
Para semut yang telah pulih dari kebingungan karena serangan batu yang tiba-tiba mulai menghadap ke arah kami. Aku yang sudah mendarat menginstruksikan para golem besi untuk berbaris membuat formasi garis pertahanan agar bisa menahan serbuan musuh yang akan segera tiba.
Disela golem sedang membuat formasi bertahan, aku meremukkan lagi batu-batu untuk dijadikan amunisi. Setelah amunisi disiapkan aku melompat lagi untuk melakukan serangan selanjutnya.
Terlihat dengan jelas saat di ketinggian bagaimana pengaruh serangan pertamaku. Banyak tanah yang berlubang akibat benturan batu yang kulempar, terdapat juga cairan-cairan berwarna hijau yang berasal dari tubuh semut menggenangi lubang dan area sekitar dungeon.
Terlihat juga sebagian semut mulai berkumpul sambil menghadap ke arah kami dan membuat formasi menyerang. Para semut ini terlihat dikomandoi oleh semut-semut prajurit untuk membuat formasi. Semut yang sudah berkumpul membentuk formasi embolon yang berbentuk V. Sepertinya mereka ingin menerobos para golem kemudian menyerang golem setelah terpisah.
Di belakang barisan formasi semut, terlihat beberapa semut sedang membantu semut-semut yang terluka. Aku kagum melihat mereka, aku tidak tahu pasti bagaimana perilaku semut di Bumi saat rekan mereka terluka, entah akan mereka biarkan saja atau akan dibantu. Tapi di sini, aku bisa merasakan solidaritas para semut meski aku merupakan musuh mereka.
Ada semut yang capitnya patah sedang ditenteng rekannya. Ada semut penolong yang menggendong semut yang terluka parah di punggungnya meski semut yang terluka itu lambungnya bocor hingga terus mengeluarkan cairan hijau sampai membasahi semut yang menolong. Ada juga semut yang membantu mengangkat bagian dada semut terluka sebagai sandaran karena kaki-kaki depan semut yang terluka itu sudah tidak menempel lagi ditubuhnya.
Terlihat semut-semut yang terluka itu akan di bawah masuk kembali ke dalam dungeon. Tapi tidak semudah itu Ferguso.
*dum*
*dum*
*dum*
Serpihan batu yang tersimpan di inventori aku keluarkan lalu kulempari mereka. Serangan keduaku difokuskan untuk para semut yang berada di garis belakang yang isinya semut penolong dan semut yang terluka. Seperti sebelumnya, aku berhasil melakukan banyak lemparan sebelum kembali mendarat.
Karena posisi semut-semut digaris belakang cukup terpencar, sebagian kecil dari mereka lolos dari serangan kedua. Tapi aku belum menyerah, kuputuskan untuk menargetkan barisan belakang lagi sampai musnah.
Melompat lagi untuk yang ketiga kalinya, kulempari semut-semut yang tersisa pada barisan belakang. Pada lompatan yang ketiga, keseluruhan barisan belakang semut yang sedang membantu para korban luka telah musnah.
Melihat bagaimana rekan-rekan mereka telah musnah di depan mata, bukannya ciut, para semut yang telah selesai membuat formasi menyerang di barisan depan malah terlihat semakin ganas.
__ADS_1
Mereka semua menghadap ke arahku yang sedang berdiri di belakang barisan golem besi. Terlihat bagaimana kepala mereka berwarna semakin hijau seakan-akan mirip dengan manusia yang sedang marah sampai merah kepalanya.
Dengan para semut yang melihatku seperti itu, aku mencoba terlihat sok tenang dengan melihat mereka tanpa emosi sambil menyilangkan tangan. Semoga saja di mata mereka aku terlihat seperti bos besar yang dingin dan kuat. Bukan orang yang sedang mengantuk.
*critt*
*critt*
Terdengar teriakan para semut. Selesai teriakan itu, para semut maju menyerbu. Dengan para semut pekerja di bagian depan formasi embolon dan semut-semut prajurit di belakangnya.
Dengan dimulainya serbuan mereka, tanah mulai bergetar seperti sedang gempa. Dan selama menyerbu, sebagian besar tatapan mereka mengarah kepadaku. Aku tetap menyilangkan tangan dan menatap mereka dengan dingin tak bergerak sedikit pun untuk menyatakan kalau aku tidak gentar dengan itu.
