
Pada keesokan pagi, mulai terlihat puncak hijau pulau yang merupakan tujuan kami. Semakin mendekat, semakin meninggi puncak itu dari cakrawala dan terlihat semakin besar pulau itu. Makin mendekat lagi, terlihatlah kota yang merupakan jantung Kerajaan Pangara. Kerajaan yang berada di paling utara dari enam kerajaan kepulauan.
Dari peta, ibukota Kerajaan Pangara disebut Kota Panga. Terlihat kota Panga yang luasnya bisa tiga kali lipat luas ibukota Patga yang merupakan tempat Jaya dibesarkan. Lalu lalang kapal maupun perahu juga terlihat berkali-kali lipat banyaknya di bandingkan lalu lintas kapal di Kerajaan Patgara.
Saat mulai mendekati daratan menggunakan perahu yang kubuat, ada perahu yang ukurannya mirip dengan perahu kami sekitar 8-10 meter mendekat. Melihat informasinya dari skill Mata Bulan dan dari penampilan mereka, sepertinya mereka merupakan prajurit dari kerajaan ini. Mereka menggunakan celana panjang hitam dan ada sebagian prajurit menggunakan sarung melapisi celana panjang tersebut. Ada juga prajurit yang menggunakan baju zirah, tapi sebagian besar prajurit di perahu tersebut tidak mengenakan baju. Senjata yang mereka bawa ada beragam, aku bisa melihat panah, keris, badik, dan tombak.
Para prajurit yang berada di atas perahu itu memberi kode agar kami berhenti. Mereka mendekatkan perahunya kemudian melompat ke perahu kami. Terlihat lima prajurit yang di pimpin oleh seorang prajurit memakai baju zirah datang ke arahku.
Pakaianku saat datang ke kota ini juga agak berbeda dari biasanya yang hanya menggunakan celana saja. Kali ini aku melapisinya dengan kain sarung hitam.
“Selamat Pagi! Apa keperluan Anda datang di Kerajaan Pangara?” Dengan suara yang tegas prajurit itu menanyakan keperluanku.
“Kami ingin menjual buah-buahan dan beberapa barang seperti sabun.”
“Sabun? Kalian datang dari mana?”
Aihh… kayaknya aku blunder, sabun sepertinya merupakan topik yang sensitif.
“Kami berasal dari Kerajaan Patgara, kelompok kami biasanya menjual barang di kerajaan-kerajaan barat.” Kubalas pertanyaan prajurit itu dengan tenang.
__ADS_1
“Ini merupakan kedatangan pertama kalian di sini?”
“Iya.”
Saat aku mengiyakan pertanyaannya, dia hanya mengangguk sekali kemudian berkata.
“Kami akan menginspeksi barang bawaan kalian.”
Aku menyetujui kondisi yang mereka ajukan lalu menuntun mereka ke barang-barang yang ada di perahu.
Sebelumnya aku menaruh berbagai buah yang kami dapat selama perjalanan dan barang-barang seperti sabun dan gerabah untuk di jual di Pangara.
Pulau Bulan juga sudah aku parkir agak jauh dan agak dalam dari Pulau Pupan yang merupakan tujuan kami. Mungkin akan memakan waktu satu jam jika aku kebut dengan perahu untuk sampai di Pulau Bulan. Aku juga meninggalkan beberapa golem di sana sebagai penjaga.
Setelah selesai menginspeksi barang dan menjelaskan semua itu, para prajurit naik kembali ke perahu mereka dan menuntun kami hingga sandar di pinggiran pantai. Yah… melihat bagaimana padatnya lalu lintas kapal di kota ini, hanya kapal-kapal besar saja yang bisa sandar di pelabuhan.
Awalnya aku pikir prajurit-prajurit ini akan memalak kami, entah mau minta uang atau akan mengambil sebagian barang dagangan, ternyata mereka sangat profesional dan sopan.
Untuk masuk ke Pangara dengan perahu, kami harus membayar bea masuk. Bea masuknya juga bukan main-main. Kami harus membayar 50 koin perak untuk seukuran perahu kami. Memang seingatku meski di Bumi, negara akan mengambil cukai atau bea masuk terhadap barang impor, tapi aku tidak tahu jika biayanya bisa sebanyak ini. Semoga saja bisa balik modal saat menjual barang-barang ini.
__ADS_1
Kami pun turun dari perahu, terdapat enam orang yang turun dari perahu. Seharusnya enam, tapi yang kelihatan hanya lima saja. Entah kenapa saat kami mulai mendekati kota, Fina mengaktifkan skill Tembus Pandangnya sehingga tidak di ketahui oleh para prajurit. Sementara empat orang lainnya ialah golem besi yang aku samarkan menjadi manusia.
Untung saja mereka tidak curiga. Tapi memang agak susah untuk di curigai, karena penyamaran golem besi ini sungguh detail. Apalagi ditambah skill Suara Perut yang aku dapatkan sebelumnya yang salah satu fiturnya bisa mengeluarkan suara yang berbeda-beda.
Totalnya ada lima golem besi yang datang bersama kami ke Pangara. Aku menugaskan satu golem untuk menjaga perahu sementara empat golem lainnya mengangkat barang-barang untuk di bawah ke gedung Serikat Pedagang. Barang yang kami bawah tidak semuanya, hanya sebagian saja sebagai pengenalan.
Diam-diam aku juga menciptakan puluhan golem kecil sebagai pengintai untuk mengumpulkan informasi tentang kota ini. Aku membuat golemnya cukup kecil, sekecil semut di Bumi. Yah… semoga saja tidak akan ketahuan. Kalau pun ketahuan, kupikir akan sulit untuk melacaknya sampai ke diriku.
Di perjalanan, aku memerhatikan bagaimana kesibukkan Kota Panga ini, Pelabuhan di mana kapal bersandarnya sangat luas dan dominan terbuat dari batu. Di pagi hari ini pun pelabuhan sangat sibuk dengan orang-orang yang sedang mengangkat barang kesana kemari.
Saat aku keluar pelabuhan dan memerhatikan bagaimana Kota Panga, sekitar lebih setengah bangunan kota ini terbuat dari bata. Padahal, di Kota Patga saja hanya sebagian kecil bangunan yang terbuat dari bata, itu pun hanya bangunan para kalangan atas yang di buat dengan bata. Akan tetapi di kota ini bangunan-bangunan untuk umum seperti penginapan sudah terbuat dari bata. Dari yang aku perhatikan, bangunan dari bata di sini menggunakan serbuk bata sebagai perekat, tidak menggunakan semen.
Untuk penampilan para penduduknya hampir sama dengan Kerajaan Patgara, sebagian besar mereka berkulit sawo matang dan berambut hitam kemudian diantara pria dan wanita sebagian besar berambut panjang. Di mana pria kebanyakan rambutnya digulung kemudian di kuncir ada juga yang menguraikan rambutnya. Sedangkan gaya rambut wanitanya cukup beragam, ada yang di sanggul, di ikat, dan diurai.
Pakaian prianya juga 11-12 dengan Patgara. Rata-rata menggunakan celana dan ada beberapa yang melapisi celana itu dengan sarung. Sebagian besar pria tidak mengenakan atasan. Wanitanya banyak yang menggunakan kain sarung yang menutupi dada hingga bawah lutut, ada juga yang menggunakan kain sarung menutupi pinggul sampai bawah lututnya dan kemben untuk atasannya. Aku juga melihat beberapa wanita mengenakan selendang untuk menutupi bahu dan kepala mereka.
Aku juga melihat banyak pria yang membawa keris dan senjata-senjata yang serupa dengan belati di pinggang mereka.
Tapi tidak hanya itu, ada sebagian penduduk yang penampilannya cukup berbeda dari penduduk-penduduk di kerajaan kepulauan. Mereka merupakan penduduk dari kekaisaran yang terletak jauh di utara.
__ADS_1
Mereka yang ada di Pangara sebagian besar merupakan pedagang dari kekaisaran tersebut. Sebagian besar dari mereka memiliki kulit kuning langsat dan pakaian yang mereka gunakan jauh berbeda dengan pakaian yang digunakan oleh penduduk di kerajaan kepulauan. Kalau aku andai-andaikan mungkin pakaian yang mereka gunakan mirip dengan pakaian hanfu yang ada di Bumi.
Konon katanya kekaisaran di utara itu memiliki tanah datar luas nan subur yang di hiasi dengan sungai-sungai yang besar.