
Sekitar 20 tahun yang lalu, Kerajaan Pangara terkenal sebagai kerajaan termiskin di antara keenam kerajaan kepulauan. Namun, semua itu berubah saat satu kapal penjelajah dari Kerajaan Pangara berhasil menemukan daratan yang jauh di utara.
Dari cerita orang-orang yang Jaya dunia ini dengar, pada saat itu para petualang sudah mulai menyerah untuk menjelajahi Pulau Puma karena kesulitannya, jadi para petualang mulai mencari area lain untuk di jelajahi. Petualang mulai menggunakan kapal dan menjelajah ke berbagai arah yang belum pernah di telusuri sebelumnya.
Saat itulah sebuah kapal dari Kerajaan Pangara yang menuju ke utara menemukan daratan baru yang sangat luas. Mereka awalnya was-was meninjau setinggi apa tingkat bahaya daratan tersebut, namun semua kewaspadaan mereka turun saat mendapati kota yang sangat besar di daratan itu.
Saat mendekat, seluruh awak kapal penjelajah awalnya heran dengan rupa dan penampilan masyarakat di daratan tersebut. Penampilan dan rupa masyarakat di daratan itu berbeda jauh dengan penampilan dan rupa para awak kapal. Meski pun begitu, mereka di sambut baik oleh masyarakat di kota tersebut. Meski komunikasinya hanya menggunakan gerakan tubuh, gambar, dan ekspresi wajah, mereka bisa saling mengerti.
Sampai pada akhirnya, para penjelajah dari Pangara menuntun kembali beberapa kapal dari kota tersebut sampai ke Pulau Pupan yang merupakan pulau utama Kerajaan Pangara. Itulah awal bagaimana kerajaan-kerajaan kepulauan bisa terhubung dengan kekaisaran yang ada di utara. Bahkan karena keberhasilannya menghubungkan kedua peradaban tersebut, kapten kapal yang merupakan pemimpin penjelajahan diangkat menjadi bangsawan Pangara.
Berjalan sambil mengingat-ingat kembali tentang kerajaan Pangara dari ingatan Jaya, kita akhirnya tiba di depan gedung serikat pedagang. Gedungnya sangat besar dan terbuat dari bata merah. Dari luar terlihat kalau gedung itu memiliki dua tingkat. Pintu masuknya yang besar seakan mengakomodasi bagaimana padatnya lalu-lalang orang yang keluar masuk di ~~~~sana.
Saat masuk ke dalam gedung itu, terdengar berbagai suara yang memenuhi telingaku.
“Selamat datang di serikat pedagang! Si-”
“Ayolah! Kualitasnya sungguh bagus! In-”
“Sudah ku bilang, nama kerajaan ini Pan-ga-ra bukan Pa-nga-ra dasar or-”
“Kapan jadwal sabung ayam berikutnya? A-”
Aku dan Fina mulai mengantri di resepsionis sambil mendengar obrolan-obrolan yang ada disekitarku. Para golem tidak ikut mengantri agar tidak kelihatan ramai. Selagi mengantri aku bicara dengan pelan ke Fina yang sedang menggunakan skill Tembus Pandang.
“Fina, kenapa kamu menggunakan skill tembus pandang di sini?”
“Untuk berjaga-jaga.”
Fina menjawabnya dengan ekspresi tenang seperti biasanya. Dia sungguh waspada, padahal kebanyakan masyarakat di sini hanya memiliki level satu digit. Aku bahkan belum menemukan manusia yang levelnya di atas 20.
Tapi kalau itu keinginannya, lebih baik aku biarkan saja. lagi pula dengan level Fina yang sudah tinggi dan pemulihan mana yang ikut meninggi, dia bisa selamanya menggunakan skill tembus pandang tanpa perlu takut kehabisan mana.
__ADS_1
“Selamat datang di serikat pedagang! Ada yang bisa kami bantu?”
Akhirnya tiba giliran kami. Resepsionis wanita di barisan di mana aku mengantri mulai menyapa.
“Saya ingin menjual berbagai barang.”
“Pertama-tama bisa tunjukkan tanda pengenalnya?”
Ini yang jadi kegalauanku sejak awal, aku kira saat masuk kerajaan akan di minta tanda pengenal, tapi ternyata tidak. Aku merasa sedikit lega saat mereka tidak meminta tanda pengenal saat akan masuk ke kerajaan, eh ternyata nanti di sini baru di minta.
“Maaf, tanda pengenalku hilang saat sedang menuju kemari.”
“Oh, tidak apa-apa itu memang sering terjadi, ini merupakan standar operasional prosedur saja. Kalau begitu mohon taruh tangan anda di alat ini.”
