Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Tiba di depan ruangan pemilik dungeon, yang menyambut kita ialah semut yang besarnya tiga kali lipat dari semut prajurit. Seperti semut yang sebelumnya, dia memiliki kitin berwarna hijau kehitaman tetapi capit semut yang satu ini lebih besar dan gahar dibanding capit semut prajurit.


Kesanku saat melihat wujud semut itu dari dekat, ekspresinya seperti sedang mengancam keberadaanku. Semakin lama menatapku semakin hijau terang badannya, jelas terlihat kalau dia ingin segera menghapusku dari pandangannya.


Nama : Budi IX


Ras : Semut Penjajah Agung


Umur : 88 Tahun


Level : 40


HP : 480/480


MP : 358/370


STR: 39 INT: 37 DEX: 39 VIT: 24 WIS: 23


Skill : Semprotan Asam(lvl.3), Sihir Bumi[Bola Bumi(lvl.3)], Sihir Bumi[Perisai Bumi(lvl.1)], Penguatan Capit(lvl.2), Percepatan(lvl.1), Sihir Kontrak(lvl.3)


Gelar : Jenderal Semut Penjajah Agung, Pemilik Dungeon O-96s9


Wah… namanya mengandung kearifan lokal, pakai nama regnal juga, kayak nama para penguasa di Bumi.


Melihat jenderal semut yang makin lama semakin garang menatapku, aku menjadi tidak tahan untuk mencairkan suasana sambil menanyakan hal yang ganjil dan paling penting di dungeon ini yang seharusnya ada.


“Fina, coba tanyakan di mana ibu Budi.”

__ADS_1


Fina melihatku dengan tatapan yang biasanya saat mendengar perintahku kemudian berbalik menghadap ke jenderal semut menerjemahkan pertanyaanku.


“c…”


*criiiiiiiiiiiitttttttt!!*


*******


*******


Setelah Fina menerjemahkan pertanyaanku\, yang dibalas bukanlah jawaban melainkan teriakan keras semut hingga membuat seluruh ruangan bergetar\~\~\~\~ kemudian \~\~\~\~diikuti semprotan asam dari ekornya mengarah langsung kearah kami. Dengan sigap kuperintahkan golem batu besar yang merupakan TB kami untuk menghalangi semprotan itu.


Hmm… sepertinya kalkulasiku salah, kupikir saat bertanya tentang orang tuanya, semut itu akan menjadi tenang karena mengingat masa-masa indah bersama mereka. Kupikir suasananya akan menjadi sedikit tenang ternyata malah sebaliknya.


*******


*******


Aku melihat kondisi golem batu yang sebelumnya menghalangi semprotan asam semut. Bagian batu yang terkena semprotan seakan terbakar hingga mengeluarkan asap kemudian meleleh dan menetes ke tanah. Ini tanda kalau serangan asam jenderal semut sangat berbahaya. Cakupan serangan jarak jauh ditambah area serangan yang luas, membuat lawannya sulit untuk mendekat.


Sebelum ruangan ini dipenuhi semprotan asam dari semut, kupikir kita harus segera mengalahkannya. Jadi selagi dia asik menyemprotkan cairan asam ke arah kami, aku memanjat golem batu yang berdiri menjulang tinggi menghalangi semprotan asam semut di depan kelompok kami.


Menengok dari belakang golem batu, terlihat jelas bagaimana posisi jendral semut yang sedang berdiri mengangkat badan dan kepalanya beserta kedua kaki depannya, sambil empat kaki belakang menjadi tumpuan dan mengarahkan perut dan ekornya ke arah kami untuk menyemprotkan cairan asam.


Posisinya yang menyemprotkan cairan asam sepertinya akan menjadi kelemahannya yang fatal saat ini. Posisinya yang seperti itu seharusnya membuat dia kesusahan untuk menghindari serangan yang cepat. Jadi dari balik golem batu aku mengeluarkan tongkat taring naga yang sudah kugunakan sebelumnya.


Saat tongkat taring naga sudah kugenggam di tangan kananku, sepertinya sang jendral semut menyadari apa yang akan aku lakukan jadi dia mulai menghentikan semprotan asam ke arah kami untuk merubah posisinya. Namun, tidak semudah itu Budi, Aku langsung melempar tongkat taring naga ke arah jenderal semut selagi dia sibuk menghentikan semprotan dan mau merubah posisi.

