Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Enam Puluh Dua


__ADS_3

“Saya hanya kenal langsung dengan orang tua penghuni ruangan tersebut. Dari yang saya ketahui penghuni ruangan itu merupakan anak tunggal dan calon pewaris yang sangat mereka sayangi. Dari kabar yang saya dengar dia merupakan orang yang pintar dan bijak namun agak tertutup.”


Hmm… dari pantauanku memang terlihat seperti yang nona sekretaris katakan. Hanya saja embel-embelan yang calon pewaris itu bawa malah yang akan memerosokinya.


“Nona sekretaris ingin membangun koneksi dengan pewaris keluarga tersebut?”


“Jika ada kesempatan saya tertarik berkenalan dengan ahli waris Marquis Warjadeva.”


Sepertinya lebih baik aku yang pergi kesana duluan sebelum mereka yang pergi mencariku. Jika mereka yang pergi mencari, ada kemungkinan akan diterkam Fina terlebih dulu saat mereka keluar dari sini.


“Kalau begitu anda beruntung! Silahkan tuntun kami ke ruangan mereka nona sekretaris.”


Sekretaris mengangkat kepalanya menatapku dengan bingung untuk sesaat setelah mendengar perintahku. Tapi dia tidak mempertanyakan perintahku dan langsung berbalik menghadap pintu keluar dan bersiap menuntun kami kesana.


Fina yang masih di pangkuanku aku turunkan lalu memakai kembali topeng. Aku mengeluarkan sebuah item dari inventori lalu dibungkus dengan kain kemudian item itu aku perintahkan kepada golem untuk membawanya.


Kami pun keluar dari ruangan di tuntun oleh sekretaris. Tapi hanya dua golem saja yang terlihat dituntun sekretaris karena aku meminta Fina untuk membuatku menghilang juga sambil menggandeng tangannya.


Saat kami berjalan di lorong menuju ke ruangan nomor lima, terlihat beberapa orang mulai keluar dari ruangan pribadi mereka. Melihat banyaknya aksesoris dan bagaimana detail motif pakaian yang mereka gunakan, sangat terlihat jelas setinggi apa status sosial orang-orang tersebut.


Sambil berjalan melihat-lihat lorong yang mulai ramai, akhirnya kita sampai di depan ruangan nomor 5.


*tok-tok*


Setelah beberapa kali mengetuk, sekretaris membuka pintu tersebut.


Saat menatap ke dalam ruangan, terlihat sekelompok orang yang sedang sibuk berdiskusi tiba-tiba berhenti dan melihat dengan tatapan kesal ke arah pintu. Namun sayangnya saat pintu dibuka tidak terlihat siapa pun di sana. Sekretaris yang membukakan pintu, bersembunyi di balik daun pintu sementara para golem berada di belakangnya.


*wosshhh*


Dengan cepat aku bersama Fina berlari dan memukul pelan tengkuk leher orang-orang yang berada di dalam ruangan. Aku membuat pingsan hampir semua orang yang berada di dalam ruangan kecuali satu orang.


*dukk*


*dukk*


*dukk*


Ruangan tersebut dipenuhi oleh suara tubuh yang jatuh ke lantai. Saat semuanya selesai, terlihat beberapa tubuh terbaring di lantai ruangan sementara pintu ruangan sudah tertutup dan sekretaris sedang berdiri seakan menjaga pintu tersebut.


Aku juga menginstruksikan satu golem untuk berjaga di luar sementara golem lainnya menjaga jendela.

__ADS_1


“Selamat siang, yang mulia Paramita Warjadeva.”


Agar menambah rasa misterius dan supaya terlihat lebih keren, aku muncul dari belakang sang pewaris dan memberinya salam. Tidak lupa juga aku mengenakan topeng dan memakai skill Suara Perut sebagai bumbu tambahan agar lebih ‘misterius’.


“Kalian siapa!? Kenapa kalian menyerang kami?”


Pewaris terkejut mendengar suara yang muncul tiba-tiba dari belakangnya dan langsung membalikkan badan menghadapku. Pewaris mengenakan kain sarung dan kemben hitam dengan motif emas, dia juga menggunakan berbagai aksesoris yang terbuat dari emas. Rambutnya berwarna hitam yang di konde sehingga terlihat elegan.


“Kami melakukannya demi kebaikan mereka. Anda tahu sendiri apa yang sedang mereka rencanakan bukan.”


“Jadi kalian… apa kalian sadar kalau kalian telah menyerang keluarga bangsawan!?”


