
Tak lama, kepiting yang barusan ditembus oleh ujung tongkat taring naga menghilang masuk ke dalam inventori. Bergegas aku juga langsung menusuk kepiting-kepiting lainnya yang ada di sekitarku. Sampai akhirnya sudah tidak ada lagi kepiting di area ini yang bergerak.
Setelah mengalahkan semua kepiting dan memastikan dari jauh kalau Fina baik-baik saja tidak lecet sedikit pun bahkan memastikannya lagi dengan skill Mata Bulan, aku berdiri diam berpikir sambil melihat lubang yang aku buat tadi. Hmm… kok bisa?
Aku coba menusuk santai tongkat taring naga ke lantai dungeon
*Duk*
Tusukkanku tidak mengubah lantai sedikit pun.
*Duukkk*
Nanti saat aku mulai menusuknya dengan kuat barulah ujung taring naga bisa menancap di lantai dungeon.
Hmm… tak puas dengan percobaan barusan, aku mencoba menggunakan tubuhku kali ini.
*Bammm*
Meninju dengan kuat lantai dungeon, lantai tersebut seakan peot hingga membentuk lubang.
“Wow!”
Aku berseru melihatnya, padahal di dungeon tuyul yang sebelumnya, sekuat apa pun yang aku lakukan tidak akan mampu mengubah struktur dungeon selama pemilik dungeon masih hidup. Tapi sekarang aku sudah bisa mengubahnya, bahkan dungeon bisa hancur hanya dengan menggunakan kekuatan tubuhku saja dan tidak memerlukan senjata.
Apa mungkin ini karena atribut ku yang naik drastis yah? Hoho… besar kemungkinan!
Aku menatap gembira Fina yang sedang berjalan mendekatiku. Karena berkat bantuan dia juga, atribut di statusku bisa naik sampai-sampai aku bisa menghancurkan area dungeon dengan kekuatan mentahku saja.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Tidak ada apa-apa, aku gembira saja melihatmu.”
“Oh…”
Setelah menyimpan semua mantan kepiting yang di kalahkan oleh Fina dan para golem, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi pemilik dungeon. Sepanjang perjalanan, kami juga bertemu dengan kelompok-kelompok kepiting. Namun, dikarenakan perbedaan level dan atribut yang terlampau jauh, kami bisa dengan mudah mengalahkan kelompok monster kepiting otot ini.
Sampai akhirnya kelompok kami tiba di ruangan pemilik dungeon. Terlihat kepiting kuning raksasa yang jelas lebih besar dari kepiting sebelumnya dengan ototnya yang semakin mengotot.
Status
Nama : Misan Larry
Ras : Kepiting Kuning Pantai Berotot Elit
Umur : 155 Tahun
Level : 24
__ADS_1
HP : 600/600
MP : 90/90
STR: 32 INT: 6 DEX: 5 VIT: 28 WIS: 11
Skill : Sihir Bumi[Menggali Lubang(lvl.2)], Penguatan(lvl.3), Suara Perut(lvl.2), Melempar(lvl.2)
Gelar : Raja Kepiting, Pemilik Dungeon S-85s5
Yah… kekuatan pemilik dungeon ini memang lebih rendah dari sebelumnya. Tapi aku pikir kekuatan pemilik dungeon tidak mencerminkan bagaimana tingginya level dungeon. Bisa jadi meski level pemilik dungeon-nya seperti ini tapi mana yang akan kami dapatkan saat mempersembahkan inti dungeon ke pulau bulan ternyata bisa berkali-kali lipat dari sebelumnya.
*KRRRWWLLLL*
Raja kepiting itu seakan melihat kami dengan malas sambil berkata sesuatu. Dia hanya terlihat duduk santai seakan menganggap kami bukan apa-apa baginya. Yah… aku juga malas melawannya. Tidak akan mendapatkan apa-apa, exp pun tidak akan naik meski hanya 1 persen. Lebih baik aku berikan ke Fina saja.
“Fina, kamu saja yah yang melawannya.”
“Jaya saja.”
Apa dia menolak karena malas juga melawan monster itu? Atau karena tenggang hati saja? Yah kalau dia menolak karena mempertimbangkan perasaanku, aku 100% tidak tertarik melawan monster ini.
Hmm… apa sebaiknya kusuruh golem keroyok saja yah. Sepertinya akan menarik untuk ditonton bagaimana ekspresi malasnya saat ini berubah 180° saat di keroyok golem. Tapi Fina lebih butuh exp monster ini dibanding aku.
“Bagaimana kalau kita suit saja, siapa yang kalah dia yang melawan monster ini?”
