fina selama ini.


Masih berdiri melihat lautan yang diterangi cahaya bulan, aku memeriksa bagaimana perasaanku.


Selama ini masih ada yang aku tunggu di hatiku. Karena sudah terlalu lama, sampai-sampai aku sudah merasa terbiasa menunggu dan lupa untuk membuka hati ke orang lain. Tapi sekarang aku sudah tidak ada di Bumi lagi, apalagi yang harus aku tunggu di dunia yang baru ini. Aku harus membuka hati ke orang lain.


Cukup lama aku melihat pemandangan laut sambil introspeksi perasaanku. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mulai memandang Fina sebagai lawan jenis.


Setelah cukup lama mensortir perasaanku, kuputuskan untuk kembali lagi ke dalam rumah panggung. Sambil berjalan ke arah rumah, aku jadi kepikiran apa yang sedang Fina lakukan sekarang yah, kalau habis menyatakan perasaan seperti itu seharusnya dia merasa malu. Ini berarti kemungkinan besar besok kita tidak akan bertemu. Bisa jadi dia seharian mengurung diri di kamarnya. “Hehe …” Aku tertawa kecil mengingat bagaimana ekspresi Fina saat menyatakan perasaannya tadi. Dia terlihat imut.


Aku berjalan sambil tertawa kecil mengingat hal sebelumnya hingga masuk ke dalam kamar. Namun, tawaku yang barusan dengan cepat hilang karena melihat apa yang sedang menunggu di dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2