
Tepat di depan jendela, terlihat sosok wanita sedang berdiri menatap langsung ke arahku. Membelakangi cahaya bulan dan bintang, wanita itu seakan bersinar memantulkan kesakralan cahaya tersebut.
Fina menggunakan kain coklat dengan motif bunga yang biasa dipakainya, sedang berdiri dengan wajah sedikit memerah menatapku. Rambutnya di sampingkan sehingga lekukkan leher dan bahunya terlihat jelas di mataku. Melihat pemandangan itu seperti membuatku melihat orang yang berbeda. Seakan wanita yang tepat berada di depanku bukanlah Fina yang kukenal. Fina yang biasanya berekspresi tenang, saat ini terlihat sangat menggoda.
Apakah penyebabnya karena aku baru mensortir perasaanku dan mau menjalani hubungan lebih jauh bersama Fina? Sehingga pesona Fina semakin jelas kurasakan. Jadi, apa selama ini aku hanya melewatkan pesona Fina yang semenakjubkan ini?
Selagi aku terpaku berdiri diam sedang berpikir, Fina berjalan pelan mendekatiku. Berjalan semakin dekat, semakin terlihat jelas kemerahan di pipi Fina yang tidak seperti biasanya. Terlihat jelas kalau Fina sedang merasa malu saat ini.
Apa yang sedang dipikirkan Fina saat ini? kupikir dia akan merasa malu menemuiku saat baru mengungkapkan perasaannya, ternyata dia begitu berani sampai langsung berdiri di hadapanku.
Berhenti tepat di depanku, kedua tangan Fina meraih kain yang menutupinya kemudian melepas kaitan kain tersebut.
*pluk*
Suara kain coklat dengan motif bunga jatuh menyentuh lantai. Mataku tidak melihat jatuhnya kain tersebut, melainkan apa yang ditutupi oleh kain itu sebelumnya.
Dengan jelas terlihat dua bukit montok dengan dekorasi berwarna merah muda di masing-masing ujungnya meluber keluar dari tekanan kain. Pandangan mataku seakan ditarik oleh gerakan-gerakan kecil kedua bukit yang baru saja keluar dari penutupnya.
Mencoba memalingkan pandangan, mataku justru semakin melihat ke bawah menginspeksi seluruh lekuk tubuh Fina. Bagaimana keindahan lekukkan pinggulnya, bagaimana keindahan kakinya, dan bagaimana daya pikat kewanitaannya.
No no no no no aku memang baru saja selesai mensortir perasaanku dan mau menjalani hubungan dengan Fina lebih jauh, tapi bukan berarti langsung sejauh ini.
No no no no no akal sehatku berkata ‘tidak’ dengan apa yang sedang terjadi di depanku saat ini.
Akal sehatku ingin aku segera pergi dari sini.
Akal sehatku seakan memperingati kalau aku tidak akan bisa kembali lagi kalau aku tetap berada di sini.
Akal sehatku memerintahkan aku untuk segera berbalik berjalan keluar kamar namun entah kenapa tubuh ini tidak bisa menjalankan perintah tersebut. Tubuh ini seakan ingin berdiri diam menikmati apa yang ada di depanku.
“Jaya…”
__ADS_1
Dengan malu, Fina berjalan mendekat memelukku. Aku hanya bisa terdiam, terpaku, dan terkejut. Tidak bisa bergerak. Fina memelukku dengan erat seakan takut aku akan pergi menghilang meninggalkannya.
No no no yes no akal sehatku mulai tak sehat.
Semakin lama memelukku, semakin terasa kelembutan dua gunung yang menempel di tubuhku. Semakin lama, semakin terasa juga kedua ujung bukit yang semakin teguh mencolek dadaku.
Akal sehat: Adiós.
Aku membalas pelukan erat Fina. Aroma tubuh Fina yang harum memenuhi setiap udara yang kutarik hingga mengisi pikiranku dengan dirinya seorang. Semakin lama, semakin terasa kehangatan tubuh Fina dipelukkanku.
Sambil masih berpelukkan, aku memegang pipi Fina dengan tangan kananku kemudian mengarahkannya hingga menatapku. Wajahnya yang semakin memerah dan mata hijaunya yang gemetar seakan panik menatapku.
Perlahan aku mendekatkan wajahku ke wajah Fina. Fina terlihat menerima pendekatanku, dia juga ikut mendekatkan wajahnya dan lebih mencondongkan bibirnya ke arahku.
