Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Melihat rekannya yang tiba-tiba hilang karena masuk ke dalam inventori, semut lainnya mulai berpencar menjauh dariku. Tentu saja aku tidak akan membiarkannya, para golem besi sudah berbaris hampir mengelilingi para semut. Satu-satunya arah pelarian mereka yang aman ialah kembali ke arah pintu masuk dungeon.


Aku terus menebas para semut prajurit yang ada di dekatku. Sedangkan para golem besi menghalangi arah pelarian semut. Fina yang sedang mengaktifkan skill tembus pandang miliknya menghabisi para semut prajurit yang mencoba melewati kepungan golem.


Kepungan golem semakin lama semakin kecil setelah aku perintahkan untuk membiarkan area pelarian ke arah dungeon tetap terbuka. Kupikir dengan begini para semut hanya akan fokus berlari kembali ke dalam dungeon dan tidak akan meluber sekaligus melompati kepungan golem. Dengan ini, semut yang akan melompati golem semakin sedikit karena kebanyakan akan fokus masuk ke dungeon dan Fina tidak akan keteteran melawan banyaknya semut.


*wussh*


*wussh*


*wussh*


Beberapa ratus tebasan kemudian, sudah tidak ada semut lagi yang berada di luar dungeon dan kita berhasil menguasai di pintu masuk dungeon. Para semut prajurit yang berhasil kembali ke dungeon sudah tidak terlihat lagi, mungkin mereka mau mundur sesaat untuk mengatur ulang formasi.


Selagi musuh mundur, aku menggunakan kesempatan ini dengan memungut semua mayat semut yang Fina kalahkan lalu menyimpannya ke dalam inventori. Aku juga mengambil tanaman liana sebanyak-banyaknya, mempertimbangkan besarnya dungeon, ada kemungkinan cara kita untuk melarikan diri dari dungeon seperti yang sebelumnya tidak akan bisa dilakukan di sini.


Dari 26 golem besi yang sangat berjasa menghalangi para semut prajurit, aku membatalkan sihir satu golem untuk membuat golem yang baru. Aku membuat satu golem besar dari batu yang luasnya setara dengan pintu masuk dungeon ini, yang kalau aku perkirakan diameter pintu masuk dungeon ini sekitar 30 meter. Dengan selesai diciptakannya golem setinggi 30 meter, TB kita untuk dungeon ini sudah disiapkan.

__ADS_1


Selanjutnya aku membatalkan sihir 10 golem besi lalu menciptakan golem kecil dari pasir yang mirip dengan kumbang macan. Bentuk golem yang selesai diciptakan cukup kecil mungkin hanya beberapa sentimeter saja, untuk seukuran serangga kecil dia juga cukup gesit. Golem-golem kecil ini akan aku gunakan sebagai pengintai di depan.


Selesai mengirim para golem pengintai, kita menyusul dengan santai dari belakang dengan formasi satu golem batu TB yang paling depan diikuti 15 golem besi lalu yang paling belakang aku dan Fina. Dinding dungeon ini agak berbeda dari sebelumnya, kalau dungeon yang sebelumnya di dindingnya terdapat cahaya-cahaya alami berwarna biru, dungeon ini gelap gulita tidak ada pencahayaan apapun. Untungnya aku masih bisa melihat berkat Mata Bulan, namun karena Fina tidak, jadi beberapa golem besi membawa obor sebagai pencahayaan.


Sudah beberapa menit kita berjalan di dungeon ini tapi kita belum berpapasan dengan semut satu pun. Jadi selagi senggang dan hanya berjalan santai menelusuri dungeon, aku menyambungkan tanaman liana untuk dijadikan tali yang panjang.


Sambil membuat tali, aku juga memperhatikan apa yang sedang dilakukan golem pengintai. Semakin dalam golem pengintai menjelajah, semakin banyak cabang-cabang dungeon. Kupikir tempat ini sudah seperti kota besar semut, tidak mungkin kita bisa menelusurinya hanya dalam satu hari saja. Cara paling efisien agar bisa menyelesaikan dungeon ini hanya dalam satu hari yaitu langsung memburu pemilik dungeon lalu mengambil inti dungeon dan cepat-cepat kabur dari sini.


