
“Permukaan tanah sudah terlihat, aku akan segera mengambil inti dungeon ini. Bagaimana mengambil inti dungeon ini? Apakah aku hanya perlu mengambil batu menhir itu?”
“Batu menhir itu tidak akan bisa dicabut. Kamu harus menghancurkan batu itu. di dalam batu ada bola besar, itulah inti dungeon-nya.”
“Baiklah.”
Dengan semua golem sudah berada di posisi untuk menjadi pijakkanku ke permukaan, aku bergegas ke arah batu menhir kemudian kutinju.
*Bamm*
*Crack*
*Brukk*
Sebagian batu hancur dan bola sebesar bola kaki terguling ke arahku. Saat memakai skill Mata Bulan, bisa ku pastikan kalau bola ini merupakan inti dungeon. Aku memegang bola tersebut lalu menyimpannya di dalam inventori.
Tak berselang lama gua ini langsung bergetar. Aku seperti berada di pusat gempa bumi yang dahsyat. Sepertinya hanya dalam hitungan menit tempat ini akan runtuh. Aku langsung berbalik menghadap Fina yang selalu mengikutiku di belakang kemudian menggendongnya seperti gendongan pengantin dengan tangan kananku di punggungnya dan tangan kiriku di kakinya.
“Fina pegangan di pundakku agar tidak terjatuh.” Karena kita akan berlari sambil melompati golem yang akan menjadi pijakan sebaiknya dia berpegang erat agar tidak terjatuh.
“…” Tanpa bersuara Fina mengalungkan tangannya di leherku.
Aku berlari ke arah tengah ruangan lebih tepatnya ke golem-golem yang akan menjadi pijakkan kemudian melompati golem-golem tersebut.
*Hap* Akhirnya kita tiba di permukaan.
Gempa masih sangat terasa dan suara-suara tanah yang runtuh juga terdengar. Aku berlari menjauhi lubang ke arah pantai tempat gubuk kita berada.
Sesampainya di gubuk langit sudah sore. Sepertinya kegiatan hari ini cukup sampai di sini saja. Aku menurunkan Fina dari gendonganku dan bertanya keadaannya.
“Kamu baik-baik saja kan selama aku menggendongmu?”
“Iya, Aku baik-baik saja. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Fina bertanya apa yang akan kita lakukan. Rencananya aku ingin membuat makanan saja setelah kita membersihkan diri. Karena aku sudah bosan dengan ikan, aku ingin coba memakan kasuari besi yang jumlahnya ada ratusan di inventori. Semoga saja rasanya mirip dengan unggas yang ada di bumi.
“Kita membersihkan diri saja dulu setelah itu kita memasak bersama.”
“Bolehkah? Ini pertama kalinya kamu mengajakku, biasanya kamu sendirian yang memasak.”
__ADS_1
Fina terlihat senang karena ajakkanku. Melihat skill-nya yang tidak kusangka-sangka saat menggunakan belati, Siapa tahu dia juga ternyata ahli dalam memasak.
“Aku ingin membuat kasuari bakar. Aku tidak tahu apa dagingnya akan enak atau tidak jadi kita buat untuk porsi makan malam ini saja.”
Alat masak dan rempah-rempah kita terbatas. Malahan aku tidak mempunyai alat masak apa pun. Aku mengeluarkan potongan dada kasuari yang Fina bunuh tadi kemudian kita berdua membersihkan potongan tersebut.
Setelah bersih potongan itu kita lumuri dengan air jeruk nipis dan garam. Hanya itu saja bahan makanan yang aku punya saat ini.
Sehabis dilumuri kita tunggu beberapa saat kemudian dagingnya kutusuk dengan batang dan dibakar. Sepanjang membuat kasuari bakar, pergerakan Fina biasa saja. Dia hanya mengikuti apa yang kulakukan dan saat aku melihat statusnya dengan mata bulan, tidak ada skill yang muncul.
Hmm… apa harus tunggu kasuarinya matangkah? Aku kembali fokus ke daging kasuari yang sedang di bakar. Sekarang kita tinggal bolak-balik saja daging itu sampai matang.
Aroma daging yang matang bercampur dengan aroma jeruk nipis mulai tersebar. Hmm~ sepertinya mau matang. Sesaat kemudian aku berkata.
“Sepertinya sudah matang, aku akan segera mengangkatnya.” Kuangkat kedua daging kasuari itu dan salah satunya kuberikan ke Fina.
“Selamat makan!”
