
“Maaf tuan, bisakah tuan kembali lagi kemari besok malam? Saya masih harus menyiapkan timbangan dan uang sebelum itu.”
? Kenapa dikasih saran kembali lagi besok malam? Kalau dia tidak punya uangnya sekarang kan bisa bayar nanti, atau kenapa tidak besok pagi saja di serikat pedagang? Sekalian dengan pembuatan tanda pengenal. Lagi pula dia tidak bisa lari kemana-mana atau berbuat macam-macam kalau aku awasi dengan golem pengintai.
Ah… mungkin supaya transaksinya tidak terlalu mencolok jadi dijalankan di rumah sekretaris kali.
“Bagaimana kalau untuk beberapa transaksi akan ku kirimkan rekanku saja ke serikat pedagang? Dengan begitu akan terlihat kalau transaksi ini berasal dari beberapa orang yang berbeda.”
Aku tinggal menciptakan golem dan menyuruh golem tersebut membawa barang yang akan dijual. Dengan begini tiap barang bisa datang dari sumber yang berbeda-beda.
“… baiklah tuan.”
“Saya juga akan menjual berbagai material monster yang terlihat berguna.”
“Saya selalu siap menerima kedatangan tuan.”
“Selanjutnya, apa kalian menjual bola skill?
“Kami memiliki beberapa bola skill, saya akan menyediakannya besok jika tuan berkunjung.”
“Ya, saya akan berkunjung besok pagi di serikat pedagang.”
“… baiklah tuan.”
“Untuk sekarang itu saja, kami permisi dulu.”
Aku membalikkan badan beranjak keluar dari ruangan. Terdengar juga suara gerakan Fina yang ikut bergerak saat aku berjalan keluar. Aku bisa melihat untuk sesaat waktu aku membelokkan badan ke kiri saat keluar ruangan untuk menuju ruang tamu, terlihat Fina sedang menatap si sekretaris. Sekretaris yang awalnya melihatku berbalik menoleh ke arah Fina sambil mengubah ekspresinya.
Saat sampai di ruang tamu rumah sekretaris, Fina yang awalnya mengikutiku di belakang bergegas hingga berada di depanku.
“Jaya, gendong.”
Saat berada di depan, Fina berbalik menghadapku lalu mengulurkan kedua tangannya ke arahku meminta untuk di gendong seperti saat kami datang kemari. Meski pun ekspresinya terlihat tenang jika aku perhatikan sesaat, kalau di perhatikan dengan seksama, pipinya terlihat sedikit memerah dari biasanya dan tatapannya kearahku juga seakan merindu. Sepertinya Fina lagi ingin di manja hari ini.
__ADS_1
Setelah menggendongnya dan Fina mengaktifkan skill Tembus Pandang, kami melompat keluar rumah sekretaris melalui jendela.
Kami berjalan di jalanan malam Kota Panga Ibukota Pangara sambil masih menghilang. Terlihat cahaya-cahaya lampu dari alat sihir yang menerangi jalanan kota. Ramainya lalu lalang orang-orang berjalan menikmati malam. Terlihat juga bagaimana sibuknya para pedagang kaki lima yang sedang memenuhi pesanan dan ramainya orang sedang mengantri. Telingaku juga bisa menangkap hingar-bingar tempat hiburan malam yang memanggil orang-orang untuk berkunjung.
Kota yang sungguh hidup, menandakan bagaimana makmurnya orang-orang di sini.
Selagi berada di tengah keramaian itu, aku sedang berjalan menggendong Fina, dia yang sedang berada di gendonganku melihat kesana-kemari seperti penasaran dengan lingkungan sekitarnya.
“Fina, ayo kita melihat-lihat di tempat yang lebih tinggi.”
Saat ku panggil, tatapan Fina langsung di fokuskan kepadaku dan mengangguk. Berusaha agar tidak meninggalkan jejak, aku melompat dengan lembut ke bangunan yang tinggi.
“Bagaimana pemandangannya sekarang?”
“Lebih baik.”
Sambil duduk bersebelahan, Fina memeluk lengan kananku dan menyandarkan kepalanya di bahu. Kami duduk di atas bangunan menikmati pemandangan malam Kota Panga.
