
*Slash*
Di gelapnya malam, di suatu gang sempit yang gelap tepat berada di antara bangunan-bangunan yang tidak memiliki penerangan. Satu tebasan melewati tiga tubuh yang saling bicara sambil berdiri. Seketika itu, darah menyembur keluar dari garis tebasan di pinggang ketiga tubuh tersebut. Tak berselang lama, ketiga tubuh tergeletak di tanah masing-masing terpisah menjadi dua.
Aku bisa melihat pelaku yang menebas ketiga tubuh tersebut. Setelah menebas ketiga orang tersebut, sambil masih membelakangi golem pengintai dia membersihkan senjata yang berlumuran darah kemudian memalingkan kepalanya sambil tersenyum kecil menatap golem pengintai.
*Wooshh*
Fina kembali dari me time-nya. Dia melompat masuk lewat jendela kemudian berjalan ke arahku yang sekarang sedang duduk di pinggiran kasur.
“Selamat datang kembali.”
“Senang bisa melihat Jaya lagi.”
Setelah membalas salamku sambil berjalan mendekat, dia duduk di pangkuan lalu memeluk dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Membalas pelukan Fina, aku memulai pembicaraan.
“Kenapa kamu menyerang mereka?”
“Mereka mau mengganggu.”
Yang di katakan Fina memang memungkinkan. Mungkin sekarang mereka masih memantau kami untuk mencari celah, tapi setelah menemukan kelemahan kami, besar kemungkinan mereka akan mulai mengganggu.
“Terima kasih sudah sangat peduli.”
*Nod*
Aku berterima kasih ke Fina karena sangat mempedulikan kedamaian kami dan dia membalasnya dengan anggukan sambil masih menyandarkan kepalanya. Hmm… selagi berpelukan aku berpikir tentang apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang.
Sebelumnya, skill deteksi bahaya memperingatiku tentang mereka bertiga, ini bisa dipastikan kalau mereka memang mempunyai niat tidak baik. Karena itu aku mengirimkan golem pengintai ke tempat mereka sebelumnya untuk mencari informasi lebih lanjut. Tapi ternyata Fina memiliki ide yang lebih frontal.
Ketiga orang yang barusan Fina habisi itu merupakan pelaku yang mengikuti kami saat perjalanan pulang dari pasar. Mereka bertiga memang mengikuti kami saat pulang, tapi karena mereka tidak mengganggu kami selama perjalanan, aku simpulkan untuk membiarkan mereka karena mereka mungkin hanya mau mengawasi kami saja dari jauh.
Kan bisa pusing kalau aku harus menghabisi terlebih dahulu semua orang yang mempunyai niat tidak baik terhadapku yang di deteksi oleh skill Deteksi Bahaya. Siapa tahu saja niat tidak baik mereka itu tidak ekstrim atau karena hasil manipulasi dari orang yang memang benci kepadaku. Kalau seperti itu masih ada kemungkinan untuk menghindari korban jiwa.
Mereka bertiga hanya kaki tangan saja, Mereka hanya suruhan orang yang lebih tinggi. Aku mengetahuinya karena skill Deteksi Bahaya sebelum mendeteksi mereka bertiga, sudah memperingatiku terkait orang lain yang kemudian bertemu dengan ketiga orang tersebut untuk membuntuti kami.
__ADS_1
Apa sebaiknya aku langsung menemui dalangnya saja yah, hmm… ada kemungkinan setelah ketiga orang tersebut gagal dia akan semakin agresif. Atau bisa juga dia jadi ciut dan meninggalkan kami.
Tapi dari penilaianku sepertinya dalang itu malah akan semakin agresif. Aku berkesimpulan seperti itu karena kontraknya yang aku baca saat menggunakan skill Mata Bulan waktu bertemu dengannya.
“Hahh… Fina, ayo kita keluar sebentar.”
Sambil membuang napas panjang, aku mengajak Fina yang sedang asik makan jajanan yang kami beli sebelumnya pergi keluar. Aku memutuskan untuk langsung bertemu dengan sang dalang dan bertanya apa tujuannya mengirim tiga orang itu.
Kita berdua keluar dari penginapan melewati jendela. Fina menggunakan skill Tembus Pandang miliknya. Karena fitur level dua skill itu yang bisa memengaruhi objek yang di sentuh, aku bisa ikut terpengaruh efek Tembus Pandangnya.
Karena fitur skill itu juga, Fina meminta agar terus memeluk aku sampai tiba di tempat tujuan. Jadi selama perjalanan ke tempat sang dalang aku terus menggendongnya ala pengantin sambil Fina yang terus memeluk, tanpa ada satu pun orang yang menyadari keberadaan kami.
