
*cit-cit-cit~*
Hmmm suara burung, tanda pagi hari telah tiba. Aku membuka mata dan yang terlihat ialah atap dari anyaman daun kelapa. Aku membuat gubuk dari daun kelapa di pulau baru saat sore kemarin setelah memutuskan untuk berhenti menjelajahi pulau. Rencana kita hari ini tentu saja untuk menjelajahi dungeon yang ada di pulau ini. Aku menengok ke sebelah kanan.
“Woahh!!”
Fina ternyata sudah bangun. Dia menatapku dengan tatapan datarnya sambil berbaring menghadap sebelah kiri kearahku. Dia juga melipat tangan kirinya seakan dijadikan bantal di kepalanya.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aku tidak apa-apa, hanya terkejut saja kamu sudah bangun.”
“Oh.”
“Selamat pagi, apakah tidurmu nyenyak?”
“Iya.”
Kemarin nih orang bangunnya telat sekali. sekarang malah lebih awal dariku. Hmmm apa makanan tadi malam tidak mengenyangkan terus dia terbangun lebih awal karena lapar?
“Mau makan? Masih banyak stok ikan bakar kita.”
“Tidak, nanti sama-sama denganmu saja.”
“Baiklah, sudah berapa lama kamu bangun?”
“Baru saja, hanya beberapa saat sebelum kamu bangun.”
Ah… kukira lapar, ternyata hanya kebetulan bangun duluan saja.
“Hari ini kita akan menjelajah dungeon, jadi kamu mungkin akan membunuh lebih banyak monster dari kemarin.”
“Bolehkah aku yang melawan mereka?”
Hm..hm.. mempertimbangkan gelar Yang Disuap milik Fina yang mengurangi exp saat disuapi monster, memang lebih baik jika dia mengalahkannya langsung. Tapi aku juga khawatir apa Fina mampu atau tidak mengalahkan mereka sendirian.
__ADS_1
Yah.. kalau musuhnya hanya sekitaran kasuari besi yang berlevel 10-an sepertinya tidak masalah jika kita membandingkan antara atribut Fina dan kasuari besi itu. Atribut Fina yang berlevel sepuluh mungkin sudah seperti atribut kasuari besi yang berlevel 20.
“Boleh, tapi jika sudah kuanggap berbahaya aku akan membantumu yah.”
“Baiklah.”
Dibalasnya sekalian mengangguk.
Saat kita keluar dari gubuk aku memperhatikan sekitaran kemah. Sepertinya tidak ada serangan monster semalaman. Ahh.. enaknya skill golem ini, tidak perlu gonta-ganti shift jaga malam kita bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah melakukan rutinitas pagi dan sarapan kita pergi menuju pintu masuk dungeon. Pintu masuk dungeon berada di dalam hutan dan berupa gua yang berada di bawah bukit. Saat menggunakan skill Mata Bulan informasi yang didapat hanyalah pintu masuk dungeon. Tidak ada informasi tentang level dungeon ataupun monster-monster yang ada di dalamnya.
Interior dungeon mirip seperti gua di pulau bulan, ada cahaya alami dari dinding gua yang berwarna biru. Dan sama juga seperti di pulau bulan aku tidak bisa menciptakan golem menggunakan dinding dungeon. Bedanya luas lorong dungeon ini lebih kecil, mungkin sekitaran tiga meter. Aku mengucapkan mantera sihir penciptaan golem untuk membuat empat golem besi dengan tinggi hampir sekitar tiga meter sebagai pengawal.
Baru berjalan beberapa menit aku sudah menemukan bijih besi yang menempel di dinding dungeon.
“Tunggu sebentar, aku mau coba ambil bijih besi ini.” Kelompok kita pun berhenti.
Namun, sayang sekali bijih besi tersebut tidak bisa ditarik dari dinding atau di simpan di inventori.
Mungkin harus kuasai dungeon ini dulu baru bisa. Akupun berkata
“Tidak bisa diambil biji besinya.”
“Seharusnya memang tidak bisa merubah area ini kalau area ini dianggap sebagai dungeon kecuali pemilik dungeon yang merubahnya.”
Ahh.. dari kata-kata Fina aku sepertinya mendapatkan satu kesimpulan yang mungkin menjadi alasan kenapa tidak bisa menyimpan ke inventori. Skill inventori milikku tidak bisa menyimpan sebagian tipe makhluk hidup. Karena pemilik dungeon akan ikut mati jika inti dungeon mati, besar kemungkinan dungeon dan pemilik dungeon merupakan satu makhluk hidup.