Wanita resepsionis itu dengan ramah mengatakan kalau tidak adanya tanda pengenal merupakan hal biasa. Sebagai gantinya dia menyuruhku untuk menaruh tangan di alat pemindai yang bisa melihat sebagian informasi status.
Status
Nama : Jaya
Umur : 17
Level : 6
Gelar :
Aku membuat status palsu saat tiba di sini dengan skill Mata Bulan agar bisa terlihat senormal mungkin. Kebanyakan orang dewasa yang kulihat, mereka memiliki level di atas 5. Hanya orang yang berumur di belasan tahun kebawah saja yang masih memiliki level di bawah 5. Aku sengaja membuat status dengan level 6 meski masih belasan tahun karena mempertimbangkan penyamaranku sebagai pedagang yang sudah biasa kesana-kemari.
Aku juga menonaktifkan beberapa efek gelar yang akan menghambat sosialisasi di sini. Efek gelar yang kunonaktifkan ialah gelar Pengecut dan gelar Kutu Loncat.
“Baiklah, bisa tunjukkan barang apa yang ingin anda jual?”
__ADS_1
Setelah mengkonfirmasi statusku, kami melanjutkan pembicaraan bisnis kami. Aku memanggil para golem dan menunjukkan barang-barang jualan kami.
“Sabun?”
Resepsionis itu seakan sedikit terkejut karena aku menjual sabun. Ayolah, ada apa dengan sabun? Setahuku sabun ini harusnya tidak ada spesial-spesialnya dari sabun yang pernah Jaya dunia ini lihat sebelumnya di Patgara. Yah… mungkin wanginya saja yang sedikit berbeda.
Resepsionis itu pun memeriksa sabun yang kami bawah. Dia coba memegangnya dan mencium baunya sampai akhirnya dia berkata.
“Mohon tunggu sebentar.”
Sambil membawa satu tipe sabun dia pergi meninggalkan kami. Tapi hanya sebentar saja, sesaat kemudian dia kembali lalu menuntun kami ke dalam ruangan tersendiri. Selama perjalanan ke ruangan tersebut, aku terpaksa harus meningkatkan kewaspadaan. Siapa yang akan menyangka kalau batang sabun saja akan membawaku ke dalam masalah.
Saat masuk ke dalam ruangan, sudah ada dua orang yang menungguku. Seorang pria paruh baya duduk di kursi mewah dengan celana panjang yang dilapisi sarung. Dia juga menggunakan berbagai aksesoris seperti kain ikat pinggang dengan motif yang rumit dan kalung serta kelat bahu bermotif yang juga terbuat dari emas.
Di belakang pria itu berdiri seorang wanita dengan rambut hitam yang di sanggul, dia menggunakan kain dan kemben. Wanita itu bagai sekretaris dari pria paruh baya yang sedang duduk. Yah… untuk penampilan luar terlihat seperti sekretaris.
Resepsionis sebelumnya hanya mengantar kami sampai ke depan pintu saja. Setelah itu wanita sekretaris yang mempersilahkan aku duduk. Sementara Fina dan para golem berdiri di belakangku.
Pria paruh baya yang sejak tadi menatap kami dengan senyum penuh arti akhirnya membuka mulutnya saat aku duduk.
“Kalian tahu bagaimana reaksiku saat mendengar ada yang menjual sabun?”
“…”
Aku hanya menatapnya diam. Menunggu apa lanjutan kata-kata pria itu.
“Kekonyolan macam apa ini! Apa pedagang tersebut tidak tahu Kerajaan Pangara itu apa? Kerajaan Pangara itu merupakan persimpangan jalur perdagangan antara kerajaan-kerajaan kepulauan dengan Kekaisaran Zhong! Semua barang dari kekaisaran utara dan kerajaan kepulauan terkumpul di sini!”
Ahh… terima kasih atas trivia-nya. Jadi apa sebenarnya yang ingin dia katakan. Pria paruh baya itu terus mengoceh. Bahkan sampai saat ini, ocehannya pun belum berhenti.
“Semua barang! Se-mu-a! Lalu dia mau jual sabun? Sa-bun? Sabun yang kualitas terbaiknya itu hanya datang dari kekaisaran utara! Secara otomatis, Kerajaan Pangara merupakan tempat penjual sabun berkualitas yang paling murah diantara kerajaan-kerajaan kepulauan! Dan pedagang itu datang menjual sabun? Hahaha…”
__ADS_1
Semakin lama telingaku semakin panas mendengar kata-kata singgungan yang sudah berbatasan dengan kata pembulian ini. Tapi sebagai orang yang ‘profesional’ aku harus tetap menunjukkan sikap yang tenang.
“Akan tetapi, reaksiku berbalik 180° saat aku memeriksa sabun yang anda jual.”