Tiba di lokasi sang dalang berada, terlihat rumah satu tingkat yang terlihat simpel. Rumah itu dibuat dari bata tapi ada beberapa bagian yang ditambah dengan kayu. Dari penglihatan golem pengintai, hanya sang dalang sendiri yang berada di rumah itu.
Setelah menurunkan Fina dari gendongan, kita berdua masuk diam-diam ke dalam rumah dengan bantuan golem pengintai yang membuka jendela rumah tersebut dari dalam. Kami masih terus menggunakan skill Tembus Pandang sampai akhirnya kami tiba di depan ruangan tempat dalang itu berada. Saat kita sudah berada di depan pintu, aku langsung mendobrak pintu kamar tempat dalang itu.
“… huh!?”
Dalang yang sedang sibuk menulis sesuatu terkejut karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Aku tidak membiarkannya bereaksi dan langsung melumpuhkannya kemudian mengikat dan menutupi matanya agar dia tidak mudah melarikan diri.
“Kamu siapa!? Aku tidak pernah menyinggung seorang pun! Kamu pasti salah orang! Salah orang! Aku mohon lepaskan aku.”
Seakan panik, dalang itu memohon agar kami melepaskannya.
“Sudah cukup berakting seolah-olah orang yang lemah. Dengan kemampuanmu, kamu pasti langsung mengenali suaraku dan sedang mencari cara untuk lolos dari sini.”
“Aku tidak mengenalimu! Sungguh! Kumohon lepaskan aku.”
Dalang itu membalas perkataanku sampai memelas seakan ingin dikasihani. Bakal lama selesai ni permainan kalau dia seperti ini. Mungkin langsung serang titik pentingnya saja supaya cepat selesai.
“Fan Zheng”
“…”
Setelah aku mengatakan nama itu, dia langsung diam.
__ADS_1
“Jadi, apa tujuanmu mengirim ketiga orang itu?”
“…”
“Apa yang Fan Zheng inginkan?”
“…”
Semua pertanyaanku tidak di respon apa-apa olehnya.
“Sekali lagi nona sekretaris, apa tujuanmu mengirim ketiga orang itu?”
“…”
Dia hanya diam saja. Sepertinya karena aku menyebut nama orang yang melakukan kontrak dengan si sekretaris serikat pedagang, dia langsung menghilangkan kepura-puraannya dan menganggapku berbahaya. Dengan Mata Bulan aku bisa melihat isi kontrak sang sekretaris dan Fan Zheng. Kontrak mereka mengharuskan sekretaris menjadi mata-mata Kerajaan Pangara dan Fan Zheng akan memberinya bantuan yang cukup berbahaya untuk membuat kerajaan ini tidak stabil.
Tapi untuk masalah politis aku tidak mau ikut campur. Aku hanya mau menyelesaikan masalah kedamaianku saja. Aku menyebutkan nama Fan Zheng agar si sekretaris segera berhenti melakukan permainannya. Selain itu, ada kemungkinan kenapa si sekretaris menargetiku karena ada hubungan dengan Fan Zheng yang menyuruhnya menjadi mata-mata. Tapi mungkin itu malah meninggikan kewaspadaannya.
“…”
Dia masih terus diam seakan batu sekarang. Kalau dia sekeras ini, apa mungkin harus di siksa dulu yah… hmm… mungkin aku akan coba waterboarding… atau apa sebaiknya di gelitiki saja sampai minta ampun, siapa tahu efektif untuk melunakkannya.
“Jaya, biar aku saja.”
Selagi aku mengeluarkan kain dan bulu kasuari untuk persiapan, Fina menawarkan diri untuk melakukan interogasinya.
“Baiklah, tapi jangan sampai di bunuh sama seperti yang sebelumnya yah.”
Aku memperingati Fina sambil memberikannya si sekretaris yang sedang aku tahan. Bisa hilang satu-satunya informasi yang tersisa kalau Fina barbar-in si sekretaris. Selain itu jika yang menginterogasinya sesama wanita mungkin si sekretaris akan lebih mudah terbuka.
“Iya, Jaya tunggu di luar saja.”
Hmm… kenapa harus tunggu di luar, apakah caranya menginterogasi berbahaya bagi mentalku? Ataukah itu… guhehehe…
“Jaya…”
__ADS_1
Mungkin Fina telah membaca pikiranku entah bagaimana caranya, jadi dia memanggilku lagi seakan menyuruhku untuk segera keluar dari ruangan.