
Daripada saling meminta maaf ini akan berlarut-larut lebih baik aku mengganti topik pembicaraan.
“Apa kamu juga mendapatkan pemberitahuan untuk menjadi pemilik dungeon?”
“Iya.” Fina beralih dari melihat kebawah kembali menghadapku kemudian menjawabnya.
“Kamu belum menjawab pemberitahuannya kan?”
“Sudah kujawab. Aku menolaknya.”
“Cepat sekali kamu memutuskannya.”
“Aku ingin melindungi Pulau Bulan… ” Hmm.. keinginanmu untuk melindungi Pulau Bulan seperti sudah terprogram di DNA milikmu, pikirku.
“Dari yang kamu katakan sebelumnya, seharusnya dungeon ini tidak akan menjadikanku pemilik dungeon selama aku tidak menerima pemberitahuan itu. Nah, saat ini dungeon sudah tidak ada pemiliknya apakah dungeon tersebut akan hancur?”
“Maaf, aku tidak mengetahuinya.”
Yah kalau kulihat informasi tentang inti dungeon di batu menhir sepertinya dungeon ini akan baik-baik saja meskipun pemiliknya sudah mati. Mungkin dia akan mencari pemilik baru atau mungkin bisa juga dia menciptakan pemilik baru untuk melindunginya.
Kita kemudian pergi mendekati batu menhir yang merupakan inti dungeon. Saat sudah dekat aku turun dari golem anjing. Fina juga mengikutiku turun dari golem tersebut.
Aku menunduk mengambil item-item yang ada ditanah tepat disamping batu menhir.
Item
Nama : Bola Skill Sihir Deteksi[Deteksi Bahaya(lvl.1)]
Keterangan : Saat menggunakan bola skill ini akan mendapatkan Sihir Deteksi[Deteksi Bahaya(lvl.1)]. Bola Skill akan terkonsumsi saat digunakan.
Item
Nama : Bijih Mithril
Keterangan : Material yang mengandung mithril
Item
Nama : Bijih Perak
Keterangan : Material yang mengandung perak
“Wooooaaah~” semua item-item yang kudapat terdengar hebat.
__ADS_1
Aku juga baru tahu kalau skill bisa didapat dari bola skill. Ternyata selain berlatih, bola skill bisa juga menjadi sumber mendapatkan skill. Bola skill yang kudapat ukurannya seperti bola tenis yang memancarkan cahaya biru dari dalam bola.
Jaya yang dulu merupakan masyarakat kelas bawah tidak pernah tau tentang bola skill, mungkin hanya kalangan atas saja yang tau tentang ini. Bisa jadi bola skill ini akan sangat mahal kalau dijual di kota.
Tapi rugi besar kalau dijual, uang bisa didapat dengan cara lain, tapi skill ini belum tentu bisa didapat lagi nanti. Hm hm kuputuskan untuk menggunakan saja bola ini.
Bijih mithril merupakan logam yang wajib ada di dunia fantasi. Jadi tidak heran kalau aku bisa menemukannya di dunia ini. Ini seharusnya lebih kuat dan ringan dari baja selain itu kalau di cerita-cerita fantasi logam ini konduktivitasnya rendah jadi bisa menangkal serangan sihir dengan baik. Dengan kemampuan seperti itu harganya pasti mahal. Jumlah yang kudapat juga lumayan sekitar tiga kilo beratnya. Mungkin cukup untuk dibuat menjadi senjata milikku dan Fina nanti.
Kalau bijih perak kemungkinan besar bisa dijual di kota. Kalau waktu abad pertengahan di Bumi seingatku ini biasa dibuat sebagai alat makan, perabot, dan juga sebagai uang. Bijih perak yang kudapat lumayan berat, mungkin bisa sekitar 5kg.
Setelah puas menilai item-item yang didapat, aku memasukkan semua item itu ke dalam inventori. Tujuan sekarang ialah bijih besi yang ada di dungeon ini. Kuharap dengan dikalahkannya pemilik dungeon bijih besinya bisa dicabut.
Aku berdiri setelah menyimpan semua item yang berada tepat disamping batu menhir. Tidak jauh dariku ada bijih besi yang tertancap di dinding gua. Saat aku berjalan kearah bijih besi tersebut, terasa ada yang ganjil, kenapa agak berat seperti lagi membawa sesuatu yah?
Saat aku melihat kebawah, ada dua tangan di pinggang kiri dan kananku. Akupun berkata tanpa menoleh ke belakang.
“Fina, sudah cukup pegangannya. Kita sudah turun dari golem anjing.”
“Baiklah.”
