Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain

Sistem Pulau Pribadi Di Dunia Lain
Dua Puluh Dua


__ADS_3

Besok paginya setelah kita sarapan, aku pergi ke pinggiran pantai terbuka yang agak jauh dari rumah lalu  ku keluarkan naga tanah dari dalam inventori. Mayat naga tanah bersisik coklat tua seperti batu yang besarnya setara dengan pesawat terbang itu langsung memenuhi pinggiran pantai.


“Apa yang ingin kamu lakukan dengan itu?” Tanya Fina sambil melihat tajam mayat naga tersebut. Terdapat juga amarah saat dia mengatakannya.


“Aku ingin mengambil batu sihir naga ini. Mau kucoba persembahkan ke Pulau Bulan, siapa tau batu sihir naga bisa diterima.”


“…”


Kulit naga ini sangat keras, meski kucoba merobek kulit naga menggunakan kedua tanganku yang mana kekuatan STR ku berjumlah 68 ditambah gelar Pembunuh Naga yang meningkatkan atribut milikku sebanyak 1.5x lipat saat menyerang naga masih tidak mampu merobek kulit naga itu.


Oleh karena itu kuputuskan kalau kulitnya sekuat ini, mari kita coba sekuat apa dalaman naga ini. Tapi tentu saja aku tidak mau masuk ke dalam naga melalui mulutnya. Itu jadi langkah terakhir saja. Untuk rencana pertama aku ingin coba mencabut taring naga dari gusinya.


Kita lihat sekuat apa gusi naga tanah ini. Saat sampai di depan mulut naga, aku buka mulut naga tanah itu selebar mungkin lalu dengan cengkeraman kedua tanganku menempel di gusi naga tanah, kucoba merobek gusi naga itu.


*arrghhh*


*sreeekkk*


“Hahh… Hahh… Hahh…” Aku harus menggunakan tenagaku sepenuhnya hanya untuk merobek gusi naga ini. Tapi pada akhirnya gusi naga bisa dirobek. Dengan ini, taring naga bisa dengan mudah ditarik keluar.


Menarik keseluruhan taring naga keluar, tinggi taring naga ini sama dengan tinggi tubuhku. Mendapatkan apa yang menjadi tujuanku, aku mengikat taring naga itu diujung tongkat yang didapat dari para tuyul bersaudara.


Tongkat besi ini sekarang harusnya menjadi tombak taring naga. Tapi saat aku mengecek senjata itu dengan mata bulan, kedua benda ini masih dianggap terpisah. Mungkin aku harus membuatkan tombak khusus untuk taring naga nanti.


Dengan amatir\, aku menusuk perut naga dengan taringnya yang sudah kuikat di tongkat. *stab* taring naga tersebut bisa menembus perut naga itu. Perlahan aku dorong tongkat itu sehingga bisa merobek perut sang naga.


*blakkk* Isi perut naga terburai. Yaa!! Dengan ini misi membuka perut naga selesai! Membongkar sana-sini dalaman naga\, akhirnya aku bisa menemukan batu sihirnya. Ukuran batu sihirnya lebih besar dari ukuran inti dungeon yang hanya seukuran bola kaki. Ukuran batu sihir naga ini kira-kira diameter Warnanya juga lebih gelap\, yang biasanya batu sihir berwarna merah jambu\, batu sihir naga ini berwarna merah darah.


Mendapatkan apa yang kuinginkan, aku menyimpan lagi naga di inventori.


“Fina, aku mau pergi ke inti dungeon.” Mengabari Fina tujuanku selanjutnya, Fina yang dari tadi berdiri diam melihatku mengobrak-abrik naga, akhirnya membuka suara.


“Aku ikut.”


“Baiklah, ayo!” Kita berdua berlari menuju inti dungeon.

__ADS_1


“…”


Saat sedang dalam perjalanan yang senyap ini aku mulai berbicara.


“Pasti kamu merasa tidak enak karena melihat naga yang telah menyusahkan hidupmu dari dekat.”


Kupikir dia mungkin trauma melihat monster yang selalu menyusahkannya selama ini. Makanya dia hanya diam saja dari tadi setelah melihat naga itu. Aku juga kurang peka sebelumnya, seharusnya aku tidak menunjukkan naga itu ke Fina.


“Aku merasa baik-baik saja sekarang.”


“??” Bingung karena perasaanya tidak sesuai dengan perkiraanku, aku menatapnya dengan tanya. Merasakan tatapanku yang penuh tanya, Fina kembali berkata.


“Awalnya aku merasa marah saat melihat naga itu karena teringat bagaimana dia menyulitkanku. Tapi setelah melihat kamu menghancurkannya, aku menjadi senang.” Fina tersenyum sambil mengatakan hal itu.