Hmmm… tapi kalau pemilik dungeon yang mati duluan? Yah mungkin kita bisa mengetahui jawabannya nanti.
“Kalau begitu ayo lanjutkan penjelajahan.”
Kelompok kita melanjutkan perjalanan lebih dalam. Berjalan terus menerus di lorong gua dan sepanjang perjalanan aku bisa melihat bijih besi di kiri dan kanan dibarengi dengan warna biru dari dinding gua.
Tapi hal tersebut tidak berlangsung begitu lama karena kami terhenti karena lorong gua terbagi menjadi dua cabang. Hmm kalau dari instingku diantara dua lorong yang ada didepanku ini, jalan yang tepat seharusnya lorong sebelah kiri. Tapi karena terkadang dewi keberuntungan tidak mau memihaku, lebih baik kedua lorong ini ditelusuri bersama saja dengan golem.
__ADS_1
Aku mengeluarkan tanah dari inventori. Namun, aku tidak menciptakan golem bipedal mirip manusia seperti biasanya. Saat mengucapkan mantera sihir untuk menciptakan golem aku rubah mantera itu berdasarkan informasi sihir golem yang terdaftar di kepalaku.
Selesai mengucapkan mantera, tanah yang berada di depanku mulai bergerak menyatu dan pada akhirnya muncullah sosok berkaki empat yang wujudnya mirip bekas nama panggilan Fina dari kumpulan tanah tersebut.
Karena binatang berkaki empat seharusnya berlari lebih cepat, para golem anjing ini seharusnya lebih cepat melakukan peninjauan dari pada golem bipedal. Aku menciptakan 30 golem anjing kemudian menginstruksikan mereka menjelajahi kedua lorong ini.
Aku langsung duduk setelah menginstruksikan golem anjing untuk pergi menjelajah. Kemudian diikuti oleh Fina yang juga duduk didepanku.
“Selagi menunggu ayo kita main congklak.”
Karena kemarin kita hanya duduk-duduk saja selagi menunggu golem meninjau pulau dan membawa kasuari besi, aku mengajak Fina bermain permainan tradisional yang masih kuingat untuk menghilangkan kebosanan. Salah satu permainannya ialah congklak.
Karena membuat papan dengan 16 lubang mudah dan 98 bijinya tinggal perlu mengambil cangkang kerang jadi ini salah satu permainan yang aku buat kemarin.
Baru saja mengeluarkan papan dan mengatur biji-bijinya. Tidak sampai lima menit tim lorong sebelah kiri pergi meninjau, mereka sudah berada di ujung jalan dimana terdapat ruangan besar dan ada makhluk yang merupakan pemilik dungeon sedang tidur disitu. Jalan di lorong sebelah kiri tidak memiliki cabang sehingga golem anjing bisa selesai meninjau dengan cepat.
“Fina, di ujung lorong sebelah kiri merupakan tempat pemilik dungeon.”
“… Apa kita tidak jadi bermain congklak?”
“…”
Kata-kata Fina meski nadanya datar tapi serasa kecewa karena ada kemungkinan kita tidak jadi bermain. Meskipun lorong sebelah kiri sudah selesai dijelajahi, aku belum berencana pergi kesana sebelum lorong sebelah kanan selesai dijelajahi.
“Main kok, nanti tim yang di lorong sebelah kanan selesai menjelajah baru kita berhenti bermain.”
Sebagian besar golem anjing di lorong kiri aku pindahkan ke lorong sebelah kanan. Di lorong kanan banyak cabang-cabangnya, takutnya golem tidak akan cukup untuk menjelajahi semua lorong sekaligus.
Tak lama kemudian lorong sebelah kanan selesai dijelajahi. Lorong itu memiliki banyak cabang dan ruangan-ruangan yang luas di tiap ujungnya. Ruangan luas tersebut berisi monster dan semua monsternya ialah kasuari besi. Selain itu terdapat banyak bijih besi yang bertebaran di sepanjang jalan lorong kanan itu.
Dengan begitu kuputuskan untuk pergi mengalahkan monster-monster di lorong sebelah kanan terlebih dahulu.
“Setelah ronde permainan ini selesai kita akan segera melanjutkan penjelajahan.”
“iya”
__ADS_1