*bruakkk*
Barisan semut menabrak barisan golem. Para golem besi cukup tangkas untuk menahan semut-semut itu. Tapi karena jumlah semut yang lebih banyak daripada golem, semut-semut yang berada di barisan belakang formasi menggunakan rekan mereka yang sedang ditahan golem sebagai pijakkan untuk melompat.
Beberapa semut telah melompati barisan golem. Jarak mereka denganku saat ini sekitar lima meter dan aku bisa melihat dengan jelas tatapan mereka dari dekat sini. Kepala mereka yang berwarna hijau seakan-akan sudah berasap dan mau mendidih karena melihatku dari dekat. Aku bisa merasakan emosi yang para semut pancarkan dari mata mereka yang terlihat ingin mengoyak ku dengan capitnya. Namun, Aku tetap diam saja tidak bergerak sedikit pun sambil menatap mereka dengan dingin.
*slit*
*slit*
*slit*
*bukk*
Tiga semut yang paling depan tiba-tiba berhenti bergerak. Tak lama kemudian keluar semprotan cairan hijau dari leher mereka lalu kepala mereka jatuh terpisah dari tubuhnya.
__ADS_1
Fina yang sudah dari tadi berdiri di sampingku dan kuhiraukan meski dia terus menatapku dengan penuh tanya karena sikapku yang tiba-tiba berubah akhirnya bergerak.
Sebelum aku menyerang pertama kali, Fina sudah mengaktifkan skill tembus pandangnya, ini membuat semua perhatian semut hanya mengarah kepadaku dan para golem. Saat para semut mulai melompat dan menembus pertahanan golem, Fina langsung maju dengan lincah menggunakan belati membelah kepala semut dari badannya.
Dengan sikapku yang sok-tenang berhasil merebut perhatian para semut hingga mereka hanya berfokus kepadaku, mereka tidak menyangka kalau ada hal lain yang akan menjadi penghalang antara mereka dan diriku.
Tidak hanya sampai di tiga semut terdepan saja, dengan kepiawaiannya menggunakan belati, Fina langsung menyerang lagi para semut tanpa menunggu mereka sadar dari kebingungannya atau menunggu mereka mengambil nafas untuk bersiap.
*slit*
*slit*
*slit*
*bukk*
Fina menyerang para semut seperti sedang membagi anatomi mereka. Tiap serangan belati miliknya selalu menyasar bagian kecil yang menyambung anggota tubuh semut. Belati yang dituntun olehnya membelah antara kepala dan dada semut atau antara dada dan perut semut.
Pikirku bagian-bagian tersebut seharusnya lebih keras dibandingkan perut atau lambungnya yang terlihat mudah bocor jika ditusuk. Kemudahannya membelah semut mungkin karena skill penguasaan belati miliknya yang sudah mencapai level lima hingga dia bisa menggunakan belati seoptimal mungkin.
Saat semut yang berhasil melompati barisan golem mati, muncul kelompok semut baru yang berhasil melompat. Tanpa ragu Fina langsung menghadapi kelompok semut yang baru mendarat tersebut. Semut-semut itu tidak tahu kalau ada dinding besar tak terlihat antara aku dan mereka yang bernama Fina.
Mereka yang baru saja mendarat seperti terlihat bingung. Bagaimana tidak, saat mendarat satu-satunya orang yang sedang berdiri yang bisa dilihat oleh mereka hanyalah aku. Sedangkan rekan-rekan yang sudah mendarat sebelum mereka hanya tergeletak digenangi cairan hijau dengan bagian-bagian tubuh yang terpisah.
Fina tanpa menunggu langsung membelah mereka yang baru tiba. Dengan tangkas hal ini dia lakukan terus menerus sampai akhirnya muncul tipe musuh baru. Semakin tipisnya barisan, semakin dekat juga giliran mereka untuk melompati barisan golem.
Sampai pada akhirnya muncul kelompok Semut Prajurit. Delapan semut prajurit mendarat di depanku. Masih sama dengan sebelumnya, aku masih belum bergerak sesentipun dari posisi awalku. Dengan tangan yang masih di~~~~silangkan di dada aku melihat mereka dengan dingin.
__ADS_1