
Aku berlari maju mendekati Fina sambil melancarkan serangan pertama. Kuayunkan tangan kananku memukul lurus tepat ke arah perut Fina.
*woosh*
Suara udara yang terpecah karena kecepatan dan kekuatan tinju yang kuluncurkan nyaring terdengar di telingaku.
Fina yang sedari tadi telah menunggu serangan awalku dengan lincah menghindari tinjuku dengan memindahkan kakinya selangkah ke belakang sambil masih terus menghadapku. Dengan hindarannya, tinjuku hanya memecah kumpulan udara tempat Fina berdiri sebelumnya tidak menggapainya sama sekali.
Seakan melihat celah dari seranganku, dengan gerakan yang begitu cepat seperti kilat, Fina bergerak maju dengan satu langkah hingga bisa melintasi tubuhku sampai-sampai jarak kami menjadi sangat dekat dalam sekejap. Fina mengeluarkan serangkaian pukulan seakan ingin menghujaniku.
Dengan kecepatan yang luar biasa, tangan Fina bergerak mengirim pukulan ke arahku. Tangan kanan fina meluncur tepat ke perut kiriku.
*Buakk*
Terdengar bunyi lantang karena tabrakan kepalan tangan Fina dengan tubuhku. Memang aku tidak merasakan sakit. Tapi tetap saja pukulan Fina dihitung masuk.
*Buakk*
Ternyata tidak sampai di situ saja. Setelah menyerang perutku, tangan kiri Fina dengan gesit menyambar rusuk kananku. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal yang tak perlu tentang sakit atau tidak sebelumnya. Begini aku bisa lebih fokus.
*Paaaakkkk*
Tamparan Fina bagai petir mendarat ke pipi kiriku. Sialan, seharusnya aku fokus saja tak perlu pikir alasan ini itu.
*Wooshh*
Dengan cepat aku langsung melompat jauh ke belakang. Karenanya aku bisa menghindari tendangan samping yang baru saja Fina luncurkan.
Hmmm…
!?
Seakan menyadari kalau aku sedang melamun, dengan cepat Fina melesat mendekat ke arahku. Saat tiba di depanku, dengan elegan dia mengayunkan sikunya menargeti rahang bawah milikku.
Heh! Kamu blunder, nak!
*Buakk*
Kecepatan siku yang seakan memecah tembok suara mendarat di rahang bawah sebelah kiriku. Tapi aku tidak gentar, dengan lapang dada kuterima serangan Fina mentah-mentah.
Tapi tidak dengan cuma-cuma kuterima serangan siku Fina. Dengan menyerangku menggunakan siku, menyebabkan jarak tubuh Fina lebih dekat denganku.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, kuterima serangan tersebut sambil memeluk pinggang Fina dengan tangan kiriku lalu menariknya hingga kedua tubuh kita bersentuhan.
“!?”
Aku bisa melihat ekspresi terkejut Fina saat aku memeluknya.
Sambil memeluknya erat dengan tangan kiri, kusentil pelan jidat Fina dengan tangan kanan.
“Awh!”
Sambil masih mengusap dahinya karena sentilanku, Fina menatapku dengan ekspresi keheranan tak terduga sambil matanya penuh kebingungan yang mendalam. Alisnya mengernyit dalam keraguan menciptakan kerutan di dahi yang sedang diusapnya. Bibirnya juga sedikit terbuka seperti terkejut dan tidak percaya atas apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Dia menatapku seakan aku orang yang curang.
“Fina kamu kalah. Jangan lupa berikan aku pertunjukan yang menarik sebentar yah~”
Dengan nada dan gaya yang santai sambil sok keren, aku langsung mengklaim kalau aku pemenang taruhan ini. Ini untuk jaga-jaga sebelum Fina mengatakan kalau aku curang.
“…”
Selama belasan detik Fina terdiam menatapku dengan ekspresi serius seakan sedang merumuskan pernyataan kemenanganku.
*nod*
“… Ng.”
Kemudian sambil menganggukan kepala, dia menyetujui klaim yang kubuat.
Yes! Aku bisa melihat pemandangan indah malam ini. Hm... hm… memang jika mendapatkan sesuatu dengan ‘berusaha’, akan terasa sangat bahagia saat itu tercapai.
Fina mungkin merasa dicurangi karena aku menang taruhan tanpa menggunakan teknik melainkan menggunakan levelku. Saat aku melompat ke belakang menghindari tendangannya, aku jadi terpikir. Kalau aku ingin memenangi taruhan ini, aku bisa dengan mudah melakukannya dengan menggunakan levelku.
