Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Tujuh Puluh


__ADS_3

“nnnngg… Jaya peluk.”


… kan sekarang sedang kupeluk.


Fina masih tertidur sambil sesekali mengigau. Saat ini dia sedang tertidur menghadap ke kanan sambil menggunakan lengan kananku sebagai bantalnya. Sementara aku sedang memeluknya dari belakang.


Berkat skill Peniduran, aku bisa bangun kapan saja yang aku inginkan dan akan selalu terasa segar. Jika aku masih di bumi dan memiliki skill macam ini, kupikir setiap hariku akan terasa cerah walaupun hanya sendiri. Aku jadi teringat bagaimana kesalnya kalau sudah tidur banyak-banyak tapi pas bangun bukannya merasa segar malah rasa capek. Sekalian aja nggak usah tidur kalau gitu. Terus mesti di dongkrak pakai kopi lagi biar jadi semangat. Haah…


Kalau ada skill ini, Aku bisa bangun atau tidur kapan pun yang aku mau, tiap bangun juga rasanya segar, dan yang paling penting waktu tidurnya bisa dikurangi jadi bisa main game sampai larut malam.


Mengandai-andaikan tentang hidup di Bumi, aku jadi dapat ide yang bagus untuk dibuat barang dagangan.


Hohoho…


Tapi tunggu Fina bangun saja baru aku akan memulainya. Sekarang aku mau memerintahkan golem untuk melanjutkan pendirian bangunan. Seharusnya hari ini pondasi yang kita buat sudah mengering dengan sempurna.


Setelah pondasinya terbentuk, selanjutnya pemasangan kolom dan balok. Kolom sebagai penopang vertikal dan balok sebagai penopang horizontal. Pemasangan keduanya tidak memakan waktu lama untuk keenam bangunan dikarenakan banyaknya golem yang mengerjakannya.


Jadi setelah pemasangannya selesai dan kerangka struktur dasar bangunan terbentuk, sekarang waktunya membangun dinding dari beton.


“… ngg…”


“Good morning, Sunshine.”


“Jayaa~.”


Setelah bangun, Fina dengan manja berbalik kemudian memeluk sambil memanggil namaku.


“Tidurmu nyenyak?”


*nod*


Pertanyaanku dibalas anggukan Fina dari dalam pelukanku.


“Jadi, apa yang kamu mengerti tadi malam?”


Pertanyaanku dari tadi malam masih belum terjawabkan karena sesuatu dan lain hal. Untuk berjaga-jaga agar aku tidak lupa, lebih baik kutanya lagi sekarang.

__ADS_1


“Aku mengerti kalau Jaya terpesona saat sedang memperhatikanku memasak.”


Melepas sandarannya di dadaku kemudian menatapku langsung, Fina akhirnya menjawabnya.


Memang benar kalau aku terpesona. Bukan hanya terpesona saja, bahkan sampai nafsu. Dan karena kenafsuan itu sampai-sampai kita tidak makan semalam. Tapi mungkin Fina menggunakan kata terpesona itu agar menghaluskan maksudnya.


Akan tetapi, karena hal tersebut juga ditambah nostalgiaku tentang bumi, aku jadi mendapatkan ide yang bagus sebagai barang dagangan.


“Hehehe… Fina pengertian sekali.”


Hm… hm… memang sangat pengertian sekali Fina. Sampai aku langsung diservis. Dia tidak membalas apa yang aku katakan dan malah kembali memelukku.


“Ayo kita sarapan, seharusnya hari ini area Kepulauan Sepuluh Ribu mulai terlihat.”


Menurut perhitunganku, seharusnya sekitaran siang atau sore kita sudah bisa melihat pulau-pulau kecil.


!?? Hmmm…


Kapasl kita sedang di serang monster. Untungnya monster itu lemah dan kita sudah pernah melawannya. Jadi para golem yang menjadi awak kapal di atas bisa dengan mudah mengalahkan monster itu hanya dengan melempari mereka dengan harpun.


[Ikan Tombak telah dikalahkan]


[Ikan Tombak telah dikalahkan]



Setelah sarapan, kami membuat barang dagangan yang seharusnya merevolusi permakanan di masa sekarang ini.


Dengan menggunakan tepung gandum, garam, minyak, dan air, kami membuat adonan yang setelah diuleni, adonan itu digilas menjadi lembaran tipis kemudian dipotong-potong. Setelah dibentuk, adonan tersebut kami kukus hingga matang lalu digoreng untuk mengurangi kadar airnya. Setelah itu tinggal didinginkan sampai menjadi keras.


