
Saat hari mulai gelap, saat itu juga kami berhenti menjahit pakaian. Hasil jahitan hari ini juga lumayan. Mungkin bukan hanya lumayan namun sudah di luar batas. Aku dan Fina bisa menghasilkan 14 pasang bikini, 2 celana pendek, 1 rok, 2 kaos, dan yang terakhir 2 celemek yang dijahit secepatnya karena baru terpikirkan. Mungkin karena pengaruh atribut DEX yang tinggi, penjahitan kami terasa lebih mudah, cepat, dan presisi jika dibandingkan dengan orang pada umumnya.
Bahkan kupikir jumlah yang kita berdua hasilkan dalam sehari mungkin bisa menyaingi penjahit mahir di Bumi. Yah meski hanya sampai di jumlah saja, kalau desain sudah pasti kami kalah jauh jika dibandingkan dengan mereka.
Setelah kembali ke rumah dan membersihkan diri, kami mulai mempersiapkan makanan. Untuk makan malam kali ini kami akan membuat mie ayam. Mie yang akan kami masak terbuat dari tepung gandum yang datang dari kekaisaran utara. Tapi sebelum mulai memasak, ada hal yang ganjil yang sudah dari tadi tertangkap oleh pandanganku sejak kami selesai mandi.
“Fina, kenapa kamu pakai bikini yang baru lagi?”
Memang karena kami berada di dalam laut sekarang, angin laut tidak akan berhembus sampai kemari, tapi tetap saja suhunya lebih dingin daripada siang hari. Selain itu, Pulau Ini juga memiliki pengaturan suhunya sendiri sehingga terkadang ada angin yang berhembus di pulau ini meski kami berada di dalam laut.
Hmmm… Apa ada hubungannya dengan perkataanku di pagi hari tadi?
“Supaya Jaya menyukainya.”
Fina mengatakannya langsung menatapku dengan ekspresi yang tenang meski wajahnya sedikit memerah.
Apa pun yang kamu pakai aku tetap menyukaimu. Maksud perkataanku yang sebenarnya pada waktu itu, kalau kamu pakai bikini itu lebih membuatku bergairah. Tapi bakal rugi kalau aku katakan maksudku yang sebenarnya, lebih baik aku nikmati saja pemandangan ini. Fina juga sudah berusaha untuk menyenangkanku.
“Terima kasih sayang.”
Aku berterima kasih terhadap pemandangan yang Fina berikan sambil mencium pipinya.
Kita pun memulai kegiatan memasak kami. Tepung gandum yang sudah disediakan, dituangkan ke dalam mangkuk besar sambil melubangi tengahnya untuk ditaruh telur ayam kemudian ditambahkan garam.
Setelah itu telur yang berada di tengah tepung garam diaduk perlahan sambil campurkan tepung dari tepi lubang ke dalam telur hingga akhirnya adonannya mulai terbentuk. Lalu adonan tersebut kita uleni hingga semua tepung tercampur dengan baik dan membentuk bola yang lembut, elastis, dan tidak lengket. Kemudian adonannya diistirahatkan.
Aku dan Fina membagi tugas memasak kami. Untuk malam ini aku yang membuat mie sedangkan Fina yang membuat ayam, kuah, dan toping lainnya.
Selagi menunggu adonan diistirahatkan, aku menonton proses memasak Fina. Saat ini dia sedang menumis potongan daging ayam yang telah ditambahkan berbagai rempah di dalam wajan. Dia juga telah menyelesaikan kaldu ayam sebagai kuah mie ayamnya.
Melihatnya yang sedang mengaduk daging ayam di wajan sambil menggunakan bikini dan dilapisi celemek terlihat menggiurkan. Apalagi saat memperhatikan goyangan-goyangan kecil pada beberapa bagian tubuhnya yang eksotis di kala sedang mengaduk.
“Ng?”
Kelihatannya aku terlalu lama menatapnya, sampai-sampai dia berbalik menghadapku dan mengira kalau aku ada perlu dengan Fina.
“Aku hanya senang melihatmu memasak.”
Aku memang senang, tapi mungkin rasa senangku sudah tercampur berbagai rasa yang tidak bermoral.
“Aku juga ikut senang saat Jaya senang.”
Sambil tersenyum manis, Fina membalas perkataanku.
__ADS_1
… kenapa balasannya terasa setulus itu. Aku jadi merasa bersalah karena pujianku di awal menyiratkan berbagai pikiran yang tidak murni.
*Clak*
Saat aku masih menggalaukan bagaimana kotornya pikiranku, terdengar suara wajan yang di taruh di atas meja dapur. Saat kulihat, Fina telah selesai memasak potongan daging ayam yang tadi dan sepertinya akan membuat toping yang selanjutnya yaitu telur ayam rebus.
?? hmm… mungkin tidak, karena setelah menaruh wajan tersebut, Fina berbalik ke arahku yang masih berdiri sambil bersandar di meja dapur sedang melihatnya.
Fina berjalan dengan anggun ke arahku sambil menatapku dan tersenyum kecil kemudian berkata.
“Aku mengerti Jaya.”
Apanya yang kamu mengerti? Dan kenapa saat dia berjalan mendekatiku, wajahnya semakin memerah?
“Maksudmu? Dan kenapa wajahmu semakin memerah?”