Serangan fisik Fina tidak membuatku terasa sakit. Dengan begitu aku bisa menjadi samsak saja sambil menunggu kesempatan. Dan beruntungnya, kesempatan itu datang sebelum aku menjadi samsak saat dia menyerangku dengan serangan siku.
Tapi, aku berjanji dalam hati kalau akan menggunakan levelku hanya untuk pertaruhan kali ini saja. Kalau terus-menerus nanti teknik bertarungku tidak akan berkembang.
Hmm… sepertinya aku juga harus membuat kaos couple pas ada waktu luang. Untuk menebus ‘kecuranganku’ di pertaruhan ini.
*clak*
*clak*
*clak*
Saat ini Fina sedang sibuk mengaduk nasi kuning agar bisa matang merata. Sementara aku sedang memandangnya dari belakang.
Dua bakpao montok di bawah yang bergoyang-goyang kecil saat sedang mengaduk nasi membuat pikiranku juga ikut bergoyang-goyang.
*clak*
Selesai mengaduk nasi, Fina menutup kembali panci tersebut.
*wush*
*wush*
Setelah mengaduk, sekarang Fina melanjutkan mengipas sate ayam yang sedang dibakar.
!?
“Eh!?”
Tumpah.
Aku bahkan sampai bersuara karena terkejut melihatnya.
Saat sibuk mengipas sate dengan tangan kanannya, bukit sebelah kanan Fina tumpah keluar dari celemek hingga menampilkan puncak merah mudah.
__ADS_1
Secepat kilat Fina langsung merapikan kembali celemeknya kemudian melihatku dengan tatapan penuh dakwaan.
“Jaya…”
“Ya? Ada apa Fina?”
Tatapan dakwaan Fina kubalas dengan tatapan polos seperti anak kecil yang tidak mengetahui apa pun.
“…”
“…”
“… kamu melihatnya.”
*wush*
*wush*
Setelah menatapku beberapa detik, dia mengangguk kecil seakan sudah yakin kemudian menyimpulkan kalau aku melihatnya. Setelah itu dia melanjutkan lagi mengipas sate dengan ekspresi puas.
Hadeh, aku memang melihatnya. Tapi kalau dia bisa menebaknya seperti ini, itu berarti wajah sok suci atau poker face yang akan aku gunakan nanti akan lebih mudah dia ketahui. Ah! Atau bahkan dia sudah bisa membedakan ekspresiku.
Hmm… setelah dipikir kembali mungkin bukan dari ekspresiku, kemungkinan terbesar Fina bisa menyimpulkannya karena suara yang kukeluarkan saat terkejut tadi.
Tapi sepertinya aku harus lebih sering melatih ekspresi wajahku. Aku harus cepat-cepat membuat cermin setelah keenam bangunan selesai.
*tak*
*tak*
Selesai memasak, saat ini Fina sedang sibuk menaruh makanan sambil mengatur meja makan. Sementara aku hanya duduk menghadap meja makan sambil sibuk memperhatikannya.
“Eh! Tidak perlu di lepas celemeknya, pakai saja sampai kita selesai makan.”
Setelah selesai mengatur meja makan, Fina sudah berancang-ancang mau melepas celemek dengan mengambil kain sarung sebagai pakaian gantinya. Untung saja aku sigap menahannya sehingga dia melepas kembali kain sarung tersebut.
Memang taruhan kami untuk pakai celemek hanya sampai memasak saja. Tapi kalau dia tidak keberatan kan tak apa-apa. Hoho…
Fina pun duduk di meja makan berhadapan denganku masih menggunakan celemek.
Melihatnya memasak sendiri untuk pertama kali, membuatku semakin terpikat. Aku jadi ingin memanjakannya.
Hmm… apa sebaiknya aku suapi dia yah…
*drukk*
Terdengar suara kursi yang bergeser ke belakang karena doronganku waktu berdiri. Kemudian aku berjalan mengitari meja makan sampai ke samping Fina.
“??”
Sejak aku berdiri, Fina hanya menatapku dengan penuh pertanyaan sampai saat aku tiba di sampingnya.
Aku pun mengulurkan kedua tanganku ke arah Fina kemudian mengangkatnya. Dengan semua yang sudah kulakukan, Fina masih terus menatapku dengan penuh tanya.
Setelah dia berdiri dari kursi aku yang gantian duduk di kursinya kemudian memangkunya.
__ADS_1
“Aku mau menyuapimu makan malam ini.”
Setelah kukatakan tujuanku, Fina yang sebelumnya menatapku heran, kini berubah menatapku hangat.