“Oh ya, kenapa kamu tidak ikut bergabung denganku kalau begitu?” Dengan begitu mungkin dendam milik Fina bisa tersalurkan.


“Melihat kamu yang menghancurkan naga itu sudah bisa memuaskanku.”


Hmmm… kalau seperti itu yang kamu rasakan, baiklah.


Dengan selesainya pembicaraan tersebut, dengan itu juga kita sampai di batu menhir yang merupakan inti dungeon Pulau Bulan. Aku melakukan hal yang sama seperti saat mempersembahkan inti dungeon. Kutaruh batu sihir naga di tanah bertempelan dengan batu menhir.


“…”


“…”


Batu sihirnya ku pindahkan kesana-kesini pun tetap tidak ada yang terjadi.


*buk*


*buk*


*buk*


Kuguyur semua batu sihir dari tuyul dan monster lainnya seakan memandikan batu menhir.

__ADS_1


“…”


Tidak ada yang terjadi. Sepertinya hanya inti dungeon saja yang dia terima sebagai persembahan.


“Sepertinya persembahan batu sihir tidak diterima.” Aku kembali menghadap Fina sambil mengatakan kesimpulanku.


“Iya, kalau begitu sebaiknya kita kembali saja.”


“Saat kita kembali bisakah kamu mulai mengajariku teknik bertarung milikmu?” Sambil mengumpulkan kembali batu sihir, aku bertanya tentang mempelajari teknik belati dan HTH miliknya. Kita mempunyai banyak waktu luang sampai bata dan genteng yang dijemur mengering. Kupikir waktu luang ini bisa diisi dengan berlatih.


“Baiklah.” Balas Fina dengan anggukan dan senyum indahnya. Melihatnya tersenyum seperti itu membuatku lega, itu berarti dia tidak merasa keberatan dengan permintaanku.


Kembali di permukaan, aku mulai berlatih diinstruksikan Fina. Dia mengajarkanku teori, gerakan-gerakan dasar dan teknik-teknik belati dan HTH. Saat kutanya bagaimana dia bisa mengetahui ini, jawabannya masih tetap sama seperti sebelumnya. Semua informasi ini seperti sudah ada di pikirannya.


“Fina, ayo kita sparring menggunakan tangan kosong.”


Semakin penasaran dengan kekuatan Fina, aku mengajaknya bertarung dengan tangan kosong. Meskipun terlihat seperti ini, aku juga pernah ikut bela diri waktu masih di Bumi. Meskipun itu waktu aku masih SD, itupun karena ajakan teman-teman kompleks. Aku juga ikutnya tidak sampai tiga bulan setelah banyak teman-teman kompleks yang tidak latihan lagi.


Ah… Setelah kuingat kembali ternyata semangatku ikut bela diri waktu dulu hanya hangat-hangat tahi ayam. Cuma mau ikut-ikutan aja sama anak-anak kompleks. Ternyata aku memang hanya ‘terlihat seperti ini’.


“Baiklah.” Aku dan Fina berjalan ke ‘gelanggang’ mengambil posisi kuda-kuda. Saat sudah siap kita langsung memulai sparring.


*bukk*


*bakk*


*bukk*


“Hah…” Semua serangan Fina masuk mengenai tubuhku. Teknik memang penting! Fina bisa membaca semua gerakanku dan menghindarinya lalu menggunakan celah dari gerakanku untuk menyerang balik. Aku memang menyesuaikan kekuatan yang kugunakan agar sebisa mungkin setara dengan kekuatan Fina. Ini untuk berjaga-jaga agar tidak melukainya.


Tapi dengan menggunakan kekuatanku yang setara dengan Fina tersebut, bisa dengan mudah dicegatnya. Aku merasa seperti berdansa ditelapak tangannya. Aku harus lebih mengasah teknik dan instingku kalau begini.


Iya juga, ngomong-ngomong tentang kekuatan Fina, waktu itu Fina menggunakan belati dan menggunakan bela diri hingga muncul skill yang berhubungan dengan teknik yang dia gunakan.


Setelah ingat hal tersebut aku meminta Fina menggunakan tongkat besi yang didapat dari tuyul. Sebelumnya ada dua tuyul yang mempunyai skill penguasaan senjata tongkat. Siapa tahu saat Fina menggunakannya dia bisa mendapatkan skill tongkat.

__ADS_1


“Fina coba kamu gunakan tongkat ini.”


Setelah mengambil tongkat yang aku ulurkan, Fina mencoba menggunakan tongkat tersebut, dia mencoba gaya memukul dan bertahan dengan tongkat. Cukup lama Fina menggunakan tongkat tersebut, tapi sepertinya itu tidak membuatnya mendapatkan skill tongkat. Mungkin tidak semua senjata yang digunakannya akan menjadi skill.


__ADS_2