
Setelah menyimpan perahu di inventori yang aku lakukan hanya memanen garam kemudian melihat peninjauan golem. Namun, sampai hampir gelap pun masih tidak menemukan hal yang menarik kecuali lubang gua yang berada di antara bukit yang ditemukan saat siang tadi. Penglihatan mulai sulit, kuperintahkan golem-golem tersebut untuk berhenti kemudian membuat makanan dan segera tidur.
Esoknya setelah pemanasan aku mengumpulkan kelapa sebagai bekal penjelajahan karena hari ini aku berencana untuk menjelajahi lubang gua yang kemarin. Oh, golem-golem yang kemarin masih ada pada tempat mereka tadi malam tanpa goresan sedikitpun. Aku instruksikan mereka untuk melanjutkan penjelajahan kemudian segera bergegas menuju gua.
Karena berlari di tanah terlalu mainstream jadi sepanjang perjalanan aku melompat-lompat di antara ranting pohon sambil condong ke depan dan menaruh kedua tangan di belakang.
Sepanjang perjalanan tak lupa juga aku mengumpulkan batu besar dan kecil sebagai amunisi.
Aku mengumpulkan batu karena pada level tiga sihir golem, mereka bisa dibuat dengan mineral.
“Yah.. kuharap bisa juga menemukan bijih besi di sepanjang perjalanan, namun meski sudah sampai di depan gua tidak kelihatan bijih besinya.” Kutengok sekitaranku.
“…”
“Betapa bagusnya jika bisa menemukan bijih besi di sekitar sini.”
“…”
“…”
“…”
Kutengok lagi kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang, semuanya. Payah, kalau di cerita-cerita novel saat karakter bilang kayak gitu pasti sesuatu yang diharapkannya akan muncul.
Kunyalakan obor yang terbuat dari sabut kelapa kemudian masuk ke dalam gua. Namun, persiapan oborku sepertinya tidak diperlukan karena tidak jauh dari pintu ada cahaya alami dari dinding gua yang berwarna biru.
Di dalam sana, aku mencoba mengucapkan mantera sihir menciptakan golem menggunakan dindingnya tapi seperti yang kuduga tidak ada respon sama sekali. Saat mengeluarkan batu yang tadi kupungut dan mengucapkan mantera sihir golem malah bisa tereksekusi. Batu-batu yang dikeluarkan seperti menyatu dengan rapat sampai banyak bagian-bagian batu yang terpecah untuk menutupi bagian-bagian yang kosong sampai akhirnya bentuknya menyerupai robot besar dengan tinggi sekitar empat meter dan badannya hampir menutupi seluruh lorong gua. Masih ada beberapa batu lagi di inventori jadi kubuat sebagian besarnya menjadi golem. Dengan menggunakan hampir semua batu terciptalah tiga golem batu dengan besar yang sama kemudian dijejerkan ke belakang.
Jalan di gua ini tidak bercabang jadi aku tidak perlu takut untuk tersesat. Setelah berjalan sekitar tiga puluh menit mulai terdengar suara-suara raungan. Raungannya tidak semenggelegar raungan naga di ingatanku tapi raungan ini ada banyak dan cukup kuat.
Aku berjalan dengan berhati-hati mendekati raungan-raungan tersebut dan tak lupa mengeluarkan belati dari inventori lalu kupegang di tangan kanan. Saat aku intip, terdapat ruangan besar yang mungkin seluas GBK dan di dalamnya ada puluhan monster besar dengan warna kelabu yang didominasi dengan otot-ototnya. Mereka terpisah antara dua kelompok dan saling meraung.
Kalau menurut penilaian pertamaku mereka ini seperti monster ogre, tinggi besar sudah seperti golem batuku.
Tak sampai dua detik aku melihat mereka, raungan mereka tiba-tiba berhenti dan langsung menghadapku. Sepertinya mereka bisa mendeteksiku.