“…”
Pada akhirnya kedua bibir kami saling bertemu. Mata Fina yang sebelunya seakan panik melihatku perlahan menutup ingin meresapi sentuhan ini.
Dengan lembut aku mengecup bagian atas bibirnya sambil perlahan berpindah ke bagian samping hingga bawahnya. Fina juga seakan tidak mau kalah. Dia mulai menggerakkan lidahnya dengan lembut untuk membasahi bibir kami.
Lidah yang menyentuh bibir membuat gairahku semakin tinggi. Sambil masih saling berciuman, tanganku mulai melepas pelukkan kami dan membelai seluruh tubuh Fina. Aku membelai lembut Fina mulai dari punggungnya bergerak hingga sampai tengkuk leher indahnya.
“Hmm~~”
Seakan meresapi belaian tanganku di tubuhnya, Fina mengeluarkan rintihan kecil yang menggairahkan. Semakin semangat mendengarnya, belaian lembut tanganku mulai aku gerakkan ke bagian sensitifnya. Membelai lembut kedua bukitnya hingga meremas pinggulnya yang sensual.
“Hmm~~ hmm~~”
Semakin tidak tahan mendengar suara yang Fina keluarkan, aku melepas ciuman kami kemudian mengangkat Fina seperti gendongan pengantin dan membaringkannya di atas kasur.
Aku naik diatas Fina lalu melanjutkan ciuman kami yang terhenti sebelumnya. Semakin lama berciuman, aku mulai menggerakkan ciumanku ke bawah. Di mulai dari bibir Fina, aku menggerakkan ciumanku perlahan ke lehernya, disitu harum tubuh Fina semakin semerbak masuk kehidungku. Aku mencium leher Fina hingga puas menjelajahi setiap inci lekukan lehernya.
__ADS_1
“Hmm~~”
Rintihan Fina cukup tinggi semakin aku menciumnya.
Mata Fina yang tertutup serasa naik semakin tinggi semakin lama aku menciumnya.
Bergerak semakin ke bawah, dengan lembut aku memanjat kedua bukit montok itu menggunakan mulutku. Dan sesampainya di puncak, aku mencium dan menjilat lembut puncak merah muda bukit yang semakin tegas itu. Ini membuat Kelaki-lakianku semakin tidak sabar untuk digunakan.
“Hmm~~ hmm~~”
Tanganku tidak diam saja selagi melakukan hal tersebut, aku terus mengelus seluruh tubuh Fina meski mulutku sedang sibuk. Mulai dari ujung rambutnya, sampai kakinya dengan lembut terus aku jelajahi dengan kedua tangan ini.
Semakin ke bawah, ciumanku tiba di perut Fina. Perutnya yang rata dan sedikit berotot memancarkan aura seksi di mataku. Mencium sambil sesekali menjilat otot perut itu membuat kelaki-lakianku yang sedari tadi sudah tegang, semakin menegang.
“Hmm~~ hmm~~”
Sampai akhirnya ciumanku sampai ke kewanitaan Fina. Awalnya Fina merasa malu hingga mencoba menutupinya dengan mendekatkan kedua kakinya. Namun setelah aku mengelus pipinya mengisyaratkan kalau ini tidak apa-apa, dia mulai melemaskan kedua kaki miliknya.
Dengan kedua tanganku aku menyebarkan kedua kaki itu yang sebelumnya ketat menjaga kewanitaan Fina. Terlihat kewanitaan itu sedikit basah karena sentuhan-sentuhan sebelumnya.
Bau wangi kewanitaannya meresap masuk ke hidungku membuatku seakan terhipnotis karenanya. Perlahan aku mendekatkan kepalaku ke kewanitaan Fina sambil menjulurkan lidah.
“Aahhh ♥”
Lidahku menyentuh mahkota kecil di kewanitaan Fina. Perlahan memainkan mahkota kecil itu dengan lidahku, “aaahhh ♥♥” semakin keras suara erangan Fina. Aku menjelajahi dengan lembut seluruh **** ********** itu menggunakan bibir dan lidahku.
“Aaaaahhhhh ♥♥♥”
Fina mengerang kuat sambil menjambak rambutku dengan kedua tangannya. Tak berselang lama kemudian wajahku basah terkena semprotan air.
“Hahh… hahh… hahh… ♥”
Seakan baru selesai menumpahkan seluruh emosinya, Fina terbaring lemas di atas kasur menutup matanya sambil terengah-engah.
__ADS_1
“Hahh… hahh… hahh… Jaya, kamu jahat.”