__ADS_1


*wusshh*


*krakk*


Tongkat taring naga yang kulempar melejit cepat menuju ke arah jenderal semut. Layaknya telur yang terkena tembakan peluru, kepala semut yang pertama kali bertemu dengan ujung taring naga pecah hingga bagian-bagiannya berceceran di lantai dungeon sebelum seluruh tubuhnya hilang masuk ke dalam inventori. Dengan kejadian tersebut, yang tertinggal hanyalah tongkat tombak naga yang tertancap di lantai yang dihiasi sisa ceceran jenderal semut. Sesaat setelah itu muncul pemberitahuan di kepalaku.


[Semut Penjajah Agung(Budi IX) telah dikalahkan]


1 hit! OP benar nih taring naga, monster level 40 bisa dihilangkan hanya dengan satu kali serangan. Wow! aku terpukau dengan kekuatan taring ini. Kalau aku bisa memprosesnya menjadi senjata yang sesungguhnya, bakal sekuat apa taring ini nanti yah? Tapi pertama-tama aku harus tau cara menempa senjata terlebih dahulu. Hmm… kalau soal menempa senjata pengetahuan ku cuman dari video game dan dari cerita orang-orang. Kalau pengetahuannya hanya segitu mana bisa memproses taring ini, yang ada taringnya nanti rusak. Hmm… mungkin pas kita sampai di kota aku bisa mencari guru pandai besi.


Cukup memikirkan apa yang ingin kulakukan ke depannya, pikiranku kuarahkan kembali ke situasi saat ini. Kita berhasil mengalahkan pemilik dungeon, namun masih terasa ada yang kurang. Ini berdasarkan pengetahuanku dari semut-semut di bumi, kalau koloni semut itu berpusat pada ratu semut, bukan prajuritnya. Pemilik dungeon semut yang sebenarnya seharusnya Ratu Semut bukan Jenderal Semut.


Satu-satunya petunjuk yang tersisa untuk dungeon semut saat ini yaitu para golem penjelajah yang sebelumnya mengikuti para semut yang masuk lebih dalam ke dungeon. Dari penglihatan yang kulihat melalui golem penjelajah, para golem yang tadinya mengikuti semut sedang berada di ruangan besar di mana ruangan tersebut terdapat segunung tumpukan benda besar lonjong berwarna putih yang bentuknya seperti beras. Benda tersebut merupakan telur semut.


Semua kelompok semut yang diikuti oleh golem penjelajah berkumpul di ruangan itu. Kupikir mereka merupakan kelompok yang akan mengevakuasi telur-telur semut dari dungeon ini. Kalau mereka merupakan tim evakuasi telur semut, besar kemungkinan pemilik dungeon yang sebenarnya atau sang ratu semut sudah di evakuasi duluan sebelum telur-telur itu. Kalau memang ratu semut sudah tidak ada di sini, aku tidak perlu was-was lagi terkait jebakan dan sebagainya, toh mereka sudah tidak ada niat untuk tinggal di sini.


Aku memikirkan hal tersebut sambil berjalan ke arah tongkat taring naga yang tertancap di lantai. Setelah menyimpannya kembali ke dalam inventori, kuberbalik menghadap Fina.


“Maaf yah kamu tidak mendapat bagian saat mengalahkan pemilik dungeon.”


Aku merasa tidak enak memakan semua exp dari pemilik dungeon, karena kalau sebagiannya diberikan ke Fina pasti levelnya bisa naik.


“Tidak apa-apa.”


Hmm… mungkin setelah dungeon ini sebaiknya kita tambah berburu monster lagi agar Fina bisa mendapatkan lebih banyak exp. Kita juga belum sampai seharian di daratan semenanjung monster, jadi waktu kita masih banyak untuk menjelajah area sini setelah menyelesaikan dungeon semut.


Kita berjalan lebih dalam, akhirnya terlihat batu menhir yang menjulang cukup tinggi dari biasanya. Melihat itu, sepertinya tinggi batu menhir berbanding lurus dengan tinggi level dungeon. Dari penglihatan skill mata bulan, level dungeon semut merupakan level tertinggi yang pernah kulihat selama ini.

__ADS_1


__ADS_2