
Bagian Kepulauan Sepuluh Ribu yang kami datangi saat ini memiliki kumpulan pulau yang menurutku cukup rapat. Ini memungkinkanku untuk bisa melompat-lompat antar pulau namun yang menjadi sisi negatifnya Pulau Bulan tidak bisa melewati sisi seberang kumpulan pulau ini.
Aku berencana akan melepas 1 golem pengintai di setiap pulau. Kuota golem pengintai yang bisa aku ciptakan maksimal 40 saat ini setelah dipotong awak kapal, golem tukang di Pulau Bulan, dan kontak di Pangara.
Hanya saja sejauh mata memandang, ada lebih dari 40 pulau yang bisa kulihat saat ini. mungkin bisa lebih jika aku melihatnya dari tempat yang lebih tinggi.
Ya, mari kita kunjungi satu per satu.
“Hayuk Fina!”
“?? Ayo apa Jaya?”
Oh… kukira kamu bisa baca pikiranku terus tahu apa yang kumaksud. Fina menatapku lagi dengan bingung atas ajakkanku. Mungkin sebaiknya aku sudahi saja kecurigaan yang tak bermanfaat ini.
“Aku berencana ingin melepas golem pengintai di setiap pulau. Maukah kamu menemaniku? Nanti aku yang akan menggendon-”
“Mau!”
Aku bahkan belum menyelesaikan kata-kataku sayang. Meski baru baru mendengar kata gendong, dengan wajah yang penuh kecerahan dan semangat Fina langsung menyetujui ajakkanku. Bahkan dia langsung mengulurkan kedua tangannya seakan menungguku mendekat untuk merangkulnya.
Setelah menggendongnya dengan gaya pengantin, aku mulai berancang-ancang melompat ke pulau sebelah.
*hop*
Tinggi lompatanku mungkin bisa mencapai 70 meter untuk mencapai ke pulau sebelah. Selagi di ketinggian itu aku bisa melihat bagaimana banyaknya pulau-pulau kecil yang berkumpul di sekitar sini.
Dari jarak penglihatanku sampai cakrawala pada ketinggian ini yang mungkin jarak observasinya sekitar 30 km, semua yang kulihat merupakan pulau-pulau kecil. Jumlahnya ada ratusan pulau. Semoga diantara ratusan pulau ini terdapat ratusan dungeon juga.
Cukup sudah memikirkan pulau, lebih baik aku nikmati saja pemandangan langit sore di ketinggian ini.
Melihat matahari yang sebagiannya sudah masuk cakrawala, aku bisa menikmati pemandangan warna cahaya indah yang membentang di sekitarnya. Sentuhan oranye hangat dan kuning yang berpadu dengan warna merah jingga yang intens, menciptakan efek gradasi warna yang menakjubkan.
Melihat pemandangan yang lebih menjauh dari matahari, aku bisa menyaksikan gradasi warna perlahan berubah menjadi warna biru-langit yang mendalam. Aku juga bisa melihat lapisan awan berwarna merah dan beberapa bagian berwarna keunguan yang seakan dipantulkan oleh sinar matahari terbenam, ini menciptakan nuansa magis pada langit senja.
Menikmati semua pemandangan itu membuatku merasakan perasaan damai dan tenang. Berada di atas sini membuatku seperti merasakan bagaimana keajaiban alam yang luar biasa di depan mataku.
“Fina…”
__ADS_1
Melihat pemandangan yang ada di depanku, aku jadi ingin bertanya bagaimana pendapat Fina tentang ini.
“Iya?”
“Apa kamu menyukai pemandangannya?”
“Aku menyukainya. Apalagi saat melihatnya bersama Jaya.”
Sambil tersenyum hangat, Fina membalas pertanyaanku.
Aku juga senang melihat pemandangan ini bersamamu. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk menyudahi kecurigaanku yang tak berfaedah ini.
“Fina, akhir-akhir ini aku seakan merasa kalau kamu bisa membaca pikiranku.”
“Sungguh? Hehehe…”
Mendengar ucapanku, Fina seakan terkejut untuk sesaat kemudian tertawa dengan imut. Dia terlihat bahagia mendengar ucapanku.
Hmm… kalau respon Fina seperti ini, besar kemungkinan baca pikiran itu hanya kecurigaanku saja. Selagi masih berpikir tentang kecurigaanku itu, Fina lanjut berbicara.
