
Saat dia berhenti terengah-engah, kalimat pertama yang dia katakan kepadaku ialah kalau aku jahat. Tapi itu tidak aku pikirkan. Yang lebih aku tangkap bagaimana Fina memanggil namaku. Saat kami berbicara sebelumnya, dia tidak pernah menyebut namaku. Baru saat begini saja dia mulai menyebut namaku.
“Aku suka kamu yang memanggil namaku di saat seperti ini, itu membuatku lebih bersemangat.”
“Hahh… hahh… aku tidak berani sebelumnya.”
Meski masih sedikit terengah Fina coba membalas apa yang aku katakan.
“Huh? Apanya yang tidak berani?”
“… aku malu memanggil namamu. Aku juga tidak mau kamu menganggapku aneh karena terlalu cepat ingin mengakrabkan diri denganmu.”
Logika macam apa ini, aku saja langsung memanggil namanya sedari awal. Bahkan aku yang memberinya nama. Apa waktu awal saat aku memanggil namanya dia menganggapku aneh juga?
“Ohh… begitu~ jadi sebelumnya kamu malu~ hmm… tapi kenapa sekarang kamu berani tiduran tanpa pakai apapun di depanku.”
“… jahat!”
Setelah aku menggodanya, dengan imutnya dia mencoba menutupi bagian-bagian sensitif miliknya dengan kedua tangan sambil mengataiku.
Sambil tersenyum melihat tingkahnya, aku kembali memposisikan diri di atas Fina. Menatapku dari dekat, ekspresi yang sebelumnya terlihat malu mulai luruh. Semakin aku dekatkan wajahku ke wajahnya, semakin luruh ekspresi Fina. Sampai pada akhirnya saat bibir kami mulai bersentuhan, Fina menutup mata sepenuhnya.
Menikmati lagi bibir Fina yang lembut membuat gairahku yang tertahan sebelumnya naik kembali. Aku ******* bibir lembut Fina bagai adonan menggunakan bibir dan lidahku. Sesekali lidah kami saling bertemu dan aku memainkan lidahku disekitar lidah Fina.
Tidak mau kalah, Fina juga menggerakkan lidahnya sampai masuk ke dalam mulutku dan menjelajahi seluruh isi di dalamnya.
Semakin naik gairahku, sambil masih mencium Fina, tangan kanan miilikku aku perintahkan untuk menjelajahi kembali seluruh tubuh yang barusan aku telusuri. Mulai dari mengelus rambut halus Fina, hingga turun mengelus pipi lembutnya.
Semakin turun ke bawah, penjelajahan tangan kananku terhenti di dua bukit montok dengan puncak merah muda yang kembali tegas. Membelai dan sesekali meremas bukit tersebut, aku bisa merasakan rintihan kecil Fina dari mulutnya yang sedang menempel dengan mulutku.
Memanjat sedikit sampai di puncak bukit, tanganku yang lelah mendaki bukit tersebut terasa terbayarkan oleh ketegasan puncak bukit itu. Sesekali aku mencoba memainkan puncak tersebut dengan ujung jari telunjukku sambil meremas bukit itu dengan sisa jari tanganku.
“~ehm♥”
Rintihan Fina tidak terlalu keluar karena tertahan dengan mulutku.
Tak puas menggunakan satu jari, aku menggunakan jari jempol dan jari telunjuk untuk memainkan puncak merah muda yang sangat tegas itu. Aku menjepit kecil ujung puncak bukit sambil terkadang memelintir pelan ujung puncak bukit itu. Aku memainkan kedua puncak tersebut secara bergantian.
“~ehmm ♥♥”
Aku pikir sekarang sudah saatnya.
Aku Melepas cumbuanku dengan Fina. Mata Fina terbuka seakan heran kenapa aku melakukannya. Mengangkat diri menjauh darinya, ekspresi Fina semakin heran melihatku.
__ADS_1
Aku mengabaikan ekspresi heran penuh tanya Fina yang sedang menatapku. Kemudian melepas celana kolor yang sedang kupakai.
Kelaki-lakianku yang sedari tadi terkurung menegang akhirnya bisa bebas keluar dari sangkarnya. Sambil diterpa angin laut yang masuk melalui jendela, tubuh yang sudah tidak memakai apa-apa ini seakan ingin segera mencari kehangatan.
Setelah melepas pakaian, aku kembali menatap Fina. Tatapan Fina sudah tidak tertuju kepadaku lagi seperti sebelumnya, namun berpindah ke bagian bawah badanku.
Fina terus menatapnya sampai aku mendekatkan kelaki-lakianku ke kewanitaan miliknya.
Aku menggunakan kedua tanganku untuk membuka lebar kaki Fina sambil berkata.
“Ditahan sebentar yah, mungkin akan terasa sakit di awal.”
Fina hanya membalas perkataanku dengan anggukkan kecilnya sambil terus menatap kelaki-lakianku.
Perlahan aku memasukkan kelaki-lakianku ke dalam.
“Ahh~!!♥”
Fina mengerang keras dan erangannya terdengar seperti campuran rasa sakit dan kenikmatan yang menyatu. Tangan Fina yang sebelumnya memeluk punggungku saat aku mulai memasukkan, sekarang seakan mencengkram kuat punggung ini.