Setelah puas menikmati suasana malam di kota, kami kembali lagi ke penginapan melalui jendela. Saat masuk, sudah tertata rapi kursi dan meja beserta hidangan makan malam kami.
Saat tiba dan menurunkan Fina dari gendongan, aku bergegas berusaha tampak sopan menarik kursi dan mempersilahkan Fina duduk.
Kita berdua duduk saling berhadapan sambil ditengahi oleh hidangan makan malam penginapan.
Di depan kami ada berbagai hidangan yang tersedia.
Ada nasi putih yang tersusun menggunung, di sekitar nasi itu disajikan berbagai lauk pauk seperti ikan bakar, potongan paha ayam bakar, telur mata sapi, sate sapi, bahkan ada kerupuk yang terbuat dari kulit sapi. Untuk sayuran di sediakan tumisan kangkung dan ada juga tumisan terong dan tahu. Kami juga mendapatkan buah-buahan pisang dan mangga.
“Selamat makan!”
“Selamat makan.”
Menu makanan pertama yang aku ingin coba ialah sate sapi. Tapi saat aku mengulurkan tangan untuk mengambil sate, mata Fina seakan mengikuti kemana arah tanganku bergerak. Apa dia mau mengikuti makanan apa yang ingin aku makan duluan? Akupun mengambil lebih satenya dan menaruh terlebih dahulu sebagian sate tersebut di piring Fina. Tak lupa juga aku menaruh nasi di kedua piring kami.
Setelah semua selesai dan aku mau mengambil sate yang ada di atas piringku, Fina dengan sigap menyodorkan tusuk sate ke depan wajahku.
__ADS_1
“Aaa~~”
Sambil bersuara seakan menyuruhku membuka mulut, Ekspresi Fina dengan wajahnya yang penuh tekad seperti mendorongku untuk segera memakan suapan tusuk sate yang dia berikan. Sedikit terkejut dengan perilakunya yang imut ingin menyuapiku, aku tersenyum menatapnya kemudian menggigit potongan sate yang dia berikan.
Sentuhan smoky karena asap bara api yang tertempel di permukan daging sate memenuhi mulutku. Kelembutan tekstur daging yang kurasakan saat mengunyah membawa perasaan yang menyenangkan di mulut. Ditambah ledakan rasa yang khas yang berasal dari campuran bumbu sate yang meresap di dagingnya meningkatkan kelezatan dan cita rasa sate ini.
Ini pertama kalinya aku merasakan makanan dengan bumbu yang lengkap dan pas di dunia ini. Sebelum tiba di kota, kami hanya memakan makanan dengan bumbu seadanya saja. Bahkan makanan kami saat pagi tadi sebelum sampai ke kota terasa jauh perbedaannya dengan yang sekarang.
“Sungguh enak! Rasanya kaya akan bumbu.”
Mendengar perkataanku, Fina yang dari tadi tersenyum puas saat aku memakan suapan sate darinya, kini mendekatkan tangannya dan memakan sate bekas gigitanku.
“… Ia enak, bumbunya banyak.”
Selera Fina sepertinya juga sama, dia menilai makanan ini enak. Tapi penilaiannya tidak sampai disitu, Fina juga masih lanjut berbicara.
“Tapi makanan yang kita masak bersama terasa lebih nikmat.”
Aku tersenyum lebar mendengar pujian Fina yang serasa seperti gombalan. Tapi perkataan Fina ada benarnya juga, kalau dimasak bersama ada tambahan bumbu-bumbu emosional yang membuat makanannya terasa lebih nikmat.
“Kalau begitu setelah kembali ke pulau kita akan memasak bersama makanan yang lebih nikmat dan enak dari sebelumnya!”
Karena sekarang aku sudah membeli banyak bahan makanan, kedepannya makanan kami akan terasa lebih kaya dan enak.
“Iya.”
Kita pun melanjutkan makan malam di dalam ruangan penginapan sambil sesekali membicarakan hal-hal kecil yang terjadi hari ini.
Setelah selesai makan, Fina membuka pembicaraan yang terasa serius kepadaku.
“Jaya, ada yang ingin aku tanyakan.”
“?”
Aku memfokuskan pandanganku ke wajah Fina saat mendengar kata-katanya. Biasanya kalau kata-kata pembukanya seperti ini, yang akan ditanyakan merupakan pertanyaan serius.
__ADS_1