Seakan sudah paham siapa kami, pewaris mencoba menggunakan kartu status sosialnya.


“Kami hanya membuat mereka pingsan saja yang mulia. Jika kami ingin melakukan apa yang sebelumnya mereka rencanakan untuk kelompok kami, mungkin kita tidak akan berbicara sekarang.”


“Jadi kalian mendengarnya…”


Pewaris yang mendengar perkataanku langsung menunduk tidak lagi menatapku. Mungkin pewaris sudah cukup tenang dan memahami situasinya sekarang. Untung juga dia tidak berteriak sehingga kami tak perlu membungkamnya.


“Silahkan yang mulia.”


Melihat hal tersebut, pewaris terlihat ragu dan mencoba melihat sekitarannya. Sesaat kemudian dia maju berjalan dan duduk di depanku.


Sepertinya sang pewaris terpaksa mengikuti arahanku karena semua area telah kami blokir dan menurutnya jalan yang terbaik saat ini ialah mengikuti apa yang aku minta. Saat dia duduk di depanku aku memulai pembicaraan.


“Terima kasih atas pengertiannya yang mulia. Seperti yang mulia ketahui rombongan anda berencana untuk menyerang kami saat keluar dari sini karena bola skill sihir bola api. Anda tidak setuju dengan rencana mereka jadi kalian saling berdebat sebelum kami datang kemari. Bagaimana yang mulia? Apa deduksi saya cukup tepat untuk menggambarkan situasinya?”


Bukan deduksi sih, aku sendiri yang dengar pakai skill Pendengaran.


“Itu benar! Tapi apa kalian pikir kalian bisa lolos setelah menyerang keluarga bangsawan Kerajaan Pangara?”


Setidaknya dia mengakuinya meski masih pakai kartu status sosial yang dia miliki.


“Mari kesampingkan hal itu sejenak. Kami datang kemari untuk memberi yang mulia penawaran yang pastinya akan yang mulia sukai.”


Setelah mengatakannya aku menginstruksikan golem untuk menaruh di atas meja barang yang kusuruh dia bawa tadi.


“I-ini…”


Setelah membuka bungkusan kain dari barang tersebut, sang pewaris langsung terkejut hingga matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.

__ADS_1


“P-penjelajah?”


Hm hm… di panggil penjelajah terasa keren juga.


“Yang kami inginkan ialah yang mulia harus mengajari kami pandai besi sebagai ganti sisik naga ini.”


“!! Anda tahu dari mana informasi tersebut?!”


Mendengar kata-kataku, ekspresi terkejutnya hilang tiba-tiba dan langsung menatapku dengan penuh curiga. Waduh sepertinya aku salah langkah. Bisa batal rencanaku kalau begini.


“Jika anda tidak tertarik, kami akan segera pergi dari sini.”


Aku beranjak berdiri sambil membungkus kembali sisik naga.


Aku sok-sok’an berakting cuek kemudian berancang-ancang untuk berjalan keluar ruangan seakan tidak peduli jika pewaris mau menerima atau tidak tawaranku.


”Tunggu sebentar!”


Untung saja aku di panggil lagi saat hendak berjalan setelah membungkus sisik naga itu. Kalau tidak akting jual mahalku sia-sia. Malahan akan merugikanku. Dengan nada yang cuek aku membalas si pewaris.


“Apa ada yang perlu dibicarakan lagi yang mulia?”


“Bisa saya periksa dahulu sisik tersebut?”


Oho… sepertinya rasa ingin tahu si pewaris mengalahkan rasa curiga miliknya.


Berjalan kembali, aku menaruh sisik tersebut di atas meja dan membukanya. Kemudian si pewaris mengeluarkan keris yang terbuat dari mithril. Penempaan keris tersebut sangat baik bahkan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang membuatnya elegan dan mewah. Lalu dengan sekuat tenaga si pewaris menusuk keris dari mithril itu ke sisik naga.


*krakk*


Bilah keris patah dan terlempar hingga menancap ke lantai ruangan. Bukannya kaget atau menyesal karena patahnya keris tersebut, ekspresi dan tingkah pewaris seakan penuh pesona menatap sisik itu.


“Saya setuju!”


Pewaris langsung menyetujui syarat kami. Padahal belum aku rincikan dengan baik syaratnya.


“Jangan terlalu tergesah-gesah yang mulia. Saya belum menjelaskan semua syaratnya.”


“Ehem… jadi apa saja syaratnya?”


Mendengar ucapanku, pewaris langsung memperbaiki posturnya agar kembali terlihat elegan.

__ADS_1


__ADS_2