Hmmm… kenapa suaranya terasa sedikit bersemangat? Selain beberapa permainan papan yang aku ketahui di bumi, aku juga mengajari Fina suit Manusia, Gajah, Semut. Ini untuk jaga-jaga jika kedepannya kita harus melakukan sesuatu tapi keduanya tidak mau melakukannya, jadi bisa ditentukan dengan suit saja.
“1… 2… 3!”
*Telunjuk*
*Kelingking*
“…”
“… curang.”
Kwkwkwkw… atribut DEX milikku yang tinggi bisa membuat persepsi di sekitarku seakan melambat, dengan begitu aku bisa mengetahui jari apa yang akan Fina keluarkan dan tinggal mengeluarkan jari lawannya.
“Silahkan yang kalah. Selamat bertarung!”
Aku berkata ke Fina sambil menggerakkan tangan kananku seakan sedang mempersilahkan Fina untuk maju melawan monster. Fina hanya menatapku sambil sedikit mengecilkan kedua matanya seakan kesal.
*wooshhh*
Sesaat kemudian dia langsung melejit cepat menuju raja kepiting sambil mengaktifkan skill tembus pandang miliknya.
__ADS_1
*slashh*
*slashh*
*KRRRWWLLLL*
Teriakan lantang raja kepiting menggema menggetarkan ruangan ini. Dia yang tadi duduk dengan malas dan santai sekarang menghentakkan seluruh kakinya karena menahan rasa sakit.
Ini semua karena Fina yang melewati bilah tajam belati ke kedua mata raja kepiting tersebut. Dua mata kepiting yang seakan menonjol keluar dari tubuhnya di tebas oleh Fina sehingga terpisah dari tubuhnya.
Selagi dia berdiri menghentakkan kaki menahan sakit, Fina yang lincah dan gesit bisa dengan mudah menghindari hentakkan-hentakkan tersebut dari bawah raja kepiting itu kemudian dia meloncat naik sambil menghunuskan ujung belati ke bagian bawah raja kepiting
*Stab*
*KRRRWWLLLL*
Bilah belati yang menusuk cangkang bagian bawah kepiting tepat di bagian ekornya masuk sepenuhnya ke dalam tubuh kepiting. Terdengar teriakan raja kepiting yang semakin lantang karenanya.
*Sraakkkk*
Fina menebas menggunakan belati yang masih tertancap di tubuh kepiting. Ini membuat bagian cangkang bawah ekor kepiting terbelah menjadi dua.
*Stab*
*Sraakkkk*
*Stab*
*Sraakkkk*
Tidak cukup sampai di situ, Fina yang kembali mendarat bergegas langsung melompat untuk mencincang seluruh bagian cangkang bawah raja kepiting sambil menghindari menghentakkan kakinya.
Sampai pada akhirnya, sang raja kepiting sadar kalau dia tidak akan bisa menyerang target yang tak terlihat ditambah lagi penglihatannya yang sudah tidak berfungsi, akhirnya dia memutuskan untuk bertahan dengan duduk menutupi bagian cangkang bawahnya yang memang lebih lembek dibanding cangkang atasnya.
Namun, itu semua sudah terlambat. Fina yang sangat gesit dengan cepat mengoyak seluruh bagian bawah raja kepiting saat dia masih berdiri sebelumnya. Terlihat banyak potongan-potongan tubuh bagian bawah raja itu sudah tersebar di sekitar tubuh utamanya. Percikan darah berwarna biru menghiasi area pertarungan.
Raja kepiting yang duduk seakan sedang melindungi bagian bawah tubuhnya sebenarnya tidak sedang melindungi apa pun.
Fina yang melihat posisi raja kepiting yang telah duduk berbalik menoleh ke arahku. Tidak hanya melihatku saja, dia juga berjalan kembali dengan tenang datang ke arahku.
Eh?? Tidak diselesaikan? Saat Fina sampai di depanku aku menanyakan apa yang baru saja kupikirkan.
“Kenapa tidak di selesaikan?”
“Sudah selesai.”
Dijawab Fina dengan tenang. Yah… memang ada benarnya juga apa yang di katakan Fina. Meski saat ini dia masih hidup, HP raja kepiting itu terus berkurang. Tinggal menunggu waktu saja sebelum HP miliknya habis sepenuhnya.
__ADS_1
Tapi kalau mati perlahan-lahan seperti ini, sakit yang dia rasakan akan semakin tinggi. Wew, kalau seperti ini, mungkin apa yang dirasakan si raja kepiting itu bercampur aduk. Ada kesakitan, penderitaan, siksaan, kesengsaraan. Mungkin serasa ingin cepat-cepat mati saja.