“Selamat makan”
Kesan pertamaku saat menggigit daging itu ialah kering. Untuk dagingnya, teksturnya padat dan lembut, rasa dagingnya gurih mirip seperti daging bebek dan juga aku bisa merasakan citarasa ‘liar’ dari daging ini.
Karena kurangnya minyak, daging ini terasa kering. Saat dibakar, minyak yang keluar dari dagingnya hanya menetes ke pasir. Bagusnya ditambah minyak, tapi sayang aku tidak punya minyak yang bisa digunakan untuk memasak.
“…”
*puk* Kutepuk jidat.
‘Minyak’, juga disebut ‘minyak kelapa’, ‘kelapa’. Padahal ‘kelapa’ itu ada disepanjang mata aku memandang. Meskipun umumnya terbuat dari kelapa sawit, tapi ada juga yang dibuat pakai kelapa. Hah… pulang dari sini aku harus membuat minyak kelapa.
“Kenapa kamu terlihat kecewa?” Sepertinya Fina memperhatikanku saat aku menyesali tentang minyak kelapa.
“Ada bahan makanan yang lupa aku buat, yang bisa menambah kenikmatan makanan ini.”
“Oh, tapi menurutku makanan ini sudah cukup enak.”
“Tapi kalau ditambah bahan minyak kelapa akan lebih enak.”
__ADS_1
“Benarkah? Kalau begitu nanti kita tambahkan ya.”
“Aku akan membuatnya setelah kita kembali ke Pulau Bulan.”
*cit-cit-cit\~*
Aku membuka mata, suasana pagi yang cerah bisa terlihat dari posisiku yang masih tidur di dalam gubuk saat ini. Saat aku menoleh ke kanan ke arah Fina, dia masih menutup mata terlelap menghadap ke arahku. Sepertinya aktivitas kemarin melelahkan baginya, bagaimana tidak, dia membantai ratusan burung kemarin.
Ini hari ketiga kita sampai di kepulauan ini. Dari tiga pulau, baru satu pulau saja yang selesai. Meskipun jarak dari ketiga pulau ini tidak terlalu jauh dari Pulau Bulan, aku sebaiknya menjelajahi pulau berikutnya dengan lebih cepat.
Selagi menunggu Fina bangun, aku membakar beberapa kasuari untuk dijadikan bekal nanti. Saat sedang membakar kasuari, Fina keluar dari gubuk kemudian berjalan menuju ke arahku.
“Selamat pagi”
“Selamat pagi. Aku dibangunkan oleh bau makanan yang sedang kamu buat. Kenapa tidak membangunkanku?”
“Kenapa harus membangunkanmu? Tidurmu sangat pulas tadi.”
“Oh..” Balas Fina tampak sedikit kecewa.
“Kenapa?” Tanyaku heran.
“… aku juga ingin memasak.” Ahh… sepertinya Fina punya minat memasak.
“Baiklah, ke depannya aku akan mengajakmu.”
Selesai memasak, aku mengemas gubuk lalu mengeluarkan perahu dan berangkat ke pulau kedua. Gubuk yang kubuat kali ini portable sehingga bisa di angkat ke sana kemari.
Suasana pulau kedua tidak berbeda jauh dengan yang pertama. Pohon kelapa di pesisir pantai dan pepohonan yang lebat ke dalamnya. Aku menciptakan 34 golem tanah kemudian pergi menjelajahi pulau ini.
Tidak seperti sebelumnya di mana aku hanya duduk menunggu, kali ini aku dan Fina juga ikut menjelajah. Selagi menjelajah, sesekali kita bertemu dengan kasuari besi dan juga bijih besi.
Level kasuari besinya mirip dengan pulau yang pertama, jadi bisa dengan mudah dikalahkan oleh Fina. Kalau kasuarinya dekat dengan lokasi kita menjelajah, aku memerintahkan golem membawanya ke tempat kita untuk diberikan ke Fina. Jika jauh aku memerintahkan golem yang mengalahkannya.
Mengalahkan musuh dengan golem juga memberiku exp, jadi ke depannya aku bisa rebahan sambil menyuruh golem yang mengalahkan musuh bagai kuda.
Selesai menjelajah, kita tidak menemukan dungeon di pulau ini. Meskipun tidak ada dungeon, penjelajahan di pulau ini tidak sia-sia. Karena kita mendapatkan makanan baru untuk menambah cita rasa di tempat entah-berantah ini.
__ADS_1