Fina yang sebelumnya hanya fokus melihat kelaki-lakianku kini menutup erat matanya menahan sakit.
“Sebentar lagi…”
Perlahan-lahan aku memasukkan kelaki-lakianku. Kedinginan yang kurasakan sebelumnya berkat angin laut seakan berkurang dengan mempersatukan tubuh kami.
“Aggghhhhhh~~ ♥♥♥♥”
Fina mengerang keras saat aku memasukkan sepenuhnya. Aku juga bisa melihat darah yang keluar dari kewanitaannya.
“Hahh… hahh… hahh… ♥”
Dia masih menutup mata kemudian terengah-engah seperti sedang menyesuaikan tubuhnya. Melihatnya yang seperti itu, aku diam menunggu dia menyesuaikan diri.
Bagian bawah yang sudah kumasukkan semakin bisa kurasakan perbedaannya dari sebelumnya saat masih di luar.
Sebelumnya yang terasa dingin, perlahan-lahan aku merasa seperti berada di tempat yang penuh kenikmatan.
Yang sebelumnya terasa dingin sekarang mulai terasa rangsangan-rangsangan yang membuatku gembira. Rasa hangat dan basah yang dibalut lebut oleh pesona milik Fina membuat aku tidak bisa menahan diri untuk terus diam.
“Hahh… hahh… ♥ …”
Setelah Fina terlihat sudah sedikit tenang, aku mulai mendorong bolak-balik perlahan-lahan.
__ADS_1
“Ahh~!!♥ ahh~!!!♥”
Awalnya Fina seperti terkejut dan menahan rasa sakit karena gerakkanku namun lama kelamaan dia mulai menikmati apa yang aku lakukan.
“Ahh~!!♥ Jaya~♥ ahh~!!!♥ ahh~!!!!♥ Jaya~♥”
Aku terus mendorong bolak-balik tubuhku. Semakin lama kenikmatan yang kurasakan semakin tinggi. Ditambah suara seksi Fina yang sering memanggil namaku, membuat apa yang ada di pikiranku untuk terus mendorong bolak-balik tubuhku agar bisa meningkatkan kenikmatan ini.
Semakin lama teriakkan nikmat Fina semakin terdengar keras. Suara saat tubuh kami bersentuhan juga makin terdengar lantang. Mata Fina yang menutup seakan menikmati kegiatan kami semakin lama semakin meninggi. Ekspresi Fina yang seakan sedang menahan sakit dan kenikmatan semakin meningkatkan gairahku.
Cengkramannya di punggunggku sebelumnya juga terasa semakin kuat. Melihat bagaimana mempesonanya Fina, membuatku tidak tahan untuk langsung menciumnya.
“Ehmm~!!♥ Ehmm~!!!♥ Jaya~♥ Ehmmm~!!!!♥”
Selagi mendorong bolak-balik tubuhku dan mencium bibirnya, puncak merah muda tegas di kedua bukit kenyal yang bergoyang ke atas ke bawah karena doronganku sesekali menggesek dadaku.
Rangsangan-rangsangan kecil tersebut seakan menambah kenikmatan kegiatan kami.
“Aaaaargggghhhhhhhh~~! ♥ Jaya~!!! ♥♥♥♥♥”
Tiba-tiba Fina mengerang dengan sangat lantang sambil menancapkan cengkraman kuatnya di punggunggku. Kemudian tubuhnya sedikit mengejang dan bagian bawahnya menyemprotkan air.
“Ahhh~ Hahh… hahh… hahh… ♥ Lanjutkan saja~♥.”
Melihat ekspresi nikmat Fina dengan matanya yang naik tinggi dan wajah yang lega saat mencapai puncak ditambah suara kenikmatan yang dia keluarkan membuat tubuh ini semakin semangat untuk mendorong bolak-balik.
Bahkan meski baru mencapai puncaknya, Fina tetap menyuruhku untuk lanjut dengan nada yang menggoda. Hal itu membuat semangatku naik semakin tinggi karenanya.
Semakin semangat, aku mengangkat diri sambil terus mendorong bolak-balik kemudian menaruh kedua tanganku di kedua bukitnya.
“Ahh~!!♥ ahh~!!!♥”
Sambil terus mendorong, aku membelai dan meremas kedua bukit tersebut. Ini membuat Fina kembali mengerang. Semakin lama mendorong sambil meremas kedua bukit, membuat pikiranku tentang hal lainnya semakin hilang. Yang ada hanya suara kenikmatan Fina dan insting untuk terus mendorong tubuh ini.
Sampai pada akhirnya karena kenikmatan yang tertumpuk, kelaki-lakianku serasa ingin menumpahkan sesuatu.
“Ahh~?!♥”
Fina seakan terkejut saat aku menumpahkan seluruh kenikmatanku.
Setelah aku selesai menumpahkan semua kenikmatan yang terkumpul, tiba-tiba Fina berkata.
“Jaya♥ aku mencintaimu♥”
__ADS_1
Kata-kata Fina membangkitkan kembali semangatku.