Sebagai bumbunya, aku akan mencampur rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, garam, dan merica yang sudah dijadikan bubuk. Mungkin bisa juga ditambah kecap jika mereka menginginkan versi ‘goreng’.


Ya… ya… dengan begini jadilah makanan yang paling digemari masyarakat.


Selanjutnya aku perintahkan golem untuk memperbanyak jumlah makanan ini.


Setelah ini aku berencana untuk kembali ke kapal. Kita seharusnya sudah dekat dengan tujuan.

__ADS_1


Melihat perkembangan bangunan, para golem masih membangun dinding beton bangunan kami. Namun, menurutku pembuatan dindingnya bisa diselesaikan pada hari ini.


Oh ya, untuk naik ke kapal atau turun ke pulau yang saat ini sedang tenggelam, kami tidak perlu membasahkan diri selama perjalanannya. Aku bisa mengendalikan bentuk perisai pulau ini agar menghalangi air untuk masuk. Jadi perisai Pulau Bulan kuatur sampai ke permukaan laut untuk membuat jalur akses kami.


Saat hari mulai sore, disaat itulah mulai terlihat puluhan pulau hijau di arah tujuan kami. Pulau-pulau yang bisa aku lihat tidak terlalu besar, mungkin kalau di pukul rata, luas pulau-pulau itu hanya sekitar 1 hektar saja. Namun, ada 4 pulau yang luasnya mencapai 10 km² di area ini.


Saat memperhatikan sekitaran, tidak ada kapal atau tanda-tanda peradaban di sini. Sepertinya tidak ada kelompok petualang yang berada di sekitaran sini.


Ya, ini pertanda yang bagus kalau memang hanya kami di sini. Itu berarti kami bisa leluasa untuk menjelajahi semua pulau-pulau ini.


Karena puluhan pulau-pulau ini jaraknya cukup dekat, kedalaman laut di sekitarnya jadi cukup dangkal.


Aku harus memarkir Pulau Bulan di tempat yang dalam dan mendekati pulau-pulau tersebut dengan kapal.


Hmmm… mungkin tidak perlu pakai kapal, dengan kekuatanku yang sekarang, sepertinya lautan berjarak 100-200 meter yang menjadi pemisah antar pulau ini bisa aku lompati dengan kekuatanku.


Ya, sebagai permulaan, saat kapal ini bersandar di salah satu pulau, aku akan melepas golem pengintai kemudian meloncat ke pulau selanjutnya untuk melepas golem lagi.


Aku juga sebenarnya bisa melepas golem di satu pulau saja kemudian membuat golem tersebut berjalan ke pulau sebelahnya melalui dasar laut, tapi melompat-lompat sepertinya lebih cepat.


Selain itu kalau lompat-lompat bisa kumodusin sambil gendong Fina. Ajak lihat pemandangan pulau-pulau dari tempat tinggilah pokoknya, palingan dia mau ikut.


“Iya kan Fina?”


“?? Iya apa Jaya?”


Fina yang masih melihat pemandangan kepulauan dari atas kapal, menoleh ke sebelah kiri ke arahku sambil bertanya dan menatapku bingung .


“Hahaha… bukan apa-apa. Aku hanya mau mengerjaimu.”


Aku mau tes saja kalau kamu benar-benar bisa baca pikiranku atau tidak. Tapi sepertinya tidak, buktinya dia terlihat bingung saat tadi kutanya begitu. Hmm… tapi bisa juga dia sebenarnya tahu apa yang kupikirkan tapi pura-pura tidak tahu supaya aku tidak curiga. Hmm…


Ah sudahlah…


Setelah kapal mendekat di salah satu pulau, aku dan Fina meloncat dari kapal dan mendarat di pesisir pantai pulau tersebut.


Saat ini, batas jumlah maksimal penciptaan golem yang tidak akan terus mengurangi mana milikku ialah 60 golem. 15 golem sudah kujadikan awak kapal sementara 42 golem sedang menjadi tukang bangunan dan sisanya untuk dua orang kontakku dari Kerajaan Pangara.

__ADS_1


Sepertinya aku akan mengurangi golem yang sedang membuat bangunan dan awak kapal. Aku akan menyisakan 12 golem yang membuat bangunan dan untuk awak kapal, jumlahnya akan bervariasi tergantung kita berada di tempat yang ramai atau tidak agar orang yang menemui kami tidak curiga. Tapi untuk sekarang aku akan sisakan 5 awak kapal saja dan nanti saat kami tiba di tempat yang ramai akan kujadikan 25 awak kapal.


__ADS_2