Aku lalu melanjutkan berjalan ke bijih besi yang keluar dari dinding gua. Tanpa ada suara, bijih besi yang kupegang hilang masuk kedalam inventori. Wow! Penemuan terhebat untuk hari ini. Dengan itu aku menciptakan golem tanah sebanyak yang kumampu kemudian menginstruksikan mereka untuk mengambil semua bijih besi disepanjang lorong dungeon ini.
Selagi menunggu para golem mengumpulkan bijih besi aku mencoba untuk mengutak-atik inti dungeon di batu menhir.
*tuk*
*tuk*
*tuk*
*tuk*
*tuk*
Tidak ada respon, meski sudah ku ketuk berkali-kali tidak ada respon dari batu menhir. Sepertinya aku harus menjadi pemilik dungeon baru bisa mengutak-atik inti dungeon. Untung saja skill Mata Bulan bisa melihat sebagian informasi dungeonnya saat aku menggunakannya ke batu menhir.
Dungeon: Fe-65a3
Pemilik:
Level: 12
Mpj(Mana per jam): 38
__ADS_1
Total Mana: 10.251.020
Monster: 0
Pulau bulan memang dungeon unik seperti kata Fina. Dungeon Pulau Bulan yang berlevel tiga Mpj-nya sudah 300. Dungeon ini yang memiliki level 11 hanya 38.
Aku membalik badan untuk menghadap Fina yang berada dibelakangku.
“Fina, Kalau aku ambil inti dungeon, apa yang akan terjadi dengan dungeon ini?”
“Aku tidak mempunyai informasi tentang itu tapi menurutku dungeon ini seharusnya akan hancur.” Jawab Fina dengan ekspresi tenangnya.
“Berbahaya, kita bisa terkubur hidup-hidup kalau begitu. Hmmm… apa sebaiknya aku menciptakan golem dengan menggunakan tanah dari atap ruangan ini? Dengan begitu akan tercipta lubang besar di atap ruangan dan golem yang kita ciptakan bisa menjadi pijakkan kita untuk ke permukaan.”
“Aku pikir itu cara yang patut dicoba …” Fina sepertinya setuju dengan ideku. Saat membalas ide tersebut, terlihat sedikit ekspresi senang di wajahnya. Bibirnya juga seperti tersenyum kecil.
“Fina, semakin lama wajahmu terlihat semakin ekspresif.”
“Benarkah? Mungkin karena aku semakin terbiasa dengan tubuh ini. Aku mencoba melakukan itu dari meniru ekspresimu saat berbicara denganku atau saat kamu sedang bicara sendirian.” Fina sedikit terkejut dengan apa yang kukatakan. Dia lalu menjelaskan kenapa wajahnya semakin ekspresif. Wah-wah aku senang bisa jadi panutan. Tapi tidak perlu sampai memperhatikanku saat sedang berdialog sendirilah.
“Sebaiknya tidak perlu memperhatikanku saat sedang berbicara sendiri.” Nanti kamu tertular keanehanku. Ingin aku katakan itu tapi nanti harga diriku semakin jatuh dimatanya.
“Aku mau memperhatikanmu.” Dikatakan Fina dengan tegas. Waduh, kalau jadi panutan seperti ini sebaiknya aku harus tampil lebih cool dan jaim setiap saat.
*ehem!* aku berpura-pura batuk kemudian memasang ekspresi tenang dan santai yang kurasa ini merupakan ekpresi ter-cool milikku. Lalu menghadap kearah Fina untuk dipanutinya.
“…”
*krik-krik*
Mungkin sudah sekitar lima menit kita berdua saling menatap sambil aku memasang wajah kerenku baru dikomentari oleh Fina.
“Apa kamu mengantuk?” Fina bertanya dengan bingung.
*hahh….* Aku membuang nafas panjang. Nih anak buta kah? Kok ekspresi cool-ku dikira mengantuk?
“Itu ekspresi dingin dan kerenku!”
*Boom*
Aku melihat ke arah suara tersebut. ah sepertinya semua bijih besi yang ada di dinding gua sudah diambil para golem. Kusimpan semua bijih besi itu kemudian langsung membaca mantra membuat golem.
Tanah dari atap ruangan kupakai untuk membuat golem kemudian agar lubang dari bekas pembuatan golem tersebut tidak membuat ruangan ini tertimbun aku menciptakan golem setinggi lubang sebagai penyanggah. Aku terus-menerus menciptakan golem sampai akhirnya semua tanah di atap ruangan habis dan permukaan tanah terlihat.
__ADS_1
Untungnya tempat ini tidak terlalu dalam. Mungkin hanya sekitar 50 meter di bawah permukaan tanah.