Aku bertanya heran apa maksud Fina yang sebenarnya. Fina hanya tersenyum kecil tanpa membalas pertanyaanku.
Dia kemudian berhenti tepat di depanku dan menjulurkan kedua tangannya kearah pinggangku. Kali ini tatapannya sudah tidak mengarah ke wajahku lagi melainkan dadaku.
Sepertinya dia mau memelukku. Apa yang dia ‘mengerti’ itu kalau menurutnya aku ingin mendapatkan pelukan?
!? Tidak! Ternyata aku salah! Dia bukan ingin memelukku melainkan meraih pinggang celanaku.
*pluk*
Celana tersebut jatuh kelantai.
“Fina!?”
Aku terkejut dengan perbuatan Fina saat ini. Soalnya sekarang kita sedang memasak. Mungkin sebaiknya kita lakukan setelah makan malam saja.
Menghiraukan panggilanku, dia mulai menempelkan tubuhnya ke badanku. Tangan kirinya seakan memelukku sementara tangan kanannya meraih bagian bawah yang telah menegang.
Ah… kalau sudah begini aku hanya bisa pasrah dengan keadaan saja.
Dengan lembut tangan kanannya mulai memainkan bawahan itu. Dia mulai meremas dengan lembut bagai sedang memijat pangkalnya hingga pucuknya bawahan itu. Seakan sedang mengecek jika keseluruhan bagian bawahan itu sudah tegas.
Bersamaan sambil memijat bawahan itu, Fina juga mulai mengecup dadaku. Dimulai dari dada kananku, kecupannya seakan sedang bertualang bergerak ke seluruh dadaku.
“Oh!?”
Aku sedikit terkejut, dia mulai merubah gerakan tangan kanannya. Selagi wajahnya masih bertualang di dadaku, gerakan tangan kanannya sekarang dirubah seperti sedang mengeluarkan saos tomat dari botol kaca.
Saat dia merubah gerakannya, area bertualangnya juga berubah, sekarang wajahnya sudah semakin ke bawah ke bagian perutku.
__ADS_1
Gerakan tangan kanannya membuat stimulus yang kurasakan semakin tinggi. Stimulus-stimulus ini seperti sedang mendorong kesadaranku untuk menyerah kepada keinginan jasmani.
*slurp*
Terdengar suara hisapan saat aku sedang terbang menikmati indahnya kehidupan. Setelah kuperhatikan ternyata Fina sudah sampai di penghujung petualangannya.
Fina yang awalnya berdiri, sekarang sudah berlutut sambil mulutnya sedang sibuk melawan bawahanku. Sebagian bawahanku sedang bertarung masuk ke mulut Fina. Sambil kedua tangannya berpegangan di kedua pahaku, Fina mulai memaju mundurkan kepalanya.
Stimulus kali ini melebihi stimulus sebelum-sebelumnya. Kesadaranku yang mulai kembali, tidak lama lagi akan segera hilang dikuasai oleh keinginan jasmani.
Melihat penampilan Fina yang sedang berlutut sibuk menggerakan kepala sambil mengenakan bikini dan dilapisi apron seakan membuatku terhipnotis dibawah kendalinya.
*Puuahh*
Tak ingin tenggelam lebih dalam di bawah kendali Fina, aku menjauhkan kepala Fina yang sedang melawan bawahanku.
“!!??”
Fina yang melihat tingkahku seakan terkejut menatapku dengan heran.
Tanpa memedulikan tatapannya, aku mengangkat Fina yang masih dalam posisi berlutut dengan kedua tangan kemudian membaringkan diri dan menaruh pinggulnya yang sedang kuangkat tepat ke wajahku.
“Ahh~”
Suara Fina keluar saat aku mulai melawan bawahannya. Saat ini aku sedang berbaring di lantai sementara Fina yang barusan aku tempatkan, sedang duduk di atasku dan menghadap ke arah kepalaku. Karena dia menggunakan bikini, aku bisa dengan mudah menyelipkan kain bikini yang menutupi bawahannya. Dengan begitu bawahan tersebut langsung terekspos tepat di depan wajahku.
Dia pikir hanya dia saja yang bisa melawan bawahanku, aku juga bisa balik melawan.
“Aghh~ Aghh~”
Tapi sepertinya dia juga tidak mau menyerah. Fina yang posisi awalnya sedang duduk berlutut, mulai merubah posisi dengan perlahan-lahan memutar tubuhnya 180° hingga menghadap ke arah kakiku. Dia kemudian membungkukkan badannya sambil meraih bawahanku.
“!?”
“ehmm~ egghhm~~”
Aku bisa merasakan nikmatnya gerakkan tangan dan gerakan tuturan berbarengan dengan lidah Fina saat memberi stimulus ke bawahanku sambil mulut dan hidungku membalas stimulus itu ke bawahannya.
“erhhmm~ ergghhhm~~”
*Puuahh*
“Aaaaagghhhhhh~~~~”
Tiba-tiba Fina melepaskan pemberian stimulus dan mulai mengerang sambil kedua tangannya mencengkram masing-masing pahaku dan kedua paha miliknya mengencang dan dieratkan di kepalaku. Kedua paha itu seakan sedang mencekik kepalaku. Melihatnya, aku jadi semakin semangat menyerang bawahan miliknya itu. Tak lama berselang, tubuh Fina langsung mengejang menumpahkan semua emosinya.
__ADS_1