Mereka langsung bergegas berlari ke arah sini. Jadi aku berlari kembali ke belakang ke lorong gua yang diameternya hanya sekitar empat meter dan memerintahkan ketiga golem untuk berbaris menutupi lorong gua agar monster-monster itu hanya bisa mendekat satu per satu ke kesini.
Aku mempertimbangkan menggunakan belati, namun melihat bagaimana otot monster-monster itu pikirku belati ini bisa patah. Belati tersebut dimasukkan kembali ke inventori, lagipula tinjuku tidak kalah kekuatannya dengan belati.
Tidak tunggu lama setelah aku memasukkan belati, monster seperti ogre kelabu sudah menabrak barisan golem dan membanjiri lorong gua. Untungnya sesuai perkiraan yang menabrak langsung barisan golem hanya bisa satu monster saja.
Seperti iritasi jalannya dihadang, monster ogre tersebut pun meninju golem.
*Bruakk*
__ADS_1
Beberapa serpihan batu terlempar. Kalau seperti ini barisan golem tidak akan bertahan lama. Aku bergegas masuk ke celah di bagian bawah yang ada di barisan golem kemudian kutinju sekuat tenaga lutut kaki monster tersebut.
*Krakkk*
Bunyinya seperti tulang yang remuk dan bagian lutut kaki monster itu sesaat bengkok ke belakang seperti huruf c kemudian dia roboh. Teman-teman monster itu sepertinya terkejut melihat dia tiba-tiba roboh sehingga mereka yang ada di depan terdiam.
Mengambil kesempatan saat teman-temannya sedang terdiam dan sepertinya monster itu masih hidup. Bergegas aku berlari ke kepala monster yang roboh kemudian kuinjak sekeras mungkin.
*Krakkk*
*Splashh*
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Bersama dengan kata tersebut yang tertulis di otakku, sisa-sisa ogre purba yang aku kalahkan juga ikut hilang masuk kedalam inventori. Yang tersisa hanya ciptratan jus berwarna ungu yang menempel di badan dan lorong gua.
Wow, ini pertama kalinya aku membunuh monster bipedal yang posturnya mirip manusia, dengan sadis pula. Tapi kenapa aku tidak ada keraguan untuk membunuhnya? Sepertinya ini ada hubungannya dengan atribut WIS yang meningkatkan ketahanan mental.
Seakan baru kembali tersadar dari keterkejutan mereka, ogre-ogre purba yang telah terdiam sebelumnya melihatku dengan rasa amarah yang ada di tatapan mereka.
Aku berlari kembali ke belakang barisan golem\, yang sontak diikuti oleh para ogre itu. Namun\, kali ini mereka lebih agresif. Satu kali terkena tinju ogre\, *Bruakk* bagian golem batu yang terkena tinju langsung hancur. Akan lebih cepat hancur jika sebelumnya barisan golemku dihajar seperti ini.
Kali ini aku memasuki celah di bahu golem kemudian meninju kepala ogre purba tersebut.
*Krakkk*
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Tak mau kalah dengan jumlah mereka, aku mencoba lagi mengucapkan mantera sihir menciptakan golem dengan batu-batu yang sudah hancur tadi.
Ternyata masih bisa dilakukan, batu yang sudah hancur dan tersebar kembali menyatu dan menjadi golem. Kalau seperti ini hanya tinggal bergantung ke manaku saja. Saat ini MP-ku berjumlah 3200. Lalu berapa mana yang dibutuhkan untuk membuat golem batu seukuran empat meter? Hah! Ternyata hanya 9 MP saja.
Ditambah, sekitar satu menit MPku bertambah. Entah bertambah berapa totalnya yang pasti itu melebihi sembilan per menit.
Setelah golem diciptakan aku pun melanjutkan lagi Hit & Run & Revive sampai berjam-jam lamanya. Aku pikir pasukan ogre purba ini tidak akan habis. Sudah ada 236 mantan ogre yang ada di dalam inventori. Kukira awalnya hanya ada beberapa puluh saja, ternyata totalnya ratusan. Namun pada ogre purba yang ke 237 mulai terlihat. Lorong gua yang sebelumnya dipenuhi ogre sepertinya sudah mulai lengang. Tinggal tujuh ogre sedang berbaris di lorong yang perlu ku kalahkan. Sebelum mereka memutuskan untuk mundur dan berpencar, kuputuskan untuk segera menyerang.