Ahh… sepertinya chemistry kita sudah semakin kuat. Mungkin karena itu perasaan kita semakin terhubung dan Fina seakan bisa membaca pikiranku. Hmm… sepertinya itu juga berdampak kepadaku. Yang dulunya kulihat Fina selalu terlihat tenang, sekarang meski dia terlihat berekspresi tenang, aku seakan bisa memahami apa yang dia rasakan.
“Begitukah? Aku juga senang bisa lebih dekat dengan Fina.”
Sambil tersenyum aku mengkonfirmasi klaim Fina sebelumnya.
“Nn… tapi terkadang aku tidak bisa memprediksi apa yang Jaya pikirkan. Misalnya tadi malam, saat aku…”
Hahaha… mungkin kamu tidak bisa memprediksi pikiranku semalam karena waktu itu pikiranku kosong. Semuanya dituntun hawa nafsu saja.
“Oh ya? Apa kamu mau mencoba memprediksi lagi apa yang akan kulakukan malam ini?”
“… Jaya…”
Setelah aku goda, Fina langsung malu-malu kucing sambil wajahnya berubah menjadi sedikit memerah.
__ADS_1
*hop*
Kami mendarat di pulau seberang dengan lembut. Setelah melepas golem pengintai di 40 pulau, kami tidak melanjutkan penjelajahan ke pulau berikutnya karena ada masalah yang harus segera kami selesaikan.
“nnng… Jaya…”
“Selamat pagi, Cantik.”
“Selamat pagi, Jaya~”
Hari ini kami berencana melanjutkan penjelajahan pulau-pulau yang sempat tertunda karena urusan mendadak kemarin.
Setelah kembali ke permukaan dari Pulau Bulan dan menyelesaikan persiapan kami, kami menuju ke salah satu pulau yang memiliki dungeon berdasarkan hasil penelusuran golem pengintai semalam.
Dari hasil penjelajahan 40 pulau yang dilakukan oleh golem pengintai, hanya 1 pulau saja yang memiliki dungeon. Yah… hasilnya memang tidak sesuai ekspektasiku, kupikir bisa dapat lebih dari 5 dungeon diantara pulau-pulau tersebut namun sepertinya harapanku terlalu tinggi.
Tapi meski hanya 1, harus tetap disyukuri. Dari pada tidak ada sama sekali.
Berdasarkan informasi yang aku kumpulkan di Pangara, kepulauan ini biasanya menjadi tempat para petualang perak untuk memburu monster. Harusnya monster-monster di sekitar area ini sebagian besar memiliki level di bawah 30.
Oleh karena itu sebelum menuju pulau yang ada dungeonnya, aku memutuskan untuk melakukan persiapan dengan melepas 30 golem pengintai ke 30 pulau selanjutnya sementara 10 sisanya akan menemani kami menjelajahi dungeon ini.
Hmm… mungkin bukan menjelajah, tapi lebih membantu mengalahkan monster-monsternya. Karena seluruh area di dungeon ini sudah selesai dijelajahi oleh golem pengintai semalam.
Tapi sebelum kita masuk.
“Fina, pada dungeon kali ini aku ingin kamu menggunakan senjata yang berbeda-beda saat mengalahkan monster.”
Waktu awal bertemu Fina, dia bisa mendapatkan skill keahlian senjata belati dan keahlian bertarung tangan kosong setelah mengalahkan monster beberapa kali. Kupikir metodeku yang sebelumnya salah karena hanya menyuruhnya untuk mempraktekkan penggunaan senjata tongkat tanpa mengalahkan musuh satu pun.
Semoga saja saat Fina mengalahkan monster dengan menggunakan tipe senjata yang baru, dia bisa mendapatkan skill keahlian senjata itu.
Dungeon yang ditemukan di pulau ini berada di tengah hutan tropis yang tertutup dengan rimbunnya pepohonan. Pintu masuk dungeonnya juga tidak terlalu besar, diameternya mungkin sekitar 3 meter yang merupakan gundukkan tanah menonjol dan memiliki lubang sebagai pintu masuk dungeon. Jika diperhatikan, bentuknya bagai bisul yang pecah.
Kami pun masuk ke dalam dungeon tersebut bersama 10 golem yang berbentuk manusia sebagai pengawal kami di depan. Di dalam dungeon, lorongnya mirip dengan lorong dungeon Pulau Bulan dan dungeon tuyul sebelumnya. Setiap dindingnya memancarkan cahaya biru alami sehingga kami tidak memerlukan bantuan cahaya eksternal.
Karena keseluruhan dungeon ini sudah ditelusuri, kami tinggal mengikuti jalur tercepat untuk tiba di ruangan pemilik dungeon.
__ADS_1