Kalau sudah seharian tapi tidak kunjung menemukan inti dungeon terpaksa kita pulang saja kembali ke Pulau Bulan. Aku juga ingin cepat-cepat untuk pergi ke kota membeli berbagai barang di sana. Pikir-pikir tentang kota, aku jadi teringat bagaimana para petualang yang datang kemari bersama Jaya pemilik asli tubuh ini yang dulu.


Jaya pemilik tubuh ini lahir dan besar di Kerajaan Patgara yang berada di selatan tempatku saat ini. Kalau aku kembali sekarang dan menceritakan tentang apa yang sudah terjadi dan bagaimana pemandu dari Kerajaan Gagara menipu rakyat Kerajaan Patgara bahkan sampai mengorbankan bangsawan Patgara, apa kira-kira mereka akan percaya yah kata-kata Jaya yang hanya petualang dengan tingkat paling rendah? Hmm… Besar kemungkinan tidak.


“aha!” ucapku, selagi memikirkan berbagai hal sambil membuat tali, akhirnya salah satu golem pengintai melihat kumpulan semut. Dari yang terlihat, sepertinya para semut prajurit sedang mengarahkan semut-semut pekerja ke suatu tempat. Tidak lama setelah itu, golem pengintai lainnya yang berada di cabang jalan yang lainnya juga melihat pemandangan yang serupa. Sepertinya mereka sedang melakukan evakuasi?


Golem pengintai aku tugaskan untuk membuntuti mereka. Jika arah evakuasinya ke inti dungeon, kita bisa sampai ke tujuan dengan cepat! Namun, pemikiranku yang barusan itu langsung hancur. Sayang seribu sayang apa yang aku harapkan tidak sesuai. Salah satu golem pengintai yang mengikuti semut malah menemukan pintu masuk lain dungeon ini. Para semut sepertinya memutuskan untuk meninggalkan dungeon. Hmm… kenapa mereka dengan mudah memutuskan untuk meninggalkan dungeon? Apa mereka pikir kelompok kami terlalu kuat? Yah.. dari pada memikirkan hal yang tak pasti, lebih baik aku mengahlikan fokus ke golem pengintai lainnya.


Dari penglihatan golem pengintai, ada beberapa kelompok semut yang pergi meninggalkan dungeon dan ada yang pergi masuk lebih dalam. Perilaku mereka terlihat janggal bagiku, kenapa mereka memisahkan diri yah?

__ADS_1


“Apa ada yang salah?”


Sepertinya kebingungan yang aku rasakan terlihat jelas di wajahku sehingga Fina bertanya kalau ada sesuatu yang salah, jadi kujawab.


“Ada yang aneh, para semut dengan mudah memutuskan untuk meninggalkan dungeon. Bukan hanya itu, mereka juga terpisah, ada yang pergi meninggalkan dungeon, yang lainnya malah berjalan lebih dalam ke dungeon. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan.”


Mendengar jawabanku, Fina hanya diam saja. Dia sepertinya tidak mengetahui juga apa yang sedang dilakukan para semut. Karena fokus kita sekarang ingin mendapatkan inti dungeon, aku memutuskan untuk tidak mengikuti lagi para semut yang sudah meninggalkan dungeon. Kualihkan para golem pengintai untuk terus menelusuri dungeon saja. Semakin banyak yang menjelajah, semakin cepat kita menemukan inti dungeon.


Beberapa saat pun berlalu, aku dikejutkan oleh sesuatu yang tidak disangka-sangka.


“Wow!”


“Ada apa?”


“Aku sudah menemukan inti dungeon!”


Ya! Salah satu golem pengintai berhasil menemukan inti dungeon bersama dengan pemiliknya. Padahal golem pengintai yang menemukan inti dungeon tidak mengikuti para semut yang masuk lebih dalam ke dungeon, dia hanya menelusuri cabang-cabang dungeon ini saja dari awal.

__ADS_1


“Ayo kita segera pergi!” ajak ku.


Selagi kita dalam perjalanan ke inti dungeon, golem pengintai yang kubuat sepertinya sudah terdeteksi oleh pemilik dungeon. Sang pemilik dungeon menyerang golem pengintai yang meskipun golem itu gesit, tidak bisa menghindari cakupan serangan pemilik dungeon yang luas. Pandangan terakhirku melalui golem pengintai ialah bagaimana pemilik dungeon menyemprotkan cairan asam dari ekornya ke arah golem pengintai.


__ADS_2