Aku masuk melalui celah di kaki golem kemudian menendang lutut ogre purba yang paling depan, saat dia rubuh langsung ku injak kepalanya.
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Aku berlari ke ogre purba dibelakangnya. Saat sudah dekat ogre tersebut, dia meninju ke arahku dengan tangan kanannya. AKu menghindar dengan melompat ke samping kanan dan saat tangan kirinya sudah mulai naik untuk meninju, aku melompat lagi. Namun kali ini kakiku menerjang ke depan dan menendang bagian dadanya.
*Krakkk*
Tulang dadanya pasti remuk. Dia terlempar ke belakang sambil mendorong ogre yang di belakangnya dan mereka berdua pun jatuh. Tidak membuang waktu, aku bergegas mendatangi keduanya dan menginjak kepala mereka.
__ADS_1
[Ogre Purba telah dikalahkan]
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Sisa empat ogre lagi. Melihat ketiga kawanan mereka dengan cepat dikalahkan, keempat ogre tersebut langsung berbalik arah menuju ruangan yang luas.
Aku tidak mau membiarkan mereka lolos. Berlari kukejar dan saat sudah masuk jangkauan, aku lompat dan menendang punggung ogre yang paling belakang. Terlempar, ogre tersebut tak lupa juga untuk mendorong ogre yang di depannya. Tak mau kalah, ogre yang kedua juga mendorong ogre di depannya lagi. Sampai akhirnya tiga ogre terjatuh.
*Krakkk*
*Splashh*
*Krakkk*
*Splashh*
*Krakkk*
*Splashh*
[Ogre Purba telah dikalahkan]
[Ogre Purba telah dikalahkan]
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Sisa satu ogre lagi yang sepertinya cukup beruntung karena dia berhasil kembali ke ruangan besar.
Dari posisiku yang masih di lorong gua, ada hal yang ingin kucoba ke ogre-ogre ini sejak tadi tapi karena formasi saat melawan mereka kurang mendukung sehingga aku urungkan. Untungnya posisi saat ini sudah memungkinkan, aku mengambil batu dari inventori seukuran kepalan tangan kemudian kulempar ke arah belakang kepala ogre tersebut.
*Bruakk*
Hancur, batu yang kulempar hancur. Ogre purbanya baik-baik saja.
Sebelum masuk ruangan besar kuperintahkan para golem batu berjalan di depan. Jaga-jaga kalau ada ogre lain yang siap memberikan serangan kejutan saat aku masuk ke ruangan. Setelah memastikan pintu masuk ruangan aman aku menginjakkan kaki di ruangan itu.
Ada banyak lorong di ruangan besar itu, dan untungnya aku hafal ke lorong mana dia pergi. Mengikuti lorong yang dimasuki ogre tersebut, aku bisa mendengar suara ketokkan yang kuat beserta nafas lelahnya. Sepertinya ogre tersebut sedang memukul sesuatu.
Mengikuti suara ketokkan tersebut, aku akhirnya sampai ditempat ogre itu. Saat aku tiba, dia sedang meninju suatu lapisan yang berwarna sedikit kekuningan dan cukup transparan. Namun, terlihat sangat kokoh. Lapisan itu seperti tak bergeming terkena tinju ogre. Aku tidak tau pasti apa yang ingin dia lakukan. Yang ku tahu, kalau lapisan tersebut hancur ogre itu akan jadi lebih bermasalah.
Yah, selagi ogre tersebut sibuk meninju lapisan itu, kudekati dan menendang kakinya. Saat dia roboh, kuinjak.
[Ogre Purba telah dikalahkan]
Belum selesai menarik nafas lega.
__ADS_1
Terdengar suara datar yang tidak bisa kurasakan emosinya sama sekali.
“Halo”