Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Hari ini aku terbangun di siang hari. Kesibukan ku semalam mengharuskan aku untuk terus terjaga hingga matahari terbit. Masih tetap berbaring, tepat di atas dadaku Fina sedang tertidur pulas sambil membenamkan wajahnya. Hembusan napasnya yang lembut sesekali menggelitiki dadaku.


Memperhatikan wajahnya yang manis saat terlelap membuat perasaan menjadi senang, sampai-sampai aku tersenyum sendiri melihatnya. Fina yang sebelumnya berukuran sama tinggi denganku entah kenapa sekarang terasa sedikit lebih kecil saat sedang tidur di atas tubuhku.


“…”


Tunggu sebentar, terasa lebih kecil? Mana mungkin.


Kebingungan, aku memperhatikan sekitaranku dengan hati-hati agar Fina tidak terbangun. Sampai akhirnya aku berkesimpulan memang ada yang janggal, bukan Fina yang mengecil melainkan tubuhku yang serasa tumbuh lebih tinggi dan besar.


Kenapa bisa terjadi? Perasaan tadi malam tinggiku masih sama dengan tinggi Fina. Aku lalu mencoba mengingat kembali rentetan kejadian dari tadi malam.


Ternyata saat masih sedang sibuk semalam, aku mendapatkan pemberitahuan.


[Persyaratan terpenuhi]


[Meningkatkan konfigurasi Status]


Bergegas aku melihat status milikku.


Dan benar saja, terjadi perubahan di statusku. Perubahannya bukan hanya perubahan kecil melainkan sangat signifikan sampai-sampai aku terkejut.


Status


Poin: 80


Nama : Jaya


Ras : Manusiaa


Umur : 17


Level : 40


Exp : 4%


HP : 6000/6000

__ADS_1


MP : 6000/6000


STR: 120 INT: 120 DEX: 120 VIT: 120 WIS: 120


Skill : Sihir Spasial[Inventory(lvl.1)], Sihir Bumi[Sihir Golem Bumi(lvl.5)], Mata Bulan, Sihir Deteksi[Deteksi Bahaya(lvl.5)]


Gelar : Datuk, Mantan Penduduk Bumi, Kutu Loncat, Pembunuh Naga, Pengecut, Pemilik Pulau Bulan, ByeGone


Kegiatan menanam tadi malam ternyata memenuhi persyaratan yang entah dipersyarati oleh siapa. Ini membuat setiap atribut milikku naik 50% dan sampai merubah tubuhku.


“Nnng… Jaya… … …”


Eh, sepertinya rasa terkejutku membuat Fina mengigau. Aku mencoba menenangkannya dengan memeluknya dengan tangan kiriku sambil membelai rambutnya dengan tangan kanan. Untungnya itu hanya sebentar dan dia masih bisa tertidur kembali sesaat kemudian.


Melihat Fina yang masih butuh tidur, untuk tidak membangunkannya aku memutuskan kalau kegiatan hari ini akan dikerjakan oleh para golem saja.


Dari daftar yang sebelumnya aku buat ditambah tegel yang baru terpikirkan, tinggal sabun, kamar mandi, rumah bata, dan peralatan dari besi saja yang masih belum ada kemajuan. Sementara daftar lainnya sudah selesai dan beberapa tinggal menunggu waktu saja untuk selesai.


Kalau kamar mandi dan rumah bata harus menunggu semen yang masih dalam proses pengeringan sekarang. Sementara untuk membuat peralatan besi aku pikir lebih baik aku coba-coba sendiri secara langsung karena kurangnya informasi tentang itu. Yang terakhir sabun, aku berencana membuatnya menggunakan larutan alkali yang berasal dari abu kayu. Namun rasio campuran antara larutan alkali dan minyak kelapa yang dibutuhkan agar menghasilkan sabun yang baik tidak aku ketahui.


Percobaan mencari rasio campuran yang bagus ini yang akan memakan waktu beberapa saat. Yah apa gunanya terus berpikir, lebih baik aku segera menginstruksikan golem untuk membuat larutan alkali lalu mencampurinya dengan minyak kelapa dengan rasio yang berbeda-beda sampai mendapatkan sabun yang bagus.


Yah! Mari kita buat minyak esensial dari ketiga buah ini untuk menjadi pengharum sabunnya.


Dengan naiknya atribut dan total jumlah mana milikku, aku sudah bisa membuat golem lebih banyak lagi tanpa mengurangi mana milikku. Sekarang, aku bisa membuat dan mempertahankan 60 golem sekaligus sampai selama apa pun yang aku inginkan dan mana milikku tidak akan pernah berkurang.


Setengah golem yang aku ciptakan ditugaskan untuk membuat sabun dan pengharumnya. Setengahnya lagi aku tugaskan untuk menambah stok barang-barang lainnya.


“Nnng…”


“Selamat sore cantik.”


Fina baru bangun saat hari sudah sore. Dari siang sampai sore yang aku lakukan hanya berbaring berdiam diri saja menjadi kasur Fina sambil sesekali melihat apa yang sedang golem kerjakan melalui penglihatan golem.


Fina yang baru saja bangun dan menghadapku, langsung memendam wajahnya lagi di dadaku karena malu mendengar kata-kata yang aku lontarkan.


Sambil mengusap kepalanya, aku membangunkan diri kemudian memberi Fina air minum yang aku ambil dari dalam inventori.

__ADS_1


“Minum dulu, pasti kamu haus.”


“…”


Fina mengambil air yang aku berikan tanpa berkata apa pun. Bahkan dia tidak melihatku saat mengambil dan meminum air tersebut. Saat duduk dia juga menundukkan kepala seolah ingin menutupi wajahnya menggunakan rambutnya yang panjang.


“Apa yang ingin kamu makan malam nanti?”


Mungkin jika aku tanya tentang makanan dia mau membuka suara dan menatapku.


“Malu…” dikatakan Fina dengan pelan.


Malu? kamu mau makan malu? Ingin aku tanyakan makanan apa ‘malu’ itu untuk mengerjainya. Tapi aku pikir mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk mengerjai. Mungkin aku harus mengajak Fina melakukan sesuatu sebagai selingan agar dia tidak terlalu kepikiran? Atau apa sebaiknya aku tinggalkan dia sendiri saja sementara sampai dia merasa biasa kembali?


Hmm… coba aku ajak saja dulu.


“Selagi masih sore maukah kamu mengajariku skill seperti sebelum-sebelumnya?”


*nod*


Fina mengangguk setuju, meski tidak mengeluarkan suara.


Kami berlatih di pinggiran pantai. Saat berlatih, awalnya Fina hanya diam saja seakan menahan diri, namun setelah aku memulai pembicaraan seperti mengatakan makanan apa yang paling aku sukai dari semua yang pernah kita berdua makan atau tipe makanan apa yang bagus di buat dari bahan-bahan yang kita miliki, di situ pembicaraan kita mulai mengalir.


Fina mulai menceritakan apa yang menjadi makanan kesukaan dia dan bagaimana dia menantikan makanan-makanan buatanku. Tidak hanya sampai di situ saja, seakan hari ini artikulasi Fina semakin lancar. Dia membicarakan sebagian masa lalunya seperti apa yang sering dia lakukan saat masih sendirian menjadi pemilik dungeon Pulau Bulan. Kegiatan apa saja yang dia lakukan mengisi kebosanannya, bahkan sedikit cerita tentang kesulitannya saat dikejar naga tanah.


Kami berhenti berlatih saat  langit sudah mulai gelap. Namun, meski kami terus mengobrol selama berlatih, Fina tidak pernah bertanya tentang aku yang sudah lebih tinggi sekali pun.


Jadi saat perjalanan kembali ke rumah setelah membersihkan diri, terpaksa aku yang mengatakannya ke Fina.


“Fina apa kamu tidak merasa ada yang berubah dari diriku?”


“??”


Fina hanya menatapku dengan penuh tanya atas pertanyaan yang aku katakan. Tapi itu hanya sesaat, dia kemudian berkata.


“Kalau yang Jaya maksud itu Jaya yang menjadi lebih tinggi, itu sudah terjadi sejak malam s…”

__ADS_1


Ternyata perubahan tubuhku sudah terjadi sejak malam dan telah di ketahui Fina. Sayangnya aku tidak mengetahui apa yang dia katakan selanjutnya karena suaranya semakin lama semakin mengecil saat